Menunggu Cintamu Berkembang

Menunggu Cintamu Berkembang
Tidak Melibatkan Perasaan


__ADS_3

"Kenapa dia berubah pikiran dan memberitahukan tentang pernikahan kita ke semua orang? Kenapa mas Denis tidak membicarakan terlebih dulu denganku. Apa maksudnya?", pertanyaan ini terus membayangi Nabila sejak keluar dari pantry hingga saat ini, dimana ia sudah duduk di kursi kerjanya dan berkutat dengan pekerjaan yang tak ada habis-habisnya.


"Boleh masuk, mbak?" Tiba-tiba Vita sudah ada di pintu dengan senyum lebar, memperlihatkan giginya yang putih.


Nabila mengalihkan perhatiannya kepada bawahannya itu, tersenyum tipis, lalu menganggukkan kepala dan berucap, "masuk aja Vit?"


"Duduk!", perintah Nabila lembut ketika Vita sudah mendekat, tapi masih berdiri di depan meja.


"Ada apa vit? Oh ya, kenapa tadi pagi menelpon?" Tanya Nabila sambil melanjutkan pekerjaannya.


Vita mengangkat kepalanya yang tadi menunduk. "Mbak aku minta maaf ya", ucapnya memelas.


Nabila mengalihkan pandangannya dari kertas-kertas yang ada di hadapannya ke arah Vita yang kini kembali menunduk. Tampak kerutan di atas pangkal hidungnya.


"Maaf? Untuk apa, Vit?” Tanya Nabila ingin tahu.


Vita masih menunduk tapi berusaha mencuri pandangan ke arah Nabila, sedangkan kedua tangannya sibuk memelintir ujung kemejanya.


"Mbak maaf, karena saya yang sudah nyebarin berita ke teman-teman kalau mbak Nabila pacarnya Tuan Denis. Dan saya tau kalau semenjak itu Mbak Nabila sering di cemooh karyawan-karyawan lain. Saya nggak tahu kalau ternyata Tuan Denis itu suami mbak Nabila", ucap Vita dengan takut-takut.


Nabila tersenyum tipis, tapi tidak diketahui oleh Vita. Kemudian ia membuka dan menyalakan laptop yang ada di meja pura-pura tidak mempedulikan Vita yang kini pelan-pelan mengangkat kepalanya kembali.


"Mbak, tolong jangan pecat saya ya. Saya masih punya banyak tanggungan. Kredit motor dan ponsel belum lunas, bekal nikah masih dikit, saya juga harus bantu bapak ngasih uang belanja buat ibuk. Kalau saya di pecat, gimana? ", kata Vita memelas sambil menangkupkan kedua tangan di depan dada.


Nabila ingin tertawa mendengar ucapan Vita, namun mencoba untuk ditahan. Matanya menatap Vita dengan tatapan dingin. Kedua tangannya bersendekap di depan dada sembari punggungnya kini disandarkan ke kepala kursi.


"Itu urusanmu, saya nggak peduli. Karyawan yang suka bergosip sepertimu sudah layaknya di beri sanksi atau di pecatlah sekalian, biar kapok!", kata Nabila pura-pura ketus.


Vita terperangah mendengar apa yang disampaikan atasannya itu. "Saya mau melakukan apa saja dan disanksi apa saja, tapi tolong jangan pecat saya mbak ,ehhh nona maksud saya", ucapnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.

__ADS_1


Nabila yang merasa tidak tega akhirnya melepas tawanya, sehingga membuat Vita kini tampak bingung.


"Kok mbak, ehhhh Nona Nabila malah ketawa?”, Tanya Vita sedikit jengkel tapi wajahnya masih nampak memelas.


"Mbak aja, nggak pake nona nona segala. Lagian kamu lucu, siapa saya emang, mau main pecat kamu? Apalagi masalah sepele kayak begitu. Sudah sana balik kerja, kalau nggak, ntar saya suruh mecat kamu loh malahan", ucap Nabila, kemudian mengibaskan tangannya.


"Makasih banget ya mbak, aku bakal kerja yang rajin deh pokoknya. Udah dulu, bye...", seru Vita, sambil berjalan keluar dan melambaikan tangannya kepada Nabila.


Namun, brakkkkkk.... tubuh Vita yang berjalan cepat tanpa melihat arah depan menabrak sesuatu hingga ia terjatuh. Nabila yang melihat hanya bisa terkejut, sambil menutup kedua matanya dengan telapak tangan kiri.


Vita yang sudah menyadari siapa yang ia tabrak, tak kalah kaget. Ia memukulkan telapak tangannya ke kening, sambil bergumam dalam hati, "Mati aku! Ya Allah, semoga nggak di pecat".


"Kembali ke tempatmu!", perintah Denis dengan suara yang keras sehingga membuat Vita ketakutan. Dengan cepat ia berdiri dan berlari keluar ruangan Nabila.


"Mau apalagi sih dia kesini", pikir Nabila sambil membuang muka ke arah lain karena saat ini, Denis sedang menatapnya dengan tatapan tajam.


Denis berjalan ke arah kursi yang sedang di duduki Nabila, kemudian dia bersandar di meja yang ada di belakangnya. Dengan cepat ia memutar kursi yang di duduki Nabila, sehingga mau tidak mau Nabila yang pura-pura sibuk menghadap ke arahnya.


"Jika bukan urusan pekerjaan, kita bicara di apartemen saja. Tidak enak dengan mereka", kata Nabila, sambil pandangannya mengarah kepada karyawan-karyawan lain yang satu team denganny, yang memang saat itu mencuri-curi pandang ke arah Denis dan Nabila.


Ruangan Nabila memang terpisah dengan karyawan lain di teamnya. Namun, ruangannya hanya dibatasi oleh dinding-dinding kaca. Oleh karena itu aktivitasnya dengan mudah bisa di lihat orang lain di tempat itu.


"Aku tak peduli! Ini kantorku! Aku bisa berbuat apa saja sesukaku", kata Denis tegas, sementara matanya masih setia menatap Nabila yang merasa tidak nyaman dengan keberadaan Denis di ruangannya.


"Bicaralah cepat dan setelah itu segeralah pergi dari sini, aku tak ingin karyawan lain berpikir yang aneh-aneh", ucap Nabila ketus, namun tetap berusaha sopan kepada suaminya.


Denis menegakkan tubuhnya, lalu dengan cepat dan keras ia menarik tangan Nabila, sehingga kini mereka berdiri sejajar, dengan tangan Denis merengkuh pinggang Nabila.


"Mas, lepasin! Malu!", cicit Nabila, sambil berusaha melepaskan tangan Denis dari tubuhnya. Namun Denis justru semakin kuat saja menahan tubuh istrinya itu.

__ADS_1


"Aku sudah bilang, aku tidak peduli sayang", ucap Denis sembari menatap Nabila dengan tatapan yang sulit diartikan, membuat Nabila mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Kumohon jangan menghindar dariku, aku tau aku salah, tapi tidak layakkah aku mendapat kesempatan lagi?", tutur Denis.


"Aku takut mas, untuk memberimu kesempatan itu lagi. Aku merasa tak siap", jawab Nabila. Kali ini air mata kembali mengalir, setelah beberapa jam ini ia berusaha menahannya dengan mengalihkan kepada segala kesibukan.


Denis menyapu pipi Nabila yang dibasahi air mata, dengan jari-jarinya. Kemudian menarik kepala wanita itu ke dadanya yang bidang.


"Aku janji Nab, tidak akan membuatmu kecewa lagi". Dengan lembut Denis memberikan ciuman di puncak kepala istrinya.


"Tak perlu kamu berjanji padaku mas, sementara di hatimu masih ada dia", ucap Nabila. Kini tangisnya semakin menjadi.


Denis menangkupkan kedua telapak tangannya ke pipi Nabila. "Perlu aku katakan berapa kali lagi, bahwa aku sudah tidak mencintainya, tidak peduli padanya", ucapnya.


"Tapi kenyataannya, kamu sudah tidur dengannya mas, dengan orang yang pernah kamu cintai, apa kamu bisa menjamin rasa itu tidak tumbuh lagi?", kata Nabila dengan mata yang menatap sayu ke mata Denis.


"Kamu tau kan, aku tidak sadar tidur dengannya, aku sama sekali tidak melibatkan perasaanku ketika itu", kata Denis yang sudah mulai kesal dengan Nabila yang sulit mempercayainya.


"Termasuk ketika tidur denganku?", tanya Nabila sambil menelisik mata Denis, mencari jawaban.


"Huhhhh...Kenapa kamu malah bahas kita?", ucap Denis yang kemudian mengusap wajahnya dengan kasar.


"Lalu?" Belum selesai Nabila bicara, tiba-tiba seseorang yang sudah ada di pintu yang terbuka, mengeluarkan suara sehingga mengejutkan keduanya. "Boss, meeting segara di mulai, yang lain sudah menunggu anda", kata Arsyad.


"Pulang bareng ya? Kamu nggak boleh nolak, Pak Gugun sudah kuminta untuk nggak usah jemput kamu hari ini", ucapan Denis yang kemudian mencium lembut kening Nabila sebelum berlalu dari tempat itu bersama asistennya.


Nabila mendudukkan tubuhnya dengan keras ke kursinya, ketika di rasa bayangan suaminya sudah tak nampak. " Apakah memang kamu juga tidak melibatkan perasaanmu ketika bercinta bersamaku?", tanya Nabila dalam hati.


______________

__ADS_1


di tunggu semua like, comment dan votenya readers tercinta🤗


__ADS_2