Menunggu Cintamu Berkembang

Menunggu Cintamu Berkembang
Menemukanmu


__ADS_3

Pria itu hanya tertawa mendengar teriakan Nabila. Dia menciumi lengan dan pundak Nabila. Nabila sangat ketakutan dan terus menangis.


"Joko ! Doni!", terdengar teriakan seorang laki-laki dari dalam rumah itu, membuat dua laki-laki yang berniat menyalurkan hasratnya kepada Nabila, harus menundanya. Mereka segera berlari keluar kamar itu dengan tergesa-gesa menuju sumber suara.


Nabila yang mendengar suara panggilan itu sempet tersentak, karena seperti sangat mengenal dekat suara itu. Namun, karena ketakutan yang melanda dirinya, dia mengacuhkan masalah itu. Yang dia pikirkan saat ini adalah bagaimana harus keluar menyelamatkan diri ketika mengetahui pintu kamar itu tidak ditutup.


Nabila segera mengenakan blazer dan kerudungnya kembali. Kemudian berjalan mengendap menuju pintu belakang. Saat Nabila minta izin ke kamar mandi tadi, dia sempat melihat bahwa di dekat dapur ada pintu belakang yang hanya ditutup dengan grendel pintu.


Baru sampai di depan kamar mandi, ia mendengar langkah beberapa orang yang berjalan, sepertinya mereka akan ke ruangan tempat dimana dirinya disekap. Diapun bersembunyi dalam kamar mandi dengan perasaan takut, ia kuatir akan ketahuan.


Tapi ketika tiga orang itu hampir sampai ke pintu ruangan penyekapan, tiba -tiba ponsel tuan besar yang diketahui namanya adalah Dahlan, berbunyi. Ketika mengetahui yang menghubunginya adalah orang penting, Dahlan langsung mengangkat telpon itu.


Karena signal yang di dapat buruk, telponpun terdengar putus-putus. Dahlan memutuskan berjalan ke depan diikuti Joko dan Doni untuk mendapatkan signal yang bagus untuk ponselnya. Dia mengurungkan niatnya untuk melihat wanita yang disekap oleh anaknya.


Nabila yang melihat ada kesempatan untuk pergi, segera menuju dapur dan membuka grendel pintu. Ketika pintu sudah terbuka, Nabila keluar dan menutup kembali pintu dengan mengganjal benda-benda yang ada di dekatnya.


Suasana diluar rumah itu gelap gulita, tak ada cahaya lampu. Yang ada hanya cahaya bulan yang sedikit dapat membantu penglihatan. Sepanjang matanya melihat yang nampak hanya perkebunan sayur. Namun itu tak membuat Nabila menyerah, dia terus berlari kemana saja mengikuti langkah kakinya. Dipikirannya saat ini yang terpenting adalah jauh dari rumah itu.


Nabila berlari terus, meski tubuhnya sudah sangat lelah. Hingga pada jarak kurang dari 10 meter di depannya, ia melihat lampu mobil dan beberapa orang wara-wiri mengangkut keranjang yang berisi sayuran dan menaikkannya ke atas mobil. Ia pun memberanikan diri mendekat mendekat.


"Pak, buk bisakah saya ikut? Saya ingin pergi dari sini. Tolong saya, ada orang ingin menjahati saya", ucap Nabila kepada orang-orang yang ada di bak mobil bersama sayur-sayuran.


Orang-orang yang ada di mobil itu menerima permintaan Nabila. Mereka membantu Nabila untuk naik ke mobil, kemudian meberinya tempat untuk duduk.


"Nona mau kemana?", kata seorang wanita.


Nabila menggeleng. " Saya nggak tau buk, yang penting saya harus pergi segera dari sini, saya takut", ucapnya lirih. Air matanya tak mampu dibendung, ketakutan jelas masih sangat nampak diwajahnya.


"Anda mau minum?", seorang pria paruh baya menyodorkan sebuah botol minum besar kepada Nabila. Nabila mengangguk dan mengambilnya tak lupa ia mengucapkan terimakasih. Dia meminum air itu banyak sekali, karena memang seharian dia belum minum sama sekali.


" Pak Yok, ayo segera berangkat", teriak pria paruh baya tadi kepada sopir. Dia bisa menangkap ekspresi ketakutan Nabila yang berharap segera menjauh dari tempat itu. Mobilpun akhirnya bergerak menuju kota.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan Nabila hanya terdiam melamun sambil menahan hawa dingin yang menyentuh kulit. Badannya sangat lelah,kantuk pun mulai menyerang, tapi dia mencoba bertahan agar tidak tertidur.


Mobilpun sampai di sebuah pasar menjelang subuh, semua orang turun dari mobil termasuk Nabila. Seorang wanita memapah Nabila berjalan, karena wajah Nabila nampak pucat dan badannya lemas. Wanita itu mendudukkan Nabila disebuah teras mushola dekat parkiran.


Seorang pria berlari-lari mendekati Nabila sambil membawa bungkusan berisi makanan. Dia menyodorkan bungkusan itu dan Nabila menerimanya. Ia segera memakan isi bungkusan itu sampai habis.


"Mas, bisa saya minta tolong menghubungi suami saya", kata Nabila sambil mengambil sebuah kartu nama dari dalam dompetnya dan diserahkan kepada pria itu.


Pria itu mengeluarkan ponsel kemudian mengetik pesan ke nomor yang tercantum di kartu nama.


Flash back on


Sejak mengetahui Nabila menghilang, Denis memerintahkan orang-orangnya untuk mencari informasi mengenai istrinya.


Dia bersama Fendi, mengunjungi beberapa tempat yang biasanya di kunjungi Nabila. Namun tak sedikitpun informasi di dapatkan.


Baru malam hari ia memperoleh informasi dari CCTV apartemen bahwa dia orang pria yang memaksanya masuk kedalam mobil. Denis berusaha menghubungi berbagai pihak untuk membantunya, tapi info yang didapat belum banyak mengalami kemajuan.


Fendi dan Arsyad memutuskan untuk tinggal di apartemen Denis, untuk memudahkan pergerakan mereka jikalau ada kondisi mendesak.


Denis langsung menghubungi si pengirim pesan. Setelah mendapatkan informasi lokasi dimana istrinya berada, Ia bersama Fendi dan Arsyad langsung meluncur ke sana.


Flashback off


Tak lama setelah pesan terkirim, nomor yang sama persis dengan penerima pesan menelepon ke lelaki yang menemani Nabila. Ia segera mengangkat telepon itu.


"Hallo pak, saya firman ini istri bapak ada di sini, apa bapak mau bicara?", ucap firman sopan.


" Iya mas, saya mau bicara sama istri saya", jawab Denis di ujung telepon.


Firman memberikan ponselnya pada Nabila.

__ADS_1


"Cepet kesini, aku takut", seru Nabila dengan suara yang bergetar. Tangisnya kemudian pecah ketika mendengar suara Denis. " Iya, aku segera kesana, kamu tenang ya, semua akan baik-baik saja", ucap Denis berusaha menenangkan istrinya meskipun dia sendiri merasa belum bisa tenang.


"Hiksss.... Hiksss.... Aku takutt, tolong aku hiksss... "


"Kamu sabar, aku udah otw kesana. Kamu nggak perlu takut lagi, mas Firman akan menunggumu sampai aku datang kesana, ok? Tunggu ya!" Denis pun menutup telponnya dan bersiap menjemput istri yang telah menunggunya.


Arsyad mengambil alih kemudi, sementara Denis disebelahnya dan Fendi ada dibelakang. Sepanjang perjalanan Denis merasa gelisah, beberapa kali ia mengubah posisi duduknya. Pikirannya hanya dipenuhi dengan bayangan Istrinya.


Setelah sekitar 2jam perjalanan, mereka sampai dilokasi yang telah diberitahukan oleh firman. Tanpa menunggu yang lain, setelah mobil berhenti di parkiran ia bergegas menyusul Nabila.


Langkah Denis semakin cepat, ketika pada jarak yang tidak begitu jauh ia melihat seorang wanita duduk memeluk dua kakinya dengan tatapan kosong. "Nabila", panggilnya ketika dia tepat berdiri di hadapan wanita itu.


Nabila yang mengenali suara itu, mendongak ke arah orang yang memanggilnya. Refleks dia berdiri dan memeluk erat suaminya itu. Tangisnya pecah seketika ketika Denis membalas pelukannya.


" Hiksss.... Hiksss... Aku takut hiksss...", Nabila terus menangis di pelukan Denis hingga membuat kemeja Denis basah. Lama Denis membiarkan istrinya menangis, sesekali dia menenangkan istrinya dengan mengusap kepala dan punggung Nabila.


Ketika tangis Nabila sudah mulai reda, dia memegang pundak Nabila dan menjauhkan dari pelukannya, kemudian mengusap air mata istrinya dengan jari dan mengecup lembut kening Istrinya itu, lalu berucap, "Tenanglah, aku sudah disini, kamu jangan takut lagi, aku akan menjagamu". Nabila mengangguk mendengar ucapan Denis, kemudian memeluk kembali suaminya itu.


Setelah Nabila tenang, Denis berpamitan kepada orang-orang yang telah menolong mereka. Tak lupa ia memberikan hadiah kepada mereka, sebagai ucapan terimakasih.


Didalam mobil, Nabila hanya duduk dan memeluk Denis. Ia merasa begitu nyaman dengan pelukan yang diberikan oleh suaminya, hingga tak begitu lama ia pun akhirnya terlelap. Sesekali Denis menatap istrinya yang tengah tertidur, mengecup kening dan matanya. Hingga rasa kantuk yang menderanya sangat kuat akhirnya membuatnya ikut tertidur pula.


Mobil sampai di depan apartemen. Denis sudah bangun lebih dulu, sedangkan Nabila masih tidur pulas. Ia tak tega mau membangunkan Nabila, akhirnya ia memilih untuk menggendong istrinya masuk ke apartemen. Sedangkan Arsyad langsung pergi mengantar Fendi pulang sesuai perintah bossnya.


Denis meletakkan tubuh Nabila ke tempat tidur. Dikecup nya kening istrinya kemudian ditutupinya sebagian tubuh istrinya dengan selimut. Denis hendak melangkah pergi, namun tiba-tiba Nabila meraih tangannya, " Jangan pergi!", ucapnya lirih.


Denis duduk kembali ke tempat tidur. Diranglumnya wajah istrinya dengan kedua tangannya. "Ada aku disini, kamu aman, jangan takut lagi ya". Bukannya menjadi tenang, justru tangis Nabila semakin menjadi.


"Hiksss.... Hiksss.... Mereka mau memperkosa ku Denis Hiksss.... Aku takuttt.... Hiksss... Mereka menyentuh ini (menunjuk rambut)... Ini (menyentuh leher)... Ini (memukul tangan dan lengannya)... Aku jijik Denis.... Hiksss.... Hiksss... Aaaa... Hiksss", Nabila berteriak dan menjerit Nampak frustasi.


Denis yang melihat Nabila berusaha menenangkan, ia menarik Nabila ke pelukannya, namun Nabila memberontak, Ia turun dari tempat tidur dan berlari masuk kemar mandi. Nabila melepas blazernya, kemudian membasahi tubuhnya di bawah guyuran air shower. Ia terus menangis dan berteriak histeris.

__ADS_1


Denis menyusul masuk ke kamar mandi. Hatinya sesak melihat kondisi istrinya saat ini apalagi melihat baju istrinya yang nampak terkoyak dan bekas beberapa cakaran di lengannya, darahnya serasa mendidih. Dipeluknya Nabila erat dibawah guyuran air, iyapun ikut menangis merasakan pedihnya hati sangat istri, namun tetep berusaha menenangkan Nabila.


Lama mereka berpelukan dibawah guyuran air. Ketika Nabila dirasa sudah tenang, Denis melepaskan pelukannya. Dia melangkah mengambil handuk yang ada di dekatkannya dan memakaikannya ke Nabila. " Keringkan badanmu dan segeralah ganti baju biar nggak masuk angin, aku ke kamar dulu ganti baju, nanti kesini lagi", ucapnya lembut lalu mengecup kening istrinya dan berjalan keluar.


__ADS_2