Menunggu Cintamu Berkembang

Menunggu Cintamu Berkembang
Pengalaman Pertama


__ADS_3

Semua sudah berkumpul di meja makan untuk makan malam. Nabilapun sudah mengambilkan nasi dan lauk untuk suaminya dan dirinya.


"Ma, tadi aku ketemu Vanya", kata Denis setelah menelan suapan terakhir dari makanan yang ada di piringnya.


Mamanya yang mendengar, kaget dan tersedak. Ia terbatuk - batuk. Papa reflek menepuk punggung mama pelan, kemudian menuangkan air putih kedalam gelas untuk istrinya.


"Mama nggak apa-apa?" Tanya Nabila lembut, dengan tatapan yang kuatir.


"Nggak apa-apa, sayang", Jawab mama Denis, sambil meletakkan gelas yang sudah kosong ke meja.


" Ma, apa tempo hari yang mama bicarakan di telpon tentang wanita yang akan dijodohkan denganku adalah Vanya?", tanya Denis dengan tatapan penuh selidik ke mamanya.


"Iya sayang, apa dia tadi membahas itu?", tanya mama Denis agak ragu.


"Hemmm", Denis menjawab singkat sambil menganggukkan kepalanya.


"Nabila, maafkan mama ya", kata mama Denis pelan, sambil meraih dan menggenggam ujung jari Nabila yang ada didepannya.


" Mama dulu memang berencana menjodohkan Denis dengan Vanya, anak rekan bisnis papa. Tapi ketika mama tau Denis mau menikah dengan pilihannya, tentu saja mama berniat tidak akan melanjutkan rencana perjodohan itu. Apalagi sekarang mama tau bahwa mantu mama adalah kamu, tentu saja mama tidak akan melanjutkan perjodohan itu", kata mama Denis, sambil menatap menantunya lekat.


"Tapi mama belum sempat ketemu orang tua Vanya untuk menyampaikan pembatalan tersebut, karena mama belum sempat ketemu. Kan gak enak kalau bicaranya lewat telpon", tambah mama Denis.


"Maafin mama ya sayang", kata mama Denis sambil melihat Nabila dan Denis bergantian.


" Gak apa-apa, ma. Nabila bisa ngerti kok", sambil meletakkan telapak tangannya diatas punggung tangan mertuanya.


"Terimakasih ya sayang", kata mama Denis sambil berjalan menuju ke Nabila dan mencium kening menantunya itu.


"Sekarang istirahatlah", ucap mama Denis, yang kemudian berjalan menuju kamarnya.


Nabila dan Denis pun akhirnya masuk ke dalam kamar. Mereka berdua menempati kamar Denis, karena tidak mungkin mereka harus pisah kamar di rumah orangtuanya.


Nabila keluar dari kamar mandi setelah mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur. Awalnya dia ingin langsung merebahkan diri si tempat tidur, tapi melihat Denis ada di atas tempat tidur ia urungkan niatnya.


Nabila mengambil bantal dan selimut hendak tidur di sofa. Tapi saat Nabila baru akan melangkah, Denis menahan tangan Nabila.


"Kau mau kemana?", tanya Denis


" Aku akan tidur di sofa, kamu tidurlah disini", kata Nabila

__ADS_1


"Nab, apa kau masih marah?" Aku tau kenapa tadi kamu tiba-tiba mengajak pulang, kamu marah kan sama aku?", Kata Denis, sambil menatap lekat wajah istrinya.


"Kenapa aku harus marah? Aku tidak punya hak untuk marah? Aku bukan siapa-siapa", kata Nabila, sambil memalingkan wajahnya dari Denis.


"Duduklah", Denis menarik pergelangan tangan Nabila perlahan sehingga membuat Nabila duduk diatas tempat tidur.


Denis menggeser tubuhnya mendekat kearah Nabila, di tetapnya istrinya yang sedang tertunduk.


"Kau punya hak untuk marah padaku, Nab. Ketika aku melakukan kesalahan. Karena aku tetap suamimu. Marahlah jika aku melebihi batasku", kata Denis.


Denis memegang kepala belakang Nabila, perlahan dia mendekatkan kepalanya dan mengecup hangat kening istrinya itu, kemudian berbisik, "tidurlah".


Apa yang dilakukan Denis membuat Nabila salah tingkah dan malu. Nabila tak berkutik dari tempat ia duduk. Sedangkan Denis, ia turun dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.


Nabila masih tidak merubah posisinya, ketika Denis nampak sudah keluar dari kamar mandi. Denis hanya memakai boxer dan singlet saat itu.


"Kenapa masih belum tidur?", tanya Denis sambil berjalan menuju tempat tidur dan naik ke atasnya.


"Iya aku akan tidur", berdiri sambil membawa selimut dan bantal.


" Tidurlah disini saja, badanmu akan sakit semua kalau tidur di sofa. Aku tidak akan berbuat macam-macam. Lagipula kita suami istri apa salahnya jika tidur seranjag", kata Denis, sambil tersenyum ketika melihat ekspresi Nabila yang tampak kaget ketika mendengar kata-kata terakhir dari ucapan Denis.


Nabila tidur memunggungi Denis. Ia berusaha memejamkan matanya, namun tetap tidak bisa membuatnya tidur. Sementara Denis yang belum mengantuk hanya terdiam menatap punggung Nabila.


Lama suasana hening, tiba-tiba Denis membuka mulutnya, "Nab, apa kamu sudah tidur?"


Nabila hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya.


"Besok mau jalan-jalan lagi?" Tanya Denis.


Lagi-lagi Nabila hanya menganggukkan kepalanya, posisinya masih tetep membelakangi suaminya.


"Nab, emmm...sejauh apa hubunganmu dulu dengan Arsyad?", tanya Denis dengan sedikit ragu.


Nabila mengerutkan dahi, mencoba menelaah pertanyaan Denis. Kemudian membalikkan badan sehingga mereka saling berhadapan dan jaraknya sangat dekat karena posisi Denis ada ditengah tempat tidur.


Mereka saling beradu pandang cukup lama. Hanya terdiam tanpa ada yang bicara. Suara nafas mereka bahkan terdengar satu sama lain. Hingga tiba-tiba Denis menyibakkan rambut Nabila yang menutupi wajahnya yang ayu, kemudian menyelipkan ke belakang telinga.


Pipi Nabila nampak merona karena malu mendapati perlakuan Denis yang Demikian. Dia hendak membalikkan tubuhnya kembali, tapi Denis menahannya dengan menarik tangan Nabila hingga posisi Nabila justru semakin dekat lagi dengan Denis.

__ADS_1


"Tetaplah seperti ini", suara Denis lirih. " Dan jawablah pertanyaanku tadi", lanjut Denis.


"Pertanyaan yang mana?", tanya Nabila. Situasi yang saat ini dihadapinya sepertinya membuat dia lupa terhadap pertanyaan yang diberikan oleh Denis tadi.


"Arsyad", suara Denis menekan kata itu, kemudian dia mengubah posisinya menjadi terlentang.


"Hubungan apa? Ya dia atasanku dan aku bawahannya", jawab Nabila tidak yakin.


"Bukan bukan hubungan kerja, tapi hubungan pribadimu dengannya", kata Denis.


"Aku tidak ada hubungan apa-apa, kecuali___"


"Kecuali apa? Dia melamarmu dan kau tidak pernah menceritakannya kepadaku", kata Denis dengan nada emosi.


Nabila diam sejenak, diamatinya wajah suaminya dari samping, kemudian dia berkata, " Dia memang pernah melamarku, tapi aku tidak pernah punya hubungan apa-apa dengannya, kecuali hubungan kerja. Dan aku menolaknya karena memang aku tak punya perasaan apapun", kata Nabila.


Denis kembali mengubah posisinya menghadap Nabila.


"Kanapa aku tak pernah menceritakannya padamu? Karena bagiku itu bukan sesuatu yang penting untuk dibicarakan. Apalagi itu sudah terjadi lama sekali, bahkan aku saja sudah lupa", lanjut Nabila, sambil menatap lekat mata suaminya.


"Nab...", suara Denis lirih. Nabila yang mendengar namanya di sebut, sama sekali tidak merespon. Dia masih asyik menatap wajah tampan suaminya.


Tiba-tiba Denis membelai lembut pipi Nabila, mendekatkan wajahnya. Dan mencium lembut bibir istrinya.


Nabila yang sebelumnya tidak fokus, tertegun dengan apa yang dilakukan Denis. Dia tidak membalas ciuman itu tapi juga tidak menolaknya. Ini pengalaman pertama Nabila.


Lama Denis melakukan itu. ciuman itu semakin dalam, namun akhirnya dia mengakhirinya karena Nabila mendorong dada Denis karena tidak bisa bernafas.


Nabila tampak sangat malu sampai-sampai harus menenggelamkan wajahnya ke tempat tidur.


Denis yang melihat tingkah laku istrinya yang lucu, nampak tersenyum senang. Ia membelai rambut Nabila, kemudian mengecup pipi dan dahi istrinya. Setelah itu dia berbisik ke telinga Nabila hingga membuatnya merinding, " Tidurlah".


Denis melingkarkan tangannya ke perut Nabila. Nabila hanya pasrah dengan perlakuan suaminya. Merekapun akhirnya terlelap.


___________


Maapken author yang baru bisa update lagi. sebagai permintaan maaf author, author kali ini update lebih panjang😀


ditunggu like, komen, dan votenya ya😁

__ADS_1


__ADS_2