
Pintu lift akan segera tertutup, ketika Arsyad berhasil mengejar Nabila. Namun dengan cepat ia menahan pintu itu, sehingga akhirnya seluruh tubuhnya mampu menyelinap masuk ke dalam lift yang akan membawanya turun.
Kini hanya mereka berdua yang ada di kotak kedap suara itu. Muka Nabila yang terlihat sangat berantakan karena sedari tadi tak berhenti menangis, membuat Arsyad berempati. Hatinya ikut merasakan kesedihan yang nampak melekat di mata wanita itu, meski dia sadar bahwa tangis dan kesedihan itu untuk orang lain, bukan untuk dirinya yang pernah melabuhkan hati pada wanita itu.
Arsyad mendekat ke Nabila, meraih pundaknya yang nampak naik turun karena tangis yang semakin kencang. Ia menarik tubuh Nabila, sehingga kini kepala Nabila menempel di dadanya. Ini adalah momen pertama ia bisa menyentuh wanita yang sedari dulu tak mau di sentuh laki-laki asing, meski ia sempat mendekatkan diri hingga melamar wanita itu, dan ditolak.
Nabila yang nampak sangat hancur hatinya, tak peduli siapa laki-laki disebelahnya dan pernah ada hubungan apa dengannya.Yang ia butuh saat ini adalah sandaran untuk menopang tubuhnya yang sudah tak sanggup lagi untuk berdiri kokoh.
Arsyad yang hendak membelai kepala Nabila guna menenangkannya, mengurungkan niatnya. Kesadaran akan posisinya dan posisi Nabila, membuat ia memutuskan untuk menenangkannya tanpa melibatkan kontak fisik, meski saat ini Nabila masih bersandar di badannya.
"Menangislah, jika itu bisa membuatmu lebih baik", nasihat Arsyad dengan pandangan tetap mengarah ke depan.
__ADS_1
"Hatiku begitu sakit melihatmu begini. Andai dia bukan tuanku, ingin aku menghajarnya habis-habisan, lalu membawamu pergi jauh darinya. Aku tak bisa menipu hatiku, bahwa namamu masih terukir di sini, meski aku sudah berusaha menghapusnya", ucapan Arsyad dalam hati.
"Kamu kuat jalan sendiri?", tanya Arsyad kepada Nabila yang tubuhnya terlihat lemah, ketika lift akan segera terbuka. Nabila mengiyakan dengan isyarat kepalanya.
Ketika pintu lift sudah benar-benar terbuka, Arsyad membiarkan Nabila untuk keluar terlebih dahulu. Namun, belum sampai tubuhnya keluar dari lift sempurna, badan Nabila terlihat oleng. Dengan cepat Arsyad menahan tubuh itu agar tak terjatuh.
"Ayo aku bantu", ucap pria itu sambil memapah Nabila, membantunya berjalan. Nabila menurut saja, karena memang saat ini ia merasakan tenaganya sudah benar-benar habis.
Tanpa mereka sadari dari kejauhan sepasang mata sedang melihat adegan itu. Suami mana yang tak marah melihat istrinya dengan jarak sedekat itu dengan pria lain. Begitupula Denis.
Namun, ia sadar bahwa apa yang dilihatnya sekarang adalah akibat dari ulahnya sendiri. Sakit memang melihat istrinya seperti itu, namun ia menyadari bahwa hati istrinya pasti lebih sakit dari hatinya saat ini.
__ADS_1
Tak sadar pandangannya kabur karena air yang menggenang di sudut matanya. Namun ia masih bisa melihat mobil yang mulai membawa istrinya pergi itu mau menuju kemana.
"Tolong antarkan aku ke apartemen", ucap Nabila sembari matanya masih memandang ke arah depan namun tidak pikirannya. Arsyad mengangguk mendengar apa yang dikatakan perempuan yang ada di sebelahnya, kemudian mengarahkan kemudi sesuai permintaan perempuan itu.
Karena malam sudah mulai larut, jalanan mulai sepi dan lenggang, sehingga tak butuh lama untuk mobil warna hitam itu sampai ke tempat tujuan. Arsyad pun membantu Nabila keluar dari mobil itu sampai tiba di depan pintu apartemennya. Setelah memastikan Nabila masuk ke apartemennya, Arsyad pun memilih untuk pergi dan kembali ketempat tinggalnya.
Nabila menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur dengan posisi tengkurap, di dalam kamarnya yang sudah ia kunci rapat. Tangisnya yang sudah mulai mereda di perjalanan tadi kembali pecah, membuat sprei tempat tidurnya basah. Rasa lelah dan sakit yang begitu besar, tanpa sadar membawa ia jatuh ke alam mimpi, sehingga tak menyadari saat dengan keras pintu kamarnya diketuk oleh seseorang.
"Nabila, tolong buka pintunya, kita harus bicara", kata Denis sambil terus mengetuk pintu itu. "Kamu berhak untuk marah, tapi tolong dengarkan dulu penjelasanku", imbuhnya.
Denis terus mengetuk dan memohon kepada Nabila agar di bukakan pintu, Namun lebih dari 10 menit, tak ada tanda-tanda Nabila akan membukakan pintu kamarnya. Denis pun menyerah. Ia memongsrotkan tubuhnya hingga terduduk menyentuh lantai dengan pintu kamar Nabila sebagai sandaran.
__ADS_1
Denis hanya terdiam menyesali apa yang sudah ia lakukan. Rasa bersalah pada istrinya membuat air mata akhirnya jatuh juga dari pelupuk matanya. Tak jarang ia menyakiti dirinya sendiri dengan menarik rambutnya atau memukulkan kepalan tangannya ke tembok, sebagai bentuk penyesalan terhadap perilakunya yang tanpa ia sadar lakukan. Cukup lama ia melakukan itu, hingga akhirnya rasa kantuk mendera dan ia tertidur dengan posisi yang sama.