Menunggu Cintamu Berkembang

Menunggu Cintamu Berkembang
Anak


__ADS_3

"Sudah!" Seru Denis ketika berhasil melepas safety belt Nabila yang macet. Dia hendak kembali ke posisinya, namun cupppss.... Nabila tetiba menempelkan bibirnya ke pipi Denis, lalu berkata "Terimakasih untuk hari ini"


Tanpa mendengar jawaban Denis, Nabila turun dari mobil, dan segera masuk ke gedung apartemen yang sudah nampak gelap karena memang waktu sudah menunjukkan tengah malam, meninggalkan Denis yang kini sedang bengong sendiri di dalam mobil sambil mengelus pipinya.


Nabila baru keluar dari kamar mandi dan duduk di depan meja rias sembari menyisir rambutnya, ketika Denis membuka pintu kamar. Wanita itu otomatis mengalihkan pandangannya ke arah Denis yang kini bertelanjang dada dengan celana pendek yang menutup tubuh bagian bawahnya, sementara rambutnya tampak sedikit basah.


"Kok nggak istirahat, mas? Ini sudah lewat tengah malam, mas Denis kok malah kesini? Besok pagi kan mesti kerja", ucap Nabila sambil diselingi senyum tipis.


"Mau jemput kamu", kata Denis.


"Hemmm? Emang kita mau kemana?" Tanya Nabila bingung, namun tak mendapat jawaban dari suaminya. Denis malah berjalan ke arah Nabila. Ia berdiri di belakang istrinya itu sambil membungkukkan sedikit tubuhnya, sehingga dagunya bisa ia tumpangkan ke kepala istrinya.


"Ayo pindah ke kamar kita", bisik Denis sembari mengusap lembut lengan Nabila.


"Kamar kita? Kamar mas, kali!" Sahut Nabila seraya menatap lekat-lekat wajah suaminya lewat pantulan cermin di depannya.


"Masssss" Terdengar suara Nabila keras tapi manja, ketika tiba-tiba Denis mengangkat tubuh Nabila dalam gendongannya. Tangannya refleks melingkar di leher Denis.


"Mulai hari ini, kamu nggak boleh tidur sendirian disini. Kamu hanya boleh tidur di kamar kita, mengerti!" Ucap Denis diikuti ciuman lembut bibirnya di atas bibir Nabila. Nabila sama sekali tak menolak apa yang dilakukan suaminya itu.


Setelah meletakkan tubuh Nabila di atas tempat tidurnya, Denis pun ikut naik di atas tempat tidur. Tepatnya, kini tubuhnya yang berotot itu berada di atas tubuh Nabila, dengan kedua lutut dan telapak tangan yang menjadi tumpuannya.


Wajah Denis nampak menyiratkan keteduhan dengan senyum tipis menghiasi wajahnya yang tampan, membuat Nabila sama sekali tak berkedip dibuatnya. Kedua pasang mata itu saling beradu, seolah mengisyaratkan akan sesuatu yang kini sedang mereka rasakan.


"Ayo kita tidur, mas!" Ajakan Nabila membuat keheningan yang sempat tercipta menguap. Tangan wanita itu kini mengusap lembut kedua pundak suaminya.


"Kamu sudah mengantuk?" Tanya Denis yang dilihat dari raut wajahnya nampak menginginkan sesuatu.


"Tidak, mas. Tapi, besok pagi kan kita harus ngantor lagi", ucap Nabila dengan senyum yang masih menghiasi bibirnya.


Denis tiba-tiba membalik posisi tubuhnya dan Nabila, sehingga kini Nabila ada diatasnya. "Tetaplah di rumah, biar aku saja yang bekerja!" Kata Denis sembari membelai lembut rambut istrinya.

__ADS_1


"Tapi__". Belum sempat Nabila menyelesaikan kata-katanya, Denis memotongnya. "Tetaplah di rumah, aku ingin kamu hanya fokus mengurusku dan anak-anak kita".


Nabila seketika mendongakkan kepalanya, mendengar apa yang dikatakan oleh Denis, sehingga kini kedua matanya mampu menjangkau wajah suaminya. Senyuman lebar menghiasi wajahnya nan ayu. "Terus mana anaknya?" tanyanya.


"Kita buat dulu yukss sayang", suara Denis terdengar manja dan menuntut, sedangkan tangannya sudah mulai menurunkan tali tank top yang dikenakan Nabila.


Nabila membenamkan kepalanya ke dada Denis, sementara jari telunjuknya nampak sibuk bergerak di dada suaminya, membuat pola tertentu yang tidak jelas. "Anaknya kan masih nunggu, sayang. Jadi nggak apa-apa kan kalau aku masih kerja sementara? Aku kan masih harus biayain Fendi kuliah", ucap Nabila penuh rayuan.


"Jangan menggodaku sayang", kata Denis sambil menarik jari Nabila yang bermain-main di atas dadanya untuk ia kecup, sementara tangan yang lain sudah masuk menyelinap di balik pakaian yang dikenakan istrinya itu. "Fendi akan jadi tanggunganku, kamu nggak usah kuatir", Imbuhnya.


"Tapi__", ucapan Nabila kembali terpotong.


"Aku nggak mau di bantah!", ucap Denis, membuat Nabila tak bisa berkutik. Apalagi setelah itu Denis dengan lincahnya berhasil membalik kembali tubuhnya hingga berada di atas tubuh Nabila yang kini pakaiannya sudah sangat berantakan. Percintaan panas pun kembali terjadi malam itu.


*******


"Masak apa sayang?" Tanya Denis dengan tangannya yang kini tengah melingkar di perut Nabila yang rata, membuat istrinya yang tengah sibuk dengan penggorengan sedikit kaget karena kehadirannya yang tiba-tiba.


Denis menggelengkan kepalanya yang ada di atas pundak Nabila. "Biarin begini dulu, aku masih mau peluk yang lama, biar nanti nggak kangen", ucapnya, membuat Nabila tersenyum lebar.


"Makanya biar nggak kangen-kangen, aku kerja aja. Kan bisa ketemuan di kantor", ucap Nabila.


"Nggak!" Suara Denis keras dan tegas. Seketika ia melepaskan pelukannya dan memilih duduk ke kursi yang di meja di depannya sudah tersaji secangkir kopi aceh yang aromanya menyergap indra penciumannya dan menuntunnya untuk segera meneguknya.


Tak berapa lama, Nabila menghampirinya dengan membawa dua piring Nasi goreng lengkap dengan telor ceplok yang di atasnya.


Setelah meletakkan makanan yang dibawanya ke atas meja, Nabila memilih duduk bersebelahan dengan suaminya yang dengan cepat menyambar nasi goreng yang ada di depannya.


"Yang, nanti aku pulang agak larut, jadi kamu nggak usah nungguin aku makan malam. Jika kamu sudah ngantuk, segeralah tidur, nggak perlu nungguin aku pulang", kata Denis setelah makanan yang ada di mulutnya tertelan sempurna.


Nabila yang tadinya fokus ke makanan yang ada di depannya, kini mengalihkan perhatiannya pada suaminya. "Apa ada masalah di kantor, mas?", tanya Nabila.

__ADS_1


Denis menjawab pertanyaan istrinya hanya dengan senyum kecil, sehingga membuat Nabila kecewa. Sarapan pun dilanjutkan dengan suasana hening tanpa sepatah katapun keluar dari mulut keduanya.


Nabila membantu suaminya untuk memakai jas, setelah mereka menyelesaikan sarapannya. Suasana saat itu masih hening, sampai akhirnya Nabila menyengaja untuk membuka obrolan.


"Mas, apa aku boleh jalan-jalan keluar? Aku bosan jika harus di dalam apartemen saja", tanya Nabila sembari mengancingkan jas suaminya.


Danis merengkuh pinggang istrinya sehingga posisi mereka kini amat dekat. Ia menatap mata istrinya yang kini juga menatap matanya dengan penuh harap. "Kamu boleh keluar, tapi ingat batasan-batasanmu! Aku tidak akan mengekangmu. Hubungi pak Gugun untuk mengantarmu!", kata Denis.


"Aku bisa naik taksi, mas" Ucap Nabila


"Aku tidak mau dibantah!" Seru Denis yang kemudian mengecup lembut kening istrinya. Kemudian pria itu kembali menatap lembut mata istrinya seakan ada pesan belum ingin berpisah.


"Makasih ya mas", ucap Nabila diiringi senyum. Diciumnya kedua pipi suaminya itu, lalu dengan ragu ciuman itu turun ke atas bibir suaminya yang ternyata di sambut begitu hangat oleh Denis.


"Aku pergi ya. Ingat jangan berdandan berlebihan!" Kata Denis setelah ciuman dan pelukan di antara mereka berakhir. Nabila hanya menganggukkan kepala, sesaat sebelum Denis benar-benar melangkah pergi untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang suami.


******


Nabila telah sampai di parkiran apartemen, sesaat setelah pak Gugun menghubunginya. Pak Gugun bergegas melajukan mobilnya setelah Nabila memberitahukan kemana dia akan pergi.


Siang itu Nabila akan menemui seseorang yang tengah malam tadi mengiriminya pesan singkat untuk bertemu. Di dalam mobil Nabila tak hentinya memikirkan apa gerangan yang menyebabkan orang itu ingin menemuinya dan apa yang harus ia lakukan di tempat mereka bertemu.


Tak butuh waktu lama untuk Nabila sampai di sebuah restoran yang dimaksud oleh si pengirim pesan singkat semalam, karena memang jarak restoran itu dan tempat tinggalnya tidak begitu jauh.


Nabila segera turun dari mobil dan masuk ke restoran setelah ia menenangkan dirinya yang tadinya sempat terasa gelisah. Restoran yang saat itu nampak ramai karena bertepatan dengan jam makan siang, membuat Nabila harus sedikit jeli mencari seseorang yang akan dia temui.


"Aku pikir kamu tidak akan datang, ternyata__", ucap Jenica sembari menyunggingkan senyum sinis saat Nabila sudah berdiri dihadapannya.


________________


Mohon maaf, author lama tidak up karena memang kondisi yang tidak memungkinkan untuk menulis. semoga readers memaklumi. happy reading😘

__ADS_1


__ADS_2