
Denis berteriak memanggil pak Damar. Kepala pelayan itupun dengan cepat datang menghampiri majikannya.
"Ada yang bisa saya bantu tuan muda?", Tanya Pak Damar dengan sopan
"Kenapa Nabila dibiarkan pulang sendiri?", Tanya Denis dengan suara meninggi.
"Tadi sudah saya tawarkan untuk diantar sopir tuan, tapi nona tidak mau", Jawab Pak Damar.
"Kenapa hanya menawarkan, harusnya dipaksa. Sampai sekarang dia masih di jalanan menunggu taksi", kata Denis dengan nada kesal.
"Maaf tuan. Apa saya minta sopir untuk menjemput nona Nabila sekarang?", kata Pak Damar.
"Tidak perlu, aku masih mampu menjemputnya", ucapnya ketus kemudian mengibaskan tangannya, meminta Pak Damar pergi dari hadapannya.
Denis beranjak mengambil jaket dan kunci mobil, kemudian berjalan menuju pintu utama. Namun, baru sampai di ruang tamu langkahnya berhenti. Dia berubah pikiran.
Denis duduk di salah satu kursi di ruangan itu. Mencoba menata kembali rencananya, apa dia harus menjemput istrinya atau membiarkannya saja. Dia berfikir kalau dia menjemput Nabila berarti dia merasa kalah dan harga dirinya akan jatuh, namun di sisi lain ia tak mau terjadi apa-apa dengan istrinya.
"Diaarrrrrrrrrrrrrrr...." Suara petir menggelegar menyadarkan Denis dari pikiran-pikiran yang membuat dia bingung. Disingkapnya gorden jendela yang ada di dekatnya. Tampak diluaran sana hujan begitu lebat.
*******
Mendung tak berarti hujan. Itu kata-kata yang sering Nabila dengar, namun kata-kata itu kali ini sepertinya tak berpihak padanya. Mendung kali ini sepertinya akan mendatangkan hujan.
__ADS_1
Nabila berjalan cepat menuju emperan toko, ketika di dapatinya tetesan gerimis mengenai wajahnya, diikuti tetes berikutnya yang lebih banyak.
Ia berdiri sambil memeluk tasnya agar terlindung dari air hujan yang semakin deras. Tapi rasanya percuma berteduh di tempat itu, karena angin kencang yang turut mengiringi hujan membuatnya tetap basah.
Nabila mulai pesimis bisa pulang secepatnya, karena ia sudah tidak bisa melihat dengan jelas kendaraan yang berlalu lalang. Hujan yang deras di barengi oleh angin kencang membuat jarak pandang semakin pendek. Dia mencoba untuk pasrah bersamaan dengan dingin yg mulai menyergap tubuhnya.
Sementara Denis yang sudah memantapkan pikirannya untuk menjemput istrinya, dengan bekal info lokasi terakhir posisi Nabila yang didapatnya dari Adam, mulai menyusuri jalan-jalan dengan mata melihat ke kiri dan kanan mencari sosok yang ingin ia temui.
Denis semakin menurunkan kecepatan mobilnya, ketika matanya menangkap sosok perempuan yang duduk memeluk kedua kakinya. Dari baju yang dipakai perempuan itu, ia yakin bahwa sosok yang dilihatnya adalah istrinya.
Begitu sampai di depan ruko dimana Nabila berteduh, Denis mematikan mesin mobilnya dan segera turun dari mobil sambil membawa sebuah payung.
"Nabila", panggil Denis ketika dia sudah berdiri tepat di depan istrinya, namun Nabila tak merespon panggilan itu.
Denis memanggil nama Nabila sekali lagi, namun lagi-lagi Nabila yang sedang menggigil tak bergeming dari posisinya sekarang. Denis membungkukkan tubuhnya dan menarik kedua pundak Nabila sehingga membuat Nabila mengangkat kepalanya.
Nabila membuka matanya. Begitu menyadari bahwa yang sekarang yang ada dihadapannya adalah suaminya, dia segera menghambur memeluk erat tubuh suaminya. Tangis yang sedari tadi di tahannya pecah seketika. Rasa marah, kecewa, takut, lelah, dingin seketika hilang semua.
Denis membalas pelukan Nabila tak kalah erat. Diusap-usapnya punggung istrinya itu untuk memberi sedikit kehangatan sambil tak henti dia menghujani ciuman ke kepala Nabila. Kata maaf berkali-kali diucapkan kepada istrinya itu. Dan tanpa sadar, air matanya pun lolos dari pelupuk matanya dan turun bercampur dengan air hujan.
Menyadari tubuh Nabila yang menggigil, Denis segera mengajak untuk segera masuk ke dalam mobil. Ia tetap memayungi tubuh istrinya yang sudah basah kuyup, dan satu tangannya merangkul tubuh mungil itu.
Kedua insan itu sudah masuk ke mobil. Denis memberikan sebuah handuk kering kepada Nabila. Ia membantu Nabila melepas kerudungnya, kemudian membantunya untuk mengeringkan rambutnya yang basah.
__ADS_1
Denis meminta Nabila membuka blazernya agar badannya tidak terlalu kedinginan. Nabila menurut dan Denis segera mengelap tubuh Nabila yang kini hanya memakai kemeja tanpa lengan.
Nabila memperhatikan Denis yang begitu nampak berbeda dari biasanya. Denis yang biasanya begitu dingin dan egois, kali ini begitu perhatian dengannya dan nampak matanya memancarkan kekhawatiran.
Denis yang telah selesai mengelap tubuh Nabila mengangkat kepalanya sehingga kini wajah mereka berhadapan dengan jarak yang sangat dekat, hingga mereka bisa saling merasakan hembusan nafas masing-masing.
Tanpa perlu dikode, kedua telapak tangan Denis merangkum wajah Nabila, lalu dengan lembut menempatkan bibirnya di atas bibir Nabila yang masih bergetar karena kedinginan. Denis segera mengakhirinya ketika Nabila mendorong tubuhnya.
"Ganti bajunya sekalian ya dengan bajuku yang kering?", Tanya Denis dengan lembut.
"Nggak usah mas, nanti saja di rumah", kata Nabila sambil menggelengkan kepalanya.
Denis segera membuka jaketnya, kemudian memakaikan ke tubuh Nabila yang kedinginan.
"Terimakasih", ucap Nabila lirih yang kemudian disambut dengan kecupan di kening oleh Denis.
Denis menyalakan mesin mobilnya kemudian melajukan mobilnya ke arah rumah keluarganya.
Di perjalanan, Nabila tak henti-hentinya memandangi wajah suaminya, hingga membuat Denis yang terkadang mencuri pandang ke arah Nabila, mengambil telapak tangan istrinya itu dan menciumnya. ia menggenggam tangan istrinya itu hingga sampai tiba di tempat tujuan.
********
Hai.... Hai... Hai.... para readers jangan lupa dukungannya ya 🙂
__ADS_1
Ditunggu like, comment dan votenya😉