Menunggu Cintamu Berkembang

Menunggu Cintamu Berkembang
Roti Bakar


__ADS_3

"Suamiku mencintaiku!", seru Nabila dalam hati, beberapa detik setelah menelaah ucapan suaminya tadi.


Cairan bening begitu saja lolos dari pelupuk mata wanita itu. Bukan karena sedih, bahkan sebaliknya, ia amat bahagia mendapati fakta itu. Pasalnya selama menikah, tak pernah terucap kata cinta dari bibir pria itu untuknya.


Nabila segera mengakhiri acara minum tehnya, lalu berjalan dengan cepat ke lantai dua, tepatnya ke kamarnya. Dengan perlahan wanita itu memutar gagang pintu, kemudian masuk ke dalamnya tatkala pintu kamar itu telah terbuka sebagian dan cukup sebagai jalan untuk ia lewati.


Ia sedikit kecewa, di saat tak mampu menemukan sang suami di dalam kamar mereka, sekalipun ia sudah mencarinya di kamar mandi yang ada di ruangan itu, maupun balkon yang saat itu nampak gelap karena lampunya tak menyala.


Dengan langkah yang kini semakin di turunkan ritmenya, Nabila memutuskan untuk keluar dari kamar itu dan berjalan ke tempat yang seratus persen dia yakini suaminya ada di sana. Yaitu ruangan kerja Denis, yang menjadi tempat suaminya bisa tahan berlama-lama di rumah itu, selain di dalam kamar mereka yang berhawa romantis.


Nabila masuk ke dalam ruangan kerja suaminya, yang tadi sebelum ia ketuk pintunya sudah terbuka sebagian, tanpa menunggu izin dari suaminya.


Mata wanita itu nampak menghangat tatkala sosok yang ia cari ternyata benar ada di tempat itu. "Mas", panggil Nabila merdu, bersamaan dengan Denis yang sibuk memasukkan barang-barang yang nampak berserakan di atas meja kerjanya ke dalam laci.


Denis memberi sambutan hangat kepada wanitanya dengan seulas senyuman tipis. Ia bangkit dari duduknya, menjemput istrinya yang ada di seberang meja.


"Kenapa belum tidur lagi?" Tanya Denis sambil menyelipkan beberapa rambut Nabila yang menutupi wajahnya ke belakang telinga.


"Belum ngantuk, mas", jawab Nabila hangat.


"Kamu sudah nggak marah kan? Maafkan aku, sayang?" Kata Denis, yang kemudian mengapit kepala istrinya dengan kedua telapak tangannya, sebelum memberikan kecupan lembut di kening wanita itu.


"Kenapa harus minta maaf? Aku yang harusnya minta maaf, mas. Sudah terlalu ke kanak-kanakan", kata Nabila yang kemudian melingkarkan tangannya ke tubuh suaminya, sementara kepalanya ia sandarkan di dada bidang, milik pria itu.


Masih dengan posisi yang sama, dengan sekali hentakan kini Nabila ada di gendongan Denis. Melingkarkan kedua tangannya di leher jenjang milik suaminya, sembari menghirup aroma tubuh suaminya yang dua minggu ini begitu membuat dia tergila-gila, hingga sampai-sampai beberapa kali ia melarang suaminya untuk bekerja karena tak mau berjauh-jauhan.


Denis dengan lembut membaringkan istrinya diatas tempat tidur, sebelum tubuh kekarnya mengungkung wanita itu dengan kedua tangan dan lututnya sebagai tumpuan.


Memandangi istri cantiknya berlama-lama, membuat gairah kelaki-lakiannya bangkit. Dibenamkan bibirnya diatas bibir istrinya yang tipis, merasakan kenikmatan yang sudah mulai naik ke ubun-ubun, karena tingkah nakal tangannya yang mulai menelusup dibalik baju istrinya yang kurang lebih juga merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan suaminya, bahkan mungkin lebih dari suaminya.


"krucuk....krucuk... " suara itu membuat Denis menjauhkan wajahnya dari wajah istrinya. Nabila yang menyadari apa yang terjadi, menutup wajahnya dengan telapak tangannya untuk menutupi rasa malunya.

__ADS_1


Denis tersenyum tipis melihat tingkah istrinya. Ia berusaha menarik tangan istrinya dari wajahnya, dengan maksud menggoda. "Kenapa ditutup? Ayo buka!" Ucapnya.


"Aaa.... " Suara Nabila manja sekaligus malu. Wanita itu masih berusaha mempertahankan tangannya untuk menutupi wajahnya meski Denis berusaha membukanya.


"Kamu lapar, sayang?" Tanya Denis, yang kini telah menghentikan aksinya untuk menggoda istrinya. Nabila hanya menjawab dengan anggukan, tapi masih malu-malu.


Denis membetulkan posisinya, ia duduk di sebelah istrinya yang masih berbaring. Membelai lembut kepala istrinya itu, "Mau makan lagi?" Tanya Denis.


"Boleh?" Kata Nabila yang kini sudah tak menutup wajahnya lagi.


"Apa aku pernah ngelarang kamu makan?" Kata Denis sambil menarik hidung Nabila gemas.


"Udah tengah malam, sayang. Nanti kalau aku makan, terus gendut gimana? Baru tadi bilang cinta, ntar lihat aku gendut nggak cinta lagi", kata Nabila sambil mencebikkan bibir bawahnya danberanjak duduk.


"Konyol kamu, sayang" Mengecup kening istrinya. "Memang aku pernah bilang, kalau kamu gendut, aku nggak suka lagi hemmm?" Lanjutnya.


"Lagian nanti pas kamu hamil, pasti juga jadi gendut. Tapi__", Denis tiba-tiba terdiam tak melanjutkan ucapannya.


"Nggak ada! Kamu jadi pingin makan apa biar ku pesenin?" Kata Denis mencoba mengalihkan perhatian. Ia bangkit, lalu mengambil ponselnya yang ada di atas nakas.


"Jadi apa, sayang?" Kata Denis sambil menggeser layar ponselnya, berkutat dengan aplikasi pemesanan makanan.


Nabila menggeleng, sambil melihat ke arah Denis dengan memelas. "Nggak, mau!" Ucapnya.


"Terus?" Tanya Denis, melihat Nabila dengan tatapan penasaran.


"Aku mau kamu yang bikin makanannya", ucap Nabila manja.


"Mau makan apa? Jangan yang susah-susah ya!" Kata Denis memelas.


"Gampang kok, sayang" Senyum Nabila. "Aku mau makan roti bakar madu, dikasih kismis yang buanyakk banget", kata Nabila sembari membasahi bibirnya dengan lidahnya.

__ADS_1


"Itu aja?" Kata Denis, dan Nabila mengangguk.


"Tunggu disini ya aku buatin!" Perintah Denis sambil berjalan keluar kamar.


"Nggak mau, aku ikut", kata Nabila manja. Ia berjalan buru-buru mengikuti suaminya.


Sepanjang suaminya sibuk membuat makanan untuknya, Nabila tak bisa diam. Dia terus saja mengekor suaminya, kadang bergelanyut di lengannya ataupun memeluk laki-laki itu. Denis sedikit terganggu, namun ia mencoba tidak protes.


Nabila memakan roti buatan suaminya dengan lahap, bahkan dia harus membuat Denis memasak kembali, ketika dua tangkup roti yang sebelumnya dibuat oleh Denis habis dalam sekejap, tapi dia masih menginginkannya lagi.


********


Sisa air dari rambut Denis yang masih agak basah dan mengenai wajah Nabila, saat Denis mencium pipinya, membuat wanita itu terpaksa membuka matanya.


Percintaan bersama sang suami, yang terjadi setelah subuh tadi, membuat badannya lemas, sehingga tertidur kembali dan bangun lebih lambat daripada suaminya.


"Kamu mau ngantor, sayang?" Kata Nabila yang melihat suaminya sudah berpakaian rapi minus jas. Wanita itu kini duduk bersandar di kepala ranjang dengan tubuh berbalut selimut.


"Iya sayang" Jawab Denis sambil mulai mengenakan jasnya. "Ada meeting penting pagi ini", tambahnya.


"Tapi kamu belum sarapan", ucapan Nabila.


"Aku sarapan di kantor aja", kata Denis.


Cupp....Denis mencium kening Nabila sekilas, kemudian ******* lembut bibir menawan milik istrinya, sebelum beranjak pergi. Nabila sempat berpesan agar suaminya pulang cepat, sebelum pria itu benar-benar tak nampak lagi.


Sepeninggalan suaminya, Nabila segera bangkit untuk membersihkan diri, sebelum berkutat kembali dengan pekerjaan sehari-harinya.


Seperti saat ini, setelah selesai dengan sarapannya, ia bergegas dengan beberapa alat kebersihan, masuk ke dalam ruang kerja suaminya. Seperti yang semalam ia rencanakan, bahwa pagi ini, ia akan membersihkan ruangan itu. Karena semenjak dia harus bolak-balik ke rumah maminya untuk menjaganya, dia beberapa kali melewatkan membersihkan ruangan itu.


Nabila merapikan beberapa barang yang ada di atas meja dan berniat menyimpan sebagiannya ke laci agar meja terkesan tak terlalu penuh. Namun, ketika baru saja laci ia tarik, ada sesuatu yang menyita perhatiannya. Sebuah kertas putih segi empat berukuran kecil, yang dia pun pernah menyimpan yang serupa.

__ADS_1


Dengan tangan bergetar, ia mengambil kertas itu. Lututnya tiba-tiba lemas bagai tak bersendi, sehingga memaksanya harus menjatuhkan tubuh diatas kursi putar milik suaminya, tatkala dengan jelas matanya membaca siapa nama yang tertulis di kertas itu.


__ADS_2