
Awwww...."
Suara teriakan dari dapur membuat Denis yang baru saja melepaskan pakaian bagian atasnya, membuka kembali pintu kamar mandi yang sudah ia tutup rapat.
Nabila nampak terlihat kesakitan sambil mengibaskan tangannya dan meniup-niupnya. Denis yang paham apa yang terjadi pada istrinya, segera menarik tubuh Nabila dan menuntunya ke tempat cuci piring.
Ia menyalakan kran air kemudian meletakkan tangan Nabila dibawahnya, hingga bagian yang nampak merah teraliri air sempurna.
"Masih panas?" Tanya Denis pada Nabila setelah membantunya sekitar 10 menit mengalirkan air ke tangannya yang tertumpahi air panas.
Nabila yang sedari tadi memandang wajah Denis dari arah samping, tak mendengar apa yang ditanyakan oleh suaminya itu. Sehingga membuat Denis yang tak mendapat jawaban atas pertanyaannya, segera mengalihkan pandangannya dari tangan Nabila ke wajah istrinya itu.
"Nab?", panggil Denis lembut diikuti senyum tipisnya, membuat Nabila yang bengong kembali tersadar.
"Hem", jawabnya
Denis membelai pipi Nabila dengan tangannya yang basah, sambil menanyakan kembali pertanyaan yang sama. " Apa masih terasa panas tangannya?"
Nabila merespon pertanyaan itu dengan menggelengkan kepalanya. Kini pandangannya sudah beralih ke arah kepalanya tertunduk.
Denis mematikan keran, kemudian menuntun Nabila untuk duduk di salah satu kursi di ruang makan. "Tunggu di sini dulu ya, aku ambilkan obat!" Perintah Denis, yang kemudian berjalan keluar rumah.
Tak beberapa lama, Denis kembali dengan membawa sebuah kotak P3K yang biasanya ia simpan di dalam mobil.
Ia membuka kotak itu dan mengambil sebuah obat dari dalamnya. "Mana tangannya", seru Denis. Nabila pun mengulurkan tangannya yang masih nampak memerah.
Denis mengambil tangan itu dan berjongkok di sebelah Nabila. Denis sempat tersenyum geli melihat ekspresi Nabila sebelum ia mengobatinya. "Ini nggak perih , sayang" Ucap Denis lembut karena melihat istrinya memejamkan mata dan menggigit bibir bawahnya.
__ADS_1
Pelan dan lembut Denis mengoleskan salep ke permukaan kulit Nabila. Nabila hanya melihat saja apa yang dilakukan Denis dengan tangannya, sesekali ia melirik tubuh suaminya yang bertelanjang dada, memperlihatkan urat-urat nya yang menonjol di lengan atas dan dadanya.
"Sudah selesai" Seru Denis, membuat pikiran Nabila yang sempat kemana-mana kembali fokus ke tangannya.
"Terimakasih ya, mas", ucap Nabila sembari tersenyum tipis.
Denis berdiri dan mengembalikan obat yang dia bawa ke dalam kotak obat. Kemudian meletakkan satu telapak tangannya ke pipi Nabila. "Jangan dikenakan air dulu, istirahatlah saja! kalau butuh apa-apa tinggal bilang saja", ucap Denis sembari tersenyum hangat.
"Aku mandi dulu ya", tambah Denis. Sebelum ia melangkah menuju kamar mandi, ia menyempatkan untuk mencium kening Nabila dengan lembut, membuat wanita itu merasa disayang.
Nabila memutuskan untuk istirahat ke kamar. Baru ia mendudukkan tubuhnya di pinggiran tempat tidur, tiba -tiba terdengar suara pintu kamarnya di ketuk bebarengan dengan suara Fendi yang memanggil namanya.
"Masuk dek", ucapan Nabila dengan suara keras sehingga bisa menjangkau orang yang ada di balik pintu.
Nabila mengerutkan keningnya, kepalanya penuh tanda tanya, ketika melihat Fendi masuk ke dalam kamarnya dengan barang-barang yang begitu banyak dalam dekapannya. Fendi meletakkan barang-barang itu diatas tempat tidur.
"Itu barang-barang kak Denis yang ada di dalam mobil, di suruh ngeleuarkan lalu di bawa ke sini", Jawab Fendi sambil merapikan kaos yang tadi sempat terlihat berantakan, kemudian beranjak keluar dari kamar itu.
Denis masuk ke kamar Nabila dengan bertelanjang dada. Terlihat badan dan rambutnya masih sangat basah karena ia lupa membawa handuk ke kamar mandi.
"Fendi sudah membawanya kesini ternyata", ucap Denis, sambil mengambil handuk dari tumpukan barang yang di bawa Fendi tadi. Kemudiam mengelapkan ke tubuhnya yang basah.
Nabila hanya melirik sekejap ke arah Denis, kemudian fokus kembali dengan ponsel yang ada di tangannya. Tanpa mau berkomentar apapun tentang barang-barang yang menumpuk di depannya itu, meski ia sebenarnya penasaran.
Setelah badannya terasa kering, Denis membuka semua pakain yang masih melekat di tubuhnya, yaitu pakaian bagian bawahnya. Untuk diganti dengan pakaian yang bersih. Mata Nabila yang tak sengaja melihat pemandangan yang ada di depannya itu, segera menutup wajahnya dengan bantal.
Denis yang melihat polah istrinya tertawa. "Ngapain ditutupin, yang? Kamu kan sudah pernah lihat!" Godanya, sambil memakai satu persatu pakaianya, sembari matanya masih melihat ke arah Nabila yang masih menutup wajahnya dengan bantal.
__ADS_1
Setelah memakai celananya, Denis mendekati Nabila dan nerhasil mengambil bantal yang menutupi muka wanita itu dengan sekali tarikan. Nabila yang kaget buru-buru menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, ia mengira Denis masih tak berpakaian.
Denis tertawa melihat tingkah Nabila yang lucu. Ia berusaha membuka telapak tangan Nabila namun tak berhasil, akhirnya ia menggelitik pinggang wanita itu hingga wanita itu meliuk-liukkan tubuhnya karena merasa geli namun masih menutup mukanya.
Usaha tak akan menghianati hasil, seperti itulah yang terjadi pada Denis saat ini. Semakin kuat upayanya menggelitik tubuh istrinya, membuat wanita itu kini telah membuka wajahnya.
Nabila menggerakkan tubuhnya begini dan begitu menahan geli, sementara suaranya teriakan tak luput keluar dari mulutnya dan tangannya mencoba menghentikan tangan Denis yang tak henti menggelitikinya.
"Mas udah...kapok...mas...udah dong...aku nyerah....Geli....massss", suara Nabila memenuhi ruangan itu dan berhasil membuat Denis menghentikan aktivitas jailnya bersamaan dengan posisi Denis yang kini ada di atas Nabila sementara kedua tangannya sudah menekan kedua tangan istrinya di samping kepala.
Kedua pasang mata mereka bertemu. Mereka terdiam beberapa saat mencoba membaca pikiran masing-masing pasangannya. Denis mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Nabila semakin dekat semakin dekat, membuat Nabila tanpa komando menutup kedua matanya.
"Aku sudah dimaafkan kan?” lirih suara Denis dengan keningnya yang kini sudah menempel di kening Nabila.
Nabila mencoba membuka matanya. Ntah apa yang terjadi pada wanita itu hingga dia kini berani memulai mencium bibir suaminya yang tampan itu. Sekilas, tapi mampu membawa percikan tersendiri di hati Denis, yang akhirnya menjatuhkan diri di sebelah Nabila.
"Andai tak ada halangan pasti aku sudah memakanmu saat ini juga", ucap Denis sembari mengerlingkan matanya, membuat Nabila bergidik dan akhirnya memutuskan turun dari tempat tidur.
"Aku belum memaafkanmu", ucap Nabila sambil melangkahkan kaki menuju pintu.
Denis dengan gesit melompat dari tempat tidur lalu menarik tubuh istrinya yang mulai memutar kunci pintu. Ia membalik tubuh Nabila dan menyadarkannya ke pintu, dengan cekatan ia ******* bibir wanita itu lama dan dalam sehingga tanpa sadar membuta Nabila membalas apa yang dilakukan Denis padanya.
"Nabila, Nak Denis, Fendi, ayo sarapan keburu bubur ayamnya dingin", suara keras dari mami membuat pasangan suami istri itu akhirnya menghentikan aktivitas yang sedang mereka lakukan.
Nabila memilih langsung membuka pintu dan keluar menuju ruang makan, sementara Denis segera menyusul Nabila setelah sebelumnya memakai kaos untuk menutupi tubuhnya yang sedari tadi terbuka.
___________
__ADS_1
Happy Reading🤗