Menunggu Cintamu Berkembang

Menunggu Cintamu Berkembang
Kangen


__ADS_3

"Bangun sayang", ucap Denis sembari memberikan kecupan dibeberapa bagian wajah istrinya yang masih belum mau membuka matanya padahal waktu sudah menunjukkan pukul 10.25


Karena masih tak kunjung bangun, Denis sengaja menggoda Nabila dengan meraba bagian tubuh yang sensitif dari wanita itu. Dan benar saja, seketika dengan malas Nabila mulai membuka matanya. "Sayang, udah ya aku capek banget", ucapnya.


Denis tersenyum dan menghentikan aksinya, kemudian dengan sayang mengecup kening wanitanya itu. "Makanya ayo bangun, sudah siang", ucapnya.


"Gendong", kata Nabila manja sambil mengangkat kedua tangannya.


"Tumben manja", kata Denis yang kemudian bangkit dan perlahan mengangkat tubuh Nabila yang hanya berbalut selimut.


Nabila melingkarkan tangannya di leher Denis dan menyusupkan kepalanya di dada bidang suaminya itu hingga masuk ke dalam kamar mandi.


"Sudah sayang, mandilah!" Kata Denis pada Nabila yang masih belum mau turun dari gendongannya.


"Dingin, sayang", ucap Nabila manja.


"Ya udah kalau begitu aku mandiin ya", goda Denis. Pria itu tau bahwa istrinya pasti akan menolak karena ia sudah sangat mengenal kebiasaan istrinya.


Dan benar saja, refleks Nabila turun dari gendongan Denis. Ia mendorong tubuh suaminya yang kini sedang tertawa keras keluar dari kamar mandi.


"Sudah selesai", ucap Denis lembut di dekat telinga istrinya yang baru saja selesai mengenakan kerudung warna biru untuk menutupi kepalanya. Laki-laki itu melingkarkan kedua tanggannya ke pinggang istrinya. Tak lupa ciuman ia daratkan di pipi halus milik wanita itu.


"He'em", jawab Nabila singkat.


"Apa kita akan langsung pulang?" Tanya Nabila, dijawab Denis dengan anggukan dan senyum kecil.


Sejak keluar dari bangunan yang lebih dari 20 lantai itu, senyum tak pernah lepas diantara mereka. Sesekali mata mereka saling bertemu dan seolah saling berbicara bahwa "aku bahagia denganmu"


"Mas, kita mau kemana kok belok kesini?" Tanya Nabila kepada suaminya, ketika matanya menangkap mobil yang ia tumpangi menjauh ke arah apartemen, tempat dimana mereka tinggal.


Denis tak menjawab. Ia hanya tersenyum, kemudian mengambil jemari milik istrinya dan mengecupnya dengan hangat, hingga membuat wanita disampingnya tak lagi memikirkan kemana mereka akan pergi dan urung menanyakan kembali pertanyaan yang belum di jawab suaminya.


Mobil yang Denis kendarai kini memasuki sebuah kawasan perumahan yang masih jarang bangunan dan penghuninya. Denis berhenti dan mematikan mesin mobilnya, persis depan sebuah rumah dengan pagar kayu yang cukup tinggi.


"Ayo turun!" Ajak Denis yang baru saja melepas sabuk pengaman yang melingkar di tubuhnya.


"Kita mau ke rumah siapa?" Tanya Nabila sembari matanya masih mencoba mencari tau sesuatu tentang rumah yang ada di hadapannya kini. Bukannya menjawab pertanyaan istrinya, Denis malah meninggalkan Nabila sendiri di dalam mobil.


Denis masuk ke halaman rumah itu, setelah berhasil membuka gembok yang menggantung di pagar. Nabila yang masih diliputi penasaran pun ikut menyusul suaminya.


Denis berhenti di depan pintu, kemudian memutar sedikit badannya menghadap ke arah istrinya. Ia menarik lembut tangan istrinya, dan meletakkan sebuah benda di telapak tangan wanita itu, sambil berucap, "Ini untukmu".

__ADS_1


"Apa ini, mas?" Tanya Nabila bingung sambil mengangkat seombyok kunci yang baru saja diberikan oleh suaminya.


"Masuklah!" Denis menggerakkan kepalanya ke arah pintu.


Nabila melangkah pelan ke dalam rumah, yang baru saja berhasil ia buka. Matanya menyapu seluruh ruangan yang dilewatinya. "Maaf hanya bisa memberimu yang seperti ini", kata Denis yang membuat Nabila menghentikan langkahnya kemudian berlari ke arah suaminya dan memeluknya.


"Bagiku ini sudah terlalu bagus, sayang. Terimakasih", kata Nabila yang kemudiaan memberikan ciuman di pipi suaminya.


"Kamu suka?" Tanya Denis yang masih melingkarkan tanggalnya di pinggang milik Nabila.


Nabila mengangguk dan tersenyum. "Tidak ada alasan aku tidak menyukainya. Tapi kenapa harus pindah, di apartemen saja aku juga sudah senang, mas."


"Tinggal di apartemen kurang bagus untukmu, juga untuk perkembangan anak-anakku kelak. Maaf aku tidak memberimu rumah besar dan mewah", kata Denis yang kemudian mengecup puncak kepala Nabila.


Rumah yang diberikan Denis pada Nabila memang tidak besar, namun dilihat dari sisi manapun, sebenarnya rumah berlantai dia itu termasuk mewah, meski Denis berusaha menyangkalnya.


"Aku tidak butuh rumah mewah, asalkan bisa membersamaimu itu sudah cukup. Dan maaf jika sampai saat ini aku belum bisa memberikan anak, seperti yang kamu inginkan", tutur Nabila sambil mengeratkan pelukannya.


"Kok jadi sedih begini sih, sayang", kata Denis sambil mencubit hidung istrinya. "Kita menikah kan belum lama, wajar saja kalau kamu belum hamil. Lagian aku masih mau menikmati masa-masa pacaran sama kamu. Kita ikhtiar dan berdoa sama-sama ya, biar baby boy segera hadir", ucap Denis sambil mengelus perut istrinya, lalu menggendong tubuh istrinya, masuk ke kamar yang mulai hari ini akan mereka tempati.


********


Tiga bulan sudah berlalu, hubungan Nabila dan Denis semakin banyak kemajuan. Mereka hidup sebagaimana layaknya suami istri kebanyakan, bahkan lebih dari itu, kehangatan dan cinta senantiasa menyelimuti rumah tangga mereka.


Sudah beberapa minggu ini, wanita itu rutin untuk mengikuti program cepat hamil. Ia rajin untuk konsultasi ke dokter atau melaksanakan program-program untuk mempercepat terjadinya kehamilan, meski Denis tidak pernah memaksanya agar cepat-cepat memberinya buah hati.


"Sayang, kamu dimana?" Teriak Denis yang baru saja masuk ke kamarnya namun tak mendapati istrinya. Sebelumnya ia juga telah mampir ke dapur, tempat favorit istrinya, namun juga tak menemukan wanitanya.


"Kenapa, teriak-teriak sayang?" Ucap Nabila tatkala kedua tanggannya berhasil melingkar ditubuh suaminya.


"Kamu dari mana saja?" Kata Denis sambil membalik tubuhnya menghadap istrinya. Ia memberikan ciuman sekilas di bibir istrinya, kemudian memeluknya. "Aku kangen, sayang", bisik Denis.


"Habis bersih-bersih di ruang kerja kamu, mas. Kayak habis pergi jauh aja, pake kangen", kata Nabila, menatap hangat wajah suaminya.


"Nggak harus pergi jauh dulu buat bisa kangen sama kamu. Sedetik aja kamu nggak di sampingku, aku sudah kangen", kata Denis yang kemudian menghujani istrinya dengan ciuman di wajahnya.


"Gombal kamu, mas!" Kata Nabila malu. Tangannya dengan enteng mencubit pinggang Denis, hingga pria itu mengaduh manja.


"Mau dimasakin apa buat makan malam?" tanya Nabila.


"Nggak usah masak! Mama ngundang kita makan malam hari ini", kata Denis.

__ADS_1


"Ya udah, kamu mandi dulu gih, sayang. Kusiapkan air angetnya dulu", kata Nabila yang kemudian pergi masuk kamar mandi setelah memberikan ciuman di pipi suaminya.


*********


Setelah makan malam, Sepasang suami istri dan mertuanya itu, kini berkumpul di ruang tengah sambil mengobrol santai.


"Sayang, menginap disini aja ya? Besok kan weekend?" Kata mama Denis, sembari mengelus lembut kepala mantunya.


"Gimana, sayang? Kita nginap ya!" Kata Nabila penuh pengharapan.


"Iya", Jawab Denis singkat, sambil tangannya sibuk dengan remot televisi.


"Besok sahabat baik papa, sekeluarga, akan makan siang di rumah. Mama pengin ngenalin kamu, sayang", kata mama Denis. "Kamu masih ingat Vanya kan? Nah, papanya Vanya itu sahabat baiknya papa", lanjut mama Denis.


Mendengar nama Vanya, tetiba Nabila mengingat peristiwa beberapa bulan lalu, sehingga membuat wajahnya memucat tiba-tiba.


"Papa Vanya punya jasa besar ke papa. Papa Vanya yang dulu bantu papa mulai dari nol merintis perusahaan, waktu itu kita baru pindah dari Jerman. Makanya mama dulu sempet mau jodohin Denis sama Vanya. Tapi ternyata Denis lebih milih kamu, sayang", kata mama Denis, diikuti senyum tipis.


"Awalnya mama sama papa keberatan Denis milih orang lain, tapi ketika tau orang lain itu adalah kamu, mamah malah seneng banget. Iya kan, pa?" Kata Mama Denis yang kemudian merangkul pundak Nabila dan di iyakan oleh papa Denis.


"Oh ya sayang, kamu itu kalau dilihat-lihat, mirip lho sama kakaknya Vanya. Mantan pacar Denis dulu. Iya nggak nis?" Goda mama Denis.


Denis melirik ke arah Nabila yang kini sedang cemberut. Senyum terukir jelas di wajah pria itu, melihat reaksi istrinya. "Ma, mama jangan gitu dong. Lihat tuh mantunya ngambek. Mantan sayang...cuma mantan. Wajah boleh mirip ma, tapi Istriku paling baik", kata Denis.


"Iya lah, karena dulu sama yang sana ditinggal selingkuh", ucap mama diikuti tawa.


*******


Waktu makan siang hampir tiba, tapi mama Denis dan mantunya masih disibukkan dengan pekerjaan dapur yang masih tersisa. Mereka sedang mempersiapkan beberapa menu makanan untuk acara makan siang nanti. Konsentrasi mereka sedikit terganggu tatkala suara bel menghinggapi pendengaran mereka.


"Itu pasti tamunya sudah datang. Mama ke depan dulu, ya sayang", kata mama pada Nabila, sebelum melangkah meninggalkan dapur.


Tak lama kemudian, mama Denis kembali ke dapur.


"Kok ada dia tante?", kata Vanya saat matanya menangkap sosok Nabila yang sedang menata meja makan. Dari raut wajahnya, sangat jelas bahwa ia tak menyukai wanita yang ada dihadapannya.


"Nabila kan mantu kesayangan mama, sayang", kata mama Denis, yang membuat Vanya melihat sinis ke arah Nabila. Dan Nabila hanya melirik saja wajah wanita yang tergila-gila dengan suaminya.


"Berarti kak Denis ada di sini juga ya, tan?" Tanya Vanya.


"Tentu, sayang. Tapi dia kayaknya sibuk dari tadi sama kerjaannya di atas", kata mama Denis.

__ADS_1


"Aku keluar dulu ya, tan?" Kata Vanya sambil berjalan bergegas.


"Katanya tadi mau bantuin tante?", tanya mama Denis, tapi tak di respon sama sekali oleh Vanya.


__ADS_2