
Fendi yang mondar-mandir di depan pintu, tempat maminya dirawat kini, menarik perhatian tiga orang yang kini berjalan menuju ke arahnya. Tanpa dikomando, ketiganya mempercepat jalannya. Bahkan salah satu diantaranya, memilih berlari kecil agar sampai ketempat yang ia tuju dan segera terjawab rasa penasarannya .
"Kenapa kamu disini, dek? Mami mana? Mami nggak apa-apa kan?" Tanya Nadira berutun dengan nafas yang masih terengah-engah, membuat Fendi yang ditanya, menghentikan langkahnya.
Fendi sama sekali tak menjawab apa yang ditanyakan Nadira, ia justru berjalan menghampiri Nabila yang juga tengah berjalan menghampirinya.
"Kak, mami sudah sadar. Dokter sedang memeriksanya di dalam", seru Fendi, membuat ketiga orang yang kini bersamanya serentak mengucap syukur.
******
Nabila mendapatkan kesempatan masuk keruangan maminya terlebih dahulu dengan diikuti Nadira dibelakangnya, setelah dokter mengizinkan maksimal dua orang yang sementara boleh masuk ke ruang perawatan maminya. Dan tentu saja setelah melakukan lobi pada adik laki-lakinya.
"Mami", panggil Nabila lembut seraya mengusap lembut punggung tangan maminya, yang diam memandang langit - langit.
Pelan, wanita paruh baya itu memutar kepalanya, hingga netranya bisa menangkap sosok yang tadi memanggilnya.
"Bila" Mulut wanita itu menyebutkan nama putrinya, namun tak dapat di dengar suaranya.
"Mami, ada yang pengin ketemu mami", bisik Nabila ke telinga maminya. "Dia kangen banget sama mami", lanjutnya. Kemudian Nabila melambaikan tangannya kepada sang kakak yang masih berdiri di dekat pintu. Berharap kakaknya segera mendekat.
Nabila ragu hendak melangkah, khawatir maminya tak menerimanya, namun rasa rindunya yang bertahun-tahun mengendap, mengalahkan rasa takutnya. Perlahan, ia mendekat ke tempat wanita yang melahirkannya berbaring.
"Mami" Tanpa aba-aba, Nadira memeluk tubuh maminya dengan hati-hati. Dan maminya menyambut dengan senang pelukan itu. Keduanya hanyut dalam rindu dan tangis.
__ADS_1
"Aku sayang banget sama mami. Maafin Dira yang tak pernah menemui mami. Tapi, asal mami tau Dira selalu merindukan mami" Ucap Nabila diselingi isak tangis sembari mencium kening dan pipi wanita di hadapannya itu.
Sejak pertemuan di rumah sakit itu, secara bergantian Nabila dan Nadira menjaga maminya di rumah sakit, bahkan setelah maminya sudah di rumah, tak satupun dari keduanya absen menemui maminya tiap hari hingga kini kondisi maminya sudah benar-benar sehat.
Nabila dan Denis sudah meminta orang tuanya itu untuk tinggal bersamanya, namun wanita itu menolaknya.
"Kamu kenapa, mas? Hari ini kok kelihatan capek banget. Apa ada masalah di kantor? " Tanya Nabila yang melihat suaminya hari ini tidak seperti biasanya, sembari tangannya mengusap lembut lengan Denis yang saat ini masih fokus dengan kemudinya.
Denis mengalihkan pandangannya sejenak ke arah istrinya dan tersenyum tipis. Tapi, gurat kesedihan masih nampak di wajahnya. Dan Nabila bisa membaca itu.
"Nggak sayang, aku cuma lelah aja", kata Denis.
"Apa tadi pagi juga masih muntah-muntah lagi?" Tanya Nabila agak khawatir.
"He'em" Jawab Denis singkat.
"Nggak usah, sayang. Lagian aku nggak merasa gimana-gimana. Sehat-sehat saja", kata Denis menolak ajakan istrinya.
"Yaudah, kalau mas nggak mau", kata Nabila yang kini kedua matanya berpaling dari wajah suaminya, tak ingin rasanya ia menyambung lagi pembahasan itu.
Suasana dalam mobil menjadi hening, tatkala mereka berdua memilih sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Bahkan sampai dirumah pun mereka memilih untuk masuk ke rumah secara terpisah. Tak seperti rutinitas mereka sebelumnya, yang setiap masuk ke dalam rumah saling menunggu dan berjalan beriringan.
Denis naik ke atas tempat tidur, menyusul istrinya yang lebih dulu berbaring di sana. Pria itu memeluk tubuh istrinya dari belakang dan membenamkan wajahnya di antara pundak dan leher wanita itu.
__ADS_1
"Kamu sudah tidur, sayang?" Tanya Denis pada istrinya, namun Nabila tak merespon.
Denis semakin mengeratkan pelukannya. "Berjanjilah untuk selamanya di sampingku, apapun yang terjadi", ucap Denis. "Cuma kamu yang aku mau, sekarang, besok, dan selamnya", lanjutnya.
Beberapa kali ciuman, Denis benamkan di kepala istrinya, hingga membuat sang istri kini berbalik menghadapnya.
Wanita itu menatap dalam mata suaminya yang ikut pula menatapnya. "Kamu, kenapa mas?" Katanya. "Aku tau ada yang kamu rahasiakan. Ceritakanlah, mas! Aku siap mendengarnya", lanjutnya.
Denis menghirup dalam oksigen di sekitarnya dan menghembuskannya dengan kasar. Pria itu lalu menarik dagu istrinya, sebelum akhirnya membenamkan ciuman di bibir istrinya itu.
Nabila mendorong tubuh Denis perlahan, mengakhiri ciuman yang tidak berhasrat namun penuh penekanan. Wanita itu lalu menangkup wajah suaminya yang matanya kini satu seolah penuh beban.
"Apakah aku tidak cukup layak untuk jadi sahabatmu, tempat berbagi segala masalah yang kau hadapi?" Kata Nabila.
Bukannya menjawab, Denis justru kembali merengkuh tubuh istrinya dan menahan kepala Nabila agar tenggelam di dadanya. Tentu saja hal itu membuat Nabila kecewa dan berusaha lepas dari pelukan suaminya.
Nabila yang telah lepas dari dekapan suaminya, perlahan turun dari ranjang dan bergerak menuju dapur, tempat favoritnya yang kedua di rumah itu, setelah kamar mereka. Denis yang bisa melihat kekesalan dalam diri istrinya, hanya melihat dengan pasrah, istrinya yang telah keluar dari ruangan itu.
Nabila meletakkan cangkir berisi teh hijau yang baru saja dia teguk, bersamaan dengan dua tangan kekar yang tiba-tiba menjamah kedua lengan atasnya, hingga sempat membuatnya terjingkat karena kaget.
"Sudah malam, ayo kita kembali ke kamar!" Kata Denis yang kemudian duduk di kursi yang ada di sebelah istrinya.
Sesaat keheningan terjadi lagi. Denis hanya sibuk menatap Nabila yang tertunduk sambil memainkan cangkirnya.
__ADS_1
Namun kemudian, Denis yang nampak frustasi menarik tangan istrinya dengan cepat dan mengecupnya. "Aku belum bisa mengatakannya padamu, bukan karena aku tak percaya pada istriku sendiri. Tapi, karena aku sudah sangat mencintaimu", katanya.
Denis mendekat pada istrinya dan menjatuhkan kepala istrinya itu dalam pelukannya, sambil diciumnya puncak kepalanya itu berkali-kali. Sebelum akhirnya, ia memilih untuk melangkah pergi meninggalkan wanita yang kini masih duduk termenung mencerna perkataan suaminya barusan.