Menunggu Cintamu Berkembang

Menunggu Cintamu Berkembang
Biarkan


__ADS_3

Hujan masih membasahi bumi semenjak tengah hari itu, hingga menciptakan hawa dingin di sore yang lebih gelap dari biasanya dan membuat sang pemilik hati yang luka itu masih setia meringkuk diatas tempat tidur yang tidak begitu besar namun menghangatkan.


Sudah tiga hari ini, semenjak ia mendengar jawaban suaminya atas pertanyaannya tempo hari itu, ia memilih untuk tidur terpisah dengan suaminya.


Tak bisa dipungkiri ada semacam sayatan di hatinya, tatkala suaminya mengutarakan bahwa ia akan bertanggung jawab terhadap hasil perbuatannya, yang katanya adalah perbuatan laknat itu.


Meskipun dalam utaian kalimat yang keluar dari bibir Denis, ia menyertakan pernyataan tak akan melepaskan dirinya karena cinta yang sangat begitu dalam.


Harusnya semua orang bangga atas jawaban Denis. Karena dengan ungkapan itu, membuktikan bahwa laki-laki itu adalah laki-laki yang bertanggung jawab. Namun, tidak bagi Nabila yang memang sudah mengetahui fakta sebenarnya.


Getaran dan suara dari ponsel milik Nabila yang ada di atas bantal, sama sekali tak membuat wanita itu bergeming untuk sekedar mengangkat panggilan itu atau menolaknya. Tanpa melihat, ia tahu siapa yang menghubunginya.


Ia yakin bahwa suaminya yang menelepon saat itu, karena sedari siang entah berapa puluh kali suaminya menelepon, namun ia abaikan. Ia sendiri sebenarnya sangat merindukan suaminya, namun amarah yang masih belum padam membuatnya harus mengabaikan rasa rindunya.


Tak berapa lama kemudian, pintu kamar itu terbuka dan langkah halus terdengar mendekati tempat tidur, membuat Nabila segera menutup mata, pura-pura tidur.


Denis duduk di tepi ranjang, kemudian menjatuhkan tubuhnya miring, tepat di depan Nabila. "Sayang", panggilnya pelan sambil membelai lembut kepala istrinya, memastikan apakah istrinya benar-benar sudah tidur.


Merasa istrinya kini tengah tidur, Denis menggeser tubuhnya mendekati istrinya. Menyingkirkan rambut yang menutupi wajah wanita itu, kemudian mencium lembut keningnya.


"Katakan, aku harus bagaimana supaya kamu tidak bersikap seperti ini", kata Denis lirih.


"Ini memang salahku. Andai peristiwa itu tak terjadi, tak akan seperti ini kondisinya sekarang", kata Denis lagi. Pria itu kemudian mencium berulang-ulang wajah istrinya.


"Aku tak mau melakukan kesalahan yang lebih besar lagi, dengan menelantarkan anak itu. Anak itu tidak berdosa, sayang. Aku yang berdosa", air mata Denis tiba-tiba meluap begitu saja.


"Tapi percayalah, hanya kamu wanitaku. Aku tidak mau yang lain. Tidak akan mencintai wanita lain, selain dirimu, meski ibu anak itu nantinya ada di tengah-tengah kehidupan kita", kata Denis.


Pria itu memutuskan untuk keluar dari kamar, tempat ia berada kini, setelah mengutarakan isi hatinya pada istrinya yang masih tak berubah posisinya.


Bersamaan dengan pintu kamar yang ditutup kembali oleh suaminya, Nabila membuka lebar-lebar matanya. Tanpa aba-aba air matanya merembes membasahi wajahnya yang putih.


"Dia bukan anakmu, mas. Bukan!" ucap Nabila dalam hati.


Malam itu Nabila telah menyelesaikan tugasnya membuat hidangan makan malam dan menata masakan itu diatas meja. Tak lupa juga ia membersihkan semua peralatan dapur yang baru saja selesai ia gunakan, sambil menunggu suaminya turun untuk makan malam.

__ADS_1


Bisanya, belum selesai ia memasak, suaminya dipastikan sudah duduk anteng menghadap meja makan. Namun, kali ini berbeda, sehingga membuat Nabila sedikit resah dan memutuskan untuk naik ke atas, tepatnya di kamar tidur milik mereka.


Wanita itu memutuskan membuka pintu yang ada di hadapannya sendiri, setelah beberapa kali ketukan tak mendapat respon dari orang yang ada di dalamnya.


Hatinya tetiba merasa lega tatkala mendapati sosok yang ia cari ada di dalam kamar. Tidak seperti dugaannya, yang sempat mengira suaminya sedang tak ada di rumah.


"Mas, mas Denis... Makan malam sudah siap. Ayo makan dulu!" kata Nabila, sambil menggoyang pelan lengan suaminya yang saat itu tengah tengkurap dengan memakai kaos putih tipis dan sarung.


Pelan, Denis mulai membuka matanya. Ia berusaha mencari sumber suara, yang membuatnya harus membalikkan badan.


"Sayang" Kata Denis sembari menyunggingkan senyum.


Pria itu segera bangkit dan duduk mensejajari istrinya. "Ada apa, sayang?" Tanyanya sembari meletakkan telapak tangannya diatas punggung tangan istrinya yang ada diatas tempat tidur. Namun dengan cepat Nabila menarik tangannya.


"Aku sudah buatkan makan malam", kata Nabila tanpa melihat ke arah suaminya.


"Badanku kurang sehat, kamu makanlah dulu. Nanti kalau sudah enakan, aku akan makan. Jangan habiskan ya!" Kata Denis.


Nabila hendak berdiri namun diurungkan karena perkataan suaminya. Ia menoleh dengan cepat ke arah suaminya. Menatap dengan tatapan bersalah.


"Kamu sakit, mas? Kenapa nggak bilang?" Tanya Nabila cemas sambil meletakkan telapak tangannya ke kening suaminya.


"Kalau begitu biar makanannya kubawa kemari saja", kata Nabila sambil beranjak dari duduknya, namun dengan cepat Denis menahannya dengan mengambil pergelangan tangannya.


"Nggak usah, nanti kamu kecapekan harus mondar mandir", kata Denis.


"Tunggulah sebentar!", kata Nabila. Wanita itu bergegas keluar kamar, setelah bisa lepas dari tangan suaminya.


Tak berapa lama Nabila membawa sepiring makanan dan segelas air putih. Ia dengan telaten memasukkan makanan sesendok demi sesendok ke mulut suaminya.


Tanpa ada pembicaraan, kamar tersebut terasa hening. Yang ada hanyalah tatapan kerinduan seorang suami pada istrinya, yang masih saja tak acuh padanya.


"Makanlah juga!" Kata Denis memecah keheningan.


"Nanti, aku akan makan setelah ini", jawab Nabila. Suasana kembali hening setelah itu.

__ADS_1


"Istirahatlah, supaya lekas membaik", kata Nabila sembari menerima gelas kosong yang isinya baru saja diminum suaminya.


"Aku hanya akan membaik jika kamu ada di sampingmu". Kata-kata Denis membuat Nabila tersentak. Perlahan wanita itu memberanikan diri menatap suaminya.


Ingin rasanya perempuan ini menghambur ke pelukan suaminya dan mengatakan kepadanya hal yang sesungguhnya, namun ia rasa belum saatnya pun belum tentu juga suaminya akan langsung percaya.


Denis dengan cepat menarik tubuh Nabila. Memeluknya dengan sayang. Nabila pun tak menolaknya meski tak membalas pelukan itu.


"Biarkan seperti ini dulu. Aku hanya ingin memelukmu", kata Denis. Pria itu cukup lama memeluk istrinya, hingga akhirnya mereka berdua tertidur.


Nabila menggeliat kan tubuhnya seiring matanya yang mulai terbuka. "Jam berapa ini?" Tanyanya dalam hati dan kemudian melihat jam dinding yang ada disebelah kanan atas pintu.


"Pasti makan es teler yang banyak irisan nangkanya, enak sekali", kata Nabila pelan dengan raut lucu membayangkan makanan yang diinginkannya.


Dengan perlahan Nabila turun dari tempat tidur dan berjalan menuju lemari pakaian, bermaksud mengambil sweater, karena cuaca malam ini memang benar-benar dingin.


Setelah mengambil sweater warna biru dari dalam lemari dan mengenakannya, wanita itu keluar dari kamarnya dengan mengendap pelan agar tak mengganggu tidur siang suami.


"Yang mana ya? Ini kelihatannya enak, tapi yang ini juga enak. Hmmm....jadi bingung", seru Nabila dengan jarinya masih mengulur layar ponselnya melihat menu yang ingin dia makan.


"Andai bisa makan ditempat, pasti lebih enak", Nabila membayangkan sambil membasahi bibir atasnya dengan lidah.


"Lapar ya?" Tiba-tiba suara Denis mengagetkan Nabila bersamaan dengan tangan pria itu yang menempel di kedua pundak istrinya.


Nabila begitu saja menengok ke arah suaminya sembari tangannya menyembunyikan ponsel ke belakang badannya.


"Pengin makan apa? biar kucarikan!" Kata Denis.


"Hmmm... " Nabila menggelengkan kepalanya.


"Jangan bohong! Mana ponselnya!" Kata Denis sambil mengadahkan tangan.


Dengan ragu Nabila memberikan ponselnya yang tadi ia sembunyikan.


"Kamu ingin beneran pengin ini, yang?" Tanya Denis sambil mengerutkan dahinya, memandang ponsel dan istrinya bergantian. Nabila pun menganggukkan kepalanya yakin.

__ADS_1


"Ini sudah hampir jam 10 sayang, hujan pula. Mana ada orang jualan beginian", kata Denis.


"Yaudah kalau gak mau carikan, aku bisa pesen bang ojek aja", kata Nabila kesal sambil merebut ponselnya.


__ADS_2