
"Sayang, aku ke ruang meeting dulu. Kamu tetap di sini saja, jangan kemana-mana", kata Denis yang kemudian memberikan ciuman hangat di bibir istrinya yang kala itu baru keluar dari kamar mandi.
"Tapi jangan lama-lama ya!" Pinta Nabila sambil merapikan jas suaminya.
"Hemmm", jawab Denis singkat, kemudian pergi meninggalkan ruangan itu.
Nabila mengistirahatkan tubuhnya di atas sofa dengan bantal sofa yang menyangga kepalanya. Ia membuka ponselnya untuk berselancar mencari informasi tentang kondisi tubuhnya.
Sejak tadi malam dia merasa was-was, karena haid yang dua hari lalu didapatnya, tak muncul lagi. Biasanya setiap kali dia haid pasti akan sering berganti pembalut karena darah yang keluar selalu banyak, tapi darah yang kemarin ia dapati sangat sedikit dan hanya sekali saja datangnya.
Jantung wanita itu berdebar kencang, tatkala ia memasukkan kata kunci di sebuah mesin pencarian, yang muncul adalah info serupa, bahwa yang ia alami adalah sebuah tanda-tanda kehamilan.
"Apa aku benar-benar hamil?" Ujarnya pelan, air matanya hampir-hampir saja tumpah, jika saja tiba-tiba tidak ada video call masuk ke nomor ponselnya.
"Kak, Nadira", ucapnya dalam hati tatkala membaca nama kontak orang yang ada di layar ponselnya.
"Adikku sayang", kata Nadira yang kini gambarnya telah muncul di layar ponsel milik Nabila.
"Kakak!" Seru Nabila senang. "Gimana kondisi papi?" Tanya Nabila.
"Papi sehat, tuh lagi ngasih makan kucing-kucing", Nadira memperlihatkan gambar papinya yang sedang beraktivitas.
"Alhamdulillah", kata Nabila
"Dek, papi ngajak berkunjung ke rumahmu. Boleh nggak kita kesana sekarang?" Tanya Nabila.
"Maaf kak, aku lagi ikut ke kantor sekarang", kata Nabila sambil cemberut.
"Ngapain ikut ke kantor? Jadi satpamnya Denis?Denis lagi diincar pelakor ya? Siapa? Sini biar kakak yang ngadepi", kata Nadira. Nampak di layar ponsel, ia berkata sambil menyingsingkan lengan bajunya. Hal itu membuat Nabila tertawa.
"Gimana kalau ntar pas makan malam, kakak sama papi ke rumah?" Kata Nabila memberi tawaran.
"Wah, ide bagus! Ntar aku ajak papi kesana deh. Kamu masak yang enak ya", kata Nadira.
"Ok, deh", jawab Nabila senang.
"Da... Dah... Satpam cantik", kata Nadira yang langsung mematikan ponselnya, sebelum sang adik sempat membalas godaannya.
*******
Nabila nampak sibuk menghidangkan beberapa masakan yang baru saja selesai ia masak, ke atas meja makan. "Sayang, tolong ambilkan serbet makan dilemari atas paling utara ya, empat", kata Nabila.
"Yang ini, sayang?" Denis menunjukkan serbet yang sudah ia ambil.
Nabila menoleh ke arah Denis, sambil memegangi kepalanya. "Iya", kata Nabila pelan.
Melihat Nabila seperti itu, Denis mendekat cepat. "Kenapa, yang?" tanya Denis sambil membantu istrinya untuk duduk.
Nabila hanya menggeleng. "Sedikit pusing aja, nggak apa-apa", sambil tangannya masih memegang erat tangan suaminya.
"Hampir setiap hari begini, masih bilang nggak apa-apa. Besok pokoknya kita harus periksa ke dokter", kata Denis kesal.
__ADS_1
"Nggak usah sayang, nanti istirahat sebentar juga baikan", ucap Nabila sambil memberikan senyum termanisnya untuk menenangkan suaminya yang kali ini ia rasa begitu bawel.
"Kalau begitu kamu duduk istirahat di sini saja, biar aku yang menggantikan pekerjaan kamu. Kamu tinggal mengomando saja", kata Denis yang kemudian menggantikan pekerjaan istrinya.
Tak lama kemudian, suara bel menggema di dalam rumah. "Itu pasti Papi sudah datang", kata Nadira sambil beranjak dari duduknya, namun ditahan oleh Denis.
"Duduklah saja, biar aku yang membukakan pintu", kata Denis yang kemudian meninggalkan Nabila yang hanya bisa pasrah dengan perintah suaminya.
"Masak apa sayang, sampai kecapean?" Tanya Nadira ketika baru masuk ruang makan.
"Kakak!" Seru Nabila yang kemudian beranjak dari duduknya untuk menyambut kakaknya, memberikan ciuman di pipi kiri dan kanan wanita itu.
"Nab", ucap Papi yang sudah menyusul masuk ke ruang makan bersama Denis.
"Papi sudah sehat?" Tanya Nabila yang kemudian menggandeng papinya dan membimbingnya untuk duduk di salah satu kursi di ruangan itu.
"Seperti yang kamu lihat", kata Dahlan
Suasana santai menikmati makan malam ditambah obrolan kecil, membuat rumah yang biasanya sepi, sekarang nampak lebih ramai.
"Maaf, saya tinggal mengangkat telepon dulu", kata Denis saat tiba-tiba ponsel yang ada di kantong bajunya berbunyi, membuat fokus semua orang yang ada di ruangan itu teralihkan kepada dirinya.
Karena cukup lama Denis tak kembali bergabung di meja makan, Nabila memutuskan untuk menyusul suaminya. Raut wajah Denis yang berbeda dengan sebelumnya, membuat Nabila terdorong untuk bertanya, "ada apa, mas?"
Denis menarik rambutnya dan sejenak menutup matanya, sebelum menjawab pertanyaan istrinya. "Bi Atik tadi yang menelpon".
Belum sempat Denis menyelesaikan kata-katanya, Nabila memotongnya. "Ada apa lagi dengan, Jen?"
"Pergilah!" Kata Nabila, saat membaca raut muka suaminya yang bingung.
"Aku sebenarnya tak ingin kesana, tapi aku juga tak ingin mengabaikan amanat mama", kata Denis lesu.
"Pergi saja, mas", kata Nabila dengan berat. Dari lubuk hatinya yang terdalam sejujurnya ia tak ingin melepas suaminya. Sebab sikap Jenica yang dua hari ini terlampau manja dengan Denis, membuatnya tak nyaman. Tepatnya, dia merasa cemburu.
"Aku sebenarnya ingin pergi bersamamu, tapi aku tak mau melihatmu kelelahan, lagian juga ada papi disini", kata Denis sambil mengambil dan meremas lembut jemari istrinya.
Nabila melepaskan tangan suaminya, "Pergilah, jika kamu memang ingin pergi ke sana. Aku baik-baik saja", kata Nabila yang kemudian berlalu begitu saja, meninggalkan suaminya yang merasa tak tenang hatinya.
Setelah berpamitan dengan mertuanya juga istrinya, Denis pun melangkah pergi meninggalkan rumahnya.
Semenjak kepergian Denis, wajah Nabila nampak murung hingga membuat suasana makan malam yang tadinya hangat menjadi kurang nyaman. hingga membuat kedua tamu istimewanya itu undur diri lebih cepat.
Di atas tempat tidur, Nabila hanya membolak - balikkan badannya, karena meski mencoba memejamkan matanya, ia tetap saja masih tak bisa tidur. Padahal waktu sudah hampir tengah malam.
Sesekali Nabila turun dari tempat tidur, membuka jendela kamar, berharap bisa melihat suaminya pulang. Namun, lagi-lagi nihil.
Pikiran wanita itu semakin kemana-mana, tatkala waktu sudah lewat tengah malam, suaminya masih tak kunjung pulang, bahkan menghubunginya saja tidak.
Bukan hanya ingin selalu di temani suaminya, sikap posesif dan manja Nabila akhir-akhir ini juga memang tinggi. Tak ayal, kadang Denis merasa gemas dengan tingkah laku istrinya yang menurutnya mulai berubah aneh.
Nabila yang sempat tidur beberapa jam, terbangun ketika adzan subuh berkumandang. Dengan malas ia masuk ke kamar mandi dan mengambil wudhu untuk sholat. Setelah berwudhu ia baru teringat, bahwa pagi ini ia berencana ingin memeriksa kehamilan.Tapi, ia akhirnya memilih untuk sholat terlebih dahulu.
__ADS_1
Sambil membawa alat tes kehamilan masuk ke kemarin mandi, membuat wanita itu tidak bisa berfikir biasa. Ada ketakukutan yang menghampirinya. Ia takut, lagi-lagi alat itu hanya akan memperlihatkan satu garis, sebagaimana sebelum-sebelumnya ketika ia menggunakannya disaat tamu bulanannya datang terlambat.
Dengan perlahan ia membuka matanya, setelah menetralkan pikiran dan perasaannya, untuk menerima hasil apa saja yang akan muncul dari alat yang saat ini ada ditangan kirinya itu.
Deggg...hampir saja jantungnya melompat, tatkala mendapati kenyataan bahwa alat tes kehamilan itu menunjukkan garis dua berwarna merah muda.
"Aku hamil, aku akan punya anak", ucap Nabila lirih dengan air mata bahagia yang tidak bisa ia bendung datangnya.
Ingin saat ini dia berlari menghambur ke pelukan suaminya sambil mengatakan bahwa dia sedang hamil. Pasti suaminya akan bahagia, sebagaimana dirinya. Namun, rasa sebalnya terhadap suaminya, membuatnya menahan diri untuk melakukan hal itu.
Nabila membuka pintu dengan hati-hati, karena dia yakin suaminya ada di balik pintu itu. karena jam 3 pagi tadi saat suaminya datang dan menggedor pintu, ia sengaja tak mau membukakannya.
Benar saja, ketika pintu terbuka, tubuh Denis yang tadinya bersandar pintu, jatuh kebelakang. Tapi, bukannya menolong, Nabila malah berjalan tanpa mau melihat apa yang terjadi pada suaminya. Padahal Denis juga memanggil-manggil dirinya.
Tak lama kemudian, Denis yang badannya sudah bersih dan segar karena guyuran air, menyusul Nabila yang sedang memasak di dapur. Pria itu melingkarkan kedua tangannya ke pinggang istrinya. Meletakkan dagunya di pundak wanita itu.
"Kamu marah, ya sayang?" Tanya Denis, namun tak digubris oleh istrinya.
"Aku minta maaf ya jika pulang terlalu larut", kata Denis yang lagi-lagi Nabila tetap cuek dengan dirinya.
Denis, menceritakan dengan runut apa yang terjadi tadi malam hingga membuatnya pulang jam 3 pagi, sambil mengekori kemanapun istrinya itu pergi.
Penjelasan dari Denis, harusnya membuat kemarahan Nabila reda, karena dia tau suaminya memang tak macam-macam. Tapi egonya, telah menutupi pikirnya. Wanita itu tetap tak mau memandang ke arah suaminya.
Denis makan dengan lahap nasi goreng yang sudah disiapkan istrinya. Sesekali ia mencuri pandang ke arah istrinya yang hanya mengaduk-aduk saja makanannya.
"Kenapa tidak makan?", tanya Denis yang kini menggeser kursinya mendekat ke istrinya, hingga kakinya bisa menempel dengan kaki istrinya itu.
Pria itu meremas lembut jemari istrinya. "Apa memang kamu sudah tak percaya lagi padaku? Harus seperti apa aku mengatakan, bahwa sama sekali aku tak ada perasaan dengan Jenica. Aku melakukan ini semata-mata karena rasa kemanusian. Itupun awalnya kamu yang menuntutku untuk membantunya", kata Denis.
Pria itu menyendok makanan yang ada di piringnya, kemudian menyodorkan makanan itu kedepan mulut istrinya. "Makanlah", kata Denis lembut. Namun Nabila tidak bergeming.
Melihat sikap istrinya seperti itu, Denis meletakkan kembali sendok itu ke piring dengan kasar. "Jika kamu tidak ingin aku membantunya lagi, aku tak akan membantunya lagi. Biarkan saja dia menderita dan mati pelan-pelan atau bunuh diri", kata Denis kesal.
Pria itu kemudian meninggalkan istrinya yang kini hanya diam merenung.
"Mas tunggu!" Kata Nabila yang berlari kecil mengejar suaminya yang akan masuk ke dalam mobil.
Denis sejenak berhenti, tapi tak menoleh ke arah istrinya, yang kini tengah berdiri dibelakangnya.
"Aku ingin membicarakan sesuatu yang penting", kata Nabila sambil meremas jemari tangannya, berharap apa yang akan ia katakan dapat meredakan kemarahan suaminya.
Tapi alih-alih mendengarkan, Denis justru bergegas masuk ke dalam mobil. Nabila berusaha mengetuk jendela mobil, tapi Denis tak mempedulikannya. Pria itu tetap melajukan mobilnya, meninggalkan Nabila mematung sendirian.
"Aku hamil mas, hamil anakmu", ucap Nabila lirih dengan air mata yang kini tengah membasahi wajahnya.
********
Hamil juga Nabila... senengkan semuanya😘
Bocoran untuk novel kedua saya, novelnya bergenre romantis dramatis, kisah seorang wanita yang penuh pengorbanan merawat anaknya seorang diri, disamping berjuang mencari cinta sejati yang akan mendampingi perjalanan hidupnya. insya Alloh nggak kalah baper sama novel ini. Tungguin ya🌹🌹🌹
__ADS_1