
Beberapa kali Nabila pingsan, setelah mengetahui Maminya telah tiada. Tak terkecuali, setelah baru saja pemakaman selesai di langsungkan malam itu. Wanita itu tiba-tiba pingsan, saat berjalan menuju mobil Nadira yang diparkir di sekitar area pemakaman.
"Kak!" Refleks suara kaget muncul dari Fendi, yang memang kala itu memapah Nabila yang nampak dalam kondisi lemah.
Fendi segera mengangkat tubuh kakaknya, menggendongnya menuju mobil Nadira. Mobil yang di tumpangi Nabila ketika berangkat ke pemakaman.
Dahlan yang sudah berada di sekitar parkiran, segera membukakan pintu mobil, tatkala melihat kondisi putrinya tak sadarkan diri.
Hubungan Dahlan dan Fendi sudah mulai membaik, meski belum sepenuhnya mencair. Karena, pasca pertemuan Dahlan dengan putranya waktu itu, dia pergi ke rumah mantan istrinya untuk meminta maaf dan menyatakan penyesalan kepada mantan istri dan putranya. Bahkan pria itu kerap berkunjung untuk membangun silaturahmi kembali.
"Kita ke rumah sakit saja, Dir! Papi kuatir dengan kondisi adikmu", kata Dahlan dan di iyakan oleh Nadira.
"Dira, coba kamu hubungi suami adikmu!" Perintah Dahlan pada anak sulungnya, sembari sekilas melirik ke arah Nadira.
"HP nya nggak aktif, Pi. Aku sudah beberapa kali menghubungi", sahut Fendi.
"Kurang ajar! Kemana anak itu? Kondisi istrinya seperti itu, malah ditinggal. Suami macam apa dia!" Marah Dahlan.
"Kalau sudah nggak peduli sama istrinya, biar aku yang mengurusinya. Aku masih sanggup menjaga anakku sendiri!" Celoteh Dahlan. Sepanjang perjalanan pria itu sibuk mengomel, mencela menantunya yang dianggap lalai dan tidak bertanggung jawab terhadap putrinya.
Di ruang IGD, dokter baru saja selesai memeriksa Nabila yang juga baru saja sadarkan diri.
"Anak saya kenapa, dok?" Tanya Dahlan, yang masih tidak melepaskan matanya dari anaknya yang kini dibantu minum oleh kakaknya.
"Anak anda tidak apa-apa, pak. Hanya Demam dan kelelahan. Dan sepertinya seharian, putri bapak tidak makan. Dan satu lagi, kehamilan yang dibarengi anemia memang mudah membuatnya letih bahkan pingsan", kata Dokter itu menjelaskan dengan tenang.
"Putri saya hamil, dok?" Kata Dahlan kaget. Ia memandangi dokter dan Nabila secara bergantian.
"Bapak tidak tau?" Tanya dokter dan Dahlan hanya menggelengkan kepalanya.
"Nona tau, kalau nona hamil?" Tanya dokter kepada Nabila.
Nabila mengangguk pelan sembari mengelus perutnya. Wajah kuyu masih tak hilang dari wanita itu. Sementara Nadira dan Fendi nampak senang dengan berita gembira yang baru di dengar dari dokter.
__ADS_1
"Apa anak saya perlu dirawat, dok?" Tanya Dahlan.
"Jika memang keluarga bisa memastikan pasien terawat dengan baik di rumah, maka tidak akan menjadi masalah jika dia cukup di rawat dirumah", kata Dokter.
"Aku mau pulang saja pi, Nabila nggak mau dirawat. Nabila baik-baik aja", ucap Nabila, menyela Papinya yang mau mengucapkan sesuatu kepada dokter.
"Dek, kondisimu masih lemah. Kamu di sini sementara, ya. Sampai benar-benar pulih", nasihat Nadira kepada adiknya.
Lagi-lagi Nabila menggelengkan kepalanya. Menatap Nadira dengan tatatapan memohon. "Aku mau pulang!" ucapnya.
Karena tak ada satupun yang bisa memaksa Nabila untuk tetap tinggal di rumah sakit, akhirnya semua terpaksa membawa Nabila kembali pulang.
Nabila yang masih dalam kondisi lemas dan sesekali menangis karena rasa kehilangan yang sangat akan kepergian maminya itu, dipapah masuk ke rumah oleh adiknya. Sementara Papinya dan Nadira mengikutinya dari belakang.
Saat akan dibawa masuk ke dalam kamarnya, ia menolak. Ia memilih untuk dibawa ke kamar maminya. Di kamar itu perasaan sedihnya semakin menjadi, ia kembali menangis kencang meratapi kepergian orang yang paling ia sayangi.
*******
Jenica tak mau bertemu siapapun kecuali Denis, namun kedatangan Roy mengubah semuanya. Kedatangan Roy membuat wanita itu menjadi lebih tenang, terutama setelah semua keluh kesahnya itu ia utarakan pada sosok yang kini ia cintai itu.
Tanpa menunggu hari menjadi terang, diwaktu yang masih gelap itu, Denis memutuskan untuk segera pulang menemui seseorang yang sudah sangat ia rindukan, siapa lagi kalau bukan istrinya.
Senyum cerah menghiasi wajah pria itu, tatkala raganya mulai masuk ke dalam rumah yang nampak sepi suasananya. Rasa-rasanya ia benar-benar tak sabar berjumpa sang istri, yang dia bayangkan kini sedang tertidur pulas karena kelelahan menunggunya pulang.
Perlahan Denis membuka pintu kamarnya. Lampu yang masih menyala dalam ruangan itu menunjukkan pada indra penglihatannya, bahwa istrinya tak nampak di dalam kamar yang bernuansa serba putih itu.
Setelah melepaskan pakaian bagian atas miliknya, Denis merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur, bermaksud menunggu sang pujaan hati yang ia kira kini sedang berada di kamar mandi.
Karena rasa letih dan kantuk yang menderanya sangat kuat, sebab memang semalaman pria itu tak bisa memejamkan matanya, Denispun tertidur dalam suasana yang lumayan dingin itu hingga mentari benar-benar datang menyinari bumi.
"Sayang", ucap Denis lembut, memanggil sangat kekasih yang ia duga ada di ruangan itu, kini.
Menyadari panggilannya tidak ada yang merespon, Denis perlahan membalikkan tubuhnya dengan malas. Rasa kecewa muncul tatkala matanya tidak menangkap sosok yang sedang dia cari.
__ADS_1
"Sudah jam 8" gerutunya, tatkala ia baru saja melihat jam di dinding kamarnya itu. Ia bergegas masuk kamar mandi, hendak menyiapkan diri untuk berangkat bekerja.
Setelah memakai pakaian yang baru saja ia ambil dari lemari, Denis keluar dari kamarnya dan berjalan menuju lantai satu rumahnya. "Sayang.....sayang.... ", panggil pria itu sembari matanya berkeliaran mengamati sekelilingnya.
Merasa tak mendapat jawaban, Denis mempercepat langkahnya menuju dapur, tempat yang biasa dikunjungi Nabila pada jam-jam seperti sekarang. Lagi-lagi ia merasa tertipu karena tak mendapati istrinya ada di tempat ia berdiri kini.
Merasa curiga, sebab kondisi dapur dan ruang makan yang masih nampak beberapa alat makan yang bekas digunakan kemarin, dengan panik Denis menelusuri seluruh ruangan di rumah itu, sambil berteriak memanggil istrinya.
Tak ada satupun ruangan yang absen ia datangi di rumah itu, namun sosok wanita yang ia cari tak bisa ia temukan. Di balik kecemasannya itu, otak Denis yang masih mampu berpikir jernih mendapatkan pencerahan.
Pria itu yakin, istrinya pasti sedang di tempat mertuanya yang kemarin ia ketahui sedang sakit. Ia pun bergegas untuk menyusul.
Sampai di rumah sang mertua, Denis yang baru saja turun dari mobil, mengetuk pintu yang ada di depannya perlahan. Tak perlu menunggu lama, seseorang nampak membukakan pintu untuknya dari dalam.
"Ada apa kakak kesini?" Tanya Fendi dengan tampang tak sukanya.
Denis mengerutkan keningnya, memandang iparnya dengan heran. "Istriku disini, kan?" Tanyanya ragu.
"Istri? Kau masih menganggap kakakku istri? Sementara kau membiarkan kakakku terpuruk sendirian", kata Fendi dengan tatapan membunuh.
Denis yang tak memahami situasi, menjadi bingung dengan sikap Fendi. Ia berusaha tetap mendinginkan pikirnya, meskipun sebenarnya omongan Fendi menyinggung perasaannya.
"Jadi apakah aku bisa bertemu istriku?" Tanyanya Denis lagi, sambil melangkahkan kaki, bermaksud menerobos masuk. Namun, dengan cepat tangan Fendi menghalangi langkahnya.
Denis menatap iparnya itu dengan tatapan tak terima, kemudian memaksa tetap masuk dan pada akhirnya Fendi membiarkannya.
Denis yang baru saja akan membuka pintu kamar istrinya, menghentikan niatnya, ketika suara Fendi menginterupsinya. "Dia ada di kamar almarhumah mami", kata Fendi.
Mendengar ucapan Fendi, Denis bagai tersambar petir. " Almarhumah? Mami...apa?" Lirih suara Denis.
Pria itu bersegera masuk ke kamar milik mertuanya, ia bisa merasakan bagaimana perasaan istrinya kini. Ada sesal di hati pria itu meninggalkan istrinya kemarin. Namun, lagi lagi ia kecewa tak mendapati Nabila di dalam ruangan yang baru saja ia buka pintunya.
Fendi yang merasa ada yang tidak beres, berlari mencari kakaknya di setiap ruang di tempat itu, namun sosok yang ia kagumi selama ini tak ada di dalam rumah itu.
__ADS_1