Menunggu Cintamu Berkembang

Menunggu Cintamu Berkembang
Baju Seksi


__ADS_3

Denis baru saja selesai menaikkan resleting jaket yang di pakai Nabila, ketika ia bertanya pada istrinya, "Kamu sudah siap, sayang?"


Nabila hanya tersenyum sembari menganggukkan kepalanya untuk merespon pertanyaan Denis.


Denis menyentuh satu pipi Nabila dengan telapak tangannya dan mencium bibirnya sekejap, sebelum memasangkan helm ke kepala pasangannya itu. Ia lalu naik ke atas motor, diikuti Nabila yang ikut duduk di jok belakang.


"Kita berangkat sekarang, pegangan yang kenceng!" Perintah Denis, sambil melingkarkan tangan Nabila kuat-kuat ke pinggangnya. Lalu dengan sekali geber, motor itu kini telah melaju kencang.


Nabila tak tau pasti Denis akan mengajaknya kemana. Yang ia tahu Denis akan membawanya menghabiskan hari minggu dengan menghirup udara luar rumah yang sudah jarang ia dapatkan semenjak menikah dengan salah satu orang penting di perusahaan tempat ia bekerja, seperti yang dikatakan laki-laki itu sebelum berangkat.


Denis mengendarai motor itu dengan kecepatan yang tinggi, karena perjalanan yang akan di tempuh cukup jauh dari titik awal mereka berangkat. Hal itu membuat Nabila selalu mengencangkan pelukannya dan sesekali menyandarkan kepalanya ke punggung Denis. Tentu saja Denis menikmati hal kecil itu.


Tiga jam perjalanan belum juga membuat mereka sampai di tempat yang ingin dituju oleh Denis. Lelah sudah mulai menghinggapi tubuh Nabila, terutama punggung dan pantatnya. Namun, sekejap lelah itu menghilang tatkala mereka mulai memasuki wilayah dimana pemandangan yang ada disana sungguh memanjakan netra.


Disisi kiri kanan jalan yang berkelok-kelok dan dominan menanjak yg mereka lalui saat itu nampak terhampar kebun teh nan hijau, membuat perasaan menjadi teduh dan tenang. Bukan hanya ribuan hektar kebun teh saja, tetapi berbagai kebun berisi tanaman buah dan sayur serta bunga-bunga warna-warni yang tersaji di depan mata mereka, sungguh membuat Nabila ingin berhenti dan berlari-lari di sisa-sisa jalanan kecil di tengah-tengah perkebunan itu.


Nabila melepas helmnya diatas motor yang kini tengah melaju pelan, dihirupnya udara disekitarnya dalam-dalam sembari matanya ikut tertutup merasai dinginnya suasana meski matahari mulai meninggi.


Beberapa kali nampak ia merentangkan tangannya diiringi teriakan-teriakan kecil sebagai tanda ia menikmati perjalanan kali ini. Denis yang melihat tingkah Nabila dari kaca spion menarik kedua sudut bibirnya, sembari megusap-usap paha wanita itu, yang masih bisa dijangkau oleh sebelah tangannya.


*******


Denis mematikan mesin motor tepat di depan bangunan yang terbuat dari kayu, tidak terlalu besar tetapi kesan mewah nampak melekat meski siapa saja yang melihatnya tahu bahwa usia bangunan itu tidaklah muda.


Bagunan yang berlatar belakang sebuah gunug itu nampak asri dengan halaman yang ditumbuhi rumput swiss dan taman yang ditumbuhi beberapa macam bunga cantik berwarna-warni.


"Kenapa tempat ini serasa tak asing bagiku?" Tanya Nabila dalam hati. Matanya tak berkedip menyapu penampakan yang ada di hadapannya.

__ADS_1


Denis mengambil tangan Nabila dan melangkahkan kakinya mendekati bagunan vila yang ada di hadapannya. "Ayo masuk!", ujar Denis membuyarkan Nabila dari lamunannya.


Muncul seorang perempuan sekitar umur 45 tahunan dari balik pintu, sesaat setelah Denis mengetuk pintu Villa yang terbuat dari kayu jati itu.


"Tuan muda, selamat pagi! mari masuk!", sapa wanita yang bernama Bi Parti itu diiringi senyum hangat yang menghiasi wajahnya.


"Apa semuanya sudah di siapkan, bi?", Tanya Denis tanpa melihat orang yang ia ajak bicara. Ia fokus melihat kondisi ruangan yang terjangkau oleh matanya sembari berjalan masuk dengan telapak tangan Nabila yang masih ada di genggamannya.


"Sudah, Tuan," Jawab Bi Parti singkat sambil menganggukan kepalanya, kemudian matanya mengarah kembali pada Nabila yang serasa tidak asing baginya.


"Sayang, kamu mau istirahat dulu?" Tanya Denis pada Nabila yang hanya diam mengamati yang ada di sekelilingnya.


"Sayang," Panggil Denis kembali, setelah panggilannya yang pertama tidak di gubris oleh istrinya. Kali ini Denis tidak hanya memanggil, tapi juga menarik tubuh Nabila, sehingga kini mereka saling berhadapan dan pinggangnya ditangkap oleh keduanya tangan Denis.


"Gimana?” tanya Denis kesekian kalinya.


Tak banyak bicara, Denis yang mulai geregetan dengan sikap istrinya kali ini, akhirnya dengan sekali gerakan iya berhasil membopong tubuh istrinya. Nabila yang kaget karena gerakan Denis yang tiba-tiba, reflek mengalungkan kedua tangannya di leher suaminya.


"Mas turunkan, malu di lihat orang!" Pinta Nabila, yang tidak digubris oleh Denis yang sekarang sudah menaiki tangga menuju kamar yang ada di lantai dua.


Nabila mengerucutkan bibirnya karena ucapannya tidak diindahkan oleh Denis. Hal itu membuat Denis gemas dan langsung mencium bibir itu dengan lembut. Nabila menerima saja apa yang dilakukan Denis, meskipun tidak membalas ciuman itu.


Denis meletakkan tubuh Nabila diatas kasur, setelah berhasil membuka pintu dan masuk ke dalam sebuah kamar yang cukup luas. Kemudian, ikut membaringkan tubuhnya di sebelah Nabila.


Denis mengubah posisi tubuhnya miring menghadap Nabila, sementara satu tangannya menopang kepalanya. "Kamu ganti pakaian dulu sana biar nyaman!" Perintah Denis pada Nabila.


Nabila mengerutkan keningnya sejenak, kemudian memutar kepalanya 90°, sehingga kini matanya bisa menjangkau wajah Denis. "Pakaian mana lagi?" Tanya Nabila diikuti wajahnya yang berubah cemberut, membuat Denis dengan kilat mencium bibir wanita di hadapannya dan di balas oleh dengan cubitan tidak menyakitkan di lengannya.

__ADS_1


"Ciam cium terus dari tadi, nanti bisa berkarat bibirku, mas," ucap Nabila sambil melotot dan disambut oleh gelak tawa oleh Denis.


"Tenang sayang, nggak akan karatan. Paling-paling cuma geripis aja," Seru Denis yang disambut dengan pukulan berulang dua tangan Nabila ke arah dada.


Denis berhasil menangkap kedua kepalan tangan Nabila yang akan mengarah ke dadanya lagi, kemudian mengecupnya bergantian.


"Percayalah aku ingin melakukan hal seperti itu hanya denganmu saja", ucap Denis dengan mimik muka serius sembari menepuk dua kali pipi Nabila dengan telapak tangannya. Ia kemudian bangkit dan duduk sambil membuka jaket yang masih setia menempel di tubuhnya.


"Di lemari ada baju yang bisa kamu pakai, orangku tadi malam yang membawanya ke sini", kata Denis yang kemudian beranjak pergi masuk ke kamar mandi meninggalkan Nabila yang hanya terpaku melihatnya.


Nabila beranjak dari tempat tidur setelah membuka jaket dan kerudungnya, untuk mengambil baju, seperti yang dikatakan suaminya. Ia membuka lemari dan memeriksa baju-baju yang ada di dalam sana.


Ia heran melihat pakaian-pakaian yang ada di dalam sana. Selain beberapa potong pakaian keluar rumah, semua pakaian rumahan yang ada di dalamnya adalah pakaian yang kelihatan minim, lingerie yang seksi, thanktop dan celana pendek seksi yang memperlihatkan paha dan sedikit bokongnya, dan beberapa pakaian yang mengeksplor bagian tubuhnya yang jarang di lihat orang. Tak ada kaos oblong, piyama, daster, celana pendek atau rok selutut yang biasa ia pakai di rumah.


Saat dia mencoba berfikir dengan apa yang akan dilakukannya dengan pakaian-pakaian aneh itu, tiba-tiba sepasang tangan memeluknya dari belakang. "Kenapa sayang, kok diam aja di sini?", tanya Denis.


Nabila mengambil salah satu pakaian yang ada di gantungan lemari itu dan memperlihatkan di depan wajah Denis. "Apa ini mas, masa pakaiannya hampir kayak gini semua? Malu- maluin", ucap Nabila, kemudian menundukkan kepala lemas.


Denis tersenyum licik melihat lengrie seksi itu. "Tidakkah kamu ingin melayani suamimu dengan penampilan terbaik?", ucapnya lirih di dekat telinga Nabila, membuat wanita itu bergidik ngeri.


"Penampilan terbaik nggak harus dengan pakaian yang begitukan?", kata Nabila yang sama sekali tidak di dengar oleh Denis karena pria itu kini sibuk mengecupi bagian leher Nabila yang terbuka sehingga membuat Nabila ikut terbawa suasana.


Denis menggendong Nabila dan merebahkan nya di atas tempat tidur. Bibirnya kini beralih menjelajah bibir istrinya yang tipis namun menghanyutkan. Dia menciumi bibir itu dengan rakus dan semakin rakus karena Nabila membalas ciuman itu tak kalah semangat. Sementara tangan Denis mulai bergerilya di balik pakaian yang masih menutupi tubuh istrinya itu.


_________________


**Happy Reading😉

__ADS_1


Jangan lupa terus dukung author biar semangat berkarya dengan like, comment, vote ya😎**


__ADS_2