Menunggu Cintamu Berkembang

Menunggu Cintamu Berkembang
Pagi yang Sama


__ADS_3

Sudah empat hari ini Nabila ada di rumah papinya, dan sejak itu pula setiap pagi, penghuni kediaman Dahlan bisa melihat sebuah mobil mewah berwarna hitam, terparkir di luar pagar. Ya, pemilik mobil itu adalah Denis. Dan pemilik mobil itu juga ada di dalamnya, setiap mobil itu ada di sana.


Seperti Pagi ini. Dengan tubuh menggigil kedinginan, Denis masih setia berada di dalam mobilnya, memantau salah satu penghuni rumah Dahlan, yang tak lain adalah istrinya sendiri, yaitu Nabila.


Selepas bekerja, Denis akan menyempatkan datang ke rumah mewah itu. Bukan untuk bercengkrama dengan istrinya, melainkan hanya mencuri lihat aktivitas istrinya. Dia akan bermalam di dalam mobilnya dan akan pergi dari sana ketika waktu bekerja telah datang.


Nadira menyibakkan tirai penutup kaca jendela agar sinar matahari bisa masuk ke lantai dua rumah orang tuanya itu. "Apa kamu masih belum bisa memaafkan Denis? Lihat disana!" Nadira menunjuk dengan dagunya. "Jika dia tidak mencintaimu, dia tak akan melakukan hal bodoh itu berhari-hari", ucap Nadira yang kemudian meninggalkan adiknya yang duduk di atas sofa sendirian.


Huwekks.....huwekkkss....rutinitas mual dan muntah masih dirasakan Denis setiap pagi, termasuk hari ini. Meskipun badannya menggigil, ia memaksa tubuhnya keluar dari mobil untuk mengeluarkan isi perutnya yang mungkin hanya berisi air, karena sejak siang sebelumnya, ia tak makan apapun.


Dan seperti biasanya, sudah beberapa hari ini, mendengar menantu majikannya muntah, satpam rumah dahlan keluar dari gerbang dan meminjamkan minyak gosok kepada Denis.


"Wajah Tuan sangat pucat. Sebaiknya Tuan masuk saja. Tuan Dahlan sudah berpesan, kalau Tuan boleh masuk kapan saja", kata Satpam.


Denis menyerahkan kembali, minyak gosok yang barusan dia gunakan, kepada Satpam yang ada di depannya. "Terimakasih, Pak. Saya akan masuk kesana jika istri saya mengizinkannya" Kata Denis sambil memegangi perut manahan sakit.


"Jadi saya disini saja. Bapak boleh kembali", ucap Denis lagi, membuat Sang Satpam kembali ke tempatnya bertugas.


Matahari sudah mulai naik lebih tinggi, panasnya sudah mulai menyengat di kulit. Dahlan yang selepas sarapan tadi, sibuk dengan dokumen-dokumen yang dikirimkan sekretarisnya lewat e-mail, menyandarkan punggungnya di punggung kursi. Sejenak ia memilih merilekskan badannya, sambil memikirkan kondisi anaknya nomor dua.


Dua hari kemarin, laki-laki yang sudah ingin pensiun itu, berniat kembali ke Jerman mengurus bisnisnya, sebelum nantinya ia menyerahkan semuanya kepada anak laki-lakinya. Namun, ia urung melakukannya karena masih berat untuk meninggalkan putrinya yang masih labil kondisinya.


Pintu ruang kerja Dahlan diketuk dari luar oleh seseorang. Setelah Dahlan mempersilahkan orang tersebut, yang tak lain adalah Nabila, wanita itu segera masuk ruangan Dahlan.


"Papi panggil Nabila?" Tanya Nabila yang baru saja menutup pintu dari dalam ruangan.


"Duduklah, nak!" Perintah Dahlan sambil menyeret kursi yang ia duduki, maju mendekati meja kerjanya.


"Sampai kapan kamu disini?" Tanya Dahlan, tatkala putrinya baru saja duduk di kursi yang bersebrangan dengan dirinya dengan batasan meja, diantara keduanya.


Nabila mengangkat kepalanya, terlihat kaget dengan pertanyaan yang baru saja diajukan Papinya.


"Bukan Papi mengusirmu. Kamu boleh tinggal di sini sampai kapanpun. Toh nantinya rumah ini juga akan jadi milikmu", Dahlan segera menyela, memahami apa yang dipikirkan anaknya.

__ADS_1


"Hanya saja, kamu punya kewajiban-kewajiban yang harus kamu lakukan terhadap suami. Masak iya, suamimu kamu suruh ngurusi kebutuhannya sendiri. Marah boleh, tapi ada batasannya", Dahlan berbicara dengan bijak.


Nabila bergeming, tak sanggup menjawab pertanyaan Papinya.


"Kalau kamu tidak mau pulang, biar Denis saja yang tinggal disini", kata Dahlan.


"Bukan masalah tinggal dimana Pi. Tapi, aku belum siap bertemu Mas Denis. Aku masih sakit hati dengannya,pi", kata Nabila dengan mata yang mulai nampak berkaca-kaca.


"Sampai kapan kamu bisa siap, jika kamu tidak berusaha membuka diri kamu sendiri. Belajar memaafkannya", ucap Dahlan dengan nada yang mulai meninggi, karena Nabila selalu mengucapkan yang demikian jika ditanya masalah serupa.


"Aku tidak tau", kata Nabila sambil menggelengkan kepalanya.


"Apa perlu Papi yang bantu ambil keputusan?" Kata Dahlan. "Kalian berpisah saja, sepertinya lebih baik untukmu", ucap Dahlan dengan wajah tegasnya.


Nabila terhenyak dengan ucapan papinya. Sedetik kemudian air mata tumpah dari pelupuk matanya.


Suara telepon yang tiba-tiba, memudarkan suasana ruangan yang sudah mulai memanas


"Apa? Kenapa kamu baru bilang", kata Dahlan. "Bawakan makanan untuknya!Segera!" Lanjut Dahlan sedikit membentak kepada orang ada di seberang telepon.


"Bagaimana?" Tanya Dahlan kepada putrinya, sesaat setelah menutup telepon.


"Papi sudah tua. Papi hanya ingin melihat anak-anak papi bahagia. Jika kamu memang tidak bahagia bersama suamimu. Ya sudah akhiri saja pernikahanmu. Ikut bersama papi ke Jerman. Papi yang akan menjagamu dan anakmu", kata Dahlan sambil menyangga tangannya dengan kedua tangan yang jari-jarinya sudah saling bertautan.


"Tapi Pi....", Nabila tak sanggup melanjutkan kata-katanya karena semakin deras saja air mata yang membasahi wajahnya. Ia hanya bisa sesenggukan.


Terdengar suara gaduh di luar ruangan kerja Dahlan, membuat lelaki yang rambut bagian depannya mulai beruban itu bangkit dari duduknya. "Segeralah ambil keputusan, jangan berlarut-larut menyakiti suamimu atau dirimu sendiri", ucap dahlan sambil berjalan menuju pintu.


Baru saja Dahlan berhasil membuka pintu, seorang satpam menghampirinya dengan terengah-engah, seperti habis membawa beban berat.


"Tuan, suami nona Nabila pingsan,Tuan" kata satpam sambil menunjuk ruang tengah yang nampak ada kerumunan para pelayan.


Dahlan berjalan dengan cepat menuju arah yang di tunjuk satpam sambil berteriak memanghil nama Nadira.

__ADS_1


"Kenapa bisa begini?" Tanya Dahlan sambil membelah kerumunan pelayan yang berada di sekitar Denis yang kini sedang dibaringkan di sofa.


"Tadi saya mau ngantarkan makan Tuan, tapi ternyata Tuan ini sudah pingsa di dalam mobilnya. Sepertinya dia demam", kata satpam.


"Panggil dokter sekarang", kata Dahlan kepada satpam sambil berjongkok di bawah sofa, memeriksa kondisi menantunya yang sedang di kompres oleh salah seorang pelayan.


"Denis kenapa?" Tanya Nadira yang baru saja bergabung.


"Pingsan, Nona", jawab salah satu pelayan, membuat Nadira kaget.


"Kita pindah ke kamar tamu saja, Pi", kata Nadira yang kemudian dituruti oleh Papinya.


Nabila yang tak mendengar apa yang sedang terjadi karena terlalu fokus dengan kesedihannya, mulai beranjak dari tempat duduknya.


Baru saja dia melangkah keluar pintu, ada segerombolan orang berjalan terburu-buru ke arahnya, membuat wanita itu bingung.


"Ada apa, Kak?" Tanya Nabila pada Kakaknya yang lewat di depannya, namun Nadira tak menggubrisnya.


Mengenali siapa orang yang di bawa satpam dan pelayan berjalan yang baru saja melewatinya, membuat Nabila refleks berteriak, "Mas Denis!"


Nabila berjalan cepat mendekati tubuh suaminya yang sudah hendak mendekati kamar tamu. "Ada apa sama mas Denis?" Tanya Nabila lagi.


"Puas kamu bikin suamimu kaya begini? Tanya Nadira yang menghadang tubuh Nabila agar tak masuk dalam kamar, tempat Denis berada.


"Aku sama Papi yang akan merawat Denis sendiri, kamu nggak perlu masuk ke sini", ujar Nadira yang kemudian menutup pintu kamar itu, menyisakan Nabila yang kini hanya diam terpaku memandangi pintu kamar yang telah tertutup dengan penuh kesedihan.


__________


Maaf, Author harus istirahat menulis kemarin-kemarin karna lagi sakit dan dilarang tidur larut malam, padahal biasanya nulis larut malam 🙏


Jangan lupa mampir ke novelku yang lain ya "Harga Sebuah Pengorbanan (Sita's Love Story)". Sekarang sudah mulai masuk konflik ya.


Thanx semuanya. Happy Reading.

__ADS_1


__ADS_2