Menunggu Cintamu Berkembang

Menunggu Cintamu Berkembang
Jangan Sedih


__ADS_3

"Jangan pegang", kata Nabila sambil menyingkirkan tangan Denis yang ada di pundaknya.


"Jangan marah sayang, kan bukan kesalahanku. Aku juga sudah menghindarkan, tadi. Aku juga langsung mengenalkan kamu ke dia, agar dia nggak berani macam-macam sama aku", ucap Denis dengan mengusap wajah frustasi.


"Tapi matamu itu. Sukakan lihat pahanya yang mulus", kata Nabila sembari menyilangkan tangannya di depan dada.


"Ya Allah yang....aku nggak lihat pahanya yang. Beneran, berani sumpah!" Kata Denis


"Alasan! laki-laki kalau lihat yang kinclong sedikit pasti langsung main lirik", kata Nabila sambil memasang sabuk pengaman.


Denis mengambil telapak tangan Nabila dan menggenggamnya erat. "Ngapain aku nglirik yang lain kalau istriku jauh lebih cantik", kata Denis membuat Nabila tersipu malu.


"Jangan marah lagi ya! Kamu boleh menghukum aku apapun, aku akan terima, daripada harus melihatmu marah begini", ujar Denis lagi. Pria itu lalu mengecup lembut jemari istrinya.


"Kita mau disini terus?" Kata Nabila ketus, kerena melihat suaminya hanya diam memandangi dirinya. Membuat sang pria itu gelagapan.


"Iya kita jalan sekarang. Kamu mau kemana?" Tanya Denis sambil memegangi kemudi.


"Jalan aja, nanti aku tunjukkan tempatnya", kata Nabila dengan senyum jahatnya. Denispun akhirnya menuruti saja rute yang diarahkan oleh istrinya.


"Kita mau apa sayang kesini?" Kata Denis tatkala istrinya minta berhenti di salah satu kedai manisan terkenal.


Tak menjawab pertanyaan suaminya, Nabila malah begitu saja keluar dari mobilnya berjalan masuk ke kedai manisan. Denis pun pasrah mengikutinya dari belakang.


Nabila memilih tempat duduk yang dekat dengan jendela kaca, setelah memesan beberapa menu. Tak perlu menunggu lama, pelayan kedai sudah datang membawa pesanan Nabila, yang membuat Denis tercengang.


"Sayang kenapa pesan segini banyak?" Kata Denis dengan suara sangat pelan, setelah pelayan tadi baru saja meninggalkan meja mereka.


"Tentu saja aku, mas. Apa kamu mau?" Kata Nabila yang sudah mulai menyendok manisan mangga muda dari mangkuk kecil yang baru saja dia ambil dari atas meja.


Dengan cepat Denis menggeleng kepalanya, merespon pertanyaan istrinya. "Tapi ini terlalu banyak, sayang", kata Denis sambil menelan ludah melihat 7 mangkuk kecil manisan dengan beragam jenisnya. Ada manisan mangga muda, manisan kedondong muda, manisan salak, manisan cermai, manisan kolang-kaling, manisan rambutan, dan manisan jambu kristal.


"Tenang saja mas, aku akan bayar sendiri", kata Nabila sambil masih menikmati manisan di tangannya.


"Bukan masalah bayarnya, sayang. Nanti aku yang bayar. Tapi ini nggak bagus buat perutmu sama si adek, sayang", kata Denis.


Nabila menghentikan makannya, lalu memandang suaminya sambil tersenyum manis. Sekejap kemudian menyodorkan mangkuk manisan yang ia bawa kepada Denis. "Nih mas, kalau gitu habisin", kata Nabila.


Denis terperanjat sambil menerima manisan yang disodorkan istrinya. "Habiskan, yang? Semua?" Kata Denis tak percaya.

__ADS_1


"He'em", jawab Nabila singkat sambil menganggukkan kepalanya. "Mubazair kan mas, kalau nggak dimakan", lanjutnya sambil tersenyum manis.


"Tapi aku nggak doyan, yang. Andai dipaksa juga nggak bisa makan sebanyak ini", kata Denis dengan wajah minta dikasihani.


"Kata mas tadi, mau dihukum apa saja, yang penting aku nggak marah. Anggap aja itu bukan dari aku", kata Nabila.


"Tapi__", kata Denis.


"Udah, mas habiskan aja. Aku mau ke kasir dulu", kata Nabila yang kemudian meninggalkan suaminya sambil terkikik.


Denis hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal, menghadapi kejahilan istrinya. Dengan terpaksa ia makan makanan yang saat itu ia pegang, namun tak berapa lama melihat istrinya selesai membayar di kasir, muncul ide untuk membalas istrinya.


Dengan gerakan cepat, Denis menghampiri istrinya dan dengan sekali hentakan ia berhasil membawa istrinya dalam gendongannya. Tentu saja hal itu membuat Nabila malu dan minta untuk diturunkan.


"Mas, turunkan aku. Aku malu", bisik Nabila.


Namun Denis tak menggubrisnya dan tetap berjalan melewati orang-orang yang melihatnya. Karena malu, Nabila hanya bisa menyembunyikan wajahnya di dada suaminya.


Denis dengan hati-hati meletakkan tubuh Nabila di bangku mobil, kemudian dengan cepat, ia ikut masuk ke dalamnya. "Gimana, keren kan suamimu?" Kata Denis sambil mengangkat kerah bajunya.


Nabila mencebikkan bibirnya sambil meninju pelan bahu suaminya. "Curang!" Serunya, membuat sang suami terbahak.


Derttttt........getaran ponsel di kantong, membuat fokus Denis sedikit teralihkan. Dengan hati-hati ia mengambil ponselnya, dia segera mengangkat ponsel setelah tau nama sang penelepon.


"Ada apa syad?" Tanya Denis setelah menggeser tombol hijau di ponselnya.


"Maaf Tuan Muda, hari ini ada demo besar di pusat bahan baku. Pihak Management sudah turun tangan, tapi belum bisa mengatasinya. Tuntutan dari karyawan terlalu banyak", kata Arsyad.


"Kalau begitu segera berangkat siang ini juga, minta Karina mengurus akomodasi penerbanganmu ke sana dan semua kebutuhan lainnya", perintah Denis.


"Tapi Tuan, pihak mereka menginginkan Tuan langsung yang menemui. Jadi sepertinya kehadiran saya disana tidak akan memberikan pengaruh", kata Arsyad.


Denis menoleh ke arah istrinya. Ada bimbang yang sedang melandanya. Namun ia harus memilih yang terbaik. "Baiklah, siapkan semua secepatnya. Aku sudah hampir sampai rumah. Jemput aku dua jam sebelum keberangkatan", ucap Denis sebelum menutup panggilan di ponselnya.


"Maafkan aku sayang", kata Denis sambil membelai kepala istrinya, tanpa sedikitpun mengusik tidur wanitanya.


Sampai di rumah, setelah membantu istrinya berbaring di tempat tidur, Denis masuk ke kamar mandi. Saat ia keluar dari kamar mandi, sang istri sudah bersandar di kepala ranjang.


"Kamu sudah bangun sayang", kata Denis sambil naik ke atas tempat tidur. Pria yang masih bertelanjang dada itu lalu mencium lembut kening istrinya. Tak lupa ciuman hangat juga ia daratkan di bibir wanita itu.

__ADS_1


"Kamu kenapa mas, jam segini sudah mandi lagi?" Tanya Nabila sambil menangkup kedua pipi suaminya dengan kedua telapak tangannya.


"Aku harus pergi sayang, ada pekerjaan yang harus kuselesaikan", ucap Nabila.


"Haruskah sekarang?" Tanya Nabila.


"Iya sayang" Kata Denis sambil pergi meninggalkan ranjang dan menuju ke lemari pakaian.


Pria itu mengambil salah satu koper dari atas lemari dan mengisinya dengan beberapa baju.


"Kamu mau kemana mas? Kenapa harus bawa koper segala?" Raut wajah Nabila tiba-tiba berubah menjadi sedih. Wanita itu segera turun dan menghampiri suaminya.


"Ada masalah di pusat bahan baku dan mereka butuh aku sendiri untuk menyelesaikannya", kata Denis yang masih sibuk memasukkan kebutuhannya ke dalam koper.


"Aku ikut ya, mas", pinta Nabila sembari melingkarkan tangannya ke pinggang Denis.


Denis berhenti dari aktivitasnya dan membalas pelukan istrinya. Diusapnya kepala Nabila dengan sayang, kemudian berkali-kali diciumnya wajah wanita itu.


"Aku tidak bisa mengajakmu sayang. Medannya berbahaya untuk wanita hamil sepertimu", Denis merangkum wajah Nabila. "Aku akan kembali secepatnya, begitu urusan disana selesai", lanjut Denis.


Nabila tak bisa membendung tangisannya, air mata begitu saja tumpah membanjiri pipinya. Ia kembali memeluk erat tubuh suaminya. "Berjanjilah kamu akan baik-baik saja, akan rajin menghubungiku dan tak lama disana", ucap Nabila.


"Aku bukan mau perang sayang, jadi kupastikan aku akan baik-baik saja. Nanti jika ada sinyal untuk menghubungimu pasti aku akan menghubungimu", kata Denis.


Tak berapa lama terdengar suara klakson di depan rumah. "Itu pasti Arsyad", ucap Denis pada istrinya yang sedari tadi hanya duduk di pangkuannya dengan kedua tangan melingkar di leher suaminya.


"Sayang, aku berangkat dulu ya", kata Denis tatkala istrinya masih belum mau turun dari pangkuannya. Namun Nabila yang membenamkan wajahnya di dada Denis hanya menggeleng.


"Sayang, apa yang akan aku lakukan ini demi masa depan kita dan anak kita, juga untuk masa depan karyawan. Jadi kamu harus ikhlas", kata Denis.


Namun alih-alih Nabila melepaskan pelukannya, wanita itu justru menangis semakin kencang.


Denis mencoba melepaskan pelukan istrinya perlahan, kemudian mengusap air mata wanita itu. "Jangan sedih ya, kalau bunda sedih adek pasti juga ikut sedih", lirih Denis sambil mengusap perut Nabila beberapa kali, membuat istrinya lebih tenang.


"I love u, sayang", bisik Denis diikuti ciuman hangat di bibir istrinya cukup lama, sebelum akhirnya Denis melangkah pergi.


_________________


Happy Reading 😘

__ADS_1


__ADS_2