Menunggu Cintamu Berkembang

Menunggu Cintamu Berkembang
Mendampingimu


__ADS_3

"Sayang ayo bagun, sudah subuh", bisik Denis ke telinga Nabila. Namun Nabila tak kunjung membuka mata.


Denis tidak menyerah, ia menggosokkan rambutnya yang masih basah ke muka Nabila sehingga mambuat Nabila dengan malas membuka matanya.


"Sayang, sudah subuh, ayo bangun", ucap Denis lagi.


"Aku masih ngantuk mas", kata Nabila, sambil menarik selimut untuk menutupi kepalanya, namun dengan cepat Denis menarik selimut itu kembali. Denis dengan cekatan langsung mengangkat tubuh istrinya yang polos itu.


Nabila yang kaget karena sudah ada digendongan suaminya membuka mata lebar, namun sejurus kemudian ia menempelkan mukanya ke dada Denis karena malu dengan kondisinya.


"Mandi yang bersih, ya sayang", ucap Denis sambil meletakkan tubuh istrinya ke dalam bathub, lalu pergi melangkah keluar dari kamar mandi.


******


Denis sudah berpakaian rapi menggunakan pakaian kerjanya. Saat ini Nabila sedang memasangkan dasi ke lehernya.


"Selesai", ucap Nabila senang setelah selesai mengenakan dasi ke leher suaminya.


"Terimakasih, sayang", ucap Denis yang kemudian mengecup pipi istrinya.


"Ayo sarapan dulu, mas", ucap Nabila yang kemudian berjalan ke arah meja tempat makanan untuk sarapan diletakkan. Denis mengikuti Nabila dari belakang.


Nabila mengambil satu piring makanan untuk diberikan kepada suaminya, namun Denis malah mengambil membuka laptop yang ada di meja. "Lho, kok malah buka laptop mas, katanya mau sarapan", ucap Nabila.


"Bentar lagi, ya sayang. Karina tengah malam tadi mengirim data buat bantu meeting nanti", kata Denis dengan masih fokus pada laptopnya.


"Ya udah, aku suapin ya mas?" Tawar Nabila yang kemudian diiyakan oleh suaminya. Nabila menggeser duduknya ke sebelah Denis, lalu dengan telaten memasukkan satu sendok demi satu sendok makanan ke mulut suaminya.


Setelah isi piring yang dibawanya habis, Nabila menggantinya dengan piring yang lain. "Masih mau lagi, mas?", tanya Nabila.


Denis melihat ke arah Nabila, kemudian tersenyum dan menggelengkan kepalanya, seraya berkata, "Makan kamu aja yang, itukan sarapanmu". Nabila pun memakan makanan itu hingga habis.

__ADS_1


Sampai Nabila sudah berhasil menghabiskan makanan yang ada di piringnya, Denis belum selesai beraktivitas dengan laptopnya. Namun Nabila masih setia mendampingi disana, hingga "Alhamdulillah sudah beres. Ayo kita berangkat, sayang", ucap Denis sambil menutup laptopnya.


Nabila bangkit untuk mengambil jas Denis dan tasnya, namun sebelum beranjak ke tempat suaminya ia lebih dulu mengenakan blazer yang tadi sudah dia siapkan.


Nabila berjalan mendekati Denis yang saat itu juga sedang berjalan mendekatinya. Setelah bertemu, Nabila langsung memasangkan jas ke tubuh suaminya itu. Setelah jas terpasang tapi, Nabila hendak beranjak, namun tangan Denis menahannya.


Denis sudah melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Nabila. "Apa kita harus tinggal di sini terus ya, biar kita bisa terus seperti ini", ucapnya.


Nabila tersenyum tulus, kemudian menyahuti ucapan Denis, "Nggak harus disini mas, kita bisa melakukannya dimana saja, asalkan kita berusaha".


Denis menarik hidung istrinya, kemudian mencium keningnya. "Kita bisa berangkat sekarang, Nona Nabila?" Tanya Denis, yang kemudian diangguki oleh Nabila, tak lupa senyum manis menghiasi bibir perempuan itu. Merekapun melangkah keluar kamar menuju tempat meeting.


Sepanjang langkah kaki menuju ke tempat meeting, Denis menggenggam erat tangan Nabila yang berjalan disebelahnya. Tak jarang mereka saling memandang dan melempar senyum. Suasana pengantin baru, baru begitu terasa, padahal pernikahan mereka sudah berjalan 4 bulan.


Tiba di depan pintu ruang meeting, penjaga pintu menyambut dan membukakan pintu untuk mereka. Di dalam ruang meeting sudah hadir beberapa orang. Setelah sedikit bertegur sapa dengan mereka Denis duduk di kursinya, diikuti Nabila.


Selain mendampingi, Nabila juga membantu suaminya menyiapkan beberapa kebutuhan untuk presentasi. Tak lebih dari 2 jam, kegiatan meeting selesai dengan ditutup kesepakatan-kesepakatan yang nampak akan menguntungkan perusahaan tempat dimana Denis memimpin.


Ketika hampir sampai di lobi hotel, Denis mengeluarkan ponsel dari saku jasnya, dan nampak ia menghubungi seseorang.


"Sudah siap? kutunggu di depan pintu hotel sekarang", kata Denis kepada orang di seberang telpon.


Saat mereka baru melangkahkan kaki keluar pintu masuk hotel, sebuah mobil berhenti tepat di depan mereka. Kemudian seorang laki-laki keluar dari mobil itu dan berjalan kearah mereka. Dengan senyum yang mengembang, ia memberikan kunci mobil kepada Denis, tak lupa berkata, "Silahkan tuan".


Setelah menerima kunci mobil itu, Denis membuka pintu mobil untuk Nabila. Setelah Nabila masuk, ia menutup pintu itu dan berjalan memutar ke depan mobil, kemudian masuk ke dalamnya.


Denis mulai melajukan mobilnya, menyusuri jalan-jalan di pulau nan indah dan eksotik ini. Setelah melaju sekitar 1 jam, dengan bantuan aplikasi penunjuk jalan, Denis membawa mobilnya masuk ke area parkir pusat perbelanjaan mutiara terbesar di pulau itu.


Nabila menengok ke kanan kiri, mencoba menerka dimana tempat dia sekarang berada. Penasarannya terjawab ketika melihat plang besar bertuliskan nama tempat itu. Nabila bertanya bebarengan dengan dimatikannya mesin mobil oleh Denis.


"Mas, kita mau apa kesini?", tanya Nabila.

__ADS_1


"Renang", jawab Denis asal.


"Aku nanya serius, mas", ucap Nabila


"Aku juga serius, sayang", kata Denis


Nabila seketika mengerucutkan bibirnya, mendengar jawaban Denis. Dan Denis hanya tersenyum melihat tingkah istrinya itu. Ia turun dari mobil dan bergegas membukakan pintu untuk istrinya, "Mau turun nggak?", ucapnya.


Nabila turun dari mobil dan berjalan nyelonong sendiri tanpa memperdulikan, suaminya yang memanggil-manggil namanya. Denis pun harus berjalan setengah berlari agar bisa mengikutinya.


"Nab, kesini", kata Denis sambil menarik tangan Nabila masuk ke sebuah gerai mutiara yang cukup banyak pembeli yang kebanyakan wisatawan mancanegara.


Seorang penjaga galeri menyambut mereka dengan ramah. "Ada yang bisa kami bantu, tuan", ucapnya.


"Tolong carikan satu set perhiasan mutiara laut untuk istriku", kata Denis.


Nabila menatap Denis penuh tanya, namun Denis tidak memperdulikannya. "Mas, nggak perlu belikan yang beginian", bisiknya pada Denis, tapi Denis pura-pura tak mendengar. Hal itu membuat Nabila kesal.


Pelayan menawarkan kepada Denis beberapa pilihan set perhiasan mutiara laut, seperti yang ia mau. Setelah beberapa saat memilih-milih, Denis menjatuhkan pilihan pada satu set perhiasan mutiara laut warna hijau dengan design yang elegan namun tidak terkesan terlalu mewah, karena dia menyesuaikan dengan karakter istrinya.


Tentu saja Denis tidak meminta pendapat Nabila ketika memilih perhiasan itu, karena dia yakin Nabila akan menolaknya.


Setelah puas berkeliling ke sentra perhiasan mutiara dan membeli beberapa perhiasan untuk istri, mertua dan mamanya, Denis mengajak Nabila masuk kembali ke dalam mobil.


Begitu masuk ke dalam mobil, Nabila segera memasang safe belt ke tubuhnya, tapi tidak untuk Denis. Ia sibuk mengeluarkan satu set perhiasan yang sudah dibelinya tadi dan memberikannya kepada Nabila.


"Nab, ini untukmu", tutur Denis.


Nabila menatap kedua mata Denis, kemudian melepaskan safe belt yang baru saja ia kenakan. Nabila meletakkan telapak tangannya diatas punggung tangan Denis yang memegang kotak perhiasan.


"Mas, kamu nggak perlu repot-repot membeli yang seperti ini untukku. Aku nggak terlalu butuh yang begini, yang aku butuhkan adalah kamu sebagai imamku, itu sudah cukup", ucap Nabila lembut.

__ADS_1


Danis meraih jemari Nabila, kemudian mengecupnya. "Selama ini aku tak pernah memberimu hadiah, jadi terimalah pemberianku ini. Tidak mewah memang, namun ini aku berikan dengan tulus, sebagai seorang suami yang belajar untuk menghargai istrinya", kata Denis.


__ADS_2