Menunggu Cintamu Berkembang

Menunggu Cintamu Berkembang
Managih Janjimu


__ADS_3

Nabila yang sudah membuka matanya berniat turun dari tempat tidur, bertepatan dengan dibukanya pintu kamar mandi dan Denis dengan rambut yang nampak basah keluar dari sana.


"Sudah bangun?", Denis berjalan ke arah Nabila lalu duduk di tepian tempat tidur sambil menggosok rambutnya yang masih basah dengan handuk.


"Kamu kerja mas, hari ini?", turun dari tempat tidur dan melangkah ke tempat ganti


"He'em", jawab Denis singkat.


Setelah mengambil pakaian dari lemari, Nabila berjalan mendekati Denis dan menyerahkan pakaian itu ke suaminya.


Nabila yang selesai merapikan tempat tidur, hendak keluar kamar. Karena mendapati suaminya yang kesusahan memasang dasi, ia menawarkan diri. " Mau dibantu, mas?"


Denis melepaskan tangan dari dasi yang sudah dikalugkannya dilehernya dan merentangkan tangannya. Nabila mengambil alih untuk memakaikannya.


Denis memandang lekat wajah Nabila yang berjarak sangat dekat dengannya. "Cantik", batinnya, kemudian melingkarkan tangannya ke pinggang Nabila.


"Selesai", ucap Nabila semangat ketika berhasil memakaikan dasi ke leher suaminya. Dia mencoba melepaskan tangan Denis yang melingkar ke pinggangnya. " Mas lepasin, aku mau mandi", ucap Nabila manja membuat Denis semakin gemas dan mengeratkan pelukannya.


"Cium dulu", Denis menutup mata dan menyodorkan pipinya untuk Nabila.


Nabila memalingkan mukanya. " Enggak ah, malu", ucapnya.


"Kenapa malu? Halal sudah. Lagian nggak ada yang lihat", Denis senyum-senyum melihat tingkah istrinya yang malu-malu.


"Cuppp.." Nabila mendaratkan ciumannya di pipi Denis, membuat Denis tersenyum lebar. "Sudah, ayo lepasin", manja Nabila.


"Kurang", suara Denis tak kalah manja.


"Nanti lagi, aku mau mandi dulu", pinta Nabila.


"Beneran ya?", Denis memastikan. Nabila hanya mengangguk. Denis pun melepaskan pelukannya dan Nabila segera berlari keluar. Namun sebelum dia hilang dari pandangan Denis, Denis berteriak, "Jangan pakai pakaian kayak gitu lagi".


Nabila berhenti, kemudian memutar kepalanya menghadap Denis. "Ok, boss", ucap Nabila sambil menghormatkan tangannya.


Setelah mandi, Nabila langsung turun ke tempat makan. Denis sudah ada di sana menikmati secangkir kopi dan di temani sebuah koran.

__ADS_1


"Belum di jemput Arsyad, mas?", tanya Nabila sambil menarik kursi yang akan dipakainya untuk duduk.


Denis melihat ke arah Nabila dengan tatapan tidak suka. "Ngapain tanya-tanya dia, kamu kangen?", ucapnya sedikit emosi.


"Apaan sih mas, aku kan cuma nanya. Biasanya kan pagi-pagi kamu di jemput dia, ini kamu sudah telat kok dia belum jemput", sambil menuangkan Nasi goreng ke piring suaminya dan piringnya.


"Aku nggak suka kamu bahas-bahas dia", ucap Denis sambil melipat koran, kemudian memulai memakan nasi goreng yang ada di piringnya. Nabila mengiyakan apa yang diucapkan suaminya.


"Hati-hati ya mas", ucap Nabila yang mengikuti Denis dari belakang yang sedang berjalan menuju pintu. Denis tidak merespon.


Saat Denis hendak memutar handle pintu, tiba-tiba ia berbalik berjalan mendekati Nabila. " Aku menagih janjimu".


Nabila mengerutkan dahinya. "Janji apa?", batinnya. Denis seketika sudah ada di depannya, sangat dekat, membuatnya tak berani mengangkat kepalanya yang tertunduk.


"Ayo", ucap Denis, membuat Nabila bingung. "Apa?", Nabila memberanikan diri melihat ke arah Denis.


"Janjimu", Denis sedikit kesal.


"Janji apa?" Nabila mulai merajuk.


"Kelamaan", kata Denis, yang kemudian menyambar bibir istrinya. Menciumnya dengan hangat. Nabila membalas ciuman itu tak kalah hangat.


"Aku berangkat dulu ya, baik-baik dirumah, jangan melamun terus", sambil mengacak rambut Nabila kemudian keluar apartemen.


Sepanjang hari di apartemen, Nabila hanya duduk di depan laptop untuk memeriksa pekerjaan anak buahnya. Karena ada Bi Atik, semua pekerjaan rumah diambil alih Bi Atik, tanpa boleh Nabila membantunya.


Sore hari Bi Atik sudah kembali ke rumah Tuan besar, yang tak lain adalah papa Denis. Nabila menutup kembali pintu setelah mengantar Bi Atik keluar. Ia nampak bingung mau melakukan apa. Semua pekerjaan rumah dan pekerjaan kantor sudah selesai dikerjakan.


Ia memutuskan untuk membawa potongan buah yang ada di kulkas ke balkon kamar Denis. Ia duduk di kursi yang ada di balkon itu sambil menikmati pemandangan sore ini. Satu persatu potongan buah masuk ke mulutnya, sesekali dia membayangkan sikap Denis yang akhir-akhir ini begitu berbeda.


Denis yang biasanya dingin dan galak, sekarang lebih perhatian, lebih romantis juga. Pikiran Nabila tentang Denis membuat dia senyum-senyum sendiri.


Jam dinding sudah menunjukkan pukul 20.08, tapi Denis belum juga pulang. Nabila cukup kuatir. Beberapa kali dia duduk, berdiri, mondar-mandir, duduk kembali berulang-ulang. Mau menghubungipun saat ini ia tak punya alat komunikasi.


Setengah jam kemudian, pintu apartemen terbuka. Nabila yang menyadari ada langkah kaki dalam ruangan itu segera bangkit dari sofa, kemudian berjalan mendekati asal suara.

__ADS_1


"Kok baru pulang?", tanya Nabila, sambil mengambil alih tas yang di bawa suaminya.


"Kenapa? Kangen ya?", goda Denis, sambil mengintip untuk melihat muka istrinya yang menunduk karena malu.


Denis menjatuhkan tubuhnya ke sofa. " Mau kusiapkan air hangat buat mandi?", tanya Nabila sambil membantu Denis melepaskan sepatunya.


"Nanti saja aku masih capek banget", sambil menarik tangan Nabila untuk duduk disampingnya, kemudian ia meletakkan kepalanya di pangkuan Nabila.


"Kamu sudah makan, mas?", tanya Nabila sambil megelus-elus kepala suaminya. Denis hanya mengangguk.


"Kamu ngapain aja di rumah?", tanya Denis sambil memejamkan matanya. Nabila menceritakan apa saja kegiatan yang dilakukannya hari ini.


"Mas, aku besok kerja lagi ya?"


Denis membuka kedua matanya, melihat wajah Nabila dari bawah. "Apa kamu sudah siap kerja lagi?"


"Kan dari kemarin aku sudah bilang, aku baik-baik saja mas. Kalau di rumah terus aku bosan, malah bikin stress". Apalagi aku sudah sering bolos kerja, sejak nikah sama kamu".


"Tapi mulai besok kamu kemana-mana diantar sopir ya, aku nggak mau ada apa2 lagi dengan kamu", Denis meraih kepala Nabila dan mengecup bibir Nabila sekilas.


Denis segera bangkit dari sofa, karena ia mengingat sesuatu. Dia membuka lemari yang ada di bawah televisi dan mengeluarkan sebuah bungkusan, lalu memberikannya pada Nabila.


"apa ini, mas?". Nabila terkejut ketika melihat isinya. " Inikan ponsel yang kamu beli kemarin mas? ini buat siapa?", sambil menunjukkan isi bungkusan itu ke depan wajah Denis.


"Buat Bi Atik", jawab Denis kesal.


"Wah, beneran mas? Bi Atik pasti keren pakai ponsel canggih kayak gini. Kira-kira mau dipakai apa ya, sama Bi Atik? Tiktokan kali ya", ucap Nabila.


Denis memencet hidung Nabila dan menggoyang-goyangkannya. "Aku ngasihnya ke kamu, berarti itu buat kamu", ucap Denis gemas.


"Hahhh....ini buat aku mas? bukan buat Bi Atik?". Denis hanya menganggukan kepalanya.


"Makasih ya mas", ucap Nabila senang.


" Nggak gratis tuh, kamu mesti bayar", ucap Denis dengan senyum nakalnya.

__ADS_1


"Bayar berapa? Inikan mahal banget", ucap Nabila memelas.


" Bayarnya pake ini... Cuppp", Denis kembali mencuri ciuman di bibir Nabila, lalu melangkah pergi sambil tertawa. Nabila hanya bengong melihat tingkah suaminya itu.


__ADS_2