
Nabila masuk ke dalam kamar, sesaat setelah dirinya berbincang dengan sang adik di teras rumah sembari menunggu kedatangan suaminya yang ternyata sampai detik ini pun tak kunjung terlihat batang hidungnya.
Makan malam pun telah ia lewatkan dengan sengaja, berharap malam ini tetap bisa makan malam bersama suaminya, meski sudah lewat waktunya.
Nabila mendaratkan tubuhnya di atas tempat tidur. Tanpa melihat, tangannya berusaha meraba-raba di atas bantal yang ada di sebelahnya untuk mendapatkan sesuatu yang sedari siang tadi tergeletak di sana.
Setelah barang itu berhasil ia dapatkan, ia menarik tangannya, sehingga kini barang itu sudah ada di atasnya, berhadapan dengan wajahnya. Jam di ponsel itu menunjukkan pukul 20.48, sesaat ketika tangannya berhasil menyalakannya.
Nabila menghembuskan nafas dari mulutnya. Beberapa pikiran mengenai keberadaan suaminya seketika melipir di pundaknya, sehingga sempat membuat cemas dirinya. Terlebih ini malam minggu, dimana malam minggu bagi sebagian orang identik dengan santai dan senang-senang.
Harusnya ia tak perlu khawatir, toh Denis sudah mengatakan bahwa yang dilakukan adalah urusan pekerjaan lagi pula ia juga sudah menyampaikan akan pulang larut malam.
Nabila membuka menu kontak yang ada di ponselnya, kemudian memilih memencet satu nama yang ada di barisan paling atas. Kebingungan melanda dirinya, antara memilih mengirim pesan atau menelpon nama itu. Namun, tak selang lama ia memutuskan untuk menelpon saja laki-lakinya itu.
Muka Nabila berubah nampak kecewa ketika ternyata nomor yang ia hubungi tiga kali itu sedang tidak aktif. Ia kemudian turun dari tempat tidur dan keluar menuju ruang tamu, setelah sebelumnya ia terlebih dulu mengambil sebuah buku dari rak buku dan sebuah bantal.
Ia menyalakan kembali lampu di ruangan itu, yang setengah jam lalu sudah di matikan penghuni rumah lainnya. Kemudian ia meletakkan bantal di atas sofa itu dan merebahkan diri di sana sembari menghabiskan lembar demi lembar novel yang ada di tangannya, hingga tanpa mau di kontrol rasa kantuk mendera dan pada akhirnya membawanya ke alam mimpi.
Waktu benar-benar menunjukkan tengah malam, ketika Denis berhasil mematikan mesin motor tepat di depan rumah sederhana itu. Ia memarkirkan begitu saja kendaraannya di halaman rumah berjejer dengan mobil yang kini bukan menjadi miliknya lagi, tanpa takut akan ada maling mengambil alihnya.
Ia hendak mengetuk pintu rumah, tapi tak jadi ia lakukan ketika tangannya lebih dulu berhasil membuka pintu rumah yang memang sengaja tidak dikunci agar dirinya bisa langsung masuk tanpa membangunkan penghuninya yang sudah terlelap.
Denis yang sudah membawa masuk tubuhnya dengan sempurna ke dalam rumah, dikejutkan oleh sosok wanita cantik yang kini tengah memejamkan mata dengan buku yang tergeletak di atas dadanya. Namun, sedetik kemudian wajah terkejutnya berubah seketika, ia pun menarik kedua ujung bibirnya ke atas.
"Dasar wanita! Aku tau kamu pasti akan menungguku," Gerutunya dalam hati sembari mengangkat tubuh istrinya dan membawanya masuk ke kamar.
Denis meletakkan dengan pelan tubuh Nabila di atas tempat tidur, kemudian menutupkan selimut di atasnya hingga yang terlihat kini hanya kepalanya saja. Denis kembali keluar untuk mengambil sesuatu yang tadi sempat ia tinggal di ruang tamu karena harus menggendong istrinya ke kamar.
__ADS_1
Setelah melepaskan jas dan merenggangkan dasi, Denis merangkak naik ke atas tempat tidur dengan perlahan agar tak membangunkan istrinya. Ia merebahkan tubuhnya berhadap-hadapan dengan Nabila.
Denis mengamati dengan teliti wajah istrinya sembari menelusuri dengan jemari tangannya. Batinnya tak mengingkari kekagumannya pada wajah itu.
Ia menggeser tubuhnya lebih dekat hingga kini wajah mereka berjarak tak lebih dari 10 cm. Tangannya yang tengah beristirahat, kini digantikan oleh bibirnya. Bibir Denis mengabsen satu persatu bagian wajah Nabila hingga tak ada yang terlewat.
Laki-laki itu mengecup dengan lembut kening, mata, pipi, hidung, dagu, dan tentu saja bibir istrinya itu, yang terasa sudah menjadi magnet positif untuk bibirnya. Denis melakukan itu berulang-ulang, tanpa rasa bosan, bahkan semakin membuatnya tak ingin mengakhirinya.
Tidur Nabila tak terganggu dengan tingkah suaminya itu, kecuali hanya geliat-geliat kecil yang sesekali mewarnai tidurnya yang diusik. Namun, sedikit gerakan Nabila itu justru memantik Denis untuk melakukan yang lebih dari itu.
Denis yang sudah mulai tergoda akan tubuh indah nan putih di depannya itu, masih mencoba menahan diri. Baginya belum saatnya ia menumpahkan hasratnya yang bergelora bersama bidadarinya itu, karena ia yakin istrinya pasti belum ingin melakukannya lagi karena peristiwa beberapa hari lalu yang tentu masih melukai hatinya.
Bukan salah Nabila memang jika keinginannya kali ini tidak tersalurkan, melainkan karena tingkah bodohnya sendiri. "Aku ingin melakukannya ketika engkau dan aku ada di puncak kesadaran, sayang", batin Denis sembari mengecup dengan sayang kening Nabila. Ia kemudian berlalu menuju kamar mandi, ingin mendinginkan kepalanya yang serasa sudah mau pecah.
Denis segera menggelar sajadahnya, selepas menyiram seluruh badannya dengan dinginnya air malam ini. Sujudnya sepertiga malam itu adalah bentuk perwujudan penyampaian penyesalan atas dosa besarnya sekaligus permintaan agar bidadarinya bersedia membuka hati untuknya dan hanya untuknya.
"Mas Denis sudah pulang?" Tanyanya dalam hati. "Bukankah tadi aku membaca buku di depan? Berarti?". Nabila melihat ke arah jam dinding yang saat itu menunjukkan pukul 04.40
Nabila turun dari ranjang hendak memastikan sekarang suaminya ada dimana. Namun seketika langkahnya terhenti ketika didapati tubuh meringkuk dilantai sejajar dengan kaki tempat tidur di ruangan itu, amat dia kenal.
Ia mendekati laki-laki itu kemudian berjongkok agar bisa melihat lebih dekat wajahnya. Cuppp....dia kecup pipi itu sekilas, yang tanpa dia sadari itu membuatnya malu sendiri. Entah darimana datangnya dorongan untuk melakukan itu.
"Mas.....bangun sayang! Sudah subuh," Panggil Nabila lembut disertai goyangan-goyangan kecil di bahu suaminya. Kali ini hal baru lagi yang dilakukan Nabila. Sejak kapan mulutnya mulai enteng memanggil suaminya itu dengan sebutan sayang?
******
"Apa ini mas?" Tanya Nabila, ketika suaminya menyodorkan sebuah benda yang di bungkus kertas berwarna coklat ke hadapannya.
__ADS_1
"Selamat ulang tahun, sayang!" seru Denis, kemudian mengecup kening Nabila dengan sayang, membuat pelupuk mata wanita itu kini di nampak di genangi air.
"Makasih ya mas,” ucap Nabila sembari mencium punggung tangan suaminya.
"Kamu kok tau, mas? Aku saja lupa"
"Bolah di buka?"
"Hemm", Jawab Denis singkat, senyum tipis terulas di bibirnya.
Nabila membuka kado itu perlahan, menyobek satu persatu bagian kertas yang menutupinya, hingga akhirnya menampakkan isi di dalamnya.
"Masya Alloh bagus sekali, mas!Boleh aku pasang nggak?" Tanya Nabila.
"Boleh, kamu pasang di kantor juga boleh." Jawab Denis santai. Mendengar ucapan suaminya, Nabila mengerucutkan bibirnya lalu mencubit pinggang suami jahilnya itu, membuat Denis pun tertawa.
"Aku mau memasangnya dikamarku saja", ucap Nabila.
"Kamarku? Kamar kita! Aku mau detik ini kita punya satu kamar saja! Atau kamu bisa pasang di ruang tamu biar semua orang bisa melihatnya", kata Denis.
Apa yang diucapkan Denis membuat Nabila membulatkan matanya, karena terkejut. Ada rasa tidak percaya dengan apa yang diutarakan suaminya sekarang, namun ada percikan rasa bahagia karena ucapan itu.
Denis memberinya hadiah sebuah foto pernikahan mereka yang berukuran besar dengan pigura cantik yang menghiasinya. Sederhana, tapi istimewa bagi Nabila.
______
Happy Reading😉
__ADS_1