Menunggu Cintamu Berkembang

Menunggu Cintamu Berkembang
Teman Baru


__ADS_3

Lift berbunyi. setelah pintu terbuka, beberapa karyawati yang tadi berkumpul dan berbisik-bisik itu akhirnya keluar, menyisakan 2 temannya dan Nabila yang tetap harus berada di dalam lift.


Seorang dari karyawan yang hendak keluar itu, dengan sengaja menabrak sebelah pundak Nabila, hingga membuat Nabila kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh karena si penabrak memiliki badan yang lumayan besar.


Nabila berniat untuk menegur orang yang tadi menabraknya, tetapi pintu lift lebih dulu tertutup. Ia mendengus pelan. Saat matanya menyapu isi lift, terlihat dua orang yang ada di situ sedang memandangnya dengan tatapan sinis.


Nabila tak tinggal diam kali ini, dia melotot balik ke arah dia wanita itu dan berkata, "Apa lihat-lihat!". Kemudian ia menyunggingkan satu ujung bibirnya, "Kasihan sekali hidup kalian ya, hidup cuma buat ngurusin orang lain. Banyakin kerja! Bukan banyakin nyinyir!", ucap Nabila sambil menyedekapkan kedua tangannya.


Sebenarnya Nabila ingin memberikan pelajaran lagi kepada dua orang, yang sekarang hanya berani menundukkan kepala itu, namun lift sudah sampai di lantai 18. Nabila segera keluar, begitu pintu lift terbuka.


Nabila terlebih dahulu masuk ke toilet sebelum ke ruang kerjanya. Ia perlu mengeluarkan emosinya yang tadi tertahan. Butiran-butiran air mata yang tadi di tahannya, dibiarkan saja bebas meluncur dari pelupuk matanya.


Setelah puas meluapkan rasa kesalnya, ia membasuh mukanya yang basah karena air mata di wastafel.


Jika biasanya Nabila menyapa rekan-rekannya begitu masuk ruangan besar itu, tidak untuk kali ini. Ia langsung masuk dan duduk di meja kerjanya yang disekat oleh kaca-kaca sebagai dinding pemisah antara rekan-rekan kerja lainnya.


Tanpa banyak bicara, ia segera mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang sempat ia tinggalkan beberapa hari ini. Tiba-tiba Vita masuk begitu saja ke bilik kerjanya tanpa izin, tapi Nabila tak menegurnya karena keakraban di antara mereka membuat beberapa rekan setimnya itu biasa nyelonong masuk ke bilik kerjanya.


"Mbak Nabila kemana saja?" Tanya Vita sambil berjalan mendekati Nabila. Namun tak mendapatkan jawaban dari Nabila yang masih fokus dengan kertas-kertas yang ada di hadapannya.


Tanpa berkeinginan untuk duduk, Vita melanjutkan ucapannya. "Mbak tau, gosip yang beredar di kantor tentang mbak? Huebohhh baget, mbak", tambah Vita dengan hebohnya.


Kali ini Nabila bereaksi, ia menegakkan kepalanya dan melotot ke arah Vita dan sukses membuat Vita ciut nyalinya. Vita mengigit bibir bawahnya dan menundukkan dalam kepalanya, namun tak bergeser dari tempat berdirinya tadi.


"Kamu kesini mau bicara kerjaan atau pribadi? Kalau urusan pekerjaan, silahkan duduk. Tapi kalau hanya mau bahas urusan pribadi, ini waktunya jam kerja", ucap Nabila tegas.


"Maaf", ucap Vita lirih, kemudian ia meninggalkan Nabila setelah mengucapkan permisi.


Waktu makan siang sudah tiba. Para karyawan mulai berhamburan dari ruang kerjanya menuju kantin atau tempat-tempat makan yang ada di sekitar kantor.


Seperti biasa, di jam-jam seperti ini dengan sekotak bekal yang berada di tangannya, ia berjalan menuju ruangan suaminya untuk mengantarkan makan siang.


Selama perjalanan ke ruang wakil Direktur, Nabila mendapatkan perlakuan sama seperti tadi pagi dari beberapa karyawan. Namun, ia berusaha menahan diri, seperti yang tadi ia rencanakan di kamar mandi.


Ia tak menggubris sama sekali nyinyiran dari warga kantor itu.

__ADS_1


"Nona Karina, bisa saya menitipkan bekal ini untuk Tuan Denis?", Tanya Nabila.


Karina yang tadinya sedang duduk, begitu mendengar suara Nabila segera bangkit dari kursinya sembari tersenyum ramah. "Lho, Mbak Nabila nggak tau ya? Hari ini Tuan Denis tidak masuk kantor, mbak", ucapnya sambil sedikit heran.


"Nggak masuk ya", kata Nabil kecewa.


"Maaf ya mbak, katanya Tuan Denis itu pacar mbak Nabila, beneran? Tapi, mbak kok nggak tau kalau Tuan nggak ngantor?" Tanya Karina.


Nabila tersenyum mendengar pertanyaan Karina. "Nona Karina percaya gosip itu?" Tanya Nabila, yang dijawab gelengan oleh Karina meski dengan ragu.


"Kalau begitu, bekal ini buat anda saja. Nanti jam pulang, biar kuambil wadahnya kesini", kata Nabila, kemudian beranjak pergi meninggalkan Karina.


"Nona Nabila"


Nabila yang mendengar seseorang memanggilnya segera memutar kepalanya ke arah orang yang memanggilnya. Begitu tau siapa orang yang memanggilnya, ia memutar tubuhnya dan menganggukkan kepala.


Arsyad berjalan mendekati Nabila dengan memasang muka datar.


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?", Tanya Nabila.


"Saya ingin membicarakan sesuatu, ayo ikut ke ruangan saya!", perintah Arsyad, yang kemudian berjalan ke ruangannya diikuti Nabila di belakangnya.


"Saya tau apa yang karyawan-karyawan pikirkan tentang anda dan yang mereka lakukan pada anda. Kenapa anda tidak mengatakan saja yang sebenarnya kepada mereka, bahwa anda adalah istri Tuan Denis?" Kata Arsyad


Nabila diam dan tetap menunduk, tak menjawab pertanyaan Arsayad.


"Atau jangan-jangan pernikahan anda adalah setingan, sehingga anda tidak berani mengatakan ke publik tentang pernikahan anda?", seru Arsyad dengan tatapan penuh selidik.


Mendengar apa yang diucapkan Arsyad, membuat Nabila menegakkan kepalanya dan berkata, "Apa Tuan meminta saya kesini hanya untuk memberbicarakan masalah ini? Kalau iya, maaf saya harus pergi karena atasan seperti anda tidak punya hak untuk ikut campur urusan pribadi karyawan seperti saya", ucap Nabila ketus, kemudian bangkit dari duduknya


"Tunggu Nona", cegah Arsyad yang ikut berdiri dari tempat duduknya


"Permisi", ucap Nabila sambil akan melangkahkan kakinya, namun dengan cepat Arsyad menghalangi langkah Nabila dengan merentangkan kedua tangannya di depan wanita itu.


"Tolong biarkan saya pergi, saya tidak akan membagi cerita pribadi saya kepada anda", pinta Nabila berusaha untuk menerobos.

__ADS_1


"Dengarkan saya sebentar, ini soal Jenica", ucap Arsyad tegas.


Mendengar nama Jenica, membuat Nabila diam terpaku. Dia yang tadi berusaha meloloskan diri dari ruangan itu, kini hanya berdiri sambil serius memasang telinganya.


"Aku tau Jenica sudah menemuimu, karena dia sudah menceritakan semuanya padaku. Dia adalah sepupuku. Dia sangat mencintai Denis dan aku cukup tau bagaimana perasaan Denis kepadanya. Katakan sebenarnya posisimu pada Jenica, jangan sampai kamu menyesal, karena aku tau siapa Jenica", ucap Arsyad.


Tanpa bicara sepatah katapun, Nabila segera melangkah meninggalkan ruangan itu, begitu Arsyad menurunkan kedua tangannya.


Arsyad hanya bisa memandang kepergian wanita yang begitu ia kagumi sambil bergumam dalam hati, "Aku memang belum bisa menghilangkan rasa ini, Nab. Tapi, aku sudah ikhlas jika kau ingin bersama orang lain, asal kau bahagia dan aku tidak akan membiarkan orang lain menyakitimu"


Sedangkan selepas keluar dari ruangan Arsyad, Nabila memilih untuk pergi ke pantry daripada ke ruangannya. Di dalam pantry hanya ada seorang office girl, ketika Nabila masuk ke dalamnya.


"Ada yang bisa saya bantu, bu?", Tanya seorang office girl kepada Nabila yang sudah duduk di salah satu kursi.


"Bisa buatkan saya teh hijau", pinta Nabila yang kemudian diiyakan oleh office girl itu.


Tak lama kemudian, office girl yang dari obrolan diketahui namanya Lisa itu sudah menyuguhkan secangkir teh hijau di hadapan Nabila.


"Terimakasih ya, Lisa", ucap Nabila dengan seberkas senyum yang sebenarnya berat untuk ditampakkannya. "Bisa temani saya disini?" Tanya Nabila sambil menepuk kursi yang ada di sebelahnya.


Lisa mengangguk, kemudian duduk di sebelah Nabila setelah mengambil beberapa potong roti dan segelas teh.


Setelah minum teh yang ada di hadapannya beberapa teguk, Nabila beralih memandangi gadis yang ada di depannya. "Kamu baru disini?"


"Iya, bu. Saya baru bekerja di sini seminggu, bu", jawab Lisa dengan semangat membuat Nabila langsung melihatnya langsung tersenyum.


"Pantesan saya baru lihat. Jangan panggil saya bu, panggil saja mbak. Apa saya sudah kelihatan sudah tua, kamu panggil bu?", ucap Nabila sambil menyeruput kembali tehnya.


" Hahaha...nggak bu, eh mbak, masih nampak masih mahasiswa malah hahaha...", ujar Lisa.


"Ah kamu bisa saja", ucap Nabila sambil diiringi tawa kecil.


Nabila menjulurkan tangannya. "Nama saya Nabila, jadi panggil aja mbak Nabila", ucap Nabila.


"Sudah tau mbak, tuh kan di name tagnya mbak ada", ucap Lisa sambil menunjuk name tag Nabila. Ucapan Lisa yang disambut tawa oleh Nabila.

__ADS_1


Obrolan mereka berdua tampak begitu seru, bahkan tak jarang tawa pecah dari mulut mereka. Nabila sementara bisa melupakan masalahnya.


Dari obrolan itu Nabila tau bahwa Lisa bekerja untuk biaya kuliahnya dan membantu ibunya mencari biaya sekolah adiknya. Cerita hidup Lisa hampir sama dengan cerita hidup Nabila.


__ADS_2