
"Siapa bi?" Tanya Vivi pada pelayannya yang baru saja masuk ke dalam rumah setelah beberapa saat lalu membukakan pintu untuk orang yang memencet bel di pintu utama rumah mewah itu.
"Tamunya nona Nadira, nyonya", ucap pelayan itu dengan sopan.
"Siapa?" Tanya Vivi lagi.
"Hmmm..." Wanita paruh baya itu nampak mengingat-ingat. "Tuan Denis, nyonya", katanya ketika sudah ingat siapa nama tamu yang baru saja ditemuinya.
"Benarkah kak Denis?" Vanya yang ada diruangan itu meletakkan ponselnya yang sedari tadi membersamainya.
"Iya, nona", jawab pelayan itu.
"Bawa minum ke depan! Dan kamu tidak perlu memberitahu Dira kalau ada orang yang mencarinya!" Perintah Vivi yang kemudian melangkah ke ruang depan, menyusul putrinya yang lebih dulu hendak menemui Denis.
"Kak Denis!" Seru Vanya mengalihkan mata Denis yang sedari tadi memperhatikan mobilnya, dimana istrinya sedang ada di dalamnya.
Dengan percaya diri Vanya menyelipkan menyelipkan tangannya ke lengan Denis. Namun, dengan cepat Denis menepisnya. Hal itu membuat Vanya geram. Namun gadis itu berusaha menutupi kekesalannya.
Tak menyerah, Vanya kembali menarik tangan Denis. "Ayuk kak, masuk dulu!" Ucapnya.
"Maaf, aku kesini tidak untuk bertamu. Aku hanya ingin bertemu Nadira", ucap Denis.
"Nadira lagi nggak ada di rumah, Nis. Kamu duduk dulu gih, sambil menunggu Nadira pulang" Kata Vivi yang baru keluar dari balik pintu bercat putih itu.
"Iya kak, yuk duduk", tambah Vanya sambil menarik tangan Denis agar mau masuk ke dalam rumah. Tapi, tak sedikitpun kaki Denis bergeser dari tempatnya semula.
"Katanya bibi tadi, Nadira masih tidur?" Kata Denis
"Pelayan itu ngg....nggak tau, kalauuu semalaman Nadira nggak pulang", sahut Vivi sedikut gugup.
"Kalau begitu, saya pulang dulu, tante", kata Denis.
__ADS_1
"Tunggu dulu, Nis", teriak Vivi tatkala melihat Denis hendak melangkah pergi. "Bentar lagi paling Dira dah pulang, biasanya dia pulang jam segini. Ayo tunggu di dalam, tuh sudah dibuatkan minum", kata Vivi.
"Biar saya nunggu di mobil saja, tan" Kata Denis.
"Jangan dong, nggak enak dong saya. Masak tamu, saya buat nunggu di luar", kata Vivi yang kemudian berjalan ke arah Denis. Mengambil tangan laki-laki itu dan menariknya perlahan. "Ayo!", ajaknya lagi.
Kali ini Denis kesulitan untuk menolak, ia pun mengikuti arahan Vivi. Hingga, belum sampai badannya ia jatuhkan ke kursi, tiba-tiba ada suara menginterupsinya. "Mas", suara dari ujung pintu memalingkan pandangan Denis serta membuat laki-laki itu kembali menegakkan tubuhnya.
"Sayang!" suara Denis penuh keterkejutan. Pria itu kemudian langsung menghampiri istrinya, membuat dua wanita yang kini tengah duduk di atas sofa empuk berwarna putih itu, cemberut.
"Dira nggak ada di rumah. Kata tante Vivi, Dira nginap di rumah temannya, tapi sebentar lagi biasanya pulang", ucap Denis.
"Ayo duduk dulu, kita tunggu Dira pulang!" Ajak Denis. Pria itu kemudian melingkarkan tangannya ke pinggang Nabila, menuntunnya untuk ikut duduk.
Nabila menurut saja dengan perlakuan Denis. Kini ia tengah duduk di sebelah Vanya, yang nampak melihatnya dengan tatapan tidak bersahabat dan mengejek. Nabila menyadari hal itu, namun ia mencoba tidak mempedulikannya.
"Sayang ya nis, kamu nggak jadi mantu tante. Coba jadi mantu tante, pasti dah jadi mantu kesayangan", kata Vivi.
Denis hanya tersenyum kecil, mendengar ucapan Vivi. Tak sekalipun ia ingin membuka mulutnya untuk menanggapi. Tangannya membelai lembut telapak tangan istrinya yang ada diatas pahanya, seolah ingin meminta istrinya tak perlu mendengarkan apa yang diucapkan wanita itu.
"Omm Dahlan dari dulu sayang sama kamu, tapi sayangnya kamu tidak membalas hal yang sama", kata Vivi, dengan penuh penekanan.
"Harusnya Denis mendapatkan wanita yang sepadan dengannya. Bukan perempuan yang berasal dari kelas sosial yang jauh dibawahnya, apalagi tak jelas asal usulnya", kata Vivi penuh sindiran.
Tak betah dengan cemoohan Vivi, membuat Denis akhirnya terpaksa membuka mulut. "Saya akan membalas semua kebaikan omm Dahlan dengan menjaga dan menyayangi, Nabila", ucapan Denis membuat Nabila terkesima. Wanita itu menatap suaminya dengan teduh.
"Bagaimanapun Nabila juga__" Ucapan Denis terpotong oleh ucapan Nabila.
"Jangan, mas" Ucap Nabila diiringi celengan kepala.
"Semua harus tau, sayang. Agar mereka memperlakukanmu dengan adil", kata Denis dengan lembut. Nabila hanya tertunduk lesu.
__ADS_1
Vivi mengernyitkan Dahinya, mencoba mencerna apa yang diucapkan anak muda yang ada di hadapannya itu.
"Nabila adikku, tante" Ucap seorang perempuan yang baru saja muncul dari ruangan lain, membuat semua mata tertuju padanya.
"Kak, Dira!" Ucap Nabila pelan, tidak terdengar yang lain.
Penampilan Nadira tampak berantakan, sepertinya baru saja ia bangun tanpa membersihkan dulu dirinya. Dari pakaian yang ia kenakan, Denis bisa menebak bahwa semalam Nadira melakukan rutinitas kesukaannya, aktivitas yang dulu sering dilakukan bersama wanita itu ketika mereka berdua masih menjadi sepasang kekasih dulu, yaitu clubbing.
Entah sejak kapan gadis itu berdiri di sana dan apa saja yang sudah di dengar Nadira, dari perbincangan di ruangan itu. Tapi yang jelas Nadira tak ingin adik kandungnya jadi bahan cemoohan ibu tirinya.
"Apa maksudmu, berkata seperti itu?" Tanya Vivi pada Nadira yang kini sudah berdiri mendekat ke Nabila.
"Memang kenyataannya Nabila adik Dira, te. Adik kan dinding", kata Nadira penuh penekanan, membuat mata Vivi mendeliki seolah tak percaya.
"Vanya, tolong panggilkan Dadymu!" Perintah Vivi pada sangat anak. Tanpa membantah, Vanya yang juga tak kalah kaget dengan kenyataan yang ia dapati, dengan cepat melangkah pergi dari ruangan itu.
"Tolong jelaskan ke tante, Dira? Apa maksud semua ini? Apa kalian sengaja ingin mengacaukan kehidupan tante?" Kata Vivi mencoba tenang.
"Kehidupan tante yang mana? Yang ada, tante lah yang mengacaukan kehidupan kami" Bantah Nadira dengan berani. "Dulu Nadira diam, karena Dira nggak mau Papi tersakiti", tambahnya lagi.
Nabila berdiri mensejajari kakaknya, mengusap lengannya perlahan. "Sudah kak, aku kesini bukan untuk melihat yang seperti ini. Aku hanya ingin mengajakmu menemui mami. Mami sedang tidak sadarkan diri", ucapnya pelan. Air matan sudah membasahi sudut matanya.
"Mami? Mami kenapa, dek?" Tanya Nadira bingung.
"Sudah dir, nanti kita ceritakan. Sekarang ayo ikut kita!", kata Denis yang kini sudah mulai bangkit dari duduknya.
"Aku ganti baju dulu sebentar", kata Nadira yang kemudian berlari meninggalkan ruang tamu.
"Ayo sayang kita keluar!" Ajak Denis sambil menarik pelan tangan istrinya. Bersamaan mereka hendak keluar, Dahlan muncul di ruangan itu dengan Vanya yang mengekorinya di belakang.
"Nabila, Denis, Ada apa kalian kemari?" Tanya Dahlan heran. Belum sempat sepasang suami istri itu menjawab, Vivi lebih dulu mendahului untuk bicara.
__ADS_1
"Mas Dahlan, apa benar Nabila anakmu?" Tanya Vivi dengan nafas terengah-engah.
Dahlan tak langsung menjawab. Ia melihat ke arah Nabila sekilas, kemudian menarik nafas panjang. "Ya, dia anakku", ucapnya. Tentu saja hal itu membuat Vivi kecewa. Tubuhnya terhuyung kebelakang, sehingga tubuhnya terduduk diatas kursi. Wanita itu masih tak terima.