Menunggu Cintamu Berkembang

Menunggu Cintamu Berkembang
Belum Siap


__ADS_3

Nabila melangkahkan kakinya semakin cepat hingga sampai di depan pintu apartemen tempat tinggalnya. Setelah pintu terbuka, ia segera masuk dan menuju kamarnya. Wajahnya masih menahan malu mengingat peristiwa di dalam mobil yang baru saja dialaminya.


Setelah makan malam, Nabila masuk ke dalam kamar. Badannya terasa capek karena acara jalan-jalan tadi, oleh karenanya dia merencanakan tidur lebih awal. Dia segera membaringkan badannya ke tempat tidur, setelah keluar dari kamar mandi untuk menggosok gigi.


Denis duduk di sofa ruang utama sambil memangku laptop. Dia lebih memilih bekerja daripada tidur, meski sebenarnya ia lelah juga. Tapi, tanggung jawabnya sebagai pemimpin perusahaannya mengalahkan rasa lelahnya. Dia harus membayar liburnya ke kantor hari ini dengan bekerja di rumah malam harinya.


Denis memutuskan menutup laptopnya, ketika dirasa hal-hal yang perlu dikerjakannya malam ini sudah selesai. Jam sudah menunjukkan hampir tengah malam. Diapun merubah posisinya dari duduk menjadi berbaring, kemudian memejamkan matanya yang sudah mulai nampak berat.


Belum Denis masuk ke dalam tidurnya lebih dalam, tiba-tiba terdengar suara jeritan dari kamar Nabila yang membuatnya mau tidak mau segera bangkit. Dia segera bergegas menuju kamar Nabila. Diketuknya pintu kamar istrinya itu namun tak ada sahutan dari dalam.


Denis mencoba memutar handle pintu, ternyata pintu terbuka. Tampak olehnya Nabila yang masih dalam posisi tidur, berteriak dan menangis ketakutan. Denis segera mendekatinya. Tubuh Nabila banyak mengeluarkan keringat dingin.


Denis meng goyang-goyangkan tubuh Nabila pelan sambil berbisik menenangkan istrinya itu. Tak lama kemudian Nabila bangun, masih dalam kondisi ketakutan dan menangis dia memeluk Denis. "Mereka ada disini, mas. Aku takut", ucapnya dengan suara bergetar.


"Nggak ada siapa-siapa disini, cuma ada aku. Kamu tenang ya. Aku akan jagain kamu", ucap Denis lembut kemudian mengecup kening istrinya. Cukup lama Nabila terdiam dalam pelukan Denis, tanpa mau melepasnya sedikitpun.


Denis mendorong sedikit tubuh Nabila sehingga bisa melihat wajah istrinya itu. "Kuambilkan minum ya?", tawarnya. Namun Nabila menolak dengan menggelengkan kepalanya.


Denis merangkum wajah istrinya dengan kedua telapak tangannya. Menatap lembut wajah istrinya yang juga menatapnya. "Kamu akan baik-baik saja disini, ada aku yang selalu jagain kamu ya", ucap Denis dengan mengeja kata demi kata penuh penekanan membuat Nabila lebih tenang.


"Aku ke dapur dulu, kamu tetap disini, biar aku ambilkan minum", Denis mengecup bibir Nabila sekilas sebelum berdiri dan melangkahkan kaki keluar kamar.

__ADS_1


Denis baru mau membuka pintu kamar itu, tiba tiba Nabila dengan cepatnya turun dari tempat tidurnya dan mengejar Denis yang sudah berjalan menjauhinya. Nabila menarik ujung kaos yang dipakai Denis. " Aku ikut", ucapnya memelas.


Sampai di dapur, Denis meminta Nabila duduk di kursi makan, sedangkan dia melangkah ke kulkas untuk mengambil air. Setelah mengambil sebotol air dari kulkas, ia membawanya ke meja makan, menuangkan ke dalam gelas yang dibawanya dan memberikannya kepada Nabila.


Nabila meneguk air dalam gelas itu hingga habis. Denis kemudian duduk di kursi disebelahnya, untuk menawari istrinya sesuatu."Mau aku buatkan susu? atau kuambilkan camilan?", tanya Denis yang di jawab Nabila dengan gelengan kepalanya sambil menuangkan kembali air ke dalam gelasnya yang sudah kosong.


Denis yang baru menyadari pakaian yang di pakai Nabila, hanya menelan salivannya menatap tubuh indah sosok yang ada di depannya. Nabila saat itu hanya memakai tanktop dan celana pendek yang mengeksplor kulit putihnya. Denis sebelumnya tidak pernah melihat Nabila memakai pakaian yang minim, karena memang Nabila hanya mengenakan di dalam kamarnya saat sendiri.


Nabila tak menyadari Denis sedang memperhatikannya. Ia berdiri hendak kembali ke kamar. Ketika akan melangkah, Denis menarik tangannya hingga ia terduduk di pangkuan Denis. Nabila kaget tapi tidak menolak ketika Denis memeluk pinggangnya erat dan menempelkan kepalanya ke punggungnya.


"Nab", suara serak Denis memanggil nama Nabila, membuat Nabila memutar tubuhnya menghadap Denis. Tanpa menunggu izin dari istrinya itu ia mencumbu bibir istrinya, ********** dengan penuh penghayatan. Sesekali cumbuannya turun ke leher dan pundak istrinya. Nabila hanya mengikuti apa yang dimau suaminya itu.


Denis mengangkat Nabila dan menggendongnya menuju kamarnya. Ia kemudian membaringkan Nabila di atas tempat tidurnya yang masih nampak rapi karena beberapa hari tempat tidur itu tak di jamahnya. Ini pertama kali pula, Nabila berbaring di atas tempat tidur suaminya itu.


Melihat wajah istrinya sudah basah, Denis bangkit untuk duduk, tak lupa ia membantu Nabila untuk bangkit dan menyandarkan badannya di kepala ranjang. Ia menghapus air mata istrinya yang masih berderai dengan jarinya, menempelkan keningnya pada kening Nabila. "Kenapa kamu menangis? Apa aku telah menyakitimu?"


Nabila menggeleng, kemudian memeluk erat tubuh Denis. "Maafkan aku ya mas", ucap Nabila sedih.


"Kenapa harus minta maaf", Denis membelai lembut kepala dan punggung Nabila sambil mencium puncak kepalanya.


"Aku masih belum bisa menjadi istri yang baik. Aku belum bisa melupakan malam itu mas, aku takut". Suara tangis Nabila semakin keras, ia memeluk suaminya dengan sangat posesif.

__ADS_1


"Tidak Nab, ini bukan salahmu. Aku akan menunggumu sampai kamu siap. Sekarang tidur ya", ucap Denis sambil membantu istrinya membaringkan tubuh untuk tidur.


"Makasih ya mas", ucap Nabila, yang dibalas oleh Denis dengan senyuman.


Denis kemudian menutup tubuh Nabila dan tubuhnya dengan selimut. Ia mengecup lembut kening Nabila, dan menidurkan diri disampingnya sambil memeluk erat tubuh istrinya yang juga membalas pelukan itu sambil menyusupkan kepalanya ke dada suaminya.


*******


Waktu sudah menunjukkan waktu subuh ketika Denis membuka matanya. Ia bangkit dan menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang pelan-pelan agar tak membangunkan istrinya. Ia turun dan menuju kamar mandi, untuk mandi.


Setelah selesai mandi, Denis memakai sarung dan baju koko kemudian berjalan ke arah Nabila yang masih tertidur. Digoyangkan pelan tubuh istrinya itu sambil di panggil-panggil namanya.


Nabila pun terbangun. Dengan pikiran yang belum tersadar penuh, ia menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang.


"Ayo wudhu dulu, kita sholat subuh, biar ku ambilkan mukena dikamarmu", perintah Denis, sambil mengacak-acak rambut Nabila yang sudah berantakan, kemudian ia berjalan keluar kamar. Sementara Nabila segera masuk ke kamar mandi.


Setelah sholat Denis merebahkan tubuhnya ke tempat tidur. Rasanya ia ingin kembali tidur, karena semalam hanya tidur beberapa jam.


"Mas nggak ngantor? kok mau tidur lagi", ucap Nabila sambil merapikan tempat tidur. Tiba-tiba Denis menarik tangannya, hingga ia jatuh di depan tubuh Denis. Nabila berusaha bangkit, tapi pelukan Denis terlalu erat. Akhirnya ia pasrah, diam dipelukan suaminya.


"Jangan pakai pakaian begini lagi ya kalau lagi berdua, kalau belum siap kumakan. Sakit lihatnya", bisik Denis ke telinga Nabila, kemudian memasang senyum lebar ke istrinya.

__ADS_1


Mendengar ucapan Denis, muka Nabila memerah karena malu. Dia refleks melihat badannya, lalu menutup dadanya dengan cepat dengan kedua tangannya, kemudian berkata, "Maaf ".


Merekapun akhirnya terlelap kembali.


__ADS_2