
"Sudah selesai sayang", kata Denis disaat matanya menangkap sosok Nabila yang baru saja muncul di ruang tamu dan berjalan menghampirinya.
Nabila baru akan duduk, namun Denis yang lebih dulu berdiri langsung menarik tangan istrinya agar mengikutinya. "Kita berangkat sekarang agar tidak kesorean, karena nanti aku akan mengajak istriku ke butik", kata Denis kepada Arsyad sambil berjalan menuju pintu keluar, membuat asistennya yang baru saja meneguk kopi harus segera ikut beranjak dari kursinya.
Entah mengapa selama di mobil Denis sepertinya sengaja memperlihatkan kemesraannya bersama sangat istri kepada Arsyad. Hingga membuat Nabila sedikit risih dan malu sendiri.
"Mas, jagan begini malu dilihatin orang lain!" Kata Nabila lirih, ketika kepala Denis kini sudah ada di pangkuannya sembari tangannya menahan leher istrinya agar wajah wanita itu tetap dekat dengan wajahnya sehingga memudahkannya untuk mengecup bagian mana saja yang diinginkan dari wajah istrinya itu.
"Nggak usah dipedulikan yang, biar semua tau kamu sudah ada yang punya, jadi tau diri untuk tidak dekati kamu lagi", kata Denis dengan suara lantang. Ia sengaja mengeraskan suaranya sebagai bentuk sindiran kepada sopir yang ada di depannya karena peristiwa beberapa hari lalu.
Tak lebih dari tiga jam, mobil yang mereka tumpangi sudah berhenti di depan sebuah butik terkenal. Ini bukan yang pertama bagi Nabila datang ke butik ini.
Karena pengalaman pertama datang ke butik ini kurang menyenangkan, itu membuat Nabila enggan turun dari mobil ketika Denis memintanya segera turun.
"Bisakah kita datang ke pesta nanti malam, cukup menggunakan baju terbaik yang ada di lemari bajuku?" Tanya Nabila yang masih tak beranjak dari duduknya. Hal itu membuat Denis yang sudah membuka pintu mobil dan menurunkan salah satu kakinya, kembali masuk mobil dan menutup pintu.
"Tidak boleh!" tegas Denis. Ia menatap Nabila tajam, hinga membuat istrinya itu menunduk dan menggigit bibir bawahnya.
"Ayo turun sekarang!" Perintah Denis, sembari menarik salah satu tangan Nabila. Namun, Nabila berusaha bertahan di posisinya.
"Bukankah kamu nggak suka mas, kalau aku berpenampilan cantik di depan banyak orang? Nanti mata laki-laki disana pada lihatin aku loh!", seru Nabila sembari salah satu tangannya berusaha melepaskan tangan lainnya yang di tarik oleh Denis.
"Siapa yang berani? Aku congkel matanya, jika ada yang berani lirik-lirik istriku", Tegas Denis, membuat Nabila yang mendengarkan jadi melotot dan bergidik ngeri.
"Sudah, nurut denganku saja ya!" Suara Denis sudah mulai melembut.
"Tapi mas__".
Belum selesai Nabila bicara, Denis memotongnya. Sambil menyentuh lembut pipi istrinya itu, dia berucap dengan serius, " Aku tau bagaimana sifat keluarga sahabatku itu. Yang mereka undang pasti adalah orang-orang kelas atas dan kamu pasti tau bagaimana mereka berpenampilan. Aku tidak ingin nanti disana mereka justru menertawaimu karena penampilanmu. Bukan untukku, tapi untukmu sendiri".
Denis lalu mengambil telapak tangan Nabila dan mengecupnya dengan penuh sayang, kemudian beranjak keluar dari mobil itu, di ikuti istrinya yang tetiba telah berubah pikiran.
Hampir satu jam mereka berada di dalam butik itu, hingga akhirnya mereka di bawa pulang kembali ke apartemen oleh Arsyad dengan mobilnya.
__ADS_1
Jam demi jam berlalu hingga kini matahari telah digantikan oleh bulan untuk menemani penghuni semesta menjalankan aktivitasnya.
"Kamu sudah siap sayang?" Tanya Denis yang kini sudah melingkarkan tangannya di pinggang Nabila yang tengah berdiri di depan kaca sembari menyempurnakan riasan wajahnya.
Nabila mengalihkan pandangannya ke arah Denis, kemudian tersenyum tipis sambil menganggukan kepala.
"Kalau begitu ayo kita berangkat!" Ajak Denis yang kemudian menyelipkan tangan Nabila ke lengannya.
"Bentar. Aku ambil tas dulu", kata Nabila yang kemudian menarik tanggannya dan berjalan mengambil tas yang ia letakkan di atas tempat tidur.
*******
Mobil yang dikendarai Denis sudah memasuki sebuah kawasan perumahan elite. Dari kejauhan papan-papan karangan bunga tampak menghiasi depan sebuah rumah yang lampunya tampak terang di banding rumah-rumah lainnya di sekitarnya.
Setelah memarkirkan mobilnya di sebuah lapangan di perumahan sesuai arahan juru parkir, Denis mematikan mesin mobil. Ia lalu turun dari mobil dan membukakan pintu untuk istrinya.
"Terima kasih mas", ucap Nabila yang tubuhnya telah sempurna keluar dari mobil dengan mengulas senyum dan dibalas senyum pula oleh Denis.
Mereka bergandengan mesra layaknya suami istri lainnya. Sesekali Denis mencuri pandang wajah Nabila yang kali ini memang terlihat lebih cantik dan anggun.
"Mungkin hanya namanya saja yang sama", batin wanita itu sembari berusaha menetralisir perasaannya yang tiba-tiba menjadi tak tenang.
Mereka telah memasuki sebuah halaman rumah yang nampak sangat luas dan telah disulap menjadi tempat pesta yang begitu mewah untuk sebuah pesta outdoor. Dan ditambah penampilan para undangan, tanpa tau nama siapa orang yang mengadakan pesta, semua pasti setuju jika ada yang berpendapat bahwa yang mengadakan pesta adalah bukan orang biasa.
"Hai Den, apa kabar?" Tiba-tiba seorang wanita menyapa Denis dan langsung mengambil ciuman di kedua pipi pria itu.
Nabila seketika membuang muka dan melepaskan tangan Denis yang tadi menggandengnya. Membuat Denis menggaruk-garuk tengkuknya yang tiba-tiba gatal.
"Hei, Dil!" balas Denis dengan ragu. Pandangannya segera ia alihkan kepada istrinya yang masih saja sibuk melihat ke arah lain.
"Kenalkan Dil, ini istriku!"
Ucapan Denis ternyata mampu membuat Nabila kini melihat ke arahnya, meski raut mukanya jauh dari kata ramah. Nabila mengulurkan tangannya dan disambut oleh Dila yang ikut memasang wajah tak suka.
__ADS_1
"Sayang, ini Dila temen aku waktu jaman SMA", kata Denis, tanpa berani melihat wanita di depannya yang kini mengenakan dress panjang dengan belahan sepaha dengan bagian atas yang memperlihatkan belahan dadanya.
"Mantan pacar juga, iya kan Den", sahut Dila sembari tersenyum manis ke arah Denis. Ucapan dan tingkah Dila itu sukses membuat Nabila melotot ke arah Denis yang kini sedang menatapnya.
"Den, ngobrol-ngobrol yuk disana aku kangen nih, mumpung ketemu !" Kata Dila sambil menunjuk sebuah meja.
Apa yang dikatakan Dila semakin membuat gerah Nabila, hingga ia memutuskan melangkahkan kakinya kesembarang arah meninggalkan Denis yang kini ikut berjalan cepat mengejarnya.
"Kenapa sih kamu, yang?" Tanya Denis ketika berhasil meraih lengan Nabila.
"Sana aja temeni mantan kamu!" Kata Nabila kesal sambil membuang muka.
"Kamu cemburu ya?" Tanya Denis dengan senyum yang mulai terkembang.
"Cemburu? Ngapain juga cemburu sama cewek yang nunjuk-nunjukin paha sama dadanya di depan umum".
"Ya udah, aku kesana lagi temuin dia", goda Denis.
"Ya udah kesana aja, biar aku pulang naik taksi sekarang!" Seru Nabila hendak melangkah pergi, namun Denis lebih dulu menangkapnya.
"Jangan gitu lah, yang. Aku hanya bercanda", rayu Denis sembari memberi sentuhan lembut di pipi Nabila.
"Aku janji nggak akan melirik wanita lain. Ngapain juga ngelirik wanita lain, jika istriku juga lebih cantik", kata Denis yang membuat wajah Nabila bersemu merah karena malu dengan kata-kata yang diucapkan suaminya itu.
"Ayo kita temui tuan rumah dulu!" Ajak Denis, yang kini sudah menarik tangan Nabila menuju panggung utama di pesta itu.
Karena tidak bisa mengimbangi Denis yang berjalan cepat, membuat tubuh Nabila tiba-tiba oleng dan menyenggol cukup keras seseorang yang juga sedang berjalan cepat melewatinya untuk menuju panggung utama.
"Aduhhh!" Seru Nabila sembari memegangi pundaknya yang terkena benturan pria yang tak sengaja tersenggol olehnya.
Sedangkan pria itu hanya diam di belakang Nabila sembari berpikir karena telinganya menangkap suara wanita yang ada di depannya itu tak asing baginya.
Suara Nabila yang cukup keras itu membuat Denis menghentikan langkahnya dan berbalik badan sembari berjalan ke arah istrinya. "Kamu kanapa, Nab?" Tanyanya khawatir.
__ADS_1
"Denis!", panggil pria yang tadi bertabrakan dengan Nabila, ketika ia melihat sosok yang ia kenal. Hal itu membuat Nabila memutar badan menghadap suara orang yang memanggil nama suaminya. Begitu juga Denis yang kini matanya beralih menatap pria itu.