Menunggu Cintamu Berkembang

Menunggu Cintamu Berkembang
Tawaran


__ADS_3

Nabila keluar dari butik dengan muka yang masih cemberut. Keputusan Denis yang membeli banyak pakaian tidur transparan untuknya belum bisa ia terima.


Nabila berjalan mengikuti Denis yang sudah berjalan jauh di depannya. Ia sengaja menjaga jarak dengan suaminya karena masih merasa kesal. Tapi tiba-tiba Denis berhenti, kemudian memutar tubuh menghadap ke arah istrinya. Nabila pun ikut berhenti.


Denis memberikan isyarat pada Nabila agar istrinya berjalan bergegas, namun Nabila malah membuang muka. Denis geram, tapi dia memilih untuk mengalah. Ia berjalan berbalik ke arah Nabila. Setelah sampai di depan istrinya, dia mengambil tangan Nabila dan menariknya untuk berjalan cepat mengikutinya. Nabila hanya bisa pasrah dengan wajah yang nampak masih kesal.


"Ayo buruan, aku sudah lapar", ucap Denis, sambil melangkah cepat dan tangannya masih memegang erat pergelangan tangan Nabila yang mencoba mengimbangi jalannya, bahkan Nabila bisa dikatakan berjalan dengan setengah berlari.


Banyak mata melihat ke arah mereka, namun Denis tak menggubrisnya sama sekali. Sementara Nabila hanya menunduk saja, menahan malu karena tatapan mata orang-orang.


Denis melambatkan langkahnya begitu kakinya sudah melangkah masuk ke sebuah restoran dan seorang pegawai restoran menyambutnya. Ia melihat ke kanan-kiri mencari tempat yang kosong dan menurutnya nyaman.


Denis memilih meja yang letaknya jauh dari kaca yang menjadi dinding restoran itu. Nabila hanya diam saja mengikuti kemanapun Denis melangkah.


Denis meletakkan barang-barang belanjaan yang ia bawa ke tempat duduk yang ada disebelahnya. Sementara Nabila duduk didepannya.


"Kamu mau makan apa?", tanya Denis ketika pelayan mendekati mereka untuk mencatat pesanan.


Nabila menunjuk menu yang dipilihnya di daftar menu, kepada pelayan. Denis pun melakukan hal yang sama. Pelayanpun pergi setelah mencatat semua pesanan mereka.


Denis menatap lekat Nabila. Nabila tau, namun ia memilih melihat aktivitas orang diluar restoran, dari balik kaca, daripada merespon tatapan suaminya.


"Masih marah?" Tanya Denis namun tak dapat jawaban dari Nabila.


"Ya sudah kembalikan saja bajunya ke tokonya sana, kalau kamu tidak suka", ucap Denis sambil melipat tangannya di depan dada.


"Kan mas yang beli, kenapa aku yang harus kembalikan. Mas aja yang ngembalikan", seru Nabila.


"Bilang saja dalam hati kecil kamu, sebenarnya nggak pengin bajunya dibalikin", goda Denis.

__ADS_1


"Males ngomong sama kamu mas, pasti dibolak-balik faktanya", ucap Nabila yang kemudian cemberut kembali sambil memalingkan mukanya dari Denis.


"Duduk sini kamu!" Perintah Denis pada Nabila sambil menepuk kursi yang ada di sebelahnya.


"Nggak mau", ucap Nabila singkat tanpa mau melihat ke arah Denis.


"Yaudah kalau kamu nggak mau pindah, aku saja yang pindah", kata Denis, sambil bergerak duduk di kursi yang ada di sebelah Nabila.


"Balik sana, jangan duduk disini", seru Nabila sambil memukul-mukul lengan Denis, namun tak membuat Denis kesakitan.


Beberapa saat adu mulut terjadi antara mereka, hingga akhirnya pelayan datang membawa pesanan mereka membuat pertengkaran kecil pasangan suami istri itu reda.


"Sudah makan dulu nanti kita lanjutkan lagi, tapi dikamar hotel", ucap Denis sambil segera menyendok makanannya.


"Dasar otak mesum", lirih Nabila tapi masih terdengar oleh Denis.


"Ha.... Ha... Ha... Ha....", tawa Denis mendengar komentar Nabila.


"Mas, kembalikan!", seru Nabila sambil menahan sendok yang hampir masuk kedalam mulutnya.


"Kamu makan itu, aku tidak suka", ucap Denis.


"Nggak mau, kembalikan punyaku, mas!", ucap Nabila sambil menarik-narik ujung lengan kemeja Denis tapi tak membuat Denis menghentikan makannya.


Ditengah keributan mereka, tiba-tiba ada suara yang tak asing memanggil nama Denis. Secara otomatis, Denis menengok ke arah suara itu. Tak salah, orang yang memanggilnya barusan ternyata orang yang dia kenal. Orang itu sudah berdiri di sebelah Denis.


"Tidak salah aku ternyata, ini memang kamu", ucap perempuan itu ketika melihat Denis melihatnya.


Denis memasang wajah datar, tanpa senyuman. "Nona Sheila, apa ada yang bisa saya bantu", ucap Denis.

__ADS_1


"Boleh gabung?" Tanya Sheila.


Denis memalingkan muka ke arah Nabila, beniat untuk meminta persetujuan. Namun Nabila hanya mengangkat kedua bahunya.


"Sial, kenapa dia nggak bilang nggak boleh, dasar istri nggak peka", gerutunya Denis dalam hati.


"Silahkan", ucap Denis sambil tersenyum terpaksa.


Sheila pun duduk tepat di depan Denis. Rambutnya yang tadi diarahkan ke depan menutup dadanya, diarahkan ke belakang, sehingga memperlihatkan sebagian bagian dadanya yang menonjol, karena Sheila memakai pakaian yang mini dan ketat dengan belahan dada rendah.


"Nona Sheila, apa anda ingin memesan sesuatu, biar saya panggilkan pelayan?", tanya Denis sambil berusaha menahan pandangan matanya agar tetap ada pada istrinya.


Denis merasa bahwa Sheila berusaha menggodanya. Untuk itu ia berusaha tidak melihat keindahan yang ada di depannya, meski kenyataannya hal itu tetap terlihat oleh matanya.


"Terimakasih, Denis. Oh maaf, tuan Denis. Emmm...atau boleh saya panggil mas aja biar terkesan akrab? Saya masih menunggu teman jadi nanti saja", ucap Sheila dengan suara yang dibuat-buat semanja mungkin membuat Nabila muak dan membuang muka.


"Kamu nggak makan lagi sayang? atau mau ku suapin ini?", ucap Denis sambil mengangkat sesendok makanan dari piringnya. Denis sengaja bermanis di depan istrinya agar Sheila tau diri dan pindah ke tempat lain.


Nabila memutar kepalanya sehingga menghadap ke arah Denis sekilas, kemudian beralih melihat ke arah Sheila sekilas yang saat itu juga melihatnya dengan tatapan kesal.


Nabila yang memahami Sheila berusaha menggoda suaminya, menganggukkan kepalanya pertanda menerima tawaran Denis. Denispun mengambil sesendok makanan dari piring yang ada di depannya dan memasukkan ke dalam mulut Nabila.


Sheila sangat dongkol melihat kejadian yang ada di depannya tapi berusaha memasang wajah wajar. "Lihat saja siapa yang akan menang. Selama ini aku tak pernah kalah dengan siapapun, apa lagi dengan perempuan sepertimu", gerutu Sheila dalam hati.


"Oh ya, apa kalian tidak berminat jalan-jalan sebelum balik ke Jakarta. Aku bisa mengantar kalian. Aku sudah lama disini, jadi sudah hafal spot-spot keren disini", tawar Sheila.


Denis dan Nabila menghentikan aktivitas saling suapnya. Mereka saling berpandangan kemudian bersama-sama melihat ke arah Sheila.


"Boleh", ucap Denis mantap dengan mulut yang masih penuh dengan makanan, membuat senyum sumringah Sheila muncul.

__ADS_1


"Kalau begitu bisa aku minta nomor kamu?", pinta Sheila sambil menyerahkan ponselnya kepada Denis. Denis pun mengetikkan nomor telponnya, kemudian mengembalikan ponsel itu ke pemiliknya.


Sebenarnya Nabila enggan menerima tawaran Sheila, namun Denis sudah terlanjur menerimanya. Ia tau wanita seperti apa Sheila. Ya, menurut kacamata Nabila, Sheila adalah wanita yang sangat licik.


__ADS_2