
Denis masih saja mengikuti kemana saja istrinya berada. Sedari tadi ia merayu istrinya yang usianya kandungannya sudah menginjak 39 minggu agar mau melahirkan secara Caesar saja. Sejak membaca buku tentang ibu yang melahirkan, tadi siang, ia merasa katakutan jika istrinya harus melahirkan secara normal.
Dalam buku itu disebutkan, badan manusia hanya mampu menanggung rasa sakit hingga 45 Del.Tetapi selama bersalin ibu akan mengalami hingga 57 Del, sama dengan rasa sakit akibat 20 tulang yang patah bersamaan. Denis tak sanggup membayangkan jika istrinya harus merasakan sakitnya yang demikian dasyat.
"Sayang, kumohon ikuti saranku. Aku nggak mungkin kuat untuk melihatmu kelak, jika merasakan kesakitan yang begitu besar", kata Denis yang kini memeluk istrinya di sofa ruang tengah.
Nabila merangkum wajah suaminya dengan kedua telapak tangannya. "Mas, Denis. Lihat aku!" Lirih suara Nabila, diikuti ciuman hangat sejenak di bibir suaminya. "Semua ibu ingin melahirkan secara normal, begitu juga aku. Bisa melahirkan secara normal adalah salah satu bentuk kebahagian besar buat seorang ibu, meskipun sakit yang dirasakan luar biasa. Namun mas perlu tau, bahwa rasa sakit itu tak seberapa dibanding kebahagiaan yang dirasakan seorang ibu", ucap Nabila dengan sangat menyentuh.
Denis menyandarkan kepalanya dipundak istrinya, Nabila pun membelai lembut wajah suaminya agar pria itu sedikit tenang dan bisa menerima apa yang ia mau. "Kalau begitu kita punya anaknya satu saja ya, biar kamu nggak kesakitan terus", ucap Denis.
Mendengar ucapan suaminya seperti itu, Nabila dengan cepat menggeser tubuhnya hingga Denis hampir saja terjungkal. "Nggak mau! Aku penginnya punya anak banyak. Habis anak pertama di sapih, aku ingin punya anak lagi. Nanti anak kedua selesai di sapih, aku mau punya anak lagi, begitu terus", kata Nabila sambil berkacak pinggang.
Denis menepuk keningnya. "Alamakkk...!" Serunya.
Nabila bangkit dari tempat ia duduk. "Mau disini aja? Nggak mau tidur?" Kata Nabila sebelum melangkah pergi.
Denis yang gemas dengan sikap istrinya segera bangkit dan mengejar istrinya. Dengan gerakan cepat namun hati-hati, ia mengangkat tubuh Nabila yang semakin padat dan berisi ke dalam gendongannya, menuju kamar mereka.
*******
"Sayang, aku meeting dulu ya. Kalau butuh apa-apa, kamu panggil Karina, ya", pesan Denis pada Nabila. Pria itu mengecup kening istrinya dengan sayang, sebelum meninggalkannya sendirian di ruangannya.
Sudah sekitar tiga minggu ini Nabila ikut pergi ke kantor bersama Denis. Bukan karena Nabila menginginkannya, namun justru Denislah yang memaksanya untuk ikut. Alasannya, pria itu tidak mau istrinya sendirian di rumah ketika kandungannya sudah mendekati HPL.
Bahkan Denis sengaja merenovasi ruangannya dan menyediakan tempat tidur, agar istrinya tetap nyaman meski berada di kantor.
Tak berselang lama dari kepergian Denis, Nabila pun memutuskan untuk keluar ruangan. Jika biasanya dia akan jalan-jalan ke ruangannya bekerja dulu, kali ini ia berencana pergi ke kantin karena rasa lapar mulai datang, padahal sebelum berangkat ke kantor tadi, ia sudah sarapan dengan porsi yang cukup besar.
"Nona Karina, tolong nanti kalau suamiku mencariku, beritahu dia aku sedang di kantin", kata Nabila pada sekretaris suaminya yang sedang sibuk dengan komputernya.
"Baik", kata Karina dengan senyuman ramah.
Saat itu kantin nampak sepi, karena memang saat itu bukan waktunya jam sarapan maupun makan siang. Hanya nampak ada beberapa koki dan penjaga kantin yang nampak sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Seorang penjaga kantin yanga menyadari kedatangan Nabila, segera menghentikan aktivitasnya, lalu berjalan mendekati Nabila.
__ADS_1
"Nyonya, ada yang bisa saya bantu?" Tanya penjaga kantin.
"Aku ingin makan, perutku lapar sekali", kata Nabila sambil menggosok perutnya yang terlihat cukup besar.
"Maaf nyonya, untuk menu makan siang belum selesai di masak para koki, karena memang belum saatnya jam makan siang", kata penjaga kantin.
"Apa artinya, tidak ada makanan sama sekali?" Kata Nabila dengan tampang kecewa.
"Ada, tapi itu menu sarapan pagi tadi. Tidak mungkin saya menawarkan pada anda", kata penjaga kantin sedikit takut.
Nabila tersenyum tipis. "Mengapa tidak? Selama makanan itu bersih dan tidak basi, aku tidak masalah", kata Nabila.
"Baik nyonya. Anda ingin saya siapkan apa?" Tanya penjaga kantin.
"Ada menu apa saja?" Tanya Nabila.
"Menu pagi yang kami siapkan tidak terlalu banyak nyonya, karena memang yang sarapan di sini tidak banyak sebagaimana makan siang. Tadi pagi kita ada menu sup ayam, ayam lalapan, nasi goreng, dan rawon, nyonya", kata penjaga kantin.
"Kelihatannya enak semua, bisakah aku minta satu porsi untuk setiap menu?" Pinta Nabila.
"Apa tidak merepotkanmu, mengantar makanan ke ruangan suamiku?" Tanya Nabila.
"Tentu saja tidak, nyonya", kata penjaga kantin.
"Baiklah, kalau begitu aku tunggu di ruangan suamiku ya. Tolong antarkan makanannya kesana", kata Nabila yang kemudian melangkah pergi meninggalkan kantin itu.
Tak perlu menunggu lama, dua orang pelayan kantin datang mengantar makanan yang tadi dipesan oleh Nabila. Wanita itu segera menyantap makanannya dengan tidak sabar, namun baru menu pertama ia habiskan, ia dikejutkan kedatangan Denis yang tiba-tiba.
"Sayang, kamu sedang apa?" Tanya Denis sambil berjalan mendekati istrinya.
"Kamu ngagetin saja mas", kata Nabila sambil memegangi dadanya. "Kok udah selesai meetingnya, baru juga sejam-an", kata Nabila.
Denis mengecup kepala Nabila sebelum duduk di samping wanita itu. "Belum selesai. Aku hanya ingin memastikan kondisimu baik-baik saja", kata Denis yang kemudian mengambil ciuman singkat di bibir istrinya.
__ADS_1
"Tidak perlu khawatir sayang, aku baik-baik saja", kata Nabila yang kemudian mengambil piring berisi nasi goreng. "Segeralah kembali, nanti yang lain menunggumu. Atau kamu mau aku suapin dulu?" Kata Nabila sambil menyodorkan nasi goreng ke dekat wajah suaminya.
Denis menggelengkan kepalanya, "Aku masih kenyang", katanya. "Kenapa pesan makanan sebanyak itu? Apa kamu akan menghabiskannya?" tanya Denis.
"Tentu saja", jawab Nabila singkat sambil terus makan, membuat Denis hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Nabila menghabiskan semua makanan yang tadi ia pesan, tanpa tersisa. Perut yang kenyang, membuatnya mengantuk. Ia memutuskan untuk mengganti pakaiannya dengan daster yang ada di lemari pakaian di sebuah bilik, di dalam ruangan suaminya, sebelum akhirnya ia tidur di atas kasur empuk yang ada di situ.
Wanita itu terbangun tatkala ia merasakan ada seseorang yang mengganggu tidurnya. Benar saja, ketika ia perlahan membuka matanya, Denis yang ikut naik ke atas tempat tidur kini sedang memeluknya erat, sambil menciumi lehernya.
"Mas, ngapain?" Tanya Nabila namun Denis hanya diam saja masih melanjutkan aktivitasnya yang tadi. Nabila menjauhkan kepala Denis, "Ini kantor sayang, jangan begini", kata Nabila.
"Kantor aku sayang. Udah biarin saja", kata Denis yang kemudian melanjutkan aksinya kembali.
Namun tiba-tiba nampak Nabila mengaduh kesakitan sambil memegangi perutnya. Melihat istrinya seperti itu Denis segera menghentikan aktivitasnya. Pria itu nampak sekali khawatir, "Kamu kenapa sayang?" Tanya Denis.
"Perutku sakit mas", katanya sambil menggenggam tangan suaminya.
"Aku panggilkan dokter? Atau kamu mau apa?" Ucap Denis dengan panik.
"Nggak usah mas, kayaknya kontraksi palsu kayak biasanya", kata Nabila
"Ya udah, kamu istirahat saja ya, biar aku jagain disini", kat Denis dengan raut cemas yang belum hilang.
Nabila meletakkan bantal di kepala ranjang, dibantu Denis. Ia lalu bersandar di sana. Dengan lembut ia membelai wajah suaminya. "Kamu terusin aja kerjanya, sayang. Aku nggak apa-apa kok, sudah biasa".
Merasa istrinya akan baik-baik saja, Denis memutuskan untuk keluar bilik melanjutkan pekerjaannya. Namun belum sampai Denis keluar bilik, Nabila merasakan mulas lagi di perutnya, namun ia mencoba bersikap biasa agar tidak menyusahkan suaminya.
Nabila masih merasakan mulas yang datang dan pergi, sendirian di atas tempat tidur. Sesekali ia menarik seprai tempat tidur, ketika mulasnya dirasa sangat sakit.
Denis yang merasa sudah terlalu lama meninggalkan istrinya sendirian di tempat tidur, memutuskan untuk bangkit dari kursi kerjanya dan masuk kembali ke bilik. "Sayang!" Seru Denis tatkala berhasil membuka pintu ruangan yang tidak terlalu luas itu.
Melihat istrinya meringkuk sambil menahan sakit, Denis melangkahkan kakinya dengan cepat. "Kamu kenapa, sayang?", tanya Denis yang membungkuk di samping tempat tidur sambil mengusap keringat di wajah istrinya.
__ADS_1
"Sakit, mas", kata Nabila sambil menggenggam tangan suaminya.