
Laki-laki itu melepaskan kacamata hitamnya, kemudian melihat Nabila dengan seksama. "Kamu Nabilakan?" Tanya laki-laki itu dengan sedikit ragu.
"Dia mengenaliku! Siapa dia?" Tanya Nabila dalam hati, sebelum akhirnya ia mengiyakan pertanyaan laki-laki itu, sehingga membuat laki-laki itu mengembangkan senyum di bibirnya.
Laki-laki itu turun dari motor, lalu menjagangnya. "Lama sekali tidak berjumpa, Nabila. Apa kabar? Kamu tidak banyak berubah, hanya lebih cantik dari waktu dulu” kini laki-laki itu sudah bersandar pada motornya dengan kedua tangannya bersedekap, menghadap ke Nabila, membuat Nabila mundur beberapa langkah dengan raut wajah bertanya-tanya.
"Aku Arif, cucunya Mak Nur, ingat nggak?" Kata laki-laki itu.
Nabila mencoba mengingat-ingat. Beberapa saat kemudian senyum tipis nampak menghiasi wajahnya. "Arif yang suka naik pohon jambu di belakang villa?"
"Iya, bener", Arif melempar senyum yang lebar. "Kamu mau kemana?" Tanyanya.
"Aku mau balik ke villa, tapi lupa jalannya", jawab Nabila.
"Ke villa mana? Apa pak Dahlan punya villa lain di daerah sini?" Tanya Arif
"Seperti yang tadi kutanyakan, aku mau mau ke villa keluarga Gumilang", kata Nabila
Arief mengernyitkan dahinya, merasa bingung. "Apa Villa itu sekarang sudah jadi milik tuan Dahlan lagi?" Tanyanya.
"Berarti benar, Villa itu dulu milik papi. Pantas aku tidak asing dengan tempat itu", Nabila dalam hati.
"Suamiku putranya tuan Gumilang, pemilik Villa itu sekarang", ujar Nabila.
"Suami? Kamu sudah menikah? wah, patah hati aku, Nabila!" Seru arif di ikuti tawa keras.
"Kamu nggak berubah rif, suka bercanda dari dulu!" Kata Nabila
"Aku tidak bercanda Nabila, memang aku kecewa mendengar kamu sudah menikah. Sedari dulu aku sudah menyukaimu", ujar Arif dalam hati.
"Ayo segera tunjukan aku, kemana jalan ke Villa! Sudah semakin sore ini", pinta Nabila sambil melihat jam tangannya.
__ADS_1
"Klo begitu naik saja, ayo kuantar!" Ajak Arif yang langsung naik kembali di atas motor.
"Makasih Rif, kamu tunjukkan saja jalannya, biar aku jalan saja", tolak Nabila dengan senyum yang nampak dipaksakan.
"Masih jauh ini, Nabila. Sudah, biar kuantar saja. Dulu kamu kan suka kalau kubonceng naik sepeda butut milik pamanku", kata Arif
"Nggak usah Rif, aku jalan saja, nggak papa", kata Nabila.
"Baiklah kalau begitu aku temani jalan saja, disini sudah mulai sepi jam segini, khawatir ada apa-apa", kata Arif sambil turun dari motornya.
Nabila terpaksa menerima tawaran Arif untuk ditemani berjalan sampai ke Villa, karena merasa tak enak. Arif yang sedang menuntun motornya berada di sebelah kiri motor berplat merah itu, sedangkan Nabila ada di sebelah kanan motor.
Di sepanjang perjalanan menuju Villa, mereka berbincang-bincang ringan. Topik perbincangan mereka seputar cerita masa kecil mereka yang saling kenal. Meski sebenarnya saat itu, Arif yang lebih dominan berbicara, sedangkan Nabila lebih banyak menjadi pendengar.
Mereka hampir sampai di Villa sejurus dengan sebuah mobil yang datang dari arah belakang berhenti tiba-tiba di samping mereka, sehingga membuat Nabila yang terkejut hilang keseimbangan, namun satu tangan Arif berhasil menahan tubuh Nabila sehingga tak sampai terjatuh.
Nabila bersegera membenahi berdirinya sejalan dengan keluarnya seseorang dari dalam mobil yang sangat dia kenali itu. Baru saja senyum mengembang di bibirnya, namun sekejap menghilang kembali, tatkala tangan Denis yang kekar itu menariknya dengan kasar masuk ke dalam mobil.
Entah apa yang dikatakan Denis kepada Arif, Nabila tak dapat mendengarnya. Yang dapat wanita itu lihat hanya kilatan kemaran yang menghiasi wajah suaminya, juga tatapan tidak suka terhadap Arif. Sementara wajah Arif juga menunjukkan ketidaksukaan terhadap lawan bicaranya itu.
Denis sudah masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah istrinya. Kesan kesal masih nampak jelas memenuhi wajahnya. Tanpa mau melihat ke arah istrinya, ia berkata, "Sedang apa kamu dengan laki-laki itu? Baru ditinggal sebentar saja sudah ketahuan jalan dengan pria lain!" Ucap Denis dengan nada menyindir, sembari memperbaiki duduknya.
Nabila tersentak mendengar ucapan Denis dan segera mengalihkan pandangannya ke arah pria yang ada di sampingnya itu. Ada secercah rasa kecewa dan sakit hati atas tuduhan suaminya itu. Namun ia masih berusaha menahan diri.
Ia menghirup udara di sekitarnya dalam-dalam dan melepaskannya perlahan, kemudian mulai membuka mulutnya dengan ekspresi setenang mungkin.
"Aku tidak sengaja bertemu Arif ketika__"
Belum selesai Nabila mengucapkan kata-katanya, Denis membentaknya. "Diam! jangan sebut-sebut nama laki-laki brengsek itu!" Sambil sekilas menatap Nabila dengan tatapan tajam, kemudian kembali menatap lurus ke depan.
Nabila memilih untuk diam tak melanjutkan kata-katanya, tidak ingin berusaha membela diri karena ia tahu itu percuma.
__ADS_1
Meski ia berusaha untuk bersabar, namun genangan air di pelupuk matanya, sangat jelas memperlihatkan kekecewaan terhadap sikap suaminya itu.
"Lihat kedepan!Fokus dengan menyetirmu!" Bentak Denis yang mendapati Arsyad mencuri pandang kondisi kursi belakang, lewat spion. Membuat si pengemudi itu salah tingkah dan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Nabila langsung membuka pintu mobil, tatkala mobil mewah itu baru saja berhenti di pelataran villa, tanpa menunggu suami atau sopir membukakan pintu untuknya. Tanpa berpamitan kepada Denis, Nabila keluar dari mobil dan berjalan cepat menuju pintu villa.
Namun dengan cepat Denis bisa menyusul langkah istrinya. Setelah pintu Villa terbuka, ia menarik tangan Nabila dan menyeretnya berjalan menuju kamar. Nabila terkadang harus berlari kecil untuk mengimbangi langkah Denis agar tak terjatuh.
"Aduhhh", suara Nabila yang kakinya tersandung anak tangga paling atas dan membuat lututnya terbentur lantai.
Denis langsung berhenti dan menengok ke arah suara. Namun, tak sedikitpun ada keinginannya untuk membantu Nabila bangun. "Cepat berdiri!" Perintahnya pada Nabila dan membuat wanita itu mencoba untuk berdiri sendiri.
Denis kembali menyeret Nabila yang sudah kembali dapat berdiri untuk masuk ke dalam kamar. Setelah mereka masuk ke dalam kamar, Denis menghempaskan tubuh Nabila dengan kasar ke atas tempat tidur.
"Masuklah ke kamar mandi, bersihkan tubuhmu dari bekas tangan laki-laki itu", perintah Denis kepada Nabila, lalu pergi keluar kamar meninggalkan Nabila yang kini tumpah sudah air matanya setelah sedari tadi coba ditahan.
Denis sudah masuk kembali ke kamar. Tak lama kemudian Nabila juga keluar dari kamar mandi dengan badan yang nampak segar berbalut celana jins dan kemeja panjang berwarna baby pink.
Denis mengamati penampilan istrinya dari atas ke bawah, sambil memicingkan mata, dia berkata, "Mau kemana kamu pakai pakaian seperti itu? Mau kluyuran lagi dengan pria tak tau diri itu?". Kemudian berjalan menuju lemari.
Nabila hanya tertunduk, sama sekali tidak tertarik menjawab pertanyaan suaminya. Sebisa mungkin ia menahan air mata yang lagi-lagi menggenang di pelupuk matanya agar tak jatuh membasahi wajahnya. "Salah lagi", batinnya.
"Ganti bajumu dengan ini!” Perintah Denis, sambil melempar pakaian yang baru saja ia ambil dari lemari pakaian ke atas tempat tidur.
Tanpa berkata-kata, Nabila menuruti apa yang di perintahkan suaminya. Ia mengambil baju itu dan mengenakannya setelah melepas pakaian yang ia kenakan tadi.
Risih dan memalukan itu kata yang ingin terucap dari bibir Nabila, ketika ia hanya berani menunduk melihat kondisinya saat ini yang hanya memakai pakaian minim dan tipis, memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan sangat jelas.
Sementara tak jauh dari dirinya berdiri, sepasang mata yang kini sedang memandang dengan tatapan ingin mangsa. Membuat Nabila ingin lari saja dari tempat itu karena benar-benar malu ada seseorang yang melihatnya dengan penampilan seperti itu.
___________
__ADS_1
Happy Reading😉