Menunggu Cintamu Berkembang

Menunggu Cintamu Berkembang
Keributan


__ADS_3

Seperti hari-hari biasanya, setiap jam makan siang Denis hanya duduk di dalam ruangan kerjanya sambil menikmati bekal yang di buatkan istrinya, kecuali ada klien mengajak makan siang.


Saat sedang menikmati makan siangnya, Denis mendengar keributan di luar ruangannya. Tiba-tiba pintu ruangannya terbuka, seorang wanita yang tak lain adalah Vanya masuk dengan wajah cemberut di ikuti Karina di belakangnya.


"Maaf Tuan, tadi saya sudah melarang nona ini masuk, tapi dia marah-marah dan memaksa tetap masuk", ucap Karina dengan wajah ketakutan.


" Kembali ke tempatmu!" Perintah Denis, sambil mengibaskan tangannya. Karinapun keluar dari ruangan itu.


"Kenapa kakak tidak bilang kalau kakak sudah menikah? Apa wanita yang kutemui di Jerman itu istrimu?", kata Vanya dengan emosi yang meluap.


"Duduklah dulu", kata Denis sambil menutup kotak makan yang isinya sudah habis dia makan. Vanya pun menurut, ia duduk di sofa dengan kaki kirinya disilangkan diatas kaki kanannya sehingga pahanya terekspos kerena ia memakai rok mini. Denis yang melihatnya segera mengalihkan pandangan.


"Sialan! dasar gadis penggoda!", gerutu Denis dalam hati.


"Apa tujuanmu datang kesini?", tanya Denis sambil membuka laptopnya. Dia sama sekali tidak melihat orang yang diajak bicara.


" Aku ingin minta pertanggungjawaban kakak!" Seru Vanya.

__ADS_1


Denis menarik ujung bibir kirinya, senyumnya mengejek. "Pertanggungjawaban? Pertanggung jawaban apa? Menyentuhmu saja aku tak pernah", kata Denis, kemudian meng geleng-gelengkan kepalanya dan dia tetap sibuk dengan pekerjaannya.


"Gara-gara rencana pertunangan ini batal, orang tuaku jadi malu", kata Vanya sambil pura-pura terisak.


Denis tetap diam tak menggubris wanita itu.


"Lagian siapa sih dia? cantik juga nggak, keluarganya juga nggak jelas, dan hanya pegawai biasa. Apa yang bisa di banggakan dari istri seperti dia?" Kata Vanya ketus.


Sementara diluar ruangan, setelah Nabila diizinkan masuk oleh Karina, dia membuka pintu ruangan suaminya itu dengan hati-hati. Nabila berjalan ke arah Denis sambil berucap, "Sudah selesai makannya? mana ko_tak___", Nabila tidak melanjutkan kata-katanya ketika menyadari kehadiran Vanya.


Nabila hanya berdiri diam di depan meja kerja Denis, setelah pandangannya sebentar mampir ke arah Vanya.


Nabila tau bahwa ucapan Denis hanyalah pura-pura. Tanpa berkata apa-apa dia berencana ingin langsung pergi dari tempat itu, tapi langkahnya terhenti ketika melihat Vanya Datang menghampirinya.


"Oh jadi ini ya perebut laki orang", kata Vanya dengan tatapan sinisnya. " Dasar kampungan!", serunya lagi sambil melipat kedua tangannya kedepan.


Nabila membalas tatapan Vanya. Dia kemudian mengernyitkan dahinya dan tersenyum mengejek sambil berucap, "Perebut? Anda punya kacakan di rumah? Coba anda ngaca, siapa yang lebih pantas disebut perebut hah... "

__ADS_1


Mendengar kata-kata Nabila, Vanya naik Darah. Dia hendak melayangkan tangannya ke pipi Nabila, tapi dapat di tahan oleh tangan Nabila. Denis yang melihat tidak coba melerai, ia menikmati tontonan yang ada di depannya.


"Oh ya satu lagi.... Gue memang kampungan, tapi Denis tetap ngejar-ngejar gue. Ingat ya, Denis yang ngejar-ngejar gue, bukan gue yang ngejar-ngejar dia", Nabila kemudian melangkah keluar, sebelumnya ia sengaja menabrakkan pundaknya ke pundak Vanya.


"Awaaass kamu ya wanita nggak tau diri", umpat Vanya dalam hati.


" Kak, lihat tuh istrimu seperti orang yang tidak berpendidikan", ucap Vanya merajuk.


Denis tak mempedulikan Vanya. Ia masih memikirkan sikap istrinya barusan yang menurutnya berani. Dia pikir Nabila akan diam saja dengan sikap Vanya. Tapi dia senang dengan sikap istrinya itu.


"Aku mau kerja lagi, kamu pulanglah, bikin ribut aja disini", ucap Denis.


" Ahhhh.... Kalian sama-sama menyebalkan", teriak Vanya yang kemudian mengambil tasnya yang ada di sofa dan beranjak pergi dari ruangan itu. sepanjang perjalanan keluar dari ruangan itu sampai dia naik mobil, mulutnya tak berhenti mengomel dan mengumpat.


Dalam perjalanan menuju ke tempat tinggalnya, dia tampak sibuk ingin menghubungi seseorang. Beberapa kali dia melakukan panggilan keluar tetapi nomor yang dihubungi tak kunjung terhubung. mulutnya terus mengumpat ketika nomor yang dihubunginya tidak terhubung.


sampai panggilan keempat, akhirnya panggilan telepon itu terhubung.

__ADS_1


"Datanglah ke rumah sekarang, aku ada tugas untukmu!" perintah Vanya pada orang yang ada di ujung telepon.


__ADS_2