Menunggu Cintamu Berkembang

Menunggu Cintamu Berkembang
Menikah Lagi


__ADS_3

Seharian ini Nabila tetap berusaha menghubungi suaminya, meskipun tak pernah berhasil. Ada perasaan marah, jengkel, sedih, juga sedikit rindu yang menghinggapinya. Namun perasaan marah paling dominan, hingga akhirnya membuat wanita itu mengambil keputusan untuk berhenti menghubungi suaminya lagi.


Ia mencoba untuk pura-pura tuli dan bodoh agar tidak terpengaruh oleh suara hatinya. Melakukan apa saja yang ia suka, seperti saat ini, sudah hampir 2 jam dia berendam di bathup sambil mendengarkan musik hingga tanpa sadar waktu sudah mulai menjelang malam.


Jam menunjukkan pukul 18.35 ketika bunyi bel terdengar nyaring. Nabila yang baru saja menyelesaikan aktivitas di dapur, bergegas mengenakan kerudung dan membuka pintu.


Saat dia berhasil membuka pintu, terlihat dia orang wanita dengan dandanan yang tidak biasa tersenyum manis kepadanya.


"Nona Nabila?" Tanya salah seorang wanita.


"Iya, saya Nabila. Ada apa ya, mbak?" Tanya Nabila.


"Kami dari wedding organizer. Kami diminta tuan Denis untuk menjemput anda", kata salah seorang wanita tadi.


Nabila mengerutkan keningnya, kemudian memandang dua wanita itu bergantian. "Tunggu sebentar, saya ganti baju dulu", kata Nabila yang kemudian berlalu masuk kembali ke dalam rumah.


"Bolehkah saya merias anda di sini sekarang, nona" Kata seoarang wanita yang duduk disampingnya di dalam sebuah mobil.


"Rias? Untuk apa saya harus berdandan?" Tanya Nabila.


"Tuan Denis sudah menyewa kita untuk mengurusi kebutuhan nona, jadi tolong kerjasamanya", kata wanita tadi sambilan menempelkan kedua telapak tangannya di depan dada.


"Sebentar ya mbak. Saya ingin ada kejelasan dulu. Ini kita mau kemana? Dan untuk apa?", kata Nabila tegas.


"Kita akan ke hotel, nona. Untuk menghadiri resepsi pernikahan yang telah dibuat oleh Tuan Denis dengan jasa WO kami", kata wanita itu.


"Resepsi pernikahan? Maksudnya? Suami saya_", tanya Nabila terputus, karena wanita yang ada di depannya langsung memotong pembicaraan.


"Ya, nona. Jadi mohon nona bersedia di rias sekarang karena waktunya sudah mendesak. Kami akan merias anda tipis-tipis, agar terlihat natural, sesuai permintaan klien kami", ucapan wanita itu.


"Saya tidak mau dirias!" Ucap Nabila sambil sudah meneteskan air mata.


"Tapi nona__", wanita itu kebingungan melihat Nabila yang tiba-tiba menangis. Ia kemudian berinisiatif untuk menghubungi Denis.


"Hallo, selamat malam tuan. Nona Nabila tidak mau kami rias" Kata wanita itu. Kemudian ia nampak mengangguk-angguk. "Baik, tuan", ucapnya lagi, sebelum menutup sambungan telepon.


Di sepanjang perjalanan, Nabila hanya diam. Sesekali ia meneteskan air matanya, ketika pikiran-pikiran buruk meyergapnya, hingga akhirnya mereka sampai ke sebuah hotel mewah.


"Mari turun, nona!" Ajak wanita yang ada di samping Nabila sambil membuka pintu mobil.


Setelah mengusap air matanya dengan tisu, ia ikut turun dari mobil. Dengan mata yang berkabut air mata, ia mengikuti kemana langkah dua wanita tadi membawanya. Tanpa ia sadari ada sepasang mata yang kini sedang mengamatinya dan berjalan menuju ke arahnya.


Saat sedang menunggu pintu lift terbuka, tiba-tiba seseorang dengan kuat membalik tubuh Nabila dan memeluknya dengan erat. Nabila sempat kaget dan mencoba melepaskan diri dari pelukan itu.


"Biarkan aku memelukmu sejenak, untuk terakhir kalinya. Setelah ini aku akan benar-benar menjauh darimu dan berusaha melupakanmu. Aku akan datang kembali jika Denis berani menyakitimu dan saat itu aku tidak akan melepaskanmu lagi", kata Andre dengan suara parau karena tangisan yang sudah tak bisa ia tahan.


Entah dapat dorongan darimana, Nabila yang tadinya menolak pelukan itu, tiba-tiba membalasnya. Airmata yang tadi ia tahan, kini meluap sempurna, hingga membasahi jas milik Andre. "Aku tidak tau apa yang terjadi setelah ini, Denis begitu misterius. Apakah aku sanggup bertahan dengan ini semua. Kenapa Denis tidak sepertimu yang begitu mencintaiku", batin Nabila, yang tengah berpikiran suaminya telah menikahi wanita lain.


Andre mendorong tubuh Nabila dari pelukannya, kemudian menghapus air mata yang masih menggenangi wajah wanita itu. Ia tersenyum hangat pada Nabila meski guratan kesedihan sangat nampak di wajahnya yang ramah. "Semoga kamu bahagia", ucapnya.


"Dan aku yakin ada wanita luar biasa yang tengah menunggumu, mas", ucapan Nabila sebelum wanita yang tadi bersamanya memintanya untuk segera masuk ke dalam lift yang baru saja terbuka.


"Bolehkah aku menjadi orang yang akan mengantarmu pada suamimu", kata Andre sambil menawarkan tangannya. Nabila sempat bingung, namun ia menerima tawaran Andre dengan menyelipkan tangannya ke lengan Andre yang kekar.

__ADS_1


Di dalam lift, Nabila hanya diam mencoba menenangkan hatinya. Sesekali memejamkan matanya, hingga tiba pintu lift terbuka. Dia ikut keluar dari lift, begitu Andre keluar dari sana karena tangannya masih melingkar kuat di lengan Andre.


"Mas", panggil Nabila, seraya menatap Andre yang juga menatapnya dengan hangat. Wanita itu mencoba menetralkan hatinya, berharap prasangkanya bahwa suaminya menikah lagi adalah salah, meski dia harus menyiapkan diri jika itu memang terjadi.


Tak jauh dari tempatnya berdiri, dia melihat sosok yang tak asing baginya, meski kondisinya agak gelap karena lampu memang sengaja dibuat temaram. Semakin ia mendekat, ia semakin yakin dengan pikirannya tentang sosok laki-laki yang kini sedang mengamatinya itu. "Fendi! Kenapa dia ada disini?", batinnya.


"Ayo, kak!" Seru Fendi sambil sambil maju mendekati kakaknya dan mengulurkan tangan.


Namun Andre menepisnya dengan halus sambil menyunggingkan senyum tipis. "Biar aku saja yang melakukan", kata Andre membuat Fendi mundur teratur.


Ketika Nabila bersama yang lain berjalan di lorong menuju Ballroom, tiba-tiba lampu yang semula mati, tiba-tiba menyala. Perasaan bingung, kaget, takjub bercampur jadi satu di hati Nabila, tatkala di sisi kanan dan kiri lorong menuju ballroom telah berjajar fotonya bersama Denis dengan ukuran yang cukup besar.


Entah siapa yang membuat foto-foto itu, hingga Nabila tak pernah menyadari bahwa ada orang yang tengah mengambil fotonya bersama suami dengan berbagai macam situasi. Ada foto saat mereka menghabiskan waktu berdua di balkon villa, berkendara di atas motor, di kebun bunga, di rumah maminya, di kantor, hingga di warung bakso aci.


*Memenangkan hatiku bukanlah


Satu hal yang mudah


Kau berhasil membuat


Ku tak bisa hidup tanpamu


Menjaga cinta itu bukanlah


Satu hal yang mudah


Namun sedetik pun tak pernah kau


Berpaling dariku


Beruntungnya aku


Dimiliki kamu


Dari cantiknya paras dan hati


Kau jadi harmoni saat kubernyanyi


Tentang terang dan gelapnya hidup ini


Kaulah bentuk terindah


Dari baiknya Tuhan padaku


Waktu tak mengusaikan cantikmu


Kau wanita terhebat bagiku


Tolong kamu camkan itu


Meruntuhkan egoku bukanlah


Satu hal yang mudah

__ADS_1


Dengan kasih lembut kau pecahkan


Kerasnya hatiku


Beruntungnya aku


Dimiliki kamu*


Sayup-sayup terdengar suara seseorang yang amat ia kenal, menyanyikan lagu itu. Seketika air mata yang memang sudah meluber, kini semakin menderas saja. Tanpa ragu ia mempercepat langkahnya menuju sumber suara.


Seketika kakinya berhenti melangkah tatkala telah nampak suaminya berjalan ke arahnya, masih dengan menyanyikan lagu yang sama.


Denis berlutut di hadapan Nabila, meraih tangan wanita itu dan mengecupnya dengan lembut. Kemudian ia berdiri mengecup kening dan memeluk istrinya dengan hangat. "Izinkan aku menjadi orang paling bahagia dengan memilikimu seutuhnya", ucap Denis yang kemudian dibalas pelukan yang semakin erat oleh Nabila.


"Kenapa tak memberitahuku tentang ini, kamu jahat! Lihatlah betapa jeleknya aku saat ini!" Seru Nabila sambil memukuli dada suaminya, setelah pelukan itu terlepas dan matanya menyapu isi ruangan itu.


"Bagiku kamu selalu cantik", ucap Denis.


"Hu....hu...hu... " Nabila kembali menangis dan memeluk suaminya. "Aku kira kamu menikah lagi hu....hu...hu....", lanjutnya.


Andre melangkah mendekati Denis yang kini tengah menggandeng tangan Nabila dan hendak melangkah ke panggung. "Selamat ya, bro! Perlakukan dia dengan baik, jangan sampai loe melukainya sedikitpun", ucapnya, lalu memeluk sahabatnya. Tak lama kemudian pria itu meninggalkan tempat itu dengan kesedihan yang sangat.


******


"Aku tidak menyangka, ternyata kamu bisa menyanyi, mas", goda Nabila sambil memeluk suaminya yang baru saja selesai mandi dan turut duduk disampingnya.


Malam ini mereka menyengaja menginap di tempat yang sama dengan tempat mereka menggelar resepsi pernikahan yang baru sekitar satu jam selesai.


Denis memutar kepalanya menghadap Nabila. Pria itu mengecup sejenak bibir istrinya. "Cuma karena kamu aku bisa menyanyi. Baguskan suara suamimu ini ketika bernyanyi?" Ucapnya.


"11-12 sama suara kaleng krupuk, sih. Ha....ha...ha" Kata Nabila diiringi tawa.


"Apa kamu bilang?" Denis menggelitik Nabila hingga Nabila memohon ampun padanya.


"Cukup mas, cukup", kata Nabila yang tak tahan dengan apa yang dilakukan suaminya.


"Cium atau gelitik?" Tanya Denis sambil jari tangannya masih sibuk menggelitik tubuh istrinya.


"Cium", kata Nabila spontan.


Denis pun menghentikan aksinya. "Cium!" Perintah Denis sambil memejamkan matanya.


Nabila pun menurut dan memberikan ciuman di kedua pipi suaminya. Denis yang berharap lebih, sampai beberapa detik tak mendapatkan apa yang diinginkan akhirnya membuka matanya.


"Kok gitu doang. Yang ini mana?", kata Denis sambil menunjuk bibirnya.


"Nggak mau!" Kata Nabila


"Beneran nggak mau?" Tanya Denis sambil mengangkat jarinya hendak menggelitik kembali.


"Iya....iya... ", kata Nabila pasrah sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Denis.


Cup....Nabila menempelkan bibirnya di atas bibir Denis sekilas lalu beranjak berdiri dan berlari naik ke atas tempat tidur yang dipenuhi mahkota bunga mawar.

__ADS_1


Denis yang tak terima menyusulnya. Mensejajari duduk istrinya yang bersandar di kepala ranjang. Ia meraih dagu istrinya dengan lembut dan membenarkan bibirnya di atas bibir menggoda milik istrinya.


Ciuman yang tadinya lembut berubah menjadi panas, tatkala Nabila dengan semangat membalas ciuman itu. Malam itu menjadi malam yang begitu hangat dan bergelora bagi dua insan yang tengah dilanda asmara. Entah berapa lama mereka menghabiskan waktu bercinta, hingga kelelahan menghinggapi mereka. Kamar yang tadinya dipenuhi suara rayuan dan desahan, kini telah sunyi senyap.


__ADS_2