
Nabila yang sedari tadi duduk bersandar di tembok samping pintu kamar tamu yang kini ditempati oleh suaminya, segera bangkit, tatkala melihat dokter keluar dari tempat itu dengan didampingi papinya.
"Dok, bagaimana keadaan suami saya?" Tanya Nabila dengan mata yang nampak begitu sembab.
Dokter yang sedang berjalan pelan, menghentikan langkahnya dan menghadap ke arah Nabila. Keningnya nampak berkerut memandangi Nabila dan Dahlan secara bergantian, sebelum ia menjawab pertanyaan yang dilemparkan wanita yang ada di hadapannya.
"Anda Istrinya?" Tanya dokter dengan tatapan aneh ke arah Nabila. Pria itu kemudian memalingkan wajahnya sekilas ke arah Dahlan, bermaksud minta penjelasan.
"Ya dok, dia putri saya, sekaligus istri dari Denis", kata Dahlan, membuat sang dokter menganggukkan kepalanya tanda paham.
"Tuan Denis tidak apa-apa, hanya kelelahan saja. Sepertinya beliau kurang istirahat dan kurang asupan makanan", kata sang dokter, sebelum kemudian berpamitan untuk pergi.
Merasa bersalah dengan kondisi suaminya, membuat air mata Nabila yang tadinya sudah mengering, kini kembali meluber. Dan karena kelelahan, akhirnya membuat wanita itu tertidur meringkuk di lantai di samping pintu kamar yang Denis tempati.
Kreekkkk.....bunyi pintu dibuka dari dalam, sesaat sebelum Nadira melangkahkan kakinya keluar kamar, hendak memanggil adiknya atas permintaan Denis yang baru saja membuka matanya.
"Nabila!" Seru Nadira ketika melihat kondisi adiknya. Ada perasaan bersalah menyelimuti wanita itu, mengingat sikapnya tadi kepada sang adik.
Bukannya apa-apa, sebenarnya dia tadi hanya ingin memberikan sedikit pelajaran kepada adiknya, sekaligus menguji bagaimana persaan adiknya itu kepada suaminya. Namun sepertinya ia menyesal, karena ia merasa karena sikapnya, kini kondisi adiknya terlihat memilukan.
Nadira berjongkok di dekat Nabila, kemudian menggoyangkan dengan pelan tubuh Nabila. "Dek, bangun!" Kata Nadira dengan lembut, beberapa kali, hingga berhasil membuat Nabila membuka matanya perlahan.
"Kakak!" Seru Nabila, tatkala matanya mengindra, siapa kini orang yang ada di depannya. Dengan gerakan cepat ia bangkit untuk duduk.
"Maafkan kak Dira ya, dek", kata Nadira.
"Bagaimana keadaan Mas Denis, kak?" Nabila tak merespon permintaan maaf dari kakaknya, karena terlalu khawatir dengan kondisi suaminya. "Izinkan aku menemuinya", pinta Nabila dengan nelangsa.
Nadira tersenyum tipis. "Masuklah, Denis mencarimu!" Ucap Nadira.
Mendengar ucapan kakaknya, Nabila lagi-lagi meneteskan air mata. Namun kali ini air matanya adalah air mata bahagia. Dia bangkit dengan segera dan berjalan masuk ke dalam kamar tamu.
Nabila berjalan perlahan mendekati Denis yang terlihat sedang memejamkan mata. "Mas", panggil Nabila pelan, namun bisa di dengar oleh si empunya nama.
Denis menoleh ke arah datangnya Nabila sambil tersenyum tipis. Hal itu membuat perasaan Nabila bergemuruh, hingga ia tak mampu lagi untuk melangkahkan kakinya. Nabila hanya diam terpaku, sementara butiran-butiran bening menetes kembali membasahi wajahnya yang ayu.
"Sayang", ucap Denis lemas. Dia menggerakkan tangannya, melambai meminta Nabila mendekat.
__ADS_1
Tanpa menunggu lama, Nabila begitu saja berlari dan memeluk tubuh suaminya yang masih terasa panas. Tangisnya ikut pecah seketika. Dengan sayang, Denis memgelus kepala dan punggung istrinya.
"Kenapa nangis?" Tanya Denis, namun tak ada respon dari istrinya. Nabila hanya menangis saja.
"Aku minta maaf ya. Aku sering sekali abai sebagai suami. Aku memang salah. Jadi pantas jika kamu marah", kata Denis
"Aku yang seharusnya minta maaf. Aku terlalu egois. Karena aku kamu jadi sakit begini", kata Nabila diselingi isikan tangis.
"Kamu nggak salah sayang, aku yang salah", kata Denis lembut.
"Aduh!" Seru Denis pura-pura kesakitan. Dengan cepat Nabila melepaskan pelukannya, kemudian melihat wajah suaminya.
"Kenapa?" Tanya Nabila dengan khawatir.
Denis tersenyum lebar. "Nggak apa-apa, aku hanya ingin melihat wajah istriku saja", kata Denis.
"Aauuu" Denis berteriak karena Nabila tiba-tiba Nabila mencubit pinggangnya. Bukannya menghentikan tindakannya, Nabila malah memukul-mukul pelan dada suaminya.
"Happ", Denis menahan kedua pergelangan tangan istrinya, bermaksud menghentikan perbuatan istrinya yang sebenarnya sama sekali tak menyakitinya itu.
"Lebih baik kamu memberikan banyak pukulan di tubuhku, daripada harus melihatmu tak acuh padaku", kata Denis sambil menatap sendu kearah istrinya. Nabila membalas tatapan Denis dengan hangat.
"Di kompres lagi ya", kata Nabila sambil tangannya meraih waslap yang kemudian ia peras dan ia letakkan di kening Denis.
"Permisi nona, tuan, saya membawakan bubur untuk tuan", kata seorang pelayan muda yang berdiri di tengah pintu yang belum terbuka keseluruhan.
"Masuk mbak", kata Nabila sambil menoleh ke arah datangnya suara tadi. Membuat pelayan itu berjalan mendekatinya, kemudian memberikannya semangkuk bubur hangat yang harum.
"Terimakasih ya mbak", kata Nabila sesaat setelah menerima semangkuk bubur udang bawang.
"Makan ya mas, aku suapin", kata Nabila sambil menyendok bubur itu.
Dengan telaten, Nabila menyuapkan sendok demi sendok bubur ke mulut Denis. "Enak, ya mas?" Tanya Nabila, dan di jawab Denis dengan anggukan.
"Kamu sudah makan?" Tanya Denis, ketika Nabila menyodorkan lagi sesendok bubur di depan mulutnya.
"Sudah", jawab Nabila singkat.
__ADS_1
"Beneran?" Tanya Denis lagi dan dijawab Nabila dengan anggukan dan senyuman.
"Kamu harus jaga kesehatan, sayang. Biar dedeknya sehat", kata Denis sambil mengelus perut istrinya yang masih rata.
Tiba-tiba Denis mengubah posisinya. Ia memeluk perut Nabila dan menciumnya beberapa kali. "Anak papa sehat terus ya. Jangan nyusahin mama", kata Denis seolah-olah berbicara dengan anaknya yang masih dalam perut.
Nabila tersenyum mendengar ucapan Denis. Merasa lucu dengan tingkah suaminya itu. "Papa jangan khawatir, mama pasti jagain aku. Dan aku nggak akan nyusahin mama", kata Nabila dengan suara yang dibuat seperti anak kecil sembari mengelus lembut kepala suaminya.
Denis mengangkat kepalanya, sehingga kini mukanya tepat berada di hadapan Nabila. Laki-laki itu kemudian mengapit kepala istrinya dengan kedua telapak tangannya dan memberikan kecupan di kening istrinya.
"Terimakasih ya sayang atas semuanya", kata Denis. Ia kemudian menempelkan bibirnya diatas bibir ranum milik istrinya. Dinikmatinya bibir itu dengan gerakan lembut, ******* dan menyesap bergantian seolah mengungkapkan rindu yang dalam.
Nabila pun tak menolak apa yang dilakukan suaminya. Bahkan sesekali ia membalas gerakan bibir suaminya. Ada rasa rindu juga yang nampak dirasakan wanita itu, akan sentuhan lembut suaminya.
Namun setelah beberapa saat, Nabila dengan kuat mendorong tubuh suaminya, sehingga ciuman yang mulai memanas itu berakhir. "Malu nanti kalau ada yang lihat", kata Nabila sesaat setelah melihat ke arah pintu yang masih terbuka sebagian.
Denis menahan tangan Nabila, yang nampak hendak meninggalkan kamar itu. "Kamu mau kemana?" Tanya Denis.
"Mau balikin mangkuk ke dapur, mas", kata Nabila sambil menoleh ke arah suaminya.
"Nanti saja. Jangan kemana-mana. Disini saja", kata Denis dengan wajah penuh pengharapan.
"Sebentar aja, mas", kata Nabila dan disambut gelengan kepala oleh suaminya. Sehingga mau tak mau Nabila pasrah untuk tidak pergi dari tempat itu.
Denis menggeser tubuhnya, kemudian menepuk tempat tidur yang kosong. "Berbaringlah disini", kata Denis.
Nabila menurut. Wanita itu duduk dan kemudian berbaring disamping suaminya.
Denis melingkarkan tangannya ke tubuh Nabila dan menggeser posisinya, sehingga kini kepalanya sejajar dengan perut istrinya. Beberapa kali, ia kembali mencium perut itu. Sebelum kemudian, membenamkan wajahnya di situ. Sementara Nabila dengan sayang mengelus kepala suaminya, yang rambutnya sudah mulai gondrong dan tak terurus baik.
"Besok kita pulang ke rumah ya, sayang", kata Denis. "Aku kangen masakanmu", katanya lagi. Dan diiyakan oleh istrinya.
"Aku sayang banget sama kamu, sayang", kata Denis tanpa melepas pelukannya dari tubuh Nabila.
"Aku juga mas, aku sayang banget sama mas Denis", kata Nabila.
________________
__ADS_1
**Edisi bucin nih😉
Happy Reading 🌻🌻🌻**