Menunggu Cintamu Berkembang

Menunggu Cintamu Berkembang
Merasakan Kesedihan


__ADS_3

Fendi dan Denis memutuskan pergi ke pemakaman, karena Fendi yakin Nabila pasti ke tempat itu. Namun, mereka harus kecewa, karena ternyata orang yang mereka cari tak ada di tempat itu.


"Kita harus mencari kemana lagi ini?" Tanya Denis pada Fendi, yang hanya dibalas adik iparnya itu dengan mengangkat bahu.


"Sayang, kamu dimana?" Denis bermonolog sendiri sambil meletakkan telapak tangannya ke kening. Nampak raut cemas masih tergambar jelas di wajahnya.


"Bagaimana kalau kita coba ke kedai dulu, siapa tau Kak Bila mampir kesana?" Ucap Fendi dan disetujui oleh Denis.


Denis dan Fendi sudah berada di dalam mobil, hendak menuju ke tempat yang sudah mereka rencanakan akan mereka datangi. Namun, dengan buru-buru Denis melepaskan sabuk pengaman dan membuka kembali pintu mobil.


Huwekksss...... huwekkkssss....Peristiwa yang harus ia hadapi tiap pagi, selama beberapa minggu ini, terjadi lagi. Namun kali ini tak ada makanan sedikitpun yang keluar, kecuali air. Karena memang faktanya tak ada makanan sama sekali yang masuk ke dalam perutnya pagi ini.


"Kak Denis nggak apa-apa?" Tanya Fendi dengan tampang yang tampak mengasihani, setelah Denis duduk kembali ke tempatnya semula.


Denis tersenyum kecil ke arah Fendi, kemudian berucap, "Nggak apa-apa Fen, sudah biasa tiap pagi seperti ini"


Fendi mengerutkan keningnya melirik Denis. "Kok aneh, Kak Nabila yang hamil, tapi Kak Denis yang muntah-muntah". Fendi kemudian tersenyum dan menggelengkan kepalanya, "Anak pintar, biar bapaknya makin yakin kalau itu darah dagingnya".


Denis menoleh ke arah Fendi dengan penasaran. " Hamil?" Ucapnya ragu-ragu. "Siapa yang hamil?" Tanya Denis.


Fendi ikut menoleh ke arah Denis, melihat pria itu penuh tanya. "Jangan bilang Kak Denis nggak tau kalau Kak Nabila hamil!" Kata Fendi kesal.


"Benarkah? Benarkah istriku hamil? Alhamdulillah. Terimakasih ya Allah", Denis sangat bahagia sampai-sampai tak sadar butiran air mata tumpah membasahi wajahnya.


Fendi menepuk punggung Denis, yang masih bersuka atas kabar yang barusan ia dapatkan. "Aku harap kamu benar-benar bisa menjaga kakakku. Jika tidak, aku dan keluargaku akan mengambilnya darimu", kata Fendi serius.


Denis menoleh ke arah Fendi. "Aku akan menjaganya dan membahagiakannya, aku bersumpah", ujar Denis sambil mengusap sisa-sisa air matanya.


"Ayo kita segera kita cari istri dan anakku, jangan sampai mereka kenapa-kenapa", ucap Denis, yang kemudian menyalakan mesin mobilnya.


********


"Dokter akan datang nanti sekitar dua jam lagi. Ibu istirahat saja, jangan banyak pikiran, karena itu akan membuat kondisi anda dan janin anda semakin baik", ucap seorang perawat yang baru saja memasang infus pada Nabila, dengan ramah.


"Saya permisi dulu ya, bu", kata perawat itu sebelum meninggalkan ruang perawatan Nabila.


Nabila memutuskan untuk pergi ke rumah sakit, setelah bidan yang tadi memeriksanya memintanya untuk bedrest total demi keselamatan bayinya dan menyarankan untuk dirawat di rumah sakit agar bedrest dapat dijalankan lebih maksimal dengan pantauan dari dokter.


"Ibuk, ibuk pulang saja untuk istirahat! Saya disini sendirian tidak apa-apa, toh ada perawat nanti yang akan membantu saya", kata Nabila pada Ibunya Lisa yang baru saja duduk di kursi yang terletak disamping ranjang Nabila.


"Nggak apa, nyonya boss. Nanti kalau saya capek, saya akan istirahat di situ", kata Ibunya Lisa yang bernama Monah itu, sambil menunjuk sofa empuk yang ada diruang perawatan Nabila.


"Sebentar lagi Lisa juga kesini, tadi sudah ibu telepon", kata Monah lagi.


"Kok saya jadi merepotkan ibuk dan Lisa begini, sih", kata Nabila sungkan.


"Nggak repot nyonya. Lagian tadi dikampus, si Lisa cuma ngurus tugas akhir. Dia juga sedang ngambil cuti kerja yang selama ini nggak pernah diambil", ucap Monah dengan diikuti senyum tulusnya.


"Apa nggak sebaiknya Tuan tau, kalau nyonya lagi di rawat? Wajar suami istri bertengkar, tapi klo keadaan nyonya begini, ya ada baiknya Tuan tau. Yang ada di perut nyonya kan juga bayinya Tuan", Mona berusaha menasihati Nabila.

__ADS_1


Nabila tersenyum tipis mendengar ucapan Monah. "Saya belum siap bertemu dia buk, saya masih belum bisa memaafkannya".


Sejenak Nabila terdiam. Andai dia datang saat itu, pasti saya masih bisa bertemu mami sebelum dia meninggal", Lagi-lagi Nabila meneteskan air mata.


"Maapin saya ya, nyonya. Nyonya sekarang istirahat saja, jangan banyak pikiran", kata Monah sambil mengelus kepala Nabila dengan sayang.


Tak beberapa lama, pintu ruangan itu diketuk dari luar. Monah yang baru saja akan merebahkan diri di sofa, mengurungkan niatnya dan segera berjalan menuju pintu.


"Gimana kondisi Bu Nabila, buk?" Tanya Lisa sesaat setelah pintu terbuka, sambil berjalan masuk ruang VVIP itu.


"Nyonya baru saja tidur", jawab Monah.


"Buk, apa aku bilang saja ya sama Tuan Denis, kalau istrinya di sini?" Tanya Lisa yang baru saja duduk di sofa.


"Jangan nduk! Tadi ibu sudah ngobrol-ngobrol sama dia. Biarkan begini saja dulu. Kita nanti bergantian jaganya, kan gak apa-apa toh? Kamu juga lagi cuti kan", kata Monah dan diberi anggukan kepala oleh anaknya itu.


Tak lama setelah Monah berpamitan, terdengar bunyi pintu diketuk. Lisa bergegas untuk membukanya.


"Selamat siang", Ucap seorang dokter dengan senyum ramah, membuat wajahnya yang ganteng terlihat semakin menawan.


"Siang, dok", jawab Lisa dengan canggung. "Mari silahkan masuk", lanjutnya.


Dokter berjalan ke arah ranjang, tempat Nabila sedang beristirahat. "Pasien baru tidur atau__?" belum sempat dokter menyelesaikan perkatannya, dokter itu tiba-tiba melangkahkan kakinya lebih cepat, setelah melihat data pasien yang ada di tangannya.


"Nada!" Ucapnya kaget.


"Husttttt... Dokter jangan keras-keras", ujar Lisa sambil meletakkan telunjuknya di depan hidung.


Tapi, alih-alih mendengarkan Lisa. Pria itu justru mendorong tubuh Lisa kesamping, agar ia dapat melihat dengan jelas orang yang sedang berbaring di hadapannya itu.


"Nada!" Seru dokter itu lagi. Kemudian dengan wajah khawatir, ia memalingkan mukanya ke arah Lisa.


"Kenapa dia ada disini?" Tanya dokter yang tak lain adalah Andre, dengan ketus. "Mana keluarganya yang lain?" Tanyanya lagi. "Dan kamu siapa?"


Andre melemparkan banyak pertanyaan kepada Lisa. Belum sempat wanita itu menjawab, Andre sudah bertanya lagi. Hingga akhirnya, karena ia sebal, ia membentak dokter itu.


"Dokter, diam!" Kata Lisa sambil melotot. "Dokter ini ya, saya bilang jangan berisik, nanti dia bangun. Malah ngomong kenceng-kenceng", kata Lisa dengan tegas.


"Maaf, saya hanya kaget, ketika saya tau, ternyata pasien ini saya kenal", ucap Andre dengan suara yang dipelankan.


"Maaf, anda siapa? Kenapa bisa disini menunggui Nada?" Tanya Andre.


Lisa mengerutkan keningnya. "Nada?" Tanyanya binggung. "Ini mbak Nabila, bukan Nada", Ucapnya lagi.


"Iya, Nabila maksudku. Kenapa kamu yang disini menungguinya?" Tanya Andre.


"Saya temannya mbak Nabila. Saya__" Belum sempat Lisa menyelesaikan ucapannya, suara Nabila mengalihkan perhatiannya.


"Lisa", panggil Nabila lirih.

__ADS_1


"Mbak Nabila sudah bangun?" kata Lisa sambil mendekat ke tempat Nabila berbaring.


"Nada!" Andre ikut mendekat ke Nabila.


"Mas Andre", Nabila kaget dengan keberadaan Andre, namun ia mencoba bersikap biasa.


"Mana Denis? Kenapa dia tidak menjagamu disini?" Tanya Andre dengan nada yang mulai meninggi, namun Nabila hanya membalas dengan gelengan kepala.


"Apa maksudmu? Apa dia menyakitimu?" Tanya Andre lagi.


"Tolong jangan bicarakan dia lagi. Aku sedang tak ingin membahas dia. Lakukan saja pekerjaanmu!" Ucap Nabila.


Andre melakukan pekerjaannya memeriksa Nabila, termasuk meminta informasi dari wanita itu seputar yang dialami selama kehamilannya. "Anda harus menjaga emosi anda, semakin anda rileks, semakin baik untuk pertumbuhan janin anda", ucap Andre, sebelum akhirnya menutup map yang ia bawa.


"Sekarang posisiku bukan sebagai dokter, tapi temanmu", kata Andre yang baru saja melepaskan jas berwarna putih yang tadinya kenakan.


"Katakanlah, kenapa Denis tak merawatmu disini? Apa dia yang membuatmu seperti ini?" Tanya Andre, mata laki-laki itu masih betah memandang lekat mantan pacarnya dulu.


Nabila berbalik menatap sendu ke arah Andre. Tapi ia memilih diam tak mau bicara. Yang bicara hanya air matanya, yang tiba-tiba tumpah kembali.


Melihat kondisi temannya tak baik, Lisa mendekati Nabila. "Mbak, kenapa lagi?" Tanyanya.


Lisa memutar tubuhnya ke arah Andre yang masih berdiri di tempat yang sama. "Saya tidak tau hubungan kalian seperti apa, tapi saya mohon dok, anda keluar saja! agar Mbak Nabila bisa mengontrol emosinya dan istirahat kembali", kata Lisa, sebelum fokus kembali dengan Nabila.


Wanita itu membantu Nabila untuk duduk sesuai perintah istri bossnya itu.


Alih-alih memenuhi permintaan Lisa. Andre malah bicara kembali. "Apa kamu tidak bahagia, bersamanya?" Tanya Andre, namun lagi-lagi Nabila tetap diam.


"Katakanlah sesuatu, Nada!" Jangan buat aku marah dengan diammu itu! Atau...biar sekarang aku buat perhitungan dengannya, karena aku yakin, dia yang membuatmu seperti ini!" Kata Andre geram dan hendak melangkah pergi.


"Tunggu mas, jangan!" Kata Nabila berhasil menghentikan langkah Andre dan membuat pria itu kembali menoleh kepadanya.


Andre segera mendekati Nabila yang kini menangis semakin kencang, bahkan pria itu memberanikan diri untuk memeluk wanita yang bahkan saat ini masih mengisi hatinya.


Dari tangisannya Andre tau, jika saat ini wanita yang ada diperlukannya itu dalam kondisi terpuruk.


"Aku kecewa dengannya mas! Andai, andai dia datang waktu itu, pasti mami masih bisa terselamatkan. Aku bisa membawanya ke rumah sakit. Kenapa dia tidak peduli dengan kebahagianku?" Nabila mengeluarkan unek-uneknya diiringi isakan yang belum juga nampak akan mereda.


Dalam hati kecil Andre, ia ikut merasakan kesedihan seorang Nabila. Ingin sebenarnya ia untuk lebih dari sekedar memeluk dan menenangkan wanita itu. Ia ingin dialah yang menjadi sandaran hati wanita itu, sekaligus pelipur laranya kini. Namun apa daya, takdir tak menginginkannya.


---------------


**Happy Reading.


Maaf, lagi-lagi diriku tak bisa rutin up 🙏


semoga readers tak kecewa, karena sama sebagaimana yang lain saya juga punya RL dan keluarga yang harus diprioritaskan.


semoga readers masih setia dengan alur cerita Nabila😉**

__ADS_1


__ADS_2