
Denis sudah berhasil menyalakan ponsel Nabila yang semula mati. Ia memeriksa isi ponsel itu dengan teliti. Rahangnya mengeras dan tangannya yang mengepal ia pukulkan ke tempat tidur. "Kurang ajar kamu Jen!" Seru Denis ketika melihat riwayat obrolan Jenica dengan istrinya.
Denis menyusul Nabila yang sedang duduk di kursi panjang yang ada di balkon. Ia melingkarkan kedua tangan ke tubuh istrinya dan kepalanya ia sadarkan ke kepala istrinya, tatkala tubuhnya sudah mendarat di kursi yang sama dengan istrinya itu.
"Kenapa kamu nggak cerita kalau kamu habis bertemu wanita itu dan juga tentang foto itu?" Tanya Denis.
Nabila sama sekali tak merespon. Ia hanya duduk dengan pandangan kosong. "Jadi itu penyebab kamu seperti ini?" Tanya Denis lagi, meski Nabila tetap saja tak menganggapnya ada di situ.
Denis melepaskan pelukannya. Ia memutar kepala Nabila dan menangkupkan kedua tangannya di kedua pipi wanitanya itu. "Nabila lihat lihat aku!" Perintah Denis, tatkala Nabila hanya menundukkan pandangannya. Namun Nabila tetap saja tak mau melihat ke arahnya, meski Denis sudah memintanya beberapa kali.
"Benar kamu ingin berpisah? Kamu ingin pergi dariku? Tapi dengarkan aku dulu, setelah itu terserah padamu mau melakukan apa", ucap Denis.
Mendengar ucapan Denis, membuat Nabila akhirnya mengangkat kepalanya. Luka yang ia rasakan kian menganga, membuat air mata wanita itu meluber tanpa suara.
Denis mencoba menghapus air mata Nabila meski sia-sia. "Lihat aku Nab, lihat mataku!" Perintah Denis yang akhirnya diikuti oleh istrinya meski matanya tak mampu melihat sempurna karena cairan bening yang masih mengabuti matanya.
"Aku Denis sudah pernah berjanji padamu bahwa aku akan belajar mencintaimu dan akan menjagamu. Artinya apa? Hatiku tak akan terisi oleh wanita lain, termasuk Jenica meski dia pernah bersamaku selama 3 tahun. Tak ada lagi cinta tersisa untuknya. Aku hanya mau kamu, Nab", ucap Denis yang kemudian membenamkan kepala Nabila ke dadanya
"Aku tak sengaja bertemu dia di hotel. Dia melihatku dan berupaya mendekatiku, meski aku sudah berusaha menghindarnya. Apa aku harus mengusirnya? Bukankah itu tempat umum? Lalu apa hakku mengusirnya. Apakah di dalam foto itu aku beduaan saja dengannya? bermesraan dengannya? Atau aku ada di dalam kamar hotel dengannya?" Kata Denis diikuti hembusan nafasnya yang kasar.
"Aku dulu memang brengsek. Suka gonta-ganti pacar, selingkuh, mainin hati wanita. Tapi itu sebelum aku mengenalmu. Sekarang aku cuma mau kamu saja", ucap Denis sembari menghujani kepala Nabila Dengan ciuman.
"Sekarang aku kembalikan kepadamu. Jika dengan pergi dariku akan membuatmu bahagia, aku bisa apa?", ucap Denis lirih.
Pria itu kemudian beranjak dari duduknya, dan melangkah masuk ke dalam kamar. Saat kakinya baru akan melewati pintu kamar, tiba-tiba dua buah tangan melingkar dari arah belakang tubuhnya, ia pun menghentikan langkahnya.
__ADS_1
Denis hanya diam mematung, merasai pelukan hangat dari sang istri, meski punggungnya kini telah basah karena air mata Nabila yang masih tak kunjung berhenti. "Bolehkah aku mencabut kata-kataku?" Lirih suara Nabila diselingi sesenggukan.
Denis memilih untuk memutar tubuhnya, sehingga kini mereka saling berhadapan. Ia menarik tubuh Nabila untuk masuk ke dalam pelukannya. "Boleh sekali sayang. Aku ingin sampai kapanpun itu tak akan lagi keluar dari bibirmu", kata Denis.
Nabila mengeratkan pelukannya, seolah tak mau melepasnya. "Maafkan aku mas. Aku percaya padamu. Aku mau di dekatmu saja", kata Nabila.
Denis melepaskan pelukannya dan mendorong sedikit badan Nabila. Ia meletakkan kedua tangannya tepat di pipi Nabila. "Aku akan selalu di sampingmu, menjagamu, dan akan mencintaimu", kata Denis sembari menghapus sisa-sisa air mata di wajah istrinya.
"Sekarang senyum ya", pinta Denis yang akhirnya membuat senyum tipis Nabila nampak menghiasi wajahnya yang terlihat sangat berantakan. Denis membalas senyuman itu. Ia kemudian menarik dagu sang istri dan mendekatkan wajahnya.
Denis membenamkan ciuman di atas bibir istrinya. Ia asyik bermain-main dengan bibir yang kini selalu ia rindukan. Begitu pun dengan Nabila yang kini membalas ciuman itu dengan sangat antusias, sehingga membuat suasana di dalam kamar begitu romantis.
Denis menghentikan permainan bibirnya, meski Nabila sebenarnya enggan mengakhirinya, tatkala ia ingat dengan sesuatu yang tadi tengah ia rencanakan. "Sayang makan dulu ya, kamu dari kemarin nggak makan kan?", ajak Denis sembari menyelipkan rambut-rambut Nabila yang menutupi wajah ke belakang telinganya.
Tanpa terlebih dahulu mendengar jawaban istrinya, Denis menarik tangan Nabila agar berjalan mengikutinya menuju ruang makan.
"Malu mas, ada Bi Atik", bisik Nabila sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.
"Ngapain malu, Bi Atik juga pasti maklum. Iya nggak bi?" Denis sengaja mengeraskan suaranya. Muka Nabila yang bersemu merah karena Malu, membuat Denis gemas dan dengan sengaja memberikan kecupan di pipi istrinya.
Setelah mengambil alih sepiring penuh makanan yang baru saja diambilkan oleh Nabila, dengan sabar Denis menyuapkan sendok demi sendok makanan ke mulut istrinya yang kini sudah mulai nyaman duduk di pangkuannya.
"Lain kali aku nggak mau lihat kamu begini lagi. Kalau kamu begini lagi, aku akan memberimu hukuman", seru Denis sambil menyuapkan makan ke mulut Nabila.
"Hukuman apa?" Tanya Nabila dengan mulut penuh makanan.
__ADS_1
"Rahasia! Udah makan aja, jangan ngomong terus!" Tegur Denis yang kemudian memasukkan satu sendok makanan ke mulutnya sendiri.
"Kan kamu yang mulai ngajak bicara", sahut Nabila.
"Hemmmm", suara Denis penuh peringatan, membuat Nabila mengurungkan niatnya untuk membuka mulut kembali.
Denis menggendong tubuh Nabila, masuk ke dalam kamar, setelah sebelumnya mereka menyelesaikan makan siang bersama. Bi Atik yang melihat tingkah pasangan suami istri itu, hanya senyum-senyum sendiri, seraya berdoa dalam hati agar mereka selalu rukun dan langgeng.
Tubuh Nabila yang tampak lebih kurus, Denis baringkan di atas tempat tidur sebelum ia juga merangkak naik ke sana. "Ayo tidurlah! Aku tau selama aku pergi, kamu nggak bisa tidur, karena merindukan suamimu yang ganteng ini", seru Denis diikuti senyum kecil, sambil melingkarkan tangannya ke perut Nabila yang kini membelakanginya.
"Siapa juga yang merindukanmu. Ge eR banget jadi orang". Ucapan Nabila membuat Denis tertawa keras.
"Ayo, buruan tidur!" Perintah Denis pada Nabila sembari mengelus perut Nabila yang rata. "Disini sudah ada dedek bayi belum ya, sayang?" Tanya Denis asal.
"Kamu beneran sudah pengin punya anak, mas?" Tanya Nabila serius.
"He'emm", jawab Denis singkat. Ia kemudian membenamkan wajahnya ke ceruk leher istrinya.
Nabila tersenyum mendengar jawaban Denis. Tangannya mengusap lembut punggung tangan suaminya yang masih menempel di atas perutnya. "Kita sama-sama berdoa ya, mas, supaya Allah segera ngasih kita amanah untuk jadi orang tua. Aku mau anak yang banyak mas, biar ramai rumah kita".
"Iyaaa.....Ayolah buruan tidur, sayang. Aku harus ke kantor bentar lagi!" Protes Denis.
Nabila menepuk tangan Denis lumayan keras. "Merusak suasana saja kamu, mas", ucap Nabila. Nabila yang cemberut membalik tubuhnya, mengadap ke arah Denis. "Baru datang, mau pergi lagi, nyebelin".
Denis tersenyum senang, kemudian menarik hidung Nabila cukup kencang hingga membuat hidung itu memerah bak tomat. "Katanya nggak kangen, tapi nggak mau ditinggal", sindir Denis yang kemudian mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
"Tidurlah, aku nggak akan kemana-mana!" Pinta Denis. Pria itu memberikan banyak ciuman pada istrinya di wajah dan dikepala.
Ia dengan sabar mengusap punggung istrinya, yang akhirnya mampu membuat wanita itu tertidur. Tak berselang lama Denis pun ikut tertidur dengan posisi masih memeluk istrinya.