
Gerimis pagi ini, membuat suasana kamar Nabila semakin syahdu. Sudah seminggu ini Nabila kembali pulang kerumahnya.
"Sayang, bangun sayang!" Kata Denis sambil mengecupi pipi dan leher istrinya yang masih terlelap tidur.
"Mas!" Kata Nabila manja, sambil mendorong tubuh kekar suaminya yang terus menggodanya. Pagi ini adalah pertamakalinya mereka kembali menjalani aktivitas bercinta, setelah lama mereka tak melakukannya, tepatnya setelah kesalahpahaman yang terjadi diantara keduanya. Tentu saja hal itu dilakukan juga setelah dokter mengijinkannya pasca Nabila bedrest.
"Makannya ayo bangun! Karena melihatmu begini, aku jadi ingin memakanmu lagi", kata Denis menggoda.
Ucapan suaminya, membuat Nabila segera bangkit dan duduk bersandar di kepala ranjang, sambil menutupi tubuh polosnya dengan selimut.
Denis lalu bangkit dan mengambil sesuatu yang sudah ia siapkan di atas nakas. "Ini sayang, makanlah! Aku memasaknya sendiri, semoga kamu suka", kata Denis sambil meletakkan nampan berisi nasi goreng dengan telor mata sapi sebagai hiasannya dan segelas susu ibu hamil, di pangkuan Nabila.
Tampak wajah Nabila tersenyum sumringah, melihat apa yang ada di hadapannya. "Beneran kamu yang masak, mas?" Tanya Nabila.
"He'em", Jawab Denis sambil menganggukkan kepala penuh semangat.
Denis kemudian mengambil piring berisi nasi goreng itu dan menyuapkan isinya ke mulut Nabila. "Enak, sayang?" Tanya Denis.
Nabila tak menjawab pertanyaan Denis. Wanita itu hanya mengacungkan dua jempolnya ke arah suaminya. Dari mimik dan cara makannya, dia nampak sangat menyukai masakan suaminya.
Setelah nasi goreng dalam piring habis, Denis menyodorkan segelas susu kepada Istrinya. Ketika Nabila meneguk susu dalam gelas, Denis menempelkan wajahnya ke perut istrinya yang tertutup selimut.
"Sayang, anak papa. Papa sayang banget sama kamu, sama mama juga. Kamu yang baik di dalam sana ya", kata Denis seolah-olah berbicara pada janin yang ada di perut Nabila, sambil menciumi perut itu berkali-kali.
Melihat pemandangan itu, yang sebenarnya terjadi tiap hari, membuat perasaan Nabila haru. Ia mengusap kepala suaminya lembut. "Kita juga sayang banget sama papa", kata Nabila.
Mendengar ucapan istrinya, membuat Denis mengangkat kepalanya. Perlahan pria itu mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya dan dengan sayang mengecup keningnya.
"Ayo buruan mandi, kasihan Fendi nungguin kita. Jangan sampai kita datang terlambat", kata Denis sambil mengambil alih gelas yang dibawa istrinya.
__ADS_1
"Tapi dingin, mas", kata Nabila manja.
"Kalau begitu aku siapkan air hangat dulu ya", kata Denis sambil beranjak pergi.
******
Karena weekend, suasana bandara saat itu nampak ramai. Nabila yang sedari tadi hanya duduk dan menyandarkan kepalanya di dada suaminya, segera bangkit tatkala melihat adiknya datang menghampirinya.
Fendi akan melanjutkan studinya di Jerman atas permintaan papinya. Karena setelah hubungan bapak dan anak itu membaik, Dahlan berniat memberikan beberapa perusahaannya ke tangan anak lelaki satu-satunya yang ia miliki.
"Kenapa baru datang?" Tanya Nabila pada Fendi.
"Tadi ada kecelakaan, jadi macet banget", kata Fendi sambil mengatur nafasnya yang ngos-ngosan.
"Ya udah buruan sana, nanti ketinggalan pesawat", kata Nabila. Mata wanita itu tiba-tiba berkaca-kaca.
Fendi melihat jam di pergelangan tangannya. Kemudian, tiba-tiba ia langsung memeluk tubuh kakaknya itu. "Kak Bila jaga diri baik-baik. Kakak harus selalu bahagia, karena selama ini kakak sudah terlalu hidup menderita", kata Fendi dengan air mata yang begitu saja jatuh dari pelupuk matanya.
Melihat tangis istrinya yang semakin berderai, Denis berusaha menenangkannya. Pria itu menggosok-gosok punggung istrinya dengan sayang. "Sudah sayang! Nanti Fendi terlambat. Kamu harus ikhlas, ini semua demi kebaikan Fendi", ucapnya lembut dan berhasil membuat istrinya melepaskan pelukan antara dirinya dan adiknya.
Nabila menjatuhkan kepalanya ke dada suaminya, dengan tangis yang belum berhenti juga. Sementara Denis merengkuh pundak wanita itu sambil mengusapnya dengan tulus.
"Kak, jaga kakakku ya! Jangan sekali-kali kakak menyakitinya, karena jika itu terjadi aku akan membuat perhitungan dengan kakak", ucap Fendi dengan tampang yang nampak serius.
"Pasti", ucap Denis sambil menepuk punggung adik iparnya itu.
"Kalau keponakannku mau lahir, kakak beritahu aku ya. Aku usahakan untuk pulang!" Kata Fendi sebelum kakinya benar-benar melangkah meninggalkan salah satu wanita yang sangat berarti dalam hidupnya.
"Sudah sayang, jangan sedih lagi. Kalau kamu sedih nanti si dia juga ikut sedih", Denis menghibur istrinya sembari mengelus lembut perut istrinya yang masih nampak rata.
__ADS_1
Setelah pesawat yang ditumpangi Fendi sudah benar-benar terbang, Nabila baru mau diajak untuk melangkah pergi meninggalkan bandara meski langkahnya masih terasa berat.
"Kita makan dulu ke tempat favorit kamu ya sayang sebelum pulang, gimana?" Kata Denis, berusaha untuk mengalihkan perhatian istrinya agar tak sedih kembali, namun Nabila sama sekali tak merespon ajakan suaminya.
Hampir mendekati pintu keluar Bandara, tetiba seorang wanita cantik dan berpakaian seksi yang tadinya sempat melintas di depan Denis dan Nabila, tiba-tiba berhenti dan berbalik arah kembali mendekati pasangan suami istri itu.
"Denis!" Seru wanita itu. Wanita yang diketahui namanya Erika itu langsung mengalungkan tangannya ke leher Denis dan mencium kedua pipi pria itu. Refleks, Denis segera menjauhkan tubuh wanita itu darinya, meski terlambat.
Sedangkan Nabila yang melihat peristiwa itu, tentu saja menjadi marah. Matanya membulat menghadap suaminya. Dan Denis menyadari akan hal itu. Sehingga membuat ia bingung harus berbuat apa.
Tanpa berpikir panjang, pria itu langsung menarik pergelangan tangan Nabila agar mendekat padanya. "Erika, perkenalkan ini istriku", kata Denis kepada Erika.
Erika menyodorkan tangannya. "Erika", ucapnya, saat Nabila menyambut uluran tangannya. Nabila pun ikut menyebutkan nama dirinya.
"Kamu beruntung banget jadi istrinya Denis. Dulu banyak gadis-gadis antre pengen jadi pacarnya. Termasuk aku, tapi dia selalu saja nolak aku", kata Erika yang memakai rok mini sehingga pahanya nampak mencolok.
"Oh ya", Nabila mengeratkan giginya sambil melirik ke arah suaminya.
"Tentu saja! Ia kan Denis, sayang?" Kata Erika.
Ucapan Erika semakin membuat Nabila kesal. "Maaf saya duluan", kata Nabila yang langsung begitu saja meninggalkan suaminya dan Erika.
Menyadari ada yang salah dengan sikap istrinya. Denis segera menyusul Nabila, setelah berpamitan pada Erika.
"Sayang tunggu, jangan cepat-cepat jalannya, nanti kamu jatuh", kata Denis yang menaikkan kecepatan jalannya untuk mengimbangi langkah istrinya. Namun Nabila tak mempedulikannya dan terus berjalan menuju tempat mobilnya di parkir.
____________
Menjelang ending cerita ini, saya agak kesulitan membagi waktu untuk nulis, karena beberapa pekan ini pekerjaan di RL banyak banget. Semoga readers bisa memaklumi🙏
__ADS_1
Jangan lupa mampir ke karyaku yang lain "Harga Sebuah Pengorbanan" 🌼🌼🌼