Menunggu Cintamu Berkembang

Menunggu Cintamu Berkembang
Patah Hati


__ADS_3

Waktu makan malam tiba, Nabila yang perutnya lapar turun ke bawah untuk makan malam.


Mak Sumi telah menyiapkan makan malam di meja, dia juga masih nampak di dapur mencuci peralatan dapur yang telah digunakan untuk memasak.


Nabila menarik salah satu kursi di ruang makan tersebut dan duduk disana. Mak Sumi yang menyadari kehadiran Nabila, meninggalkan pekerjaannya kemudian menghampiri menantu majikannya tersebut.


"Non Nabila sendiri? Apa tuan muda tidak ikut makan?", tanya Mak Sumi.


" Tuan muda sedang keluar, mak. Jadi saya makan sendiri", jawab Nabila sambil tersenyum, lalu membalik piring yang ada di depannya dan mengisinya dengan nasi dan pelengkapnya.


"Non, nyonya tadi telpon katanya baru pulang besok karena hujan lebat", kata Mak Sumi yang kemudian diiyakan oleh Nabila, setelah itu mak Sumi kembali ke Dapur.


Setelah makan malam Nabila kembali ke kamarnya. Berjam-jam ia bergelut dengan ponselnya agar tidak mengantuk, karena dia ingin menunggu Denis pulang.


Denis memang berpesan agar Nabila tidak perlu menunggu kepulangannya. Namun, kesadaran akan posisinya sebagai istri membuat ia tak menghiraukan pesan suaminya itu.


Sampai tengah malam, yang di tunggu tak kunjung datang. Nabila yang sudah mulai mengantuk akhirnya tertidur dengan posisi duduk bersandar pada kepala dipan.


Sekitar pukul 02.00 akhirnya Denis datang. Ia membuka pintu kamarnya pelan sambil mengamati situasi di dalamnya. Setelah tau Istrinya sudah tidur ia masuk dan membersihkan diri di kamar mandi.


Saat Denis hendak mengambil bantal, mengetahui posisi tidur istrinya yang kurang nyaman ingin memindahkannya, tapi diurungkan karena masih marah dengannya. Denis memilih untuk tidur di sofa.


Sadar suaminya sudah datang dan tidur di sofa, setelah sholat subuh, Nabila menghampiri Denis. Digoyang-goyangkannya tubuh suaminya pelan, sambil sesekali mulutnya meminta Denis bangun dan mengerjakan sholat subuh.


Cukup lama perjuangan Nabila membangunkan suaminya itu. Akhirnya, Denis bangkit dan berjalan malas menuju kamar mandi.


Setelah sholat, Denis ingin melanjutkan tidurnya di sofa. Tapi karena merasa badannya kurang sehat, ia memilih menghempaskan tubuhnya di kasur. Dia tidak mempedulikan Nabila yang saat duduk di pinggiran tempat tidur dan menatapnya.

__ADS_1


"Pulang jam berapa kemarin? " Tanya Nabila ragu yang kemudian tidak direspon sama sekali oleh suaminya, bahkan suaminya malah membelakanginya sambil erat memeluk guling.


Nabila hendak beranjak dari duduknya, tapi tiba-tiba di kagetkan oleh Denis yang berhegas bangkit dan berlari ke kamar mandi. Karena pintu kamar mandi terbuka, terdengar apa yang sedang terjadi di dalamnya.


Nabila mendekati pintu kamar mandi, nampak Denis yang muntah-muntah. Ia pun masuk kedalam, meletakkan tangan di belakang leher dan memijat dengan lembut suaminya yang terus mengeluarkan isi perutnya di wastafel.


Setelah dirasa tidak ada lagi yang bisa dimuntahkan, Denis membasuh mulutnya. Dia hendak kembali ke tempat tidur dengan dibantu oleh Nabila yang memapahnya karena badanya nya saat itu sangat lemas.


Setelah membantu membaringkan badan suaminya diatas tempat tidur, Nabila pergi kedapur. Dia membuat secangkir teh hangat dengan sedikit jahe di dalamnya. Sebelum meninggalkan dapur, ia minta tolong membuatkan semangkuk bubur kepada Mak Sumi yang kalau itu sudah ada di dapur.


Nabila meletakkan teh di nakas, kemudian ia membangunkan suaminya dan membantunya untuk duduk. Nabila mengambil cangkir yang berisi teh tersebut, kemudian meletakkan mulut cangkir di bibir Denis. Nabila meminumkan nya pelan hingga tersisa sedikit.


"Mau dikerokin", ucap Nabila sambil meletakkan cangkir di atas nakas. Denis hanya menggeleng.


"Aku minta maaf ya atas sikapku kemarin", kata Nabila sambil menatap Denis yang sedang memandangi langit langit. Denis hanya mengangguk, kemudian mengubah posisinya menjadi membelakangi Nabila. Nabila hanya membuang nafas pelan, melihat sikap suaminya.


Nabila selesai mandi. Saat dia baru membuka pintu kamar mandi, ada yang mengetuk pintu kamar. Nabila segera membukanya, ternyata Mak Sumi yang datang sambil membawa semangkuk bubur. Setelah mengucapkan terimakasih, Nabila menutup pintu itu kembali.


"Segera kemasi barang-barangmu, nanti malam kita pulang ke Indonesia", kata Denis, saat mendengar Nabila baru masuk ke dalam kamar tanpa melihat ke arah istrinya itu.


Perasaan bersalah kembali muncul mendengar ucapan Denis itu, namun dia tak bisa berbuat apa-apa. Dia segera mengemasi pakaiannya dan pakaian suaminya.


********


Sore itu akhirnya mereka sampai di apartemen. Denis langsung masuk ke dalam kamarnya. Sejak peristiwa di Hamburg itu, hubungan mereka yang sudah mulai dekat kembali merenggang.


Nabila segera mengetuk pintu kamar Denis dan memintanya ke meja makan karena makan siang sudah siap. Denis pun menuruti apa yang diperintahkan Nabila.

__ADS_1


Mereka duduk saling berhadapan, tanpa bicara. Nabila meletakkan nasi dan lauk ke piring Denis dan piringnya. Ketika baru mau menyuapkan makanan ke mulut, bel berbunyi.


"Pergilah, tutup auratmu!", perintah Denis. Nabila pun menurut, dia masuk ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya, sedangkan Denis berjalan untuk membuka pintu bagi tamunya.


Saat Nabila keluar dari kamarnya, dia kaget melihat tamu yang datang adalah asisten suaminya. Arsyad sudah duduk disalah satu kursi di tempat makan. Denis yang memintanya untuk ikut makan malah setelah tau asistennya itu belum makan malam.


Arsyad tampak sangat kaget ketika mendapati Nabila ada di tempat itu. Dia melihat Nabila dan Denis bergantian. Ada banyak pertanyaan yang muncul dipikirannya, tapi coba untuk di tahannya.


"Sayang, tolong ambilkan 1 piring lagi untuk dia", pinta Denis dengan lembut, yang tentu saja ucapannya mengejutkan Nabila. Sejak kapan Denis menyebutnya dengan sebutan sayang. Namun Nabila menurut, melakukan apa yang diperintahkan suaminya.


"Sayang? Apa hubungan boss dengan Nabila apa mereka berpacaran? Kenapa malam-malam dia ada disini? Apa mereka kumpul kebo?", Arsyad bertanya-tanya dalam hati, tetapi matanya tak lepas dari Nabila.


Denis yang mengetahui Arsyad terus mengawasi istrinya merasa geram. Dipukulkannya gelas dengan sendok di depan muka Arsyad. " Woiiii.... lihat apa loe? Dia sudah ada yang punya", teriak Denis hingga mengagetkan Arsyad yang akhirnya memilih menundukkan pandangannya.


Mereka bertiga makan dengan tenang tanpa ada yang bicara sama sekali. Setelah semua selesai makan, Denis berdiri dan memutari meja mendekati Nabila.


"Setelah selesai, masuklah ke kamarmu", kata. Denis yang kemudian mengecup lembut puncak kepala istrinya yang tentu saja membuat Nabila terperanjat dan begitu juga Arsyad. Denis kemudian berjalan ke ruang tamu di ikuti Arsyad dibelakangnya.


Sedangkan Nabila setelah membereskan meja makan, dia segera masuk ke dalam kamar sesuai perintah suaminya.


Denis memeriksa berkas-berkas yang tadi di bawa Arsyad. Dia meminta Arsyad ke Apartemen bukan sekedar berkaitan dengan masalah kantor, tapi sengaja ingin menunjukkan kepada asistennya itu bahwa Nabila adalah istrinya, karena sejak mengetahui bahwa asistennya itu punya hati ke istrinya dia sedikit kuatir.


Denis yang sedang memeriksa berkas-berkas, tau bahwa saat ini Arsyad sedang memandanginya dan berusaha menerka apa yang sedang dipikirkan asistennya itu.


"Nabila adalah Istriku, aku menikahinya sudah lebih dari sebulan, jadi jangan berharap kau bisa tetap mendekatinya!" Ucap Denis, tanpa melihat ke arah Arsyad. Dia masih sibuk memeriksa berkas-berkas itu.


"Sialan! Dari mana dia tau?", kata Arsyad dalam hati.

__ADS_1


" Ten__tentu boss, ucap Arsyad dengan terbata.


Mengetahui Gadis pujaannya sudah menjadi milik bossnya, Arsyad merasa terpukul dan patah hati. Andai suami Nabila itu orang lain dia masih punya harapan, tapi kenyataannya tidak seperti itu. Tidak mungkin dia menghianati bossnya, bahkan berhayal saja ia tidak berani.


__ADS_2