Menunggu Cintamu Berkembang

Menunggu Cintamu Berkembang
Mama Denis


__ADS_3

"Ada apa, Nab?" Tanya Denis lembut ketika tubuhnya sudah berdiri tepat di depan istrinya yang membelakanginya.


Denis memutar tubuh Nabila. "Sayang, kamu nggak apa-apa?" Tanya Denis sambil mengamati Nabila yang kepalanya tertunduk. Dia tau kalau istrinya itu habis menangis. "Kamu kenal mamanya Andre?" Tanyanya lagi.


Nabila tak menjawab, tapi berusaha mengalihkan topik pembicaraan. "Ayo kita lanjutkan nonton aja mas, keburu di puter filmnya!" Ajak Nabila yang kemudian berjalan lebih dulu mendahului Denis yang masih diam terpaku.


Denis hanya memandangi Nabila yang kian menjauh, sebelum akhirnya dengan sedikit berlari, ia menyusul istrinya itu. Ada ganjalan di hati pria itu, yang belum mampu untuk terpecahkan, dia berpikir untuk mencari tahu apa yang sebenarnya di rahasiakan istrinya.


"Nih minum dulu! Katanya tadi kehausan" Kata Denis sambil menyodorkan segelas minuman yang iya bawa, setelah mereka sampai di depan gedung bioskop. "Jadi nonton horor?" Tanyanya pada Nabila yang sedang menikmati minuman yang baru saja sampai ditangannya dan wanita itu hanya menjawab pertanyaan suaminya dengan anggukan.


Tak terasa satu jam lebih mereka ada di dalam gedung bioskop, setelah film selesai Nabila bergegas keluar dari tempat itu setelah bersusah payah membangunkan Denis yang sepanjang pemutaran film hanya tidur saja. "Yang, jangan marah dong. Aku memang ngantuk banget, udah nggak bisa di tahan", ucapnya sambil berusaha mensejajarkan diri dengan istrinya.


"Tau begitu nggak usah nonton, tidur dirumah aja", kata Nabila ketus.


Brukkk...


Denis yang semula mau menanggapi ucapan istrinya, terurungkan niatnya saat tiba-tiba ada seseorang yang badannya tinggi besar menabraknya hingga membuatnya jatuh karena tubuhnya masih lemas, efek baru bangun tidur.


"Jangan dekati Jenica lagi, dia milikku! Atau orang-orang dekatmu akan merasakan akibatnya", kata pria itu, kemudian berlari kencang.


Denis sebenarnya ingin mengejar pria bertopi dan berkacamata hitam itu, namun ketika ia hendak berdiri kakinya ternyata terkilir. Nabila yang melihatnya langsung khawatir. "Kamu ngak apa-apa mas?" Tanyanya, sambil membantu Denis bersdiri.


Nabila membawa Denis duduk di bangku panjang yang ada di dekat mereka, lalu ia berjongkok untuk melihat kondisi kaki suaminya. "Mana yang sakit, mas?" Tanyanya lagi. Ia memijat kaki suaminya dengan lembut setelah Denis menunjukkan bagian yang sakit.


"Kita ke dokter ya!" Ajak Nabila dengan raut muka yang masih sangat jelas ke kekhawatirannya.


"Nggak usah, yang! Ini cuma kesleo. Nanti diurut Bi Atik juga baikan", kata Denis sambil menurunkan celananya yang tadi dilipat ke atas oleh Nabila.


*********


Kini Denis dan Nabila sudah berada di dalam mobil menuju perjalanan pulang, setelah sebelumnya Denis menghubungi kaki tangannya untuk menjemputnya di mall, sekaligus membawa pulang motor yang tadi ia kendarai menuju mall.


Wajah Nabila masih Nampak khawatir, sesekali ia memijit-mijit kaki Denis perlahan. "Beneran nggak apa-apa mas?" Tanyanya.


"Nggak apa-apa sayang. Nggak usah khawatir", jawab Denis sambil megusap-usap kepala Nabila.

__ADS_1


"Laki-laki tadi siapa mas? Apa mas kenal?" Tanya Nabila.


"Aku sendiri nggak tahu, yang. Tapi aku rasa mungkin dia pacarnya Jenica", jawab Denis.


"Jenica?" Nabila mengerutkan keningnya "Ada urusan apa mas sama Jenica?" Tambahnya.


"Ntahlah", kata Denis singkat sambil mengangkat bahu.


Jawaban Denis membuat Nabila memalingkan mukanya dari Denis dan merenggangkan duduknya agar tak menempel pada suaminya. Denis yang menyadari itu menggeser tubuhnya mendekati Nabila, kemudian menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukannya. "Kamu nggak perlu berpikir macam-macam, aku nggak ada hubungan apa-apa sama Jen, seperti yang aku bilang. Percayalah!", kata Denis membuat Nabila melunak.


Malam, setelah makan malam, Denis yang kakinya sudah diurut oleh Bi Atik dan membaik, baru saja keluar dari kamarnya dengan berpakaian santai tapi rapi. Ia mendekati istrinya yang sedang menikmati siaran televisi.


"Sayang, aku berangkat dulu ya", pamit Denis pada sang istri sembari membungkukkan badannya hendak memberikan ciuman di pipi istrinya.


Nabila memutar kepalanya menghadap Denis. "Mau kemana?"


"Aku ada kerjaan yang harus diselesaikan besok. Kemungkinan aku nggak pulang sampai besok", kata Denis.


"Kok sampai nggak pulang, emang ada masalah ya di kantor?" Kata Nabila


"Hati-hati, ya", kata Nabila yang sebenarnya tak ikhlas melepas kepergian suaminya.


Nabila hendak melanjutkan menonton televisi, namun moodnya yang sedang buruk karena kepergian suaminya, membuatnya memilih untuk pergi ke kamar.


Nabila merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, setelah membersihkan diri di kamar mandi. Namun, saat hendak memejamkan mata, ponselnya yang ada diatas nakas berbunyi. Dengan buru-buru Nabila bangkit untuk mengambil ponselnya, berharap telpon itu dari suaminya.


Namun, ia harus kecewa setelah melihat nomor telpon yang tertera di panggilan telponnya. "Siapa lagi ini", batinnya. Dengan malas ia menggeser tanda hijau di layar ponselnya.


"Hallo, Assalamu'alaikum", ucap Nabila malas.


"Wa'alaikumsalam, sayang!" Suara di ujung telpon yang keras dan heboh membuat Nabila menjauhkan ponselnya dari telinganya.


"Sayang, ini mama. Mama sama papa ada di Indonesia. Kamu kesini ya, pasti kamu kesepian sendirian dirumah. Biar Pak Gugun yang jemput, gimana?" Ujar mama Denis.


Nabila nampak bingung. Sejenak ia mencoba berpikir, sebelum menjawab pertanyaan lawan bicaranya. "Ini mamanya, mas Denis?" Ucap Nabila ragu.

__ADS_1


"Ya iya, sayang. Mama yang mana lagi", ucap mama Denis diiringi tawa kecil.


"Mama sejak kapan di Indonesia? Kok, mas Denis nggak bilang-bilang", kata Nabila.


"Kemarin, sayang. Kan Denis yang kemarin mau jemput di Singapore. Tapi pas pengobatan papa belum selesai, dia dapat kabar kamu sakit. Jadi dia buru-buru pulang dan mama sama papa pulang sendiri ke Indonesia", kata mama Denis


Nabila terkejut dengan ucapan mertuanya, karena dia sempat berpikiran negatif saat suaminya memberitahu dirinya sedang pergi ke Singapura. "Maaf ya, ma", kata Nabila memelas.


"Nggak apa-apa, sayang. Oh ya gimana? Jadi kesini sekarang nggak, sayang?" Tanya mama Denis lagi.


"Hemmm.....besok aja deh, ma. Udah malem, kasian Pak Gugun harus bolak-balik. Gak papa kan", kata Nabila sopan.


"Nggak apa-apa, sayang. Tapi kamu nggak apa-apa, sendirian di apartemen?" Tanya mama Denis.


"Udah biasa, ma. Mama kok tau, aku lagi sendirian. Apa mas Denis yang ngasih tau?" Ucap Nabila.


"He... He... He... Feeling aja sayang. Denis kan pasti sibuk buat acara besok", Kata mama Denis.


"Acara apa ma?" Tanya Nabila penasaran.


"Ya acara resepsi pernikahan lah, sayang. Apa Denis belum bicara sama kamu?" Ucap mama Denis.


"Resepsi Pernikahan? Maksud mama?" Tanya Nabila penasaran.


"Hemmmm....jadi Denis belum musyawarah untuk ini sama kamu, ya. Maaf ya sayang, biar Denis aja yang jelasin, ya. Mama takut salah ngomong. Mama ngasih papa obat dulu, ya. Bye. Assalamu'alaikum", Kata mama Denis yang buru-buru menutup telpon.


"Resepsi pernikahan? Pernikahannya siapa?", Nabila bermonolog sendiri.


"Apa ada sahabatnya yang menikah, ya? Tapi kenapa sampai nggak pulang, juga?" Lanjutnya.


"Atau jangan-jangan, mas Denis__?" Nabila menutup mulutnya dengan telapak tangannya, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba menepis pikirannya.


Nabila mencoba menyingkirkan pikiran buruknya dengan memejamkan mata. Dia berharap dengan tidur, pikirannya yang buruk-buruk akan hilang. Namun, lama ia berusaha memejamkan mata, tapi rasa kantuk tak kunjung datang. Justru gelisah kian membayangi.


Wanita itu memilih bangkit dan meraih ponsel yang ada di sebelahnya. Ia mencoba menghubungi nomor telepon suaminya untuk meminta penjelasan, namun beberapa kali ia mencoba selalu gagal.

__ADS_1


Malam itu Nabila benar-benar tak bisa tidur, karena masalah yang mengganggu pikirannya. Ia tertidur menjelang pagi, karena rasa lelah yang menghampiri.


__ADS_2