Menunggu Cintamu Berkembang

Menunggu Cintamu Berkembang
Maafkan Aku Sayang


__ADS_3

Tingkah laku Denis saat itu, membuat senyum kemenangan tampak menghiasi wajah Sheila. Ia tak menyia-nyiakan kesempatan. Dengan tanpa malu, ia mengalungkan tangannya ke leher Denis, kemudian menjelajah leher pria itu dengan bibirnya sambil membisikkan sesuatu ke dekat daun telinga Denis dengan suara mendesah nan seksi, membuat Denis semakin terpancing.


Denis masih berusaha mengontrol hasratnya yang begitu menggebu dengan perlakuan Sheila saat itu. Ia berusaha untuk menekan hasratnya, agar rencana yang sudah ia susun rapi, tidak hancur di tengah jalan, namun perlakuan Sheila yang semakin menggila, membuat Denis sulit untuk menolaknya. Sepertinya, ini semua diluar ekspektasinya. Benar apa kata istrinya, Sheila lebih gila daripada dugaannya.


"Maafkan aku sayang", batin Denis, ketika menyadari sedikit demi sedikit logikanya tenggelam oleh gejolak yang sulit untuk dia tahan. Badannya semakin panas, ada sesuatu yang harus segera tersalurkan. Ia mulai membalas perlakuan sheila. Mengangkat dagu wanita itu, kemudian memberikan ciuman memabukkan yang saling berbalas.


Namun belum puas bibir mereka beradu, seseorang menarik lengan baju Denis dengan kuat. “Denis”, teriaknya, sehingga membuat Denis dan Sheila menghentikan aksi tak pantasnya di depan publik.


Denis yang tak menyadari tingkah memalukannya itu, sedikit mendapat kesadaran ketika mendengar suara kencang memanggil namanya, persis di dekat telinganya, sehingga ia tak mencegah ketika wanita yang baru datang itu menarik rambut Sheila dengan kencang sehingga membuat Sheila berteriak kesakitan.


“Dasar wanita sundal apa yang telah kau lakukan padanya, aku tau dia tak akan melakukan hal sebodoh itu didepan orang banyak jika kau tidak mecuranginya, dasar wanita sialan", umpat wanita itu sambil kembali menarik rambut Sheila tanpa perduli wanita itu sudah menangis karena tarikan yang terlalu kencang.


Teriakan Sheila membuat dua pengawal yang tadi diminta menjauh oleh tuannya, berlari menuju sumber keributan. Namun, sebelum mereka berhasil mendekati Sheila, wanita yang tengah menganiaya tuannya itu menghentikan langkah mereka.


"Berhenti atau kalian mau melihat boss kalian yang sok cantik ini kugores wajahnya", ucap wanita itu sembari memukulkan pangkal botol minuman ke meja hingga pecah.


Para pengawal Sheila hanya menelan ludah mendengar ancaman wanita yang ada di depannya itu. Mereka menahan diri untuk menyerang balik wanita itu, karena khawatir akan berbahaya untuk tuannya. Apalagi, wanita itu tak sendiri, dibelakangnya ada beberapa lelaki bertubuh besar yang salah satunya sangat disegani oleh pengawal-pengawal seperti mereka.


Denis yang masih gelisah mencoba melakukan sesuatu untuk menghentikan gejolak dalam dirinya yang sungguh sangat menyiksa. Ia mencoba menyiramkan semua cairan yang ada di atas meja ke kepalanya dengan harapan bisa menolongnya, namun yang di dapat justru rasa panas semakin menjadi-jadi sehingga ia membuka semua kancing kemejanya.

__ADS_1


Ia hendak lari menuju kamar mandi, namun dengan cepat wanita itu dan dibantu dengan seorang teman lelakinya, menahannya.


Denis mencoba melawan, tapi dengan pelukan dan sentuhan lembut dari wanita itu, bagai kerbau dicocok hidungnya, ia hanya menurut saja. Termasuk ketika wanita itu mengajaknya keluar dari bar, meninggalkan Sheila dan anak buahnya yang kini hanya berdiri mematung tanpa perlawanan.


"Kau masih saja tak berubah. Masih jadi pria bodoh dan polos, pantas perempuan murahan seperti itu bisa membuatmu babak belur" gerutu wanita yang lebih tua dua tahun dari laki-laki yang kini sedang merangkulnya erat sambil memberikan ciuman-ciuman kecil di wajahnya.


Mereka baru keluar dari pintu bar, ketika beberapa pengawal Denis datang mendekat.


"Hei apa saja yang kalian lakukan, dasar tak berguna. Boss kalian sekarat, tapi kalian masih tenang-tenang saja disini", hardik wanita itu.


Pengawal Denis kaget mendengar ucapan wanita itu, namun mereka diam saja tanpa membantah, padahal jelas-jelas tuan mereka yang menyuruh mereka tetap di luar untuk melancarkan strategi yang telah mereka susun bersama untuk membuat Sheila Jera.


Namun alih-alih Sheila yang bersama bossnya saat ini. Justru kini, putri dari orang nomor satu di dunia kawal- mengawal itu yang keluar dari bar bersama Denis. Sungguh di luar rencana awal yang telah mereka buat.


Menjadi anak seorang boss mafia, membuat wanita itu tumbuh menjadi pemberani di hadapan orang banyak meski secara fisik ia nampak sangat feminim. Sisi manjanya akan sangat menonjol begitu dia ada di dekat Denis. Selain itu sifatnya yang mudah bergaul menjadi daya tarik tersendiri. Itu kenapa Denis pernah menjadikan wanita itu kekasihnya cukup lama, meski usianya lebih tua. Bahkan tak segan-segan Denis memberikan cinta yang begitu besar.


Wanita itu membawa Denis masuk ke mobil, dengan seoarang pengawal menjadi sopirnya. Di dalam sana Denis sudah tak terkontrol, tangannya menelusuri tubuh wanita itu dari dalam bajunya yang menampakkan lekuk tubuh yang ramping. Bibirnya pun kini tak kalah aktif menjamah bibir, leher dan bagian lain dari wanita itu.


"Bukan inginku melakukan ini ketika kau tak sadar, sayang. Namun jika dengan cara ini aku dapat mengikatmu kembali, maka akan kulakukan apapun untukmu dan kan kubiarkan kau melakukan apa saja terhadapku", bisik wanita itu ditelinga Denis sambil menikmati apa saja yang tengah dilakukan pria itu.

__ADS_1


*****


Begitu Arsyad baru saja turun dari mobilnya, ia segera menghampiri pengawal Denis yang hendak pergi dari parkiran bar. "Mana tuan muda?", tanya Arsyad pada salah satu pengawal, sambil matanya mencari-cari tau posisi bossnya itu.


Pengawal itu menceritakan apa saja yang terjadi. Dan ternyata hal itu membuat Arsyad murka. "untuk apa kalian dibayar ha?", teriak Arsyad sambil menendang kuat ban mobil yang ada di depannya, sehingga membuat beberapa pengawal yang sudah masuk ke mobil, kembali keluar.


"Kalian tau tuan muda kalian sudah beristri, kenapa kalian membiarkan dia dalam kondisi seperti itu bersama wanita lain, sialan", ucap Arsyad dengan emosi sambil menunjukkan jari ke arah orang-oramg itu.


"Tapi tadi tuan muda___", belum selesai seorang pengawal bicara, tendangan Arsyad lebih dulu mengenai perutnya hingga ia meringis kesakitan.


"Denis kenapa kau meragukan kesetianku, harusnya dalam situasi seperti ini akulah orang ada disampingmu dan tau semua rencanamu, sesuai pesan tuan besar dan ayahku", gumam Arsyad dalam hati, sambil menarik rambutnya dengan frustasi.


Sebuah mobil yang tak asing bagi mereka semua berhenti tepat di samping tubuh Arsyad. Selang beberapa detik kemudian keluarlah Nabila dengan wajah yang memperlihatkan kecemasan. Ia merapatkan jaketnya untuk menahan hawa dingin yang begitu kuat menerpanya.


"Dimana mas Denis?" Tanya Nabila kepada siapa saja yang ada di sana, namun taka ada sama sekali yang membuka suara bahkan mereka hanya menundukkan kepala saja.


Dari kejauhan Nabila melihat Sheila bersama dua laki-laki yang berbadan tinggi dan besar menuju sebuah mobil yang tengah terparkir. Ia mencoba melihat lebih teliti ke sana, namun wajah suaminya yang dicari tak nampak sama sekali. Dan itu membuat keningnya berkerut.


"Katakan di mana suamiku?" kata Nabila setengah berteriak.

__ADS_1


____________


hallo readers, yuk ramein tulisan author dengan like, comment, dan vote, biar tambah semangat nulisnya💪


__ADS_2