Menunggu Cintamu Berkembang

Menunggu Cintamu Berkembang
Penolakan


__ADS_3

"Nabila mami minta tolong kamu ke pasar ya? Beberapa daftar belanjaan mami ternyata nggak ada di warungnya mbak Asih", pinta mami pada Nabila.


"Ok, mi!" Jawab Nabila sambil mengacungkan satu jempolnya, kemudian kembali memasukkan sendok berisi bubur ayam ke mulutnya.


"Dek, siap nganter kakak kan?" Tanya Nabila pada Fendi yang fokus pada makanan yang ada di depannya.


Fendi mengangkat kepalanya, setelah makanan yang ada di mulutnya tertelan sempurna, ia berkata, "Sama kak Denis saja kak, aku masih mau nyelesein laporan, besok sudah hari senin waktunya setor laporan."


Denis meletakkan telapak tangannya di atas punggung tangan Nabila, kemudian meremasnya dengan lembut sehingga si pemilik tangan itu menoleh kepadanya.


"Biar kuantar saja, ya?", ucap Denis lembut diiringi anggukan.


"Aku bisa naik angkot saja, mas." Ucapnya sambil menarik tangannya dari tangan suaminya.


~~Ntahlah seperti apa perasaanku saat ini, aku pun tak tau. Kasih sayang dan perhatian yang akhir-akhir ini suamiku berikan bertubi-tubi, terasa menjadi candu bagiku. Membuatku selalu ingin selalu dekat, disayang, diperhatikan. Sangat nyaman dan terlindungi berada di dekatnya. Meski aku sadar aku belum mampu membalas yang sepadan dengan apa yang suamiku berikan.


Cinta?! Ntahlah rasa apa sebenarnya yang ada dalam diriku, tapi sepertinya bukan cinta. Mungkin pelan aku sudah mulai bisa menyingkirkan kisah cinta masal lalu dalam hatiku, tapi menumbuhkan cinta baru masih terasa sulit bagi jiwa kosong ini, meski logikanya menuntutku untuk memenuhinya. Aku amat ingin mencintai pasanganku, dengan cinta yang besar.


*Namun, kenangan malam itu telat melekat erat dalam memori otakku, mengikis perlahan asa yang mulai ku bangun. Tangis yang mendominasi malam-malamku juga ikut bersekutu menggoyahkan kepercayaanku terhadap pria yang kini ada di sisiku.


Siapa wanita yang tak perih? Siapa wanita yang tak terluka? Siapa wanita yang tak nestapa? Menemukan jejak prianya menikmati surga dunia bersama wanita di luar sana? Meski dia bilang tak lagi mencintanya.


Terkadang muncul di benakku, biarkan saja ikatan itu terlepas biar hilang semua lara.


Tapi justru aku takut lepasnya dia akan membuat luka baru yang sulit disembuhkan.


Karena aku masih meraba...ada rasa apa sebenarnya dari jiwaku untuknya.


Tolong yakinkan aku, haruskah aku bertahan atau melepaskan. ~~ (Nab*)


"Kalau begitu aku sebagai suamimu tak mengijinkanmu pergi, meski orang tuamu yang memintanya", tegas Denis dengan tatapan yang dingin kepada Nabila.

__ADS_1


Ia menyudahi sarapannya, meskipun belum ada separuh bubur di mangkoknya itu dia makan. Dia bangkit dari duduknya dan melangkah menjauhi orang-orang yang kini sedang menatapnya penuh tanya.


~~Aku tak tau sejak kapan rasa ini datang. Rasa nyaman dan bahagia ketika dia ada di sisiku. Rasa takut kehilangan dia. Dan rasa ingin menjadikan aku satu-satunya yang dia pandang.


Aku tau sebuah luka telah kutorehkan jauh di lubuk jiwamu yang terdalam. Tapi apakah tak ada lagi kesempatan dan kepantasan untukku tetap membersamaimu, melindungimu, dan menjadi sandaranmu saat kakimu payah menopangmu.


Aku tau dari matamu, belum ada tunas-tunas cinta tumbuh untukku disana. Tapi sejuta keyakinan menerpaku, akan tiba waktuku menjadi laki-laki paling penting di mimpi juga nyatamu. Maka, biarkan aku datang, mengetuk, dan masuk ke situ. ~~ (Dns)


"Susul suamimu sana! jangan membuatnya terluka dengan penolakanmu! Kamu adalah istri. Semarah apapun dirimu, tetap hargai suamimu." Ucap mami kepada Nabila.


Nabila bangkit dari tempat ia duduk, kemudian berjalan keluar untuk mencari keberadaan suaminya. "Apa aku sudah keterlaluan?", batinnya.


Kakinya berhenti melangkah tatkala matanya tengah menangkap sosok yang dicarinya, duduk di salah satu kursi di pojokan teras. Laki-laki itu nampak sedang bicara dengan seseorang di ujung telpon.


"Baiklah, katakan saja padanya aku bersedia menemuinya jangan lupa hubungi Karina agar menyiapkan apa-apa yang aku butuhkan." Kata Denis mengakhiri percakapannya di telpon.


Denis menyandarkan punggungnya pada kepala kursi, hendak merilekskan otot-ototnya yang terasa kaku. Namun niatnya terurungkan tatkala ada suara dari arah belakangnya memanggil dengan suara yang lembut. Suara yang begitu sering akhir-akhir ini ia rindukan.


Denis mengalihkan pandangan ke arah si pemanggil, kemudian tersenyum simpul. Ia mengubah letak duduknya supaya leluasa melihat istrinya.


"Sudah selesai sarapannya?" Tanya Denis dan di jawab anggukan oleh Nabila.


"Mas Denis mau melanjutkan makannnya tadi? Aku ambilkan ya?" tawar Nabila. Ia akan beranjak dari duduknya namun suara Denis menghentikannya.


"Nggak usah, Nab. Aku sudah kenyang," jawab Denis bohong padahal perutnya sedari tadi protes minta diisi.


"Mas, maafkan kata-kataku tadi ya, tidak seharusnya aku menolak permintaanmu." Ucap Nabila, matanya nampak penuh penyesalan.


Denis tersenyum, kemudian bangkit dan berjalan mendekati Nabila. Ia berhenti tepat di depan wanitanya itu. Ia membungkukkan sedikit badannya dan mengambil telapak tangan Nabila, lalu meletakkan diatas telapak tangannya. Sementara telapak tangan lainnya ditumpangkan ke punggung tangan Nabila tadi.


Ia mencoba mengamati wajah Nabila dengan teliti. "Aku sudah memaafkanmu tanpa kamu memintanya", ucap Denis diiringi senyuman yang tulus.

__ADS_1


Nabila menarik kedua ujung bibirnya, menampakkan bahwa dia bahagia mendengar kata - kata yang keluar dari mulut suaminya. "Ayo kita berangkat, sekarang!", ucapnya kemudian, dengan wajah yang berbinar.


Denis meletakkan telapak tangannya ke pipi Nabila. "Maaf ya sayang, aku harus pergi sekarang. Ada klien yang meminta bertemu. Biar Fendi yang mengantarmu, aku akan bicara padanya. Aku nggak ngijinin kamu naik angkot," Kata Denis, yang kemudian mencium kening Nabila sejenak sebelum akhirnya masuk ke dalam rumah.


Nabila yang tadinya sudah nampak senang, kini mukanya beralih sendu. Sakit rasanya mendapat penolakan dari suaminya, meskipun penolakan itu beralasan. Meski kecewa, ia berusaha baik-baik saja.


Setelah mampu menetralkan perasaannya, Nabila memutuskan masuk menyusul suaminya ke dalam rumah.


Denis memutar kepalanya ke arah pintu bersamaan dengan Nabila yang nampak sudah masuk ke kamar itu.


"Yang, tau dimana jasku yang tadi disitu?" Tanya Denis, sambil menunjuk ke arah tempat tidur.


"Aku simpan di lemari baju, mas," Jawab Nabila sembari berjalan menuju lemari baju. Tadi waktu hendak sarapan, Nabila sempat masuk ke kamar lagi untuk menyisir rambutnya. Karena melihat barang-barang Denis berantakan, ia pun merapikannya.


Nabila membantu Denis memasangkan Jas ke badannya serta memasangkan dasi ke leher suaminya itu.


"Aku sudah bicara ke Fendi, dia akan mengantarmu ke pasar. Segeralah pulang setelah selesai, jangan mampir kemana-mana. Aku mungkin pulang agak larut, jadi kalau sudah mengantuk tidurlah, tidak perlu menungguku," Nasihat Denis kepada Istrinya. Kedua tangannya kini telah melingkar di pinggang istrinya.


"Ge-er, siapa juga yang mau menunggumu," Balas Nabila dengan gaya cueknya, membuat Denis tertawa keras dan menarik hidung istrinya hingga kemerahan.


"Aku pergi dulu ya!" Pamit Denis. Sebelum melangkah keluar kamar, ia tak ingin melewatkan kesempatan untuk menikmati bibir istrinya. Denis baru mau keluar setelah Nabila mendorong tubuh kekarnya karena kesakitan atas tingkahnya yang menggigit bibir tipis istrinya itu.


Setelah berpamitan kepada mertuanya, Denis segera berangkat dengan mengendarai motor yang merupakan hasil barter dengan adik iparnya.


_________


**Alhamdulillah bisa up hari ini, di tengah rutinitas yang begitu padat.


Ditunggu Like, comment, dan vote nya ya readers🤗


Happy Reading😘**

__ADS_1


__ADS_2