
Masih flash back on [POV Nabila]
"Perang untuk apa? Aku tak ada urusan denganmu", kataku.
Brakkkk..... Dia menggebrak meja yang ada di depan kami, membuat beberapa pengunjung melihat ke arah kami. Tatapan wanita itu tajam ke arahku, jelas disana ada kemarahan.
"Tenangkan dirimu, jangan mempermalukan dirimu sendiri!" Kataku sambil menyesap minuman yang ada di gelas dengan tenang.
"Sudahlah Nabila, aku tak mau basa-basi. Apa maumu, katakanlah?" Kata Jenica kesal. "Oh iya, aku hampir lupa. Kan harusnya aku yang minta sesuatu padamu. Ya, kan?" Jenica menyunggingkan senyum mengejek.
"Sekarang aku hamil anak Denis, itu artinya Denis harus bertanggung jawab. Jadi kamu maunya gimana? Minta cerai atau kamu harus menerima aku jadi istri muda Denis, hemm?" Kata Jenica penuh percaya diri.
"Kamu maunya aku gimana?" Tanyaku. Aku berusaha tenang, meski kini tanganku tengah mengepal di bawah meja.
"Tentu saja aku berharap kau minta cerai dari Denis. Percuma kau mempertahankan pernikahanmu, jika nantinya fokus Denis hanya untuk anakku dan aku. Aku sebenarnya kasihan padamu, sudah lama menikah tapi kau belum bisa memberikan anak buat Denis", jawab Jenica.
Aku tersentak, merasa memang aku belum bisa memberikan seorang anak kepada suamiku. Namun aku berusaha menguatkan hatiku, meski apa yang dikatakan Jenica membuat hatiku sakit. Bahkan, ingin sekali aku menangis.
"Kalau aku tak mau?" Tanyaku menantang.
Jenica tersenyum sinis. "Aku tau, pria seperti apa Denis. Dia lebih lama bersamaku daripada bersamamu. Dia akan lebih memilih anaknya, daripada yang lainnya". Jenica berhenti sebentar sambil menarik dan menghembuskan nafas kasar. "Mundurlah, sebelum Denis meninggalkanmu!"
"Jangan mimpi!" ucapku penuh penekanan.
"Apa kau yakin itu anak dari suamiku?" Kataku dengan tatapan mengejek, membuat Jenica mendelik.
"Apa maksudmu?Tentu saja ini anak Denis! Bukankah kau sendiri tau, bagaimana ketika suamimu itu tidur denganku?" Kata Jenica penuh percaya diri.
"Tapi sayangnya, selain dengan suamiku, kau juga seringkan tidur dengan orang lain?" Kataku.
Jenica berdiri, hendak melayangkan telapak tangannya ke pipiku, namun aku dengan cepat mampu untuk membendungnya. Aku mencengkram pergelangan tangannya kemudian melepaskannya dengan kasar, sehingga membuat dia mengumpat.
Wanita itu terpaksa duduk kembali ke tempatnya dan menyilangkan tangannya di depan dada, sementara pandangannya ia lemparkan ke sembarang tempat, tak mau melihat ke arahku.
"Aku tak ingin berlama-lama denganmu disini. Aku hanya mau meminta hakku, sebagai wanita yang dihamili oleh Denis. Aku akan memiliki anak darinya. Aku harap kamu bisa menerima itu. Aku akan memintanya menikahiku tanpa atau dengan persetujuanmu", Kata Jenica.
__ADS_1
"Jangan harap aku akan membiarkanmu! Aku tak kan membiarkan suamiku jatuh dalam permainan kotormu", kataku tegas, hal itu membuat Jenica terperanjat, matanya melotot seolah tak percaya dengan apa yang kukatakan.
"Apa maksudmu?" Tanyanya kepadaku.
"Mengapa kau minta tanggung jawab kepada suamiku? Kenapa kau tidak meminta tanggung jawab laki-laki lain yang juga kerap tidur denganmu?" Kataku berani.
"Kau!" Ucap Jenica tak terima, namun aku memotong perkataannya.
"Bukankan kau sudah biasa bergonta-ganti teman tidur? Bahkan dulu Denis memutuskanmu, karena memergokimu sedang tidur dengan laki-laki lain ketika kau di Jepang? Lalu kenapa kau meminta tanggung jawab kepada suamiku?" Kataku
"Karena aku maunya Denis yang jadi suamiku", kata Jenica.
"Dasar tak tau malu", kataku pelan, namun masih bisa di dengar orang yang ada di dekatku.
Aku menyesap sekali lagi minuman dari gelasku, kemudian mengambil tasku yang ada di atas meja dan menyelempangkan talinya ke bahuku. Tak lupa aku memanggil pelayan untuk membayar pesananku.
"Kau mau kemana? Kita belum selesai", kata Jenica ketika aku sudah beranjak berdiri.
"Nggak ada lagi yang perlu dibicarakan. Semua sudah jelas. Aku tidak mau ikut permainanmu. Jangankan untuk meninggalkan suamiku untukmu, berbagi pun aku tak sudi. Oh ya, kandunganmu sekarang usianya 5minggu, bukan? Dan kau tidur dengan suamiku sekitar 4bulan yang lalu", kataku sembari tersenyum puas.
Dengan langkah panjang, aku meninggalkan Jenica sendiri di mejanya. Namun berapa detik kemudian, dia mengejarku. Ia berhasil menarik lenganku dengan kasar. "Apa lagi?" Kataku.
"Nada, Jen", kata laki-laki itu agak heran. "Ada apa kalian berdua disini?" Lanjutnya.
"Andre", Kataku dalam hati. Mataku mengarah pada laki-laki itu.
"Andre! Lagi ngapain disini?" Kata Jenica dengan senyum yang dipaksakan.
"Kalian saling mengenal?" Kata Andre, sembari melihat aku dan Jenica bergantian.
Aku tak menjawab pertanyaan Andre, tapi aku justru berpamitan untuk pergi. Namun baru sempat aku melangkah satu langkah, suara Andre memanggil namaku, membuatku harus menghentikan langkahku dan kembali menoleh kepadanya.
"Kau baik-baik saja kan?" Tanya Andre padaku dengan paras nampak khawatir.
Dan lagi-lagi aku tak merespon pertanyaannya. Dengan cepat aku melangkah meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Flashback off
Nabila kini tengah meringkuk diatas tempat tidurnya, setelah baru saja ia dan Denis tiba dari kantor. Denis sengaja pulang kantor lebih awal karena mengantar istrinya pulang ke rumah. Ia khawatir dengan kondisi istrinya yang sedari tadi menemuinya di kantor dalam keadaan sedih bahkan menangis.
Denis yang baru saja keluar dari kamar mandi, dengan kondisi masih sedikit basah, berjalan mendekati istrinya.
"Sayang, kamu kenapa sih? Bicaralah sesuatu padaku", kata Denis, sembari memeluk dari belakang tubuh Nabila yang masih meringkuk sambil memeluk bantal.
Nabila hanya diam saja, tak merespon pertanyaan Denis. Suasana kamar itu hening beberapa saat, hingga Denis bersuara.
"Ya sudah kalau kamu mau begini terus. Aku keluar dulu ya, mau mencari udara segar. Disini pun aku tak ada gunanya", kata Denis yang kemudian melepaskan pelukannya.
Pria itu lalu berjalan menuju lemari. Mengambil sepasang pakaian dari dalamnya, sebelum akhirnya memakainya untuk menutupi tubuhnya.
Denis sempat sesaat memperhatikan kembali istrinya dari pantulan cermin yang ada di depannya, saat pria itu menyisir rambutnya yang sudah mulai gondrong. Dia menghembuskan napas kasar, saat melihat tak ada pergerakan dari istrinya sama sekali.
Setelah memakai arlojinya, pria itu memutuskan untuk melangkah pergi meninggalkan istrinya sendiri. Membuka pintu dan keluar dari ruangan itu. Dengan kasar ia menutup kembali pintu itu hingga menimbulkan suara yang sangat keras.
"Taukah kau bahwa aku saat ini butuh dukunganmu. Aku sedang tidak baik-baik saja, sayang", kata Denis dalam hati sambil menuruni tangga. Sesekali ia menengok menatap ke arah pintu kamarnya, berharap sang istri mengejarnya.
Namun yang diharapkan, tak terjadi. Ia terus berjalan hingga masuk ke garasi. Membuka pintu mobil, dan masuk kedalamnya. Sekali starter mobil menyala. Ia menjalankan mobil itu keluar garasi yang sedari tadi terbuka pintunya.
Hampir mendekati pintu gerbang, mobil yang berjalan sangat lambat itu, nampak jendelanya diketok-ketok dari luar. Menyadari ada orang yang mengetok kaca mobilnya sambil lari terengah-engah, sang sopirpun menghentikan laju mobilnya.
Ketika mesin mobil telah mati, Denis keluar dari mobil itu. Berputar melewati bagian depan mobilnya sambil sedikit berlari dan berhenti tepat di depan orang yang kini tengah memandanginya dengan tatapan sendu, yang tak lain adalah Nabila istrinya.
Dengan gerakan cepat Denis menarik tubuh istrinya dalam pelukannya. Mendekap erat tubuh wanita yang ia cintai itu, yang lagi-lagi menangis.
"Kamu kenapa? Katakanlah! Aku tak bisa melihatmu seperti ini", kata Denis. Yang kemudian memberikan banyak ciuman di kepala Nabila, sebelum kemudian melepas pelukan itu.
Laki-laki itu menatap lembut ke arah istrinya, yang kini juga tengah menatapnya dengan tatapan sendu. " Ada apa?" tanyanya lagi.
"Benarkah kamu akan meninggalkanku, untuk wanita lain yang tengah mengandung anakmu?" Tanya Nabila.
Deggg.....
__ADS_1
########
Maaf, jarang up karena lagi ada proyek besar di kerjaan🙏