Menunggu Cintamu Berkembang

Menunggu Cintamu Berkembang
Jahat


__ADS_3

"Kamu kemana aja, kak? Kenapa tidak pernah mengunjungi kami? Mami sering menanyakanmu", ucap Nabila disela tangisnya. Tubuhnya masih memeluk erat wanita yang sudah lama tak pernah ia jumpai itu.


"Aku juga merindukan kalian. Sangat rindu", ucap Nadira yang saat itu juga ikut menangis. "Mami, bagaimana? Mami sehat-sehat kan?" Tangisan Nadira semakin kencang.


Puas berpelukan, mereka memutuskan untuk masuk ke dalam rumah. Tapi, belumlah kaki kakak beradik itu melewati pintu rumah, tetiba ada suara yang begitu tidak asing bagi mereka berdua, mengalihkan perhatian mereka.


"Sayang, kok lama?", kata Denis yang baru saja muncul dari balik pintu yang terbuka sebagian. Wajahnya sempat menunjukkan keterkejutan, namun ia coba untuk bersikap biasa ketika mendapati siapa seseorang yang kini sedang bersama istrinya.


"Denis!" Seru Nadira hendak mendekat dan memeluk pria itu, sebagaimana yang selalu ia lakukan jika bertemu dengan suami adiknya itu, dulu. Namun, dengan cepat Denis menghindar dan bergegas melingkarkan sebelah tangannya ke pinggang istrinya.


Nadira memandang Nabila dan Denis secara bergantian. Jarinya mengetuk dagunya beberapa kali, menandakan ia sedang berfikir. "Kalian?" Tiba-tiba wajah Nadira begitu senang seolah ia menemukan jawaban atas apa yang sedang dipikirkannya.


"Dia istriku, Dira" Kata Denis dengan senyum yang begitu manis, lalu dengan kilat ia mencium pipi istrinya.


"Apaan sih mas, malulah", seru Nabila sambil mencubit kecil pinggang suaminya, yang dibalas dengan tawa lebar.


"Kalian sudah saling kenalkah?" Tanya Denis


"Bukan kenal lagi, Nabila galak ini__", belum selesai Nadira bicara, Nabila mengeringkan mata ke arah Nadira. Telapak tangannya pun diangkat, seolah meminta Nadira untuk tidak melanjutkan ucapannya.


"Dulu kami sempat kenal baik, mas", ucap Nabila cepat. "Iya kan, Kak Dira?" lanjutnya sambil meringis.


"Yo'i", kata Nadira sambil mengangkat tangannya, menyatukan ibu jari dan jari telunjuknya membentuk huruf O.


"Ayo masuk lagi, udah ditungguin mama papa, yang", ajak Denis.


"Cie...sayanggg", goda Nadira, membuat wajah Nabila merona.


"Tetep nggak berubah! Jail!" Ucap Nabila


Merekapun kembali masuk ke rumah. Nadira mendahului Nabila dan Denis berjalan.


"Tante", suara Nadira yang melengking membuat semua manusia yang ada di ruang makan itu melihat ke arahnya yang kini sedang berjalan mendekati pemilik rumah.


"Apa kabar, tan, om?" Tanya Nadira bergantian pada mama dan papa Denis. Wanita itu menyempatkan diri untuk bersalaman dan sekedar mencium pipi kedua mertua adiknya itu.


"Kamu, makin cantik aja sayang", kata mama Denis.


"Ahh tante bisa saja", ucap Nadira malu-malu.


Mendengar pujian mama Denis terhadap kakak tirinya, membuat Vanya geram. Sedari dulu ia selalu merasa tertinggal dari kakaknya beberapa langkah dalam segala hal. Itu membuatnya tidak menyukai kakaknya, meski di depan orang lain dan orangtuanya sendiri ia selalu berusaha menutupi hal itu.

__ADS_1


"Duduklah di sebelah Nabila. Kamu pasti belum makan siang, bukan?" Kata mama Denis kepada Nadira. Nadira pun, menuruti apa yang diperintahkan mama mertua adiknya.


Melihat Nabila dan Nadira duduk bersebelahan, membuat Dahlan tanpa sadar menyunggingkan senyum tipis. Rasanya sudah lama sekali ia tak melihat pemandangan itu. Namun, karena egonya lebih dominan menguasainya, ia segera memalingkan pandangannya.


Setelah semua selesai makan, terjadi obrolan ringan diantara orang-orang yang masih duduk di atas kursi di ruang makan itu, tak terkecuali dengan Nadira dan Nabila. Vivi yang melihat keakraban kedua orang itu, menatap tidak suka.


"Dira, kamu kok bisa kenal sama istrinya Denis?" Tanya Vivi dengan tatapan curiga.


"Nabila dulu pernah satu sekolah dengan kak Dira", jawab Nabila cepat.


"Dira, tante Vivi bertanya padamu, bukan pada dia", suara Vivi meninggi. Selama tinggal bersama Vivi, Nadira sama sekali tidak pernah mau memanggil Vivi mama, ibu dan sejenisnya.


"Vi, jangan pernah bentak Nadira!" Kata Dahlan kesal. Hal itu membuat Vivi memilih untuk menyudahi kata-katanya.


"Nih es buahnnya diminum dulu, yuk. Seger siang-siang begini!" Seru mama Denis yang baru saja keluar dari dapur sambil membawa semangkuk besar es buah.


Tanpa diperintah, Nabila dengan gesit membantu mertuanya untuk membawa mangkuk yang ada di tangan wanita paruh baya itu.


Nabila dengan cekatan menuang minuman yang baru saja ia letakkan di atas meja, ke dalam mangkuk-mangkuk kecil dan memberikannya masing-masing kesemua orang yang ada di tempat itu.


"Maaf!" seru Nabila, tatkala minuman yang ia bawa tak sengaja tumpah dan membahasahi pakaian Dahlan.


"Kamu, nggak apa-apa, sayang?" Kata Denis sambil mendudukkan kembali istrinya ke kursi.


Nabila hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum kecil sambil membelai lembut pipi suaminya.


"Saya ambilkan pakaian ganti, milik papa ya omm?" Kata Denis pada Dahlan yang saat itu masih dibersihkan pakaiannya oleh Vivi yang masih saja menggerutu.


"Nggak usah nis, hanya basah sedikit saja. Sebentar lagi juga kering", jawab Dahlan.


"Va, tolong fotoin gue dong sama Nabila!" Perintah Nadira pada Vanya sambil menyodorkan sebuah ponsel.


Vanya menghentikan aktivitas menyuapkan es ke dalam mulutnya, lalu mengambil ponsel yang diberikan oleh Nadira dengan berat hati. Mengambil beberapa foto kemudian menyerahkan kembali ponsel yang ia bawa kepada pemiliknya.


"Kamu agak mirip loh Dir, sama mantu tante kalau dilihat-lihat" Ucap mama Denis yang sebelumnya sempat melihat Nadira senyum-senyum sendiri melihat fotonya dengan saudara kandungnya itu.


Nadira terperangah dengan ucapan mama Denis. Ia memandang Nabila sekilas, sebelum pandangannya beralih ke mama Denis. "Tante bisa aja", kata Nadira dengan diiringi senyum lebar.


Semua orang satu persatu beranjak dari tempat duduknya, untuk beraktivitas lainnya, tak terkecuali Denis yang lebih dulu berpamitan untuk kembali menyelesaikan pekerjaannya disaat istrinya tengah sibuk membereskan meja makan.


"Pi, aku mau ngobrol-ngobrol sama Nabila dulu bolehkan? Papi nggak buru-buru mau pulang kan?", pinta Nadira pada papinya yang akan melangkah ke ruang tengah.

__ADS_1


"Hemm", Jawab Dahlan singkat.


Setelah selesai dengan kerepotannya, Nabila mengajak Nadira yang sedari tadi menunggunya, naik ke lantai atas dan masuk ke dalam kamar suaminya yang kini juga menjadi kamarnya.


Tak terasa sudah lebih setengah jam mereka berdua berbincang-bincang, hingga suara ketukan pintu dan suara panggilan dari orang yang mereka kenal, menghentikan obrolan mereka.


"Nggak usah, Bil", ucap Nadira kepada Nabila yang sudah bangkit dari duduknya dan akan beranjak membuka pintu. Nadira menarik pelan tangan Nabila untuk duduk kembali ditempatnya.


Setelah saudaranya duduk ditempatnya kembali, Nadira dengan langkah panjang berjalan menuju pintu dan membukanya. "Papi, dah mau balik? Aku disini dulu ya, pi. Masih kangen sama Bila" Kata Nadira memelas.


Dahlan tampak berpikir sejenak, sebelum akhirnya mengabulkan permintaan anak sulungnya itu.


"Pi, papi masuk dulu. Ada yang mau ketemu!" Kata Nadira sambil menarik tangan Dahlan masuk ke dalam kamar. Awalnya Dahlan tak mau, namun tiba-tiba pikirannya berubah dan menuruti keinginan anaknya itu.


Nadira mendudukkan papinya diatas kursi rias yang baru saja dia geser mendekati Nabila, sebelum ia kembali duduk diatas ranjang, disebalah Nabila.


"Ayo dong papi ngomong!" Pinta Nadira ketika mendapati papinya hanya diam begitu juga Nabila yang diam menunduk.


"Beberapa bulan ini papi sering bahas-bahas tentang kamu, dek", kata Nadira, memuat adiknya akhirnya mengangkat kepala dan melirik sekilas ke arah papinya.


"Papi pulang dulu, sayang" Tiba-tiba Dahlan beranjak dari duduknya dan mendekati Nadira. "Kamu di sini dulu, temani adikmu", lanjutnya sambil mencium lembut kening putrinya itu dan dibalas sebuah pelukan oleh Nadira.


"Makasih ya, pi. Papi hati-hati ya!" Ucap Nadira.


Dahlan mengurungkan niatnya untuk segera keluar dari ruangan itu setelah berpamitan dengan putri kesayangannya, tatkala matanya sempat menangkap sosok Nabila yang mencoba mengalihkan perhatiannya ke sembarang tempat.


Cupppp....Kecupan hangat yang sangat lama tak pernah didapatkan lagi oleh Nabila itu, kini mendarat beberapa detik di keningnya. "Maafkan papi, ya Nak", bisik pria paruh baya itu sebelum mendaratkan lagi sebuah kecupan sayang dikening putrinya yang telah lama ia tinggalkan itu.


Dahlan berjalan dengan gontai menuju pintu, saat tak mendapatkan respon yang baik dari usahanya. Namun tatkala dia hendak memutar handle pintu, wajahnya nampak berseri tatkala ada suara yang tak jauh dari tempat dirinya berdiri, terdengar suara memanggilnya.


Persekian detik kemudian sosok yang memanggilnya itu menabrakkan tubuhnya ke pria yang dipanggilnya Papi itu. "Kenapa papi sejahat itu kepada kita? Aku benci sama papi" Kata Nabila diselingi suara tangis yang pecah begitu saja.


Dahlan yang sedari tadi mencoba menahan airmatanya pun, kini tak mampu membendungnya. Ia membalas pelukan putrinya itu, sembari membelai kepalanya dengan sayang dan beberapa kali mengucapkan maaf.


_________


**Readers mohon maaf baru bisa update lagi. Author sakit dan tidak memungkinkan buat nulis.


Author upayakan bisa update lebih dari 1 bab hari ini atau besok.


Cerita ini tidak lama lagi selesai. Jadi, tetap setia ya ngikutin sampai selesai😉**

__ADS_1


__ADS_2