Menunggu Cintamu Berkembang

Menunggu Cintamu Berkembang
Baju Tidur


__ADS_3

Setelah Denis menutup pintu, Nabila hendak melangkah pergi. Namun, gerakan Denis lebih cepat untuk menghalanginya.


"Tunggu!" Perintah Denis kepada Nabila. Kemudian ia menarik tangan istrinya dan menghimpit tubuhnya ke dinding. Kedua tangannya mengepal ke tembok sehingga mengapit kepala Nabila.


Nabila pasrah, tak melawan apa yang dilakukan suaminya terhadapnya. Denis menatap wajah Nabila dengan seksama, Nabila pun membalas tatapan itu hingga mata itu saling beradu.


"*Apa benar apa yang diucapkan perempuan itu?"


"Siapa? Sheila?"


"Kamu benar pernah ada hubungan dengan laki-laki yang disebutkannya tadi? Atau jangan-jangan masih berhubungan sampai sekarang*?"


Nabila mencoba menahan emosinya. "Apa kamu percaya dengan kata-kata sheila?"


"*Jawablah! Jangan berbelit-belit aku tidak suka!"


"Bukankah aku tadi sudah mengatakannya. Dia pacar Sheila. terserah kamu mau percaya atau tidak kepadaku*"


"Aku tidak suka kamu tebar pesona ke pria lain dan menggoda-goda mereka!"


Mendengar ucapan suaminya itu, emosi yang tadi ditahannya sudah tak mampu dibendung. Refleks tamparan mendarat ke pipi Denis cukup keras.


"Jaga mulutmu mas! Kamu pikir aku tidak punya harga diri. Jika memang aku penggoda kenapa kau tetap memaksa menikahiku?"


Denis mencoba menahan emosinya yang sudah di ubun-ubun. Dia menurunkan tangannya, berbalik membelakangi dan menjauh beberapa langkah dari Nabila. Dihirupnya dalam-dalam udara yang ada di sekitarnya, kemudian dilepaskannya perlahan.


Nabila tetap berada di posisinya sambil termenung. Ia mencoba untuk menerka-nerka akan sikap suaminya saat ini. Ia mencoba tak berbicara, namun nalurinya memaksa untuk tak diam.


"Bukankah kepercayaan itu salah satu modal utama sebuah pernikahan. Lalu apa gunanya pernikahan jika tidak ada kepercayaan", ucap Nabila tegas.


Denis tertegun mendengar kata-kata istrinya, dibalikkan badannya menghadap Nabila kembali. Ia lebih mendekat ke arah Nabila.


Nabila mengangkat kepalanya yang tadi tertunduk dan mencoba menatap Denis yang berjarak sangat dekat dengannya. Kontak mata terjadi diantara mereka.


"Aku tau kamu tidak mencintaiku, mas. Tapi apa tidak bisa kamu memberikan sedikit kepercayaan kepadaku. Pernikahan kita memang bukan pernikahan yang ideal. Tapi aku tetap ingin berusaha menjadi istri yang ideal. Patuh kepadamu, menjaga kehormatanku, dan melayanimu sebagaimana istri-istri yang lainnya", ucap Nabila lirih karena airmata yang sedari tadi di tahannya sudah tak mampu dibendungnya.

__ADS_1


" Aku tidak berharap kamu mencintaiku, dengan segala upayaku untuk menjadi istri idealmu, mas. Karena aku tau rasa itu tidak bisa dipaksa. Tapi tolong, hargai aku sebagai seorang istri", lanjut Nabila.


Denis terdiam mendengar ucapan Nabila. Sejurus kemudian direngkuhnya tubuh istrinya itu ke pelukannya. Dibelainya kepala istrinya dengan lembut. "Maaf ya", ucap Denis dilanjutkan mencium kepala istrinya berulang-ulang, membuat Nabila akhirnya membalas pelukan itu.


Cukup lama mereka saling berpelukan, sampai Denis mendorong sedikit tubuh Nabila, kemudian mencium lembut kening istrinya. Ia menghapus sisa-sisa air mata Nabila yang masih nampak di pipi istrinya dengan jari.


Diangkatnya dagu istrinya, hingga ia mampu melihat seluruh sisi wajah Nabila yang ayu. Dikecupnya kelopak mata dan pipi Nabila, kemudian berlanjut ke bibirnya yang mungil.


Denis mencumbu dengan lembut bibir itu dan Nabila membalasnya tidak kalah lembut. Ciuman yang awalnya lembut, berubah menjadi panas. Hasrat Denis sudah tidak bisa dibendung. Ia segera menggendong tubuh istrinya dan membaringkannya di atas ranjang.


Di temani matahari yang sudah mulai terik, pergumulan dua insan itupun terjadi kembali.


Setelah meluapkan segala hasratnya, Denis menutupkan selimut ke tubuh istrinya yang sudah sangat kelelahan. Ia mencium dengan lembut kepala Nabila, kemudian berbaring disampingnya dengan tangan yang memeluk erat tubuh istrinya itu. Nabila juga membalas pelukan itu. Mereka berdua akhirnya tertidur dalam kelelahan yang sangat.


*******


Matahari sudah mulai tergelincir. Panasnya mulai terasa masuk lewat kaca cendela kamar mereka dan Nabilapun sudah tampak berusaha membuka matanya dengan berat.


Setelah matanya sudah terbuka dengan sempurna, ia mengarahkan pandangannya ke wajah suaminya yang masih nampak terlelap. Nabila tersenyum melihat wajah itu. Dia memberanikan diri untuk menyentuhnya.


Nabila menelusuri wajah suaminya dengan jarinya. Matanya tak henti memandangi wajah teduh suaminya saat itu. Batinnya tak mau kalah ikut memuji ketampanannya.


"Lepasin, mas", ucap Nabila manja.


"Nggak mau", balas Denis


Nabila mengerucutkan bibirnya. Denis yang melihatnya merasa gemas, tanpa aba-aba langsung menyambar bibir itu sekilas. Nabila langsung mencubit dada Denis dengan keras.


"Awww... Sakit sayang. lagi!" Ucap Denis manja, sambil menarik tangan Nabila dan meletakkan telapak tangannya ke dadanya.


"Ayok jalan-jalan yang", ucap Denis sambil masih menahan tangan Nabila di dadanya.


"*Emang mau jalan-jalan kemana, mas?"


"Kamu mau kemana?" Tanya Denis

__ADS_1


"Hmmmm.... ke pantai yuks, gimana*?"


"Boleh.... tapi nanti ya, aku masih pengen bobok", ucap Denis sambil menggeser tubuhnya mendekati Nabila, kemudian menelusup kan kepalanya keleher istrinya.


"Sekarang mas, nanti keburu sore", ucap Nabila sambil menggoyang-goyangkan pundak Denis. Namun Denis tak bergeming, ia masih sibuk bermain-main dengan tubuh istrinya.


*****


Denis dan Nabila sudah berada di dalam mobil. Kali ini mereka akan menuju ke mall untuk membeli beberapa pakaian untuk Nabila, karena sebelumnya Nabila tidak mempersiapkan bekal pakaian untuk pergi bersama suaminya.


Rencana ke pantai yang tadi direncanakan tidak jadi terlaksana karena kesibukan mereka di dalam kamar hotel membuat mereka lupa waktu.


Sesampainya di mall, Denis dan Nabila bergerak cepat mencari apa saja yang mereka butuhkan. Kali ini mereka masuk ke sebuah butik ternama di kota itu. Nabila sebenarnya menolak masuk ke butik itu, namun Denis memaksanya. Mau tidak mau diapun menurut.


Ditemani seorang pegawai butik, Nabila memilih-milih pakaian. Cukup lama Nabila memilih, namun belum ada satupun pakaian yang di dapatnya. Bukan karena pakaian di tempat itu jelek-jelek, tapi setiap kali melihat harga pakaian yang dia pilih, Nabila tak jadi mengambilnya.


Denis yang dari tadi duduk menunggu istrinya memilih baju, mulai merasa bosan. Dia akhirnya bangkit dan berjalan mendekati istrinya.


"Jadi beli yang mana Nab?", Tanya Denis, membuat Nabila yang sibuk memilih baju, mengalihkan pandangan ke orang dibelakangnya yang tadi memanggilnya. Nabila hanya mengangkat bahu merespon pertanyaan suaminya.


"Apa semua baju di butik ini tidak ada yang kamu suka?" Tanya Denis penasaran. Namun Nabila hanya menggelengkan kepalanya. "Lalu?", lanjut Denis. Nabila hanya menundukkan kepalanya, ia malu untuk menjawab yang sebenarnya.


"Ya sudah, biar aku yang pilihkan", ucap Denis yang kemudian melangkahkan kakinya sambil menarik tangan Nabila agar mengikutinya.


Denis sudah mengambil beberapa pakaian. Ia tak menawarkan kepada Nabila pakaian-pakaian yang ia ambil. Ia hanya melekatkan pakaian yang ia pilih ke tubuh Nabila untuk sekedar mengetahui ukurannya pas atau tidak dengan tubuh istrinya, kemudian dia akan memberikannya ke pelayan toko agar dibawa ke bagian kasir.


Denis berhenti di bagian pakaian tidur. Ia memilih sebuah pakaian tidur dan akan melekatkan pakaian itu ke tubuh istrinya. Namun, Nabila dengan cepat mundur. Tiba-tiba saja wajahnya bersemu merah. Sungguh rasanya Nabila malu sekali, apalagi ketika melihat pegawai butik itu senyum-senyum melihat tingkah suaminya.


"Ayo cepat kesini!" Perintah Denis pada Nabila. Nabila menggelengkan kepalanya dan tak mau menuruti perintah Denis.


"Pakaian apa itu, mas? Kembalikan saja! siapa yang mau memakai pakaian seperti itu?", ucap Nabila.


"Ya kamulah", ucap Denis datar. Tanpa mendapat persetujuan dari Nabila, Denis menyerahkan pakaian itu kepada pegawai butik bersama pakaian lain yang sudah dipilihnya.


Nabila bergidik ngeri melihat Denis, memilih baju tidur tadi untuk dibelinya. Baju tidur itu, tidak layak disebut baju. Bagaimana tidak, ketika dipakai baju tidur itu tidak akan menutupi tubuh karena terlalu tipis dan menerawang. Bentuknya juga aneh, apalagi warnanya merah menyala, membuat mata yang melihatnya jadi sakit.

__ADS_1


________


jangan lupa like, comment, dan votenya ya ^_^


__ADS_2