
Tengah malam Denis terbangun ketika dia merasa tenggorokannya sangat kering. Dia berniat bangun dan mengambil minum di dapur. Tapi ketika matanya sudah terbuka lebar dia terkejut mendapati tubuh istrinya meringkuk dan menelusup ke dadanya.
Akhirnya Denis mengurungkan niatnya untuk turun dari ranjang karena kuatir istrinya terbangun ketika ia bergerak. Ia membelai lembut rambut Nabila dan menghujani kepalanya dengan ciuman.
Denis mencoba memejamkan matanya kembali namun tak bisa. Pikirannya menerawang pada peristiwa demi peristiwa yang akhir-akhir ini ia alami bersama Nabila.
Ia merasa ada yang salah dan berbeda dengan dirinya beberapa hari terakahir. Biasanya ia akan cuek terhadap wanita-wanita yang ada di sekelilingnya, tidak terkecuali mantan-mantan pacarnya. Tapi tidak dengan Nabila.
Akhir- akhir ini ia merasa lemah di hadapan wanita yang sudah lebih dari sebulan dinikahinya itu. Dia menjadi peduli dengannya dan perasaannya serta merasa nyaman ketika berada di dekatnya.
Ia mengusap wajahnya kasar, kemudian dipeluk nya tubuh istrinya itu hingga menghantarkannya melanjutkan mimpinya.
Denis sedang di balkon sedang menikmati segelas kopi, sementara Nabila nampak baru keluar dari kamar mandi ketika pintu kamarnya di ketuk dari luar. Nabila segera melangkah menuju pintu dan membukanya. Dia nampak tersenyum ketika melihat siapa yang mengetuk pintu kamarnya.
"Sayang, mama and papa mau menjenguk teman papa di luar kota, kamu and Denis jaga diri ya sayang", kata mama Denis.
Nabila mengangguk, kemudian berkata, "Pagi sekali mama berangkatnya, mama sudah sarapan?"
"Ia sayang, kita berangkat pagi-pagi biar tidak perlu menginap, dan bisa kembali pulang sebelum malam. Nanti kita sarapan di jalan saja. Kamu and Denis segera turun ya buat sarapan", Kata mama Denis dan diiyakan oleh Nabila. Kemudian mencium pipi kanan dan kiri menantunya itu sebelum melangkah pergi.
Setelah sarapan Denis duduk di sofa ruang keluarga sambil membaca e-mail yang dikirim sekretarisnya dan asistenya ditemani Nabila yang juga tak kalah sibuk memeriksa hasil pekerjaan teamnya yang baru saja dikirim.
Tak ada satupun kata yang terucap dari mulut mereka, suasana begitu tenang. hingga suara bell membuyarkan fokus mereka dari laptop masing-masing.
Nabila hendak beranjak dari duduknya untuk membukakan pintu, tapi diurungkan ketika mak Sumi yang sedang mengelap perabotan nampak lebih dulu melangkah ke arah pintu.
Terdengar langkah sepatu seseorang yang berjalan cepat menuju ke dalam rumah. Sampai di ruang keluarga ia sedikit berlari, menuju kearah Denis dan duduk disebelah Denis sambil menggelanyut manja di lengan Denis.
"Kak, aku kangen banget!", ucap Vanya lembut sambil mencium pipi Denis yang membuat Denis risih dan berusaha melepaskan tangan Vanya dari tangannya. Denis melirik Nabila sekilas yang matanya tak berkutik dari layar laptop.
" Vanya, kamu jangan begini. Aku nggak suka", kata Denis.
Vanya tidak menghiraukan ucapan Denis bahkan ia malah menyandarkan kepalanya dipundak Denis. Denis mencoba menghindar dengan meletakkan laptop yang baru saja di tutupnya ke atas meja.
__ADS_1
Denis kemudian beralih duduk di sofa di belakang Nabila yang tak mempedulikan dua manusia yang ada bersamanya.
"Bagaimana pekerjaanmu sudah selesai?", tanya Denis pura-pura.
"Belum, ada beberapa pekerjaan teman-teman yang perlu sedikit diperbaiki jadi membutuhkan waktu lebih banyak", jelas Nabila sambil memperlihatkan layar leptopnya ke Denis.
" Nanti kalau sudah selesai kirim ke email ku, aku ingin melihatnya", kata Denis sambil merebahkan tubuhnya ke sofa dan memejamkan mata.
Vanya yang merasa dicueki menghentakkan kakinya ke lantai. "Kakkkk", teriaknya. Namun Denis tetap tak menghiraukan nya.
Dia berdiri dan melangkah ke arah Denis, namun tubuh Nabila yang sedang duduk di bawah menghalanginya.
"Pergi kamu sana", sambil mengayunkan kakinya ke punggung Nabila.
Nabila pun menggeser tubuhnya ke sisi meja yang lain sambil melirik kearah Vanya.
"Kakkkk ayo kita jalan ya, aku kangen pengen jalan sama kamu lagi", Vanya merajuk sambil menggoyang-goyangkan tubuh Denis Namun Denis tetap tak merespon.
Vanya menjatuhkan tubuhnya diatas Denis kemudian mencium paksa bibir Denis. Denis yang kaget langsung terpejam, bangkit dan mendorong tubuh Vanya.
"Apa-apaan kamu", teriak Denis tampak emosi.
"Kita kan akan bertunangan, apa salahnya kita melakukan itu kak", kata Vanya dengan santai, sambil mengelus paha Denis namun segera di tepis oleh Denis yang kemudian membuang muka karena enggan melihat wajah lawan bicaranya itu.
"Ayolah kak jangan marah, aku tau bahkan kakak sering melakukan lebih dari itu dengan pacar-pacar kakak", suara Vanya manja.
Denis yang hendak mengomentari perkataan Vanya, mengurungkan niatnya ketika melihat istrinya tiba-tiba berdiri dan pergi dari hadapannya dengan sedikit berlari.
"Kau pergilah dari sini, jika tak ingin aku menyakitimu", kata Denis sambil mengenggam kuat tangannya seperti ingin memukul sesuatu.
" Kakkk", Vanya merengek dan berusaha mencari perhatian Denis.
"Pergi kataku!" bentak Denis sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arah pintu keluar.
__ADS_1
Vanya pun akhirnya menyerah, ia mengambil tasnya dan beranjak pergi dari tempat itu sambil berjalan mulutnya terus mengumpat.
Sepeninggalan Vanya, Denis segera naik ke atas menuju kamarnya. Dia memutar gagang pintu, setelah pintu terbuka ia masuk, namun orang yang dicarinya tak terlihat.
Ia membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur, tak berapa lama pintu kamar mandi terbuka dan Nabila muncul dari dalam, kemudian duduk di sofa.
Denis yang menyadari kehadiran istrinya, segera bangkit dan ikut duduk di sofa disamping istrinya.
Di tatapnya wajah istrinya lekat. "Ayo kita jalan", ucap Denis lirih.
"Aku pengin pulang, ayo kita pulang!" Kata Nabila, sambil menahan airmata yang hampir jatuh tanpa berani melihat ke arah suaminya.
Denis terkejut mendengar kata-kata Nabila. "Kamu kenapa tiba-tiba ngajak pulang?", tanya Denis yang hanya dijawab gelengan oleh Nabila.
"Ayolah Nab, jangan diam saja. Bicaralah ada apa? Apa kamu marah melihat peristiwa tadi?" Namun Nabila tetap diam tak menjawab pertanyaan Denis sama sekali.
"*Kamu tau sendiri aku tidak berbuat apa-apa dan seperti yang pernah kubilang, dia kuanggap seperti adikku tidak lebih. Apa yang dia lakukan tadi adalah inisiatifnya, aku sama sekali tak membalas", kata Denis sedikit emosi. Nabila pun tak bergeming.
" Nab", teriak Denis yang tidak sabar dengan sikap Nabila.
"Terserah kau saja, percuma bicara denganmu buang-buang waktu*", ucap Denis keras kemudian keluar dari kamar dan menutup pintu dengan cukup keras.
Air mata Nabila yang dari tadi ditahannya langsung tumpah, sepeninggalan Denis. Semakin ditahan tangisan itu semakin deras airmatanya mengalir.
Lama ia menyendiri dengan tangisnya, hingga suara sesenggukan itu memenuhi kamar dan membawanya tertidur perlahan mengiringi waktu yang semakin siang.
Sore telah datang. Nabila yang baru selesai mandi mendudukkan tubuhnya dipinggiran tempat tidur masih dengan jubah mandinya. Matanya terlihat bengkak karena terlalu banyak menangis. Saat ia hendak mengganti bajunya tiba-tiba Denis masuk ke kamar.
Denis langsung masuk ke kamar mandi tanpa mengucapkan apa-apa.
Tak lama kemudian Denis keluar dari kamar mandi. Dia sudah tampak segar dengan rambut basahnya dan jubah mandi yang masih melekat di tubuhnya.
Nabila sudah menyiapkan pakaian ganti untuk Denis di atas tempat tidur, tapi tak disentuh sama sekali oleh Denis. Dia mengambil sendiri pakaiannya di lemari baju.
__ADS_1
Setelah rapi, Denis bergegas keluar kamar. Sebelum membuka pintu kamar, dia berucap, " Jangan menungguku pulang". Kemudian ia menutup dengan keras pintu itu dan beninggalkan Nabila sendiri di kamarnya.