Menunggu Cintamu Berkembang

Menunggu Cintamu Berkembang
Hanya Kakak


__ADS_3

"Sayang, nanti kamu jadi keluar makan siang?" Tanya Denis sambil melingkarkan tangan ke pinggang istrinya yang kini sedang memasangkan dasi di leher suaminya itu.


"Jadi, suamiku sayang. Kenapa? Kamu mau ikut?" Kata Nabila.


"Penginnya begitu sayang, tapi hari ini urusan kantor sangat banyak", jawab Denis yang kemudian mengecup bibir tipis milik istrinya dengan cepat dan tiba-tiba, membuat Nabila refleks memukulkan pelan telapak tantangannya ke dada suaminya sambil mengerucutkan bibirnya.


"Nanti minta pak Gugun saja untuk mengantar dan menjemput. Aku kuatir kalau kamu ikut mobil Dira. Dia agak ceroboh jika bawa mobil", kata Denis, yang kini berjalan di depan istrinya menuju ruang makan.


"Nanti aku diantar Fendi mas", kata Nabila.


Denis melihat ke arah istrinya, bersamaan dengan tangannya yang kini menarik salah satu kursi yang mengelilingi meja makan. Pria itu mengerutkan keningnya "Fendi? Kenapa kamu harus minta diantarkan Fendi? Kamu nggak ada niatan buat nyomblangin Dira sama Fendi kan?"


Nabila tersenyum lucu mendengar ucapan suaminya. "Konyol kamu mas, ya nggaklah?" Kata Nabila sambil menyodorkan sepiring nasi goreng di depan suaminya.


"Lalu?" Sambung Denis


"Penginnya habis makan siang nanti, aku mau ke tempat mami. Bolehkan?" Kata Nabila sedikit manja.


"Iya.Tapi nanti pulangnya biar aku saja yang jemput, ya" Kata Denis sembari meremas kecil jari-jari tangan istrinya yang ada di atas meja.


********


"Tumben banget kakak ngajak aku makan siang di luar. Biasanya juga kalau kuajak makan diluar nggak mau", kata Fendi yang kini tengah menyetir mobil menuju restoran yang sudah disebutkan kakaknya tadi.


"Terus, mau nggak nih ceritanya?" Kata Nabila sambil mencebikkan biar bagian bawahnya.


"Kalau kakak yang traktir, kenapa aku harus nolak", kata Fendi, diikuti suara kekehannya yang disambut sebuah jitakan dikepalanya oleh Nabila.


Tak butuh waktu lama hingga akhirnya mereka tiba di sebuah restoran yang dari luar sudah nampak bahwa restoran itu adalah restoran mewah.


"Kenapa nggak ke restoran padang atau warteg aja sih kak? Makanan disana lebih enak dan besar porsinya. Dan yang pasti harganya itu loh", kata Fendi sambil mengangkat kantong kemejanya.


"Udahlah, turun aja yuk!" Ajak Nabila, yang kini sudah membuka sabuk pengaman yang sedari tadi melingkar di badannya.

__ADS_1


Nabila bergegas turun dari mobil dan dan berjalan masuk restoran, diikuti Fendi di belakangnya.


Dengan cermat, mata Nabila menyisir isi ruangan, mencari sosok yang baru saja mengiriminya pesan dan menyampaikan kalau ia sudah ada di restoran tempat ia berada kini.


"Disana aja kak", Fendi menunjuk sebuah meja yang masih kosong, namun tak dihiraukan oleh kakaknya yang matanya masih sibuk menjelajah ruangan itu.


Kedua ujung bibir Nabila tertarik keatas tatkala melihat seseorang yang dicarinya nampak duduk membelakanginya. Dengan pasti ia melangkahkan kaki mendekatinya, sedangkan Fendi hanya mengekor saja.


Nabila menepuk pelan pundak wanita berkaca mata hitam yang sibuk dengan ponselnya itu. "Kak", ucapnya pelan.


"Bila", balas Nadira yang baru saja memutar kepalanya dan mengetahui siapa yang ada di sampingnya kini.


Perhatian Nadira tetiba beralih pada sosok lelaki yang ada dibelakang Nabila, yang kini tengah sibuk mengamati sekitarnya. Wanita itu sempat terdiam beberapa saat, hingga ia tersadar, kemudian membuka kacamatanya. "Fendi!" Ucapnya sedikit melemah.


Fendi yang merasa namanya dipanggil, refleks memusatkan pandangannya ke arah orang yang memanggilnya, yakni kakak pertamanya yang kini matanya nampak berkaca-kaca.


"Kak Dira?" Katanya dalam hati. Pria itu sempat tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia mencoba mengalihkan pandangannya kepada Nabila seolah mencari penjelasan dan dibalas anggukan kepala oleh kakaknya itu.


"Kamu mau kemana, dek?" Tanya Nabila yang masih memegangi tangan adiknya dengan kedua tangannya.


"Kenapa kakak nggak bilang kalau dia ada disini", kata Fendi sambil memutar kepalanya, melihat Nadira sekilas. Wajah Fendi nampak memerah karena menahan amarah.


"Lepasin kak, aku mau pulang!" Seru Fendi berusaha melepaskan tangan kakaknya yang membelenggu tangannya tanpa ingin menyakiti Nabila.


"Ayo duduk dulu, biar kakak jelasin", kata Nabila tetap berusaha menahan adiknya pergi.


"Apa lagi yang mau kakak jelasin. Jika kakak tetap mau makan siang dengannya, silahkan! Tapi aku tidak mau ikut" Kata Fendi


"Fendi, bukan kak Dira yang meminta kakak untuk membawamu kesini, tapi ini inisiatif kak Bila sendiri. Kak Bila ingin merekatkan lagi persaudaraan kita yang sempat hancur" Kata Nabila.


"Persaudaraan yang mana? Sejak dia memilih ikut bersama Papi dan tak peduli lagi dengan kehidupan kita, maka saat itulah dia bukan saudaraku lagi. Kakakku hanya satu, kak Nabila!" Kata Fendi.


"Fendi, jangan bicara sembarangan!" Suara Nabila meninggi. Selama ini Nabila tak pernah marah apalagi membentak adiknya, namun kali ini Nabila merasa sikap Fendi sangat keterlaluan. Disisi lain Fendi sebenarnya sangat menghargai Nabila.

__ADS_1


Nadira hanya diam mematung dengan berteman bulir-bulir air mata yang begitu deras mengguyur wajahnya, memperhatikan kedua saudaranya sedang bersitegang. Beberapa pasang mata, nampak memperhatikan apa yang terjadi diantara tiga bersaudara itu.


"Kamu ingin pergi? Pergilah! Tapi ingat, jika kamu sekarang pergi, artinya kamu sudah memutus hubungan dengan kakak. Aku bukan kakakmu lagi!" Nabila melepas tangan Fendi dengan kasar, lalu pergi menjauh dari pria itu.


Fendi mengusap kasar wajahnya. Ia nampak sekali frustasi dengan pilihan yang diberikan oleh kakak perempuannya itu.


Sejenak pria itu mencoba berfikir, hingga kemudian dia memilih untuk kembali ke tempat yang kini kedua kakaknya sudah duduk di sana. Fendi menghempaskan tubuhnya diatas sofa tepat di depan Nadira.


Tentu saja hal itu membuat Nabila dan Nadira tersenyum senang, meski nampak jelas Fendi terpaksa ada di situ sekarang.


"Dek, kamu mau makan apa?" Tanya Nadira pada Fendi, sembari menyodorkan buku menu persis di depan laki-laki itu. Namun, Fendi tak menggubrisnya sama sekali.


Nabila memberikan tatapan mematikan pada adiknya yang saat itu tak sengaja juga sedang melihat ke arahnya. Seolah mampu mengartikan tatapan kakaknya, Fendi terpaksa membuka mulutnya. "Aku makan seperti yang dimakan kak Bila", katanya.


Menunggu pesanan mereka datang, Nadira berusaha menjelaskan kepada adik laki-lakinya akan alasan kenapa dirinya lebih memilih tinggal bersama ayah mereka.


Meski Fendi terlihat tidak peduli dengan penjelasan kakaknya, sebenarnya ia mendengarkan dan sedikit banyak, hal itu mulai melembutkan hatinya yang sedari tadi begitu kerasnya. Namun, ia berusaha menutupinya karena gengsi.


Mereka bertiga hampir menghabiskan seluruh makanan yang mereka pesan, bersamaan dengan datangnya sosoklaki-laki berpostur tinggi besar dan berwajah dingin menghampiri Nadira kini. Tampak laki-laki itu kemudiam membisikkan sesuatu kepadanya.


Laki-laki yang tak lain pengawal Nadira itu sepertinya membawa kabar yang kurang baik. Itu bisa dilihat dari perubahan wajah Nadira yang seolah seperti orang bingung dan tidak tenang.


Menangkap gelagat aneh pada kakaknya, Nabila memberanikan diri untuk bertanya. "Kenapa, kak?"


Nadira lalu membisikkan sesuatu kepada Nabila, hingga membuat wanita itu ikut terkejut dengan apa yang dia dengar. Setelah kepergian Nadira yang izin untuk keluar sejenak, Nabila beranjak untuk berpindah duduk di dekat adiknya.


Fendi nampak mengepalkan tangannya diiringi rahangnya yang ikut mengeras melihat apa yang ada di depannya saat ini. Dengan gerakan cepat ia berdiri, lalu setengah berlari untuk mempercepat langkahnya.


"Prakkkkk"


********


Bab selanjutnya masih belum bisa terbit, karena belum sampai 1000 kata, kurang dikit lagi. semoga hari ini bisa terbit juga🙏

__ADS_1


__ADS_2