Menunggu Cintamu Berkembang

Menunggu Cintamu Berkembang
Ikuti Aku


__ADS_3

"Sudah siap semua?", tanya Denis yang baru keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk yang dililitkan menutupi tubuh bagian bawahnya. Ia mendekati Nabila yang sibuk memasukkan keperluan suaminya ke dalam koper.


Denis meletakkan dagunya dipundak istrinya, tetes-tetes air dari rambutnya yang masih basah mengenai pipi dan beberapa bagian tubuh Nabila.


"Ayo buruan pakai bajunya, nanti telat", ucap Nabila sementara tangannya masih sibuk dengan koper yang ada di depannya.


"Kamu bakal kangen aku nggak nanti?" Tanya Denis, sambil menggosok-gosokkan rambutnya yang basah ke pipi Nabila.


"Ya nggaklah, ngapain juga kangen. Tiap hari juga jarang ketemu. Ketemu paling pas cuma makan doang", Jawab Nabila santai.


Denis yang mendengar jawaban Nabila lansung cemberut. Dia menjauh dari Nabila dan kemudian segera memakai pakaian yang sudah disiapkan istrinya itu.


Sambil memasangkan jam tangan ke pergelangan tangannya, Denis berkata "Ya udah klo begitu, aku disana jadi seminggu aja, sekalian liburan"


"Jangan", refleks Nabila menjawab dengan memelas. Kemudian beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati Denis yang duduk di pinggiran tempat tidur.


Nabila duduk di sebelah Denis. "Jangan lama-lama, katanya kemarin cuma 3hari". Nabila menarik-narik kemeja yang dipakai Denis.

__ADS_1


Denis tersenyum, mendengar rengekan istrinya. Ia memutar tubuhnya menghadap Nabila. "Kamu kangenkan?jangan bohong!"


Nabila menggelengkan kepalanya. "Nggak", ucapnya. "Bukan masalah kangen mas, tapi apa iya seorang suami menitipkan istrinya berlama-lama dirumah mertua, sedangkan ia sibuk liburan. Apa kata orang", kilah Nabila.


"Biarin aja kata orang", ucap Denis dingin.


Denis beranjak dari duduknya, mengambil koper yang sudah disiapkan istrinya untuk di bawa keluar kamar. "Segeralah siap-siap, bawa pakaian agak banyak, siapa tau aku jadi disana seminggu", kata Denis agak kesal. Ia lalu keluar dari kamarnya meninggalkan Nabila yang hanya diam memandanginya.


Denis sudah duduk di depan meja makan, sambil menyesap kopi yang sudah dibuatkan istrinya. Tak berapa lama, Nabila menyusul dengan pakaian kantor yang rapi ia kenakan.


Sampai acara sarapan selesai, tak ada sepatah katapun terdengar di tempat makan itu. Sepasang suami istri itu sedang menahan jengkel dengan pasangannya.


Setelah Denis dan Nabila masuk ke mobil, pak Gugun segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sepanjang perjalanan Denis dan Nabila tetap tidak saling bicara, hingga ketika Nabila menyadari bahwa mobil yang ia tumpangi tidak membawanya ke arah kediaman maminya, ia memaksakan dirinya untuk bicara.


"Ini kan bukan jalan ke rumah mami. Kamu mau ajak aku kemana?", tanya Nabila. Tapi Denis sama sekali tidak merespon apa yang diucapkan istrinya, membuat Nabila semakin jengkel.


Setelah lebih dari satu jam di perjalanan, akhirnya mereka sampai di bandara.

__ADS_1


Denis berjalan agak cepat sambil membawa kopernya, Nabila yang ada dibelakangnya berusaha mengimbangi langkah kaki suaminya meskipun kadang harus dengan berlari kecil. Dan Pak Gugun masih setiap ada di belakang mereka sambil membawa tas Nabila.


Sebelum bersiap check-in, Denis mengambil alih barang-barang Nabila dari tangan Pak Gugun, kemudian memintanya untuk pulang. Nabila heran dengan apa yang dilakukan Denis, tapi dia berusaha menahan diri untuk tidak bertanya, karena dia tahu bahwa suaminya masih marah dengannya.


"Ikuti aku dan jangan banyak bicara!" Perintah Denis pada Nabila. Nabila mengikuti apa yang diperintahkan suaminya, meskipun dia masih belum mengerti apa yang akan dilakukan suaminya.


Nabila duduk di sebuah kursi di ruang tunggu sesuai perintah suaminya. Tak lama kemudian Denis yang beberapa menit lalu meninggalkan dirinya, datang dengan membawa di gelas kopi dan roti.


Denis memberikan segelas kopi dan roti kepada Nabila. "Makanlah!", perintah Denis. Nabila pun menerima apa yang diberikan Denis kepadanya.


Denis memilih duduk agak jauh dari Nabila. Dia memilih menyibukkan diri dengan ponselnya sambil sesekali menyedot kopi yang ada di tangannya. Sementara Nabila memilih mengamati orang yang lalu lalang sambil menikmati roti dan kopi.


Panggilan untuk boarding, membuat Denis bangkit dari duduknya. Ia melangkah ke tempat Nabila duduk. Tiba di depan istrinya, ia meraih telapak tangan Nabila, mengajaknya untuk bangkit. "Ayo", ucapnya lembut dan pandangannya hangat.


Nabila mengikuti apa yang dipinta suaminya. Sepanjang perjalanan menuju pesawat, Denis menggandeng erat Nabila, membuat perasaannya nyaman dan tenang.


"Kenapa mengajakku serta, mas?", tanya Nabila lembut. Matanya tak lepas memandang wajah suaminya yang menatap lurus ke depan.

__ADS_1


Denis mengambil jemari Nabila, kemudian menggenggamnya. Dilihatnya sekilas wajah istrinya, kemudian ia kembali menatap lurus ke depan. " Jangan tanyakan kenapa aku membawamu bersamaku, karena aku juga tak tau kenapa aku melakukan itu".


__ADS_2