
Dengan perasaan marah sekaligus khawatir, Nabila menatap jalanan yang ada di depannya. Besar harapannya suaminya akan baik-baik saja dan tidak melakukan hal-hal yang akan membawanya pada penyesalan di kemudian hari.
Penjelasan dari seseorang yang sedang menyetir di sebelahnya serta beberapa pengawal tadi masih sulit diterima akalnya. Ada perasaan menyesal membiarkan suaminya tadi pergi.
Tak butuh waktu lama untuk mereka sampai ke bangunan tinggi yang di huni ratusan orang itu, karena memang jaraknya dengan bar tadi cukup dekat. Setelah berhasil memarkirkan kendaraan mereka dengan benar, satu - persatu orang yang ada di dalam dua mobil itu turun.
Arsyad memimpin rombongan untuk masuk ke dalam apartemen yang tergolong mewah itu. Tak sulit untuk lolos melewati keamanan gedung itu karena sekuriti cukup mengenal pria bertinggi badan kira-kira 175cm itu. Dia sempat menjadi salah satu penghuni disana selama lebih dari satu tahun.
Mereka masuk ke dalam lift menuju lantai 11. Semua wajah manusia dalam ruangan sempit itu menunjukkan kecemasan, bahkan Nabila sebagai satu-satunya wanita dalam rombongan itu tak jarang mengusap pipinya guna menghilangkan jejak air mata yang tak sengaja lolos dari pelupuk mata indahnya.
Tingggggg..... suara khas dari lift terdengar memburu perasaan wanita itu, diikuti gerakan membuka dari pintu lift menuntut mereka untuk keluar dari sana.
Arsyad mengayunkan tangan kirinya diatas kepala dengan cepat, sebagai sinyal pasukan harus bergerak ke arah kanan. Mereka pun menurut. Tibalah kaki Arsyad berhenti di salah satu pintu, kemudian jari telunjuknya menekan benda bulat disamping pintu. Karena tak ada reaksi, Arsyad kembali menekan benda itu dengan jari telunjuknya.
Merasa tak ada hasil dari usahanya, dengan lincah jari Arsyad menekan angka-angka yang ada di daun pintu tepat di depan tempat ia berdiri saat ini. Klekkk, benar saja, gagang pintu yang ditarik mampu membuka pintu dari bahan baja tersebut.
Seiring terbukanya pintu, pandangan Nabila mengarah pada muka Arsyad. Sambil mengerutkan dahinya muncul pertanyaan dalam diri Nabila mengapa Arsyad sangat paham tempat ini. Namun pikiran itu menguap begitu saja melihat Arsyad masuk ke ruangan yang terlihat gelap itu, ia langsung mengikuti dari belakang. Sementara para pengawal Denis, dengan kode yang diberikan orang penting setelah tuan mudanya itu, harus pasrah menunggu di luar pintu.
Masuk ke dalam ruangan itu lebih dalam, nampak cahaya terpencar dari salah satu kamar yang terbuka sebagian. Arsyad mendekati kamar itu, kemudian mendorong pintu itu cukup keras. "Brakkkkkkk", suara pintu membentur dinding membuat salah satu orang yang ada di dalam ruangan itu terperanjat kaget.
Wanita berambut panjang yang awalnya bergelung di dada seorang pria yang tengah terlelap disampingnya itu bangkit, sambil menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya.
__ADS_1
Sambil menggelung rambutnya, dengan santainya ia berkata, "Kakak mengganggu saja, untung sudah selesai, coba kalau____".
Namun ucapannya seketika terhenti tatkala melihat seorang wanita yang dia kenal datang dari arah pintu dan kini sudah ada dibelakang Arsyad yang sedang menutup mata sambil menarik rambutnya.
"Nabila?", gumam ia dalam hati sambil matanya melihat dengan penuh tanda tanya ke arah Nabila.
"Apa yang kamu lakukan disini?" Tanya wanita itu salah tingkah.
Nabila sama kali tak peduli dengan pertanyaan wanita yang ada di depannya, yang tak lain adalah Jenica, ketika ia merasa mengenali kemeja warna maron yang tercecer di lantai. "Deggggggg", jantungnya serasa berhenti berdetak, namun ia mencoba tetap kuat, berharap pikiranya salah.
Tanpa meminta izin si pemilik tempat tinggal itu, Ia memberanikan diri mendekati tempat tidur yang ada di hadapannya. Menengok siapa gerangan pemilik tubuh yang tengah terbujur membisu itu. Sementara suara Jenica mengumpat tak karuan keberatan dengan keberadaan Nabila dan Arsyad di situ, namun tak sedikitpun mengganggu niatan Nabila yang terus berjalan pelan ke arahnya.
Seketika Nabila merasakan kakinya sudah tak bertulang, lidahnya kelu, pandangannya kabur karena lelehan air mata yang turun begitu saja, ketika tau siapa pria yang berbaring di depan matanya itu. Dengan perasaan marah, bercampur sedih, kecewa, putus asa, ia mencoba untuk kuat.
Nabila berhasil mendaratkan telapak tangannya dengan keras ke pipi Jenica, membuat Jenica mencoba mengulus-elus pipi itu karena apa yang di lakukan Nabila meninggalkan rasa panas.
Jenica akan bergerak membalas perbuatan Nabila, namun dengan cepat Arsyad menahan tubuhnya. Jenica yang berteriak-teriak tak terima dengan sikap Nabila dan Arsyad hingga membuat Denis tersadar.
Denis yang baru saja membuka mata mencoba mengamati sekelilingnya dan mengembalikan penuh kesadarannya, tatapan matanya berhenti pada keberadaan seorang wanita yang tengah berdiri tak jauh darinya, yang sedang menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya sembari terisak. Ia berniat bangkit, namun diurungkan tatkala melihat tubuhnya hanya dilapisi selimut, sedangkan pakaiannya tak sadar entah ada dimana.
"Shit!", umpatnya, sambil memukulkan genggaman tangannya ke kasur, membuat Jenica dan Arsyad yang sedang tarik menarik mengalihkan perhatian ke arahnya namun ia tak peduli.
__ADS_1
"Nab", panggil Denis dengan keras namun terdengar sendu, membuat si empunya nama melihat ke arahnya dengan tatapan kecewa.
Tanpa sepatah kata, Nabila berlari meninggalkan tempat itu. Arsyad yang sedari tadi menahan tubuh Jenica agar tak melukai Nabila, segera melepaskannya, kemudian dengan cepat mengejar Nabila yang sudah tak tampak dalam pandangan matanya.
Denis yang melihat peristiwa itu, segera bangkit dan bersegera memakai pakaiannya yang tercecer di lantai. Namun, Jenica tak tinggal diam. Ia menarik tangan Denis agar pria itu tak pergi kemana-mana, tapi Denis tak mempedulikannya, dengan cepat ia menepis tangan wanita itu dan melanjutkan memakai pakaiannya.
"Jangan pergi, aku tau kau masih mencintaiku", seru Jenica sambil melingkarkan tangannya ke pinggang Denis.
"Lepas!", bentak Denis sembari melepas tangan Jenica dari tubuhnya.
"Aku tau aku salah, tapi aku melakukan ini agar kamu kembali lagi bersamaku. Aku masih cinta sama kamu Denis dan aku tau kamu masih mencintaiku", ucap Jenica yang kini sedang menahan kaki Denis dengan kedua tangannya.
Rahang Denis mengeras. Ia memutar badannya, kemudian membungkuk meraih kedua pundak Jenica dengan kedua tangannya agar berdiri. Jenica menurut, sambil menghapus air mata yang sudah tumpah membasahi kedua pipinya, ia bangkit.
Namun ternyata semua di luar harapannya. Bukannya memeluk dan menenangkan dirinya, Denis justru menarik dan menekan rahang Jenika dengan jari-jarinya, sehingga membuat wanita itu kesakitan.
"Cinta? Omong kosong! Apakah kau juga selalu bicara cinta dengan orang-orang yang telah tidur denganmu hah? Asal kau tau, sejak aku melihat sendiri kau tidur dengan orang lain, saat itu juga cintaku untukmu sudah mati! Cintaku hanya untuk istriku, bukan wanita murahan sepertimu. Jika karena peristiwa ini, Nabila kenapa-kenapa, aku akan membuat perhitungan denganmu", ucap Denis yang kemudian melepaskan tangannya dari wajah Jenica dengan sedikit dorongan sehingga membuat tubuh Jenica terhuyung ke belakang hampir jatuh, lalu ia berlalu pergi dari tempat itu.
_____________
**Mohon maaf untuk para readers yang kecewa dengan alur cerita ini. Saya sangat menghargai pendapat anda semua.
__ADS_1
Buat yang masih setia dengan cerita Denis dan Nabila, hari ini rencana author akan crazy up. Tungguin aja ya 😀
selamat membaca, semoga suka 😘😘😘**