Menunggu Cintamu Berkembang

Menunggu Cintamu Berkembang
Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

"Mas"


Lirih suara Nabila memanggil pria yang ada di sebelahnya. Denis yang saat itu fokus dengan laptop yang ada di pangkuannya, langsung memutar kepala ke arah orang yang memanggilnya.


"Kamu sudah bangun", ucap Denis sambil mengusap kepala Nabila.


Nabila tersenyum tipis ke arah Denis, kemudian menatap langit-langit ruangan itu, mencoba mengingat-ingat kembali peristiwa yang baru dialami.


"Badanmu panas", seru Denis sambil menempelkan telapak tangan ke beberapa bagian tubuh Nabila. Kepanikan tampak menghiasi raut wajahnya.


Denis dengan cepat menutup laptop yang baru saja ia matikan dan meletakkannya diatas nakas. Ia keluar dari kamar tanpa berkata apapun pada Nabila.


Tak butuh waktu lama, Denis masuk kembali ke dalam kamar. Ditangannya ada sebuah nampan berisi sepiring makanan dan segelas air. Denis meletakan nampan itu di atas nakas, kemudian duduk di pinggiran ranjang disamping Nabila yang sedari tadi matanya berputar mengikuti gerakan suaminya.


Denis membantu Nabila duduk, kemudian membenahi letak selimut yang menutup tubuh istrinya. Ia menyuapi istrinya dengan telaten dan memberikan obat kepadanya. Nabila menurut saja dengan apa yang dilakukan suaminya.


"Ini, pakailah!" Kata Denis sambil menyodorkan pakaian ke hadapan istrinya dan Nabila menerimanya.


Beberapa menit berlalu, namun Nabila hanya memegangi saja pakaian itu, membuat Denis melihat ke arahnya sambil mengerutkan keningnya.


"Kok belum dipakai? Sini kupakaikan!" Ucap Denis sambil menengadahkan tangannya, namun dijawab Nabila dengan gelengan serta wajah memerah karena malu. "Terus?", lanjut Denis.


Nabila menggeserkan tubuhnya ke arah Denis dengan tetap mempertahankan selimut untuk menutupi tubuhnya. Kemudian dia membisikkan sesuatu ke telinga Denis hingga membuat Denis tertawa.


"Ngomong aja langsung yang, nggak usah bisik-bisik, di sini juga tinggal kita berdua. Ya udah, kucarikan dulu ya. Kamu pake baju dulu biar nggak masuk angin", kata Denis yang kemudian berdiri dan melangkah keluar meninggalkan Nabila yang terbengong dan malu.

__ADS_1


Denis berjalan keluar lewat pintu samping rumahnya menuju paviliun yang berjarak sekitar 15 meter dari rumah utama.


Beberapa pelayan yang sedang asyik menikmati waktu istirahat mereka dengan ngobrol-ngobrol di teras segera berdiri begitu menyadari kehadiran anak majikannya. Tampak wajah mereka menyiratkan tanda tanya dan kekhawatiran, pasalnya baru kali ini mereka melihat Denis menginjakkan kaki di tempat itu.


"Selamat malam tuan muda, ada yang bisa kami bantu?", Tanya seorang pelayan dengan gugup, tanpa berani memandang ke arah Denis.


Denis tak menjawab pertanyaan pelayan itu, tapi justru berjalan mendekati seorang pelayan wanita yang masih nampak muda, hingga membuat pelayan muda itu mundur dan tampak gugup.


"Apa kamu punya pembalut?" Tanya Denis tanpa malu. Justru para pelayan yang merasa malu sendiri dengan pertanyaan Denis.


"Bawa kesini, aku akan membelinya", ucap Denis. Seketika membuat pelayan muda itu berlari masuk ke kamarnya dan dengan cepat kembali ke hadapan Denis dengan membawa sebuah bungkusan.


"Ini tuan, semoga nona berkenan" Kata pelayan muda sambil membungkukan badan dan menyerahkan bungkusan itu kepada Denis.


Denis merogoh sakunya hendak mengambil sesuatu, namun pelayan yang mengerti maksud gerakan Denis segera membuka mulutnya. "Maaf tuan muda, silahkan anda bawa saja, tidak perlu diganti".


*******


Waktu subuh telah datang, Denis yang baru tertidur dua jam yang lalu karena menemani istrinya yang semalam tak kunjung bisa tidur, tubuhnya terguncang oleh aktivitas istrinya yang sedang membangunkannya.


"Mas bagun mas sudah subuh", seru Nabila sambil menguncang tubuh Denis agak keras karena sedari tadi Nabila sudah membangunkannya dengan berbagai cara halus, namun tak berhasil.


"Nanti ya yang, masih ngantuk", ucap Denis dengan mata yang masih terpejam.


"Nanti keburu lewat sholat subuhnya, mas. Nanti habis sholatkan bisa tidur lagi", ucap Nabila sambil membelai lembut wajah suaminya, Namun tetap saja Denis tak kunjung bangkit.

__ADS_1


"Cup....", Nabila menggunakan jurus pamungkasnya agar Denis segera bangun. Dan benar saja, ketika bibir Nabila jatuh diatas bibir Denis, mata Denis seketika terbuka lebar. Bahkan dia sampai menahan belakang kepala Nabila agar Nabila tak bisa melepaskan ciumannya itu.


Ciuman itu berhenti ketika Nabila dengan sengaja menarik bulu kaki suaminya sehingga Denis kaget dan kesakitan. Muka Nabila benar-benar memerah menahan malu, dengan apa yang terjadi.


Setelah sholat subuh Denis kembali melanjutkan mimpinya, ditemani Nabila yang ikut terlelap di dalam dekapannya. Mereka berdua terbangun ketika seorang pelayan mengetuk pintu kamar dan memberitahukan bahwa Arsyad sudah menunggu Tuan Mudanya.


Denis bergegas menuju kamar mandi, setelah melihat jam di dinding menunjukkan hampir jam 9, padahal jam 10 ia ada meeting dengan klien penting.


Setelah Denis berpakaian rapi dengan dibantu oleh Nabila, ia segera berpamitan kepada istrinya itu. Tak lupa ia mencium kening dan bibir Nabila dengan lembut sebelum keluar dari kamarnya.


*******


Begitu sampai tiba di kantor, Denis segera masuk ke dalam lift. Tujuan utamanya kali ini bukan ruang kerjanya, tapi ruang meeting karena kabar yang ia dapatkan, kliennya sudah ada di ruang meeting.


Ia melihat jam di pergelangan tangannya, hal itu bisa membuat ia bisa bernafas lega karena ternyata ia belum terlambat. Pertemuan hari ini adalah pertemuan penting, sehingga ia tidak ingin mengecewakan kliennya dengan datang terlambat. Ia pun sudah mempersiapkan beberapa strategi yang luar biasa, sejak beberapa hari yang lalu untuk pertemuan ini.


Ketika sampai di depan ruang meeting, Denis bergegas masuk ke dalamnya setelah Arsyad membukakan pintu untuknya. Namun langkah Denis berhenti, ketika ia tidak mendapati orang yang dia cari dalam ruangan itu.


"Kemana tuan Yusuf?", batinnya.


Bukan seorang laki-laki seumuran ayahnya yang ia dapati, pagi itu. Tetapi, seorang perempuan berpakaian seksi dan riasan mencolok dengan kacamata yang menutupi sebagian wajahnya. Denis kaget ketika wanita itu melepaskan kacamatanya hingga seluruh wajahnya kini terlihat.


"Sheila!" seru Denis.


_______________________

__ADS_1


Hai readers semua jangan bosan-bosan ya baca ceritaku. Jangan bosan juga buat like, comment dan vote. 🌴🌴🌴


__ADS_2