Menunggu Cintamu Berkembang

Menunggu Cintamu Berkembang
Bukan Siapa-siapa


__ADS_3

Denis yang bangun tidur tak mendapati istrinya berada disampingnya, segera bangkit dan keluar dari kamarnya setelah lebih dulu membersihkan diri di kamar mandi.


Wangi khas bumbu yang ditumis, menggoda indra penciuman pria yang kini tengah menuruni tangga untuk menuju dapur itu. Senyum mengembang sempurna tatkala dugaannya terbukti. Ia mendapati Nabila yg kini tengah memunggunginya sembari melakukan aktivitas di dapur dengan luwes.


Dengan langkah perlahan ia mendekati istrinya. Kedua tangannya seketika melingkar sempurna ke perut langsing Nabila ketika jarak yang ia buat semakin dekat dengan istrinya. "Sedang masak apa, sayang? Harum sekali", bisik Denis ke telinga Nabila sembari dagunya menempel di pundak wanita itu, membuat bulu kudunya meremang.


"Mas, jangan begini!" Malu dilihat Bi Parti", lirih Nabila. Kini kedua matanya beralih melirik ke Bi Parti yang sedang mencuci perabot dapur. Wajah Nabila nampak memerah karena malu. Tanpa diperintah, Bi Parti memilih keluar dari dapur untuk melakukan aktivitas lainnya.


Denis membalik tubuh Nabila menghadapnya. Tangannya menarik pinggang wanita itu sehingga tubuh mereka kini sangat dekat.


"Duduklah dulu di situ!" Dagu Nabila menunjuk kursi makan. "Masakannya sebentar lagi matang, kita sarapan bersama", ucap Nabila yang kini kedua matanya bertemu dengan kedua mata Denis yang tengah menatapnya dengan intens.


Cup....bibir Denis menempel di bibir istrinya dan ia menikmatinya dengan lembut. Nabila tak membalas ciuman itu, juga tidak meolakknya.


"Sudah", ucap Nabila sesaat setelah berhasil mendorong dada pria dihadapannya itu menjauh sekaligus melepas ciumannya.


Nabila tersenyum mengejek melihat Denis yang kecewa terhadap penolakannya. Pria itupun akhirnya memilih duduk di kursi dengan dagunya bertumpu pada meja. Sesekali matanya melirik ke arah istrinya dengan senyum licik.


Tak berapa lama, semua menu sarapan telah terhidang di meja makan. Nabila dan Denis makan dengan lahapnya, tanpa ada yang bersuara sama sekali, hingga suara bel memecah keheningan di ruangan itu.


"Biar aku saja yang membukakan pintu, kau lanjutkan saja makanmu" Cegah Denis ketika melihat Nabila akan berdiri membukakan pintu. Ia pun meletakkan sendoknya di atas piring dan berlalu dari tempat itu.


"Selamat pagi, tuan", sapa seorang pria sopan bersamaan dengan terbukanya pintu oleh Denis.


"Berani kamu kesini! Apa kamu lupa dengan apa yang aku katakan kemarin? Kamu mau cari mati ya!", kata Denis dengan pongahnya.


"Maaf tuan, saya cuma mau nganter sarabi ini buat Nabila. Dulu dia suka sekali makan ini, tuan", tutur Arif sambil menyerahkan bungkusan yang ia bawa kepada Denis.

__ADS_1


Denis tak menyambut pemberian Arief. "Bawa kembali makananmu. Kamu pikir aku tidak bisa membelikan istriku makanan seperti itu? Bahkan tokonya sekalipun bisa kubeli", ucap Denis dengan tangan bersedekap. Arifpun menarik kembali tangannya.


Denis memutar tubuhnya hendak beranjak pergi, namun ia menggurungkan niatnya."O ya, satu lagi. Panggilah istriku dengan panggilan yang lebih sopan. Aku tidak suka kamu memanggilnya dengan namanya saja", kata Denis.


"Maaf tuan, karena saya sudah terbiasa sejak kecil memanggil seperti itu. Dulu Nabila, eh nona Nabila lebih suka di panggil dengan nama saja", jelas Arif dengan tatapan tidak suka.


"Itu dulu, bukan sekarang!" Bentak Denis.


Tanpa menunggu jawaban apapun dari Arif, seketika itu Denis memilih untuk pergi dari tempatnya berdiri sekarang dan kembali masuk ke dalam rumah.


Denis yang saat itu memang dalam kondisi menahan amarahnya, menutup pintu dengan kerasnya, sehingga menimbulkan suara yang terdengar sampai ke ruang makan dan membuat Nabila bangkit dari duduknya dan berjalan menuju sumber bunyi itu.


Belum sampai Nabila ke titik yang ia maksud, ia berpapasan dengan suaminya yang hendak naik tangga.


"Siapa mas?", Tanya Nabila pelan


"Bukan siapa-siapa", Jawab Denis dengan nada malas. Wajahnya menunjukkan ekspresi kekesalan. Ia naik ke lantai dua meninggalkan Nabila yang kini tengah sibuk dengan pertanyaan-pertanyaan yang ada di otaknya.


Nabila duduk di sebelah Denis yang sedang memandang lurus kedepan. Matanya kini menelisik wajah tampan itu ingin mencari tau apa gerangan yang membuat mood suaminya tiba-tiba berubah.


"Mas, tadi sarapannya belum kelar. Apa mau dilanjutkan lagi? Aku ambilin ya?"


Denis menggelengkan kepala, lalu memutar kepalanya sejenak, melihat istrinya, sebelum akhirnya pandangannya kembali fokus ke depan.


"Kamu kenapa mas? Ada masalah sama kerjaan?"


Denis sama sekali tak menjawab pertanyaan Nabila, namun tiba-tiba ia mendekat dan memeluk wanita itu dengan erat. Kepalanya kini ia sandarkan di dada istrinya. "Berjanjilah sampai kapanpun kamu tidak akan meninggalkanku!", serunya.

__ADS_1


Nabila membalas pelukan Denis. Wanita itu memeluk kepala Denis dengan sayang sembari memejamkan matanya. "Bukan aku yang akan meninggalkanmu, mas. Tapi, mungkin kamulah yang akan meninggalkanku", kata Nabila dalam hati.


*******


Bunyi ketukan pintu dan suara panggilan dari Bi Parti membuat Denis yang baru saja memejamkan mata, harus melepaskan pelukan Nabila dan bergegas membuka pintu setelah sebelumnya ia terlebih memakai celana yang tadi sengaja ia tanggalkan.


Jam dinding menunjukkan pukul 10.15 ketika Denis berjalan ke arah pintu. Setelah sampai di pintu kamar, Denis membuka pintu sedikit, lalu melongokkan kepalanya keluar. "Ada apa bi?" Tanyanya malas.


"Di depan ada pak Arsyad, tuan?" Kata Bi Parti sembari tanggannya menunjuk arah ruang tamu.


"Suruh dia menunggu, bi!" Aku mau mandi dulu", perintah Denis. Ia segera menutup kembali pintu setelah Bi Parti mengiyakannya.


Setelah mandi dan berganti pakaian, Denis naik ke atas tempat tidur. Ia mengecupi wajah istrinya dengan maksud membangunkannya. Dan benar saja, tak butuh waktu lama, Nabila mulai membuka matanya.


"Masss....geli ahhh", kata Nabila manja saat Denis masih asyik mengecupi daun telinga istrinya itu.


Suara Nabila memancing Denis untuk menarik mundur badannya, kemudian cupppss bibirnya meraup dengan gemas bibir Nabila yang kini sudah menjadi candu baginya.


"Sudah segitu aja, nanti lagi ya", ucap Denis pada Nabila sembari kedua telapak tangannya menepuk lembut pipi pasangannya itu.


"Buruan mandi, kita balik ke Jakarta sekarang!" Perintah Denis.


"Kita jadi balik hari ini beneran ya?" Kata Nabila dengan suara sedih.


"Iya sayang". Denis tiba - tiba mengangkat tubuh Nabila yang telanjang dan membawanya berjalan menuju kamar mandi. Nabila yang malu menelusupkan wajahnya di leher Denis beserta dua tangganya yang juga dikalungkan disitu.


Sampai di kamar mandi, Denis meletakkan tubuh Nabila di bath up yang sengaja tadi telah ia siapkan. "Mandi yang bersih ya! Aku tunggu di bawah. Jangan berdandan terlalu cantik karena Arsyad nanti yang akan menemani kita balik ke Jakarta. Aku tak suka matanya menikmati kecantikanmu", kata Denis yang kemudian mengacak-acak rambut Nabila sebelum ia keluar dari kamar mandi itu.

__ADS_1


Nabila yang tak terima dengan ucapan suaminya, mengerucutkan bibirnya, sembari membatin, "Jangan dandan terlalu cantik, jangan dandan terlalu cantik, terus saja ngomong begitu. Memangnya selama ini kapan aku suka dandan menor? Pasti gara-gara kebanyakan lihat cewek-cewek kayak Jenica yang suka dandan kayak tante-tante. Huhhh dasar playboy kampung kamu, mas".


Menyadari celoteh batinnya sendiri, Nabila tertawa cukup keras, kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya dan berucap lirih "Jika dulu kamu sering melirik wanita lain, semoga seiring berjalannya waktu hanya aku yang kamu lihat, mas. Sesuai janjiku tadi, mulai saat ini aku akan belajar mencintaimu, semoga begitu juga dirimu"


__ADS_2