
Denis dan Nabila sudah berada di kamar hotel. Mereka tengah sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Denis menyiapkan dan mempelajari dokumen-dokumen yang akan dibawanya untuk meeting besok pagi, sementara Nabila sibuk memeriksa pekerjaan anak buahnya yang baru saja diterimanya lewat e-mail.
Nabila hendak menutup laptopnya ketika kantuk sudah mulai menyerang. Namun, ia mengurungkannya disaat ada notifikasi bahwa ada pesan baru yang masuk ke e-mailnya. Notifikasi itu memperlihatkan siapa pengirimnya. Email itu dikirim oleh orang yang sudah lama sekali tak pernah diketahui kabarnya oleh Nabila.
Nabila ragu, apakah ia harus membaca pesan itu atau harus menghapusnya saja tanpa dibaca. Dengan berbagai pertimbangan, Nabila akhirnya membuka dan membaca pesan itu. Satu persatu kata dalam pesan di e-mail itu dibacanya. Tiba-tiba muncul perasaan bingung, senang, sedih, takut, bercampur jadi satu.
Denis yang telah selesai dengan pekerjaannya, melihat air muka Nabila yang tak biasa. "Kenapa Nab, ada masalah?", Tanya Denis.
Nabila yang perasaannya saat itu sedang tidak bagus, tersentak mendengar suara Denis yang tiba-tiba mengajaknya bicara. "Engg....Enggak kok, mas", suara Nabila terbata-bata. Raut muka Nabila yang menunjukkan hal yang tidak sesuai dengan kata-katanya membuat Denis mengerenyitkan keningnya.
"Beneran?", ucap Denis agak sedikit curiga.
Nabila mengurungkan niatnya untuk membalas e-mail tadi dan segera menutup laptopnya, ketika melihat Denis berdiri dari duduknya dan mulai berjalan ke arahnya.
Denis menjatuhkan tubuhnya disebelah Nabila, dan menyandarkan kepalanya dibahu Nabila. Sejenak kemudian dia mengambil laptop yang ada dipangkuan Nabila dan meletakkannya diatas dimeja, setelahnya ia kembali ke sofa.
Denis membaringkan tubuhnya dan menjadikan kedua paha Nabila sebagai bantal. Wajahnya dihadapkan ke perut Nabila dan kedua tangannya erat memeluk perut istrinya itu.
Nabila membelai lembut kepala Denis. Membuat Denis nyaman dan menenggelamkan wajahnya ke perut Nabila.
"Nab", Panggil Denis
"Hemmmm...", Nabila menyahuti singkat, sementara tangannya masik sibuk mengelus kepala suaminya.
Denis mengangkat kepalanya, sehingga bisa melihat wajah ayu istrinya yang sedang menunduk.
"Besok temani aku meeting ya?" Pinta Denis.
"Kok ditemani segala mas, biasanya juga sendiri", ucap Nabila
"Ingin saja ditemani. Mau?"
Nabila mentap mata Denis, kemudian ia menganggukkan kepalanya, menerima ajakan suaminya itu.
Denis tersenyum tulus, kemudian meraih tengkuk istrinya sehingga posisi wajah mereka berdua saling mendekat. Denis mengecup lembut bibir istrinya, menikmati kehangatan di bibir mungil itu. Sebentar, kemudian dia melepaskannya.
"Ganti baju dulu, ayo tidur!", perintah Denis.
__ADS_1
"Ganti baju mana lagi?udah nggak ada baju, mas", ucap Nabila.
"Memang kamu mau tidur pake baju ini?", tanya Denis sambil menarik sedikit pakaian Nabila. Nabila mengangguk, menjawab pertanyaan suaminya.
Denis mengernyitkan dahinya. "Baju tidur yang kubelikan tadi?"
Wajah Nabila menjadi merona mendengar Denis membahas baju tidur. "Siapa yang mau memakai baju itu?"
Denis bangkit. Ia yang semula berbaring kini sudah duduk, menghadap Nabila. "Gantilah dengan baju itu!", perintahnya. " Ini perintah suami", lanjutnya.
Nabila memutar kepala menghadap Denis. Dia tersenyum lepas, kemudian berkata, "bajunya lagi di laundry mas, tadi pas kamu di kamar mandi, petugas laundry yang sudah kupesan datang"
Denis mengerucutkan bibirnya mendengar fakta yang diucapkan Nabila, membuat Nabila yang melihatnya jadi tertawa.
"Masa nggak ada baju lain? Kita disini juga baru tiga malam?", tanya Denis.
Nabila tersenyum kemudian mengapit pipi suaminya dengan kedua telapak tangannya. "Di lemari tinggal ada celana pendek dan tanktop. Mas bilang tidak suka jika aku pakai itu", urai Nabila. Kemudian dia dengan cepat mengecup bibir suaminya, membuat Denis kaget namun senang.
Saat Nabila mengakhiri ciuman itu, Denis bergerak cepat menarik tangannya, kemudian berbisik, "Kamu ingin menggodaku ya".
Mata mereka saling bertemu. Wajah Denis mulai mendekat ke wajah Nabila. Dengan cepat Nabila memutar kepalanya hingga Denis tidak jadi memperoleh apa yang dimau. Denis menjadi gemas, dan menelusupkan kepalanya ke leher Nabila dan menggigitnya.
"Awww, sakit mas", teriak Nabila yang langsung mengusap-usap lehernya. Membuat Denis tertawa puas.
"Ganti baju sana!" Perintah Denis. Ia bangkit dari sofa, sebelum ia melangkah meninggalkan Nabila, "cuppp....", ia menyambar bibir Nabila sekilas.
"Maaassssss", Nabila berteriak karena gereget dengan tingkah laku suaminya. Ia bangkit dan mengejar Denis yang belum jauh melangkah.
Nabila mencubit pinggang Denis, hingga Denis meringis kesakitan. Lalu Dengan cekatan Denis menarik tangan Nabila dan meletakkan ke dadanya. "Kamu benar-benar mau menggodaku ya", bisik Denis.
"Lepaskan", pinta Nabila sambil berusaha melepaskan diri dari Denis.
Denis melepaskan tangan Nabila. "Jangan lupa, yang seksi ya", ucap Denis sambil mengedipkan sebelah matanya pada Nabila. Dia melangkah menuju tempat tidur sambil tertawa keras.
Nabila menghentakkan kakinya ke lantai sambil mukanya dipasang cemberut, menghadapi tingkah laku suaminya. Dengan berat, ia melangkah menuju kamar mandi untuk berganti pakaian, setelah sebelumnya ia mengambil pakaiannya dari dalam lemari.
Setelah melakukan aktivitas di kamar mandi, termasuk menggosok gigi dan membersihkan mukanya, Nabila membuka pintu kamar mandi dan melangkah keluar menuju tempat tidur.
__ADS_1
Denis yang segera meletakkan ponsel yang dibawanya ke nakas, ketika melihat Nabila datang mendekat ke arah tempat tidur. Dia memperhatikan penampilan Nabila dari ujung rambut sampai ujung kaki, ada gelisah yang tiba-tiba datang dalam tubuhnya.
"Mas...mas..." Panggil Nabila, sambil melambai-lambaikan tangannya di depan muka Denis yang bengong dengan mulut terbuka.
Denis yang tersadar dari kebengongannya menjadi salah tingkah. Ia tersenyum lebar sambil menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal.
"Sini", ucap Denis, sambil menepuk kasur disebelahnya.
Nabila menurut. Ia menggeser tubuhnya, duduk tepat disebelah Denis. Denis merengkuh pundak istrinya itu, kemudian menyandarkannya dadanya.
Denis mencium puncak kepala Nabila dengan penuh penghayatan. Nabila yang merasakan kenyamanan dari sikap Denis malam ini, memeluk suaminya itu dengan sayang sembari menghirup dalam-dalam aroma tubuh Denis yang begitu menenangkan.
"Nab", panggil Denis lembut, membuat Nabila mendongakkan kepalanya. Karena Denis sedang menundukkan kepalanya, kini wajah mereka begitu sangat dekat dan mata mereka saling beradu.
Denis mengecup kening Nabila lembut, kemudian bertanya, "Apa kau bahagia menikah denganku?"
Nabila tertegun mendengar pertanyaan dari Denis. Ia bingung harus menjawab apa. "Kenapa tiba-tiba tanya itu mas?", ucap Nabila.
"Aku tau aku salah telah memaksamu menikah denganku, tapi aku juga tidak mau dengan pernikahan ini membuatmu menderita", ucap Denis, kemudian ia kembali mengecup kening Nabila.
Nabila begitu terharu mendengar ucapan Denis. Dia semakin mengeratkan pelukannya. "Memang pernikahan ini ada bukan karena cinta, tapi apakah kemudian kita bisa menyimpulkan kalau tak mungkin ada kebahagiaan di dalamnya. Kamu begitu bertanggung jawab mas, sebagai suami, memperlakukanku dan keluargaku dengan baik, menjagaku, lalu mengapa aku harus bilang aku tak bahagia", ucapnya.
Denis melepaskan pelukannya, kemudian merangkum wajah Nabila dengan kedua tangannya. "Aku memang suami yang tidak sempurna, Nab. Tapi aku akan berusaha menjadi suami yang bertanggung jawab", ucap Denis.
"Terimakasih mas", ucap Nabila penuh haru dan disambut senyum tulus dari Denis.
"Ayo tidur, besok kita ada meeting", ajak Denis, yang kemudian membaringkan badannya dan menarik Nabila agar segera ikut tidur bersamanya.
Mereka saling berhadapan. "*Terus, janji sama Sheila gimana?"
"Nggak perlu kamu pikirkan. Lihat saja Besok*", ucap Denis mengakhiri pembicaraan. Bibir dan tangannya mulai bergerilnya ke tubuh pasangannya. Pelan tapi pasti Denis memuaskan hasratnya dan istrinya dengan manis malam itu. merekapun tertidur dalam kelelahan yang sangat.
___________
Selamat membaca😉
Ditunggu like, comment dan vote nya ya😊
__ADS_1