Menunggu Cintamu Berkembang

Menunggu Cintamu Berkembang
Tiap Hari Digendong


__ADS_3

Sejak datang ke kantor pagi tadi, perasaan Denis sangat tidak tenang. Sikapnya tadi pagi terhadap istrinya, ia rasa sudah keterlaluan. Ia yakin istrinya pasti saat ini sedang bersedih karena sikapnya.


Bahkan ia menduga istrinya juga menangis karena menerima perlakuannya yang terlalu kasar. Terlebih akhir-akhir ini, Nabila begitu manja kepadanya, juga sangat sensitif perasaannya.


Ketika jam makan siang tiba, Denis memutuskan untuk pulang ke rumah. Dengan mengendarai mobil dengan kelajuan yang cukup tinggi, ia menyusuri jalan ibu kota.


Tak lupa ia mampir membeli sesuatu yang diinginkan istrinya tiga hari yang lalu, namun ia belum sempat membelikannya karena sibuk dengan pekerjaan dan mengurusi kebutuhan Jenica. Ada sesal dalam hatinya, mengesampingkan keinginan istrinya yang sebenarnya amat mudah untuk ia penuhi.


Perlahan Denis membuka pintu kamarnya, yang memang sudah terbuka sedikit. Melihat tubuh kecil meringkuk di atas tempat tidur, ada sesak dalam hati pria itu. Andai bisa mengulang waktu, ia ingin tak melakukan perbuatan yang tadi pagi ia lakukan.


"Sayang", panggil Denis lembut. Namun sama sekali wanita yang memunggungginya kini, tak merespon sama sekali.


Denis naik ke atas tempat tidur, merebahkan diri sejajar dengan Nabila, kemudian memeluk wanita itu dari belakang. "Sayang, maaf ya. Maafkan suamimu ini", kata Denis sedih sembari menciumi kepala istrinya dengan sayang.


Perlakuan Denis itu, mengusik tidur Nabila. Wanita itu mulai membuka matanya perlahan, mencoba merasai sentuhan-sentuhan lembut bibir suaminya di lehernya.


"Mas", lirih manja suara Nabila membuat Denis menjauhkan kepalanya dari leher istrinya.


"Sudah bangun?" Tanya Denis sambil mengangkat kepalanya mencoba melihat sisi wajah istrinya.


Nabila membalik tubuhnya menghadap suaminya berbaring sambil melirik jam dinding yang ada di ruangan itu.


"Sudah jam 2, kamu makan siang apa, mas? Bekalmu tadi tertinggal", seru Nabila, hendak bangkit, namun Denis menahannya dan memeluknya dengan erat.


Ada pedih di hati pria itu, merasakan istrinya begitu sangat perhatian dengannya, namun ia sendiri sering acuh dan menomorduakannya. Terlebih beberapa hari terakhir ini.


"Aku tidak lapar, aku hanya ingin memelukmu saja", kata Denis yang tak hentinya memberikan kecupan di wajah dan kepala Nabila, membuat Nabila segera memberikan balasan pelukan yang begitu erat.


"Ayo kubuatkan makan siang", kata Nabila sambil memainkan dada suaminya.


"E'emm", Jawab Denis sambil menggelengkan kepalanya.


"Tapi aku lapar", kata Nabila manja, membuat Denis langsung menjauhkan tubuhnya.


"Kenapa nggak bilang dari tadi", kata Denis sambil menarik hidung istrinya yang mancung.


"Kamu yang nggak ngasih kesempatan aku buat ngomong. Pengennya meluk aja", kata Nabila, disambut tawa oleh Denis.


Dengan buru-buru Denis turun dari tempat tidur dan duduk di pinggiran ranjang membelakangi istrinya. "Ayo!" Seru Denis sambil menepuk punggungnya.


Nabila mengernyitkan dahinya. "Mau kemana?" Tanya Nabila.


Denis menepuk jidatnya, kemudian menolehkan kepalanya ke arah Nabila. "Katanya Lapar! Ayo kita ke dapur!"

__ADS_1


"Aku bukan anak kecil, mas. Aku bisa jalan sendiri ke dapur", kata Nabila sembari membenarkan ikatan rambutnya.


"Berisik, ayo buruan!" Perintah Denis, membuat Nabila terpaksa naik ke punggung suaminya.


"Bagaimana kalau tiap hari digendong begini, mau?" tanya Denis sambil menuruni anak tangga.


Nabila diam sejenak. "He'em", katanya kemudian pelan. Wajahnya nampak memerah karena malu.


"Ingatkan aku jika aku lupa", Kata Denis, yang membuat Nabila menyandarkan kepalanya di kepala Denis.


"Duduk disini dulu!" Perintah Denis sambil mendudukkan Nabila di salah satu kursi di ruang makan, yang baru saja ia tarik. Kemudian pria itu berjalan menuju ruang tengah.


"Sayang, tadi aku mampir ke depot nasi padang. Ini kubawakan nasi padang, pake lauk dendeng batokok, kesukaanmu. "Kata Denis, sambil berjalan ke arah Nabila duduk, setelah mengambil piring dari rak piring.


Denis kemudian duduk di sebelah Nabila dan menghadap ke arah istrinya itu. Dengan cekatan, ia membuka bungkusan yang baru saja ia letakkan di atas piring. "Nih gulai singkongnya juga aku beli tambahan satu porsi", kata Denis sambil mengangkat gulai singkong yang terbungkus plastik agar istrinya melihatnya.


Nabila mengulurkan tangannya dan meletakkan telapak tangannya diatas tangan suaminya. "Makasih, ya", ucapnya dengan seulas senyuman manis.


Denis membalas senyum Nabila dan mengusap lembut punggung tangan istrinya itu. "Ayo makan dulu", Denis menyodorkan sesendok nasi dan lauknya di depan mulut Nabila.


"Aku bisa makan sendiri, mas", kata Nabila.


"Buka mulutmu!" Perintah Denis.


"Enak?" Tanya Denis, sambil memandangi cara istrinya makan.


Nabila menganggukkan kepalanya sambil mengunyah makanan yang masih ada di mulutnya.


"Kenapa kamu nggak ikut makan?" Tanya Nabila yang kini matanya tak lepas memperhatikan gerak gerik suaminya.


Denis tersenyum lagi. "Aku ingin makan bekal yang kamu buatkan tadi pagi. Pasti rasanya lebih enak daripada ini", kata Denis sembari tangannya menunjuk ke arah makanan yang ada di depannya.


"Inikan sudah hampir sore, pasti rasanya sudah tidak enak", kata Nabila, setelah ia menelan makanan yang tadi masih ada di mulutnya.


"Siapa bilang, aku lebih sering makan masakan istriku menjelang sore jika aku tak sempat makan siang. Dan makanannya masih sangat enak", kata Denis sambil menatap dalam istrinya, membuat istri yang ditatap tak berani membalas.


"Ini", Denis menyodorkan segelas air kepada istrinya yang baru saja menyelesaikan makannya.


" Mas, aku bisa mengambilnya sendiri. Kamu nggak perlu repot-repot", kata Nabila sembari


menerima gelas berisi air itu, namun tak langsung meneguknya. Dia tatap suaminya yang kemudian sibuk sendiri, entah apa yang dilakukan pria itu, Nabila tak tau.


"Segera makan makananmu, mas. Nanti benar-benar jadi nggak enak lho, sayang", kata Nabila sambil meraih kotak bekal yang biasanya dibawa suaminya ke kantor, kemudian membukanya.

__ADS_1


"Iya, sayang", kata Denis sambil berjalan ke arah meja makan membawa sesuatu diatas piring.


"Makanlah ini! Maaf, baru bisa membelikannya sekarang", kata Denis sambil meletakkan piring yang berisi buah kedondong yang sudah ia kupas dan ia iris.


Melihat apa yang dibawa suaminya, membuat mata Nabila berkaca-kaca. Tanpa aba-aba, wanita itu memeluk suaminya yang kini tengah duduk hendak makan bekalnya yang tertinggal. Dengan sayang, Denis membalas pelukan itu.


"Makasih, sayang", ucapnya pelan. Meski sebenarnya keinginan makan buah kedondong sudah hilang, karena ia menginginkannya sudah beberapa hari yang lalu, namun ia berusaha menghargai apa yang dilakukan suaminya.


"Sini biar gantian aku yang menyuapimu!" Kata Nabila sambil menarik kotak bekal ke arahnya.


"Baiklah", kata Denis sambil mengambil satu irisan kedondong dan memasukkannya ke mulut istrinya. Pria itu hanya menelan salivanya, melihat istrinya mengunyah kedondong yang dari aromanya saja nampak sangat asam dengan tenang.


"Sayang, jangan banyak-banyak, nanti perutmu sakit", kata Denis sambil menarik piring berisi kedondong menjauh dari istrinya.


"Tenang saja, sayang. Ini nggak bikin sakit perut", bantah Nabila sambil menarik kembali piring berisi kedondong mendekat padanya.


"Mas, aku mau ngomong sesuatu", kata Nabila ragu-ragu sambil meletakkan sendok yang baru saja ia gunakan untuk menyuapi suaminya.


Denis tersenyum, kemudian menyangga dagunya dengan kedua telapak tangannya, menatap istrinya dalam. "Mau ngomong apa, sayang?"


"Gimana misal kalau aku__"


Belum sempat Nabila menyelesaikan kata-katanya, bunyi ponsel dari saku Denis memecah dialog mereka. Dengan santai Denis mengeluarkan ponsel itu, namun wajahnya berubah tatkala matanya menatap layar ponsel itu.


"Siapa, sayang", tanya Nabila penasaran.


"Nggak siapa-siapa", kata Denis sambil menolak panggilan di ponselnya dan meletakkannya menjauh.


"Ayo suapin aku lagi", pinta Denis.


Nabila menurut, menyuapkan kembali makanan yang hanya tinggal beberapa sendok itu.


"Angkat dulu teleponnya, sayang. Siapa tau penting", ucap Nabila, tatkala melihat ponsel Denis bergetar kembali. Namun, alih-alih mengangkatnya, Denis malah bangkit dari duduknya, sambil membawa piring dan wadah lainnya yang sudah kotor di atas meja menuju tempat cuci piring.


"Sayang, Terima dulu!" Ucap Nabila sambil menyodorkan ponsel ke depan suaminya yang sedang mencuci piring.


"Nggak usah, biarkan saja! Aku hanya ingin bersama istriku di rumah", kata Denis, tanpa mau menoleh sedikitpun ke arah istrinya.


"Sayang, terimalah dulu! Siapa tau benar-benar Jen butuh kita. Aku nggak akan marah. hmmm... ", lagi-lagi Nabila menyodorkan ponsel itu ke hadapan suaminya.


#####


**Karena libur panjang kemarin, saya keluar kota bersama keluarga, maaf tidak bisa up beberapa hari🙏

__ADS_1


~happy reading**~


__ADS_2