Menunggu Cintamu Berkembang

Menunggu Cintamu Berkembang
Berhak Atas Diriku


__ADS_3

Nabila dan Denis sudah berada di dalam mobil yang menjemput mereka di bandara dan akan membawa mereka ke hotel. Dalam perjalanan ke hotel, mereka sempat berhenti untuk makan siang di sebuah restoran.


Nabila memutar sedikit badannya, menghadap ke arah Denis. "Kita berapa hari mas, disini?", tanya Nabila, sambil mendongakkan kepala untuk melihat wajah suaminya.


Denis menetap sekilas mata Nabila, kemudian pandangannya kembali ke arah depan. "Harusnya 3 hari pekerjaanku sudah kelar, tapi bisa saja kita disini 7 hari, 10 hari, atau lebih. Kita lihat saja nanti", ucap Denis tenang.


"*Kok nggak pasti gitu. Jangan lama-lama, pekerjaanku terus gimana? Ini juga tadi nggak izin, nggak masuk kantor. Kalau aku dipecat gimana?"


"Membosankan bepergian denganmu! selalu saja begitu, pengen ngajak pulang terus. Ya sudah sana, pulang sendiri sana, pulang*!", ucap Denis kesal.


"Kan aku cuma nanya, begitu saja__“. Ucapan Nabila terputus, saat Denis melihat ke arahnya dengan mata melotot. Dia terpaksa diam lalu memutar tubuhnya dan menghadap jendela yang ada disampingnya.


Mereka terdiam tanpa saling bicara. Tak berapa lama mobil tiba di hotel. Seorang doorman membukakan pintu mobil untuk mereka. Denis segera menuju lobby setelah turun dari mobil. Nabila mengikutinya dari belakang bersama seorang bellboy yang membawa barang-barang bawaan mereka.


Denis langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur, setelah petugas hotel yang mengantar mereka, pamit keluar. Dia memiringkan badannya sehingga bisa melihat istrinya yang tengah sibuk memasukkan pakain mereka ke dalam lemari.


"Mandi dulu mas, sudah sore!" Perintah Nabila, sambil menutup pintu lemari. Dia kemudian berjalan menuju tempat tidur sambil membawa baju ganti untuk suaminya.


Nabila duduk di pinggiran tempat tidur. Ia melepas sepatu yang sedari tadi masih dikenakan suaminya. Denis bangkit dan duduk tepat di belakang Nabila. Kedua tangannya melingkar di perut istrinya dan dagunya di letakkan di atas pundak istrinya.


"Ayo buruan mandi", ucapan Nabila sambil menepuk-nepuk tangan suaminya yang ada di perutnya. Namun Denis menggeleng.


"Ya udah aku dulu yang mandi kalau begitu", ucap Nabila sambil mencoba bangkit dari duduknya, namun Denis menahannya.


"Disini dulu ya, jangan kemana-mana", manja Denis, semakin mengeratkan pelukannya. Sekejap suasana hening.


"Nab...", suara Denis lirih memecah keheningan di ruangan itu. Denis menggosokkan pipinya lembut ke pipi Nabila.

__ADS_1


"Hemmm", Nabila berusaha meresapi suara panggilan itu.


"Nanti ada makan malam sama klien, kamu ikut ya?"


"Nggak bisa mas. Aku nggak bawa baju, cuma baju kerja aja sama baju rumahan. Habisnya kamu mau ngajak kesini nggak bilang dulu", ucap Nabila sambil memutar badannya sehingga menghadap ke arah Denis.


"Pake seadanya ajalah, Nab. Gak usah dandan cantik-cantik".


Nabila meletakkan telapak tangannya di pipi Denis. "Pertemuan kamu sama klien adalah pertemuan penting, jadi jika aku mendampingi kamu ya nggak boleh penampilannya asal-asalan. Aku nggak pingin bikin kamu malu", suara Nabila lembut.


Denis menarik Nabila dalam pelukannya. Ia mengusap punggung Nabila lembut. Nabila membalas pelukan itu dan sejenak menikmati aroma khas tubuh suaminya.


Kemudian secara bergantian mereka masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Waktu sudah menunjukkan pukul 19.04. Danis sudah bersiap untuk pergi makan malam ke Restoran hotel. Dia memakai kaos warna navy, dipadankan dengan blazer dan celana dengan warna senada. Meski memakai pakaian yang kurang formal, namun kesan pemimpin yang dingin tidak lepas dari dirinya.


Nabila mengangguk mendengar perintah suaminya. Ia lalu mengikuti langkah suaminya yang berjalan menuju pintu hendak keluar. Tangan Denis masih setia melingkar di pinggangnya.


"Hati-hati ya mas", ucap Nabila lembut, sambil mendongakkan kepalanya melihat ke arah Denis yang berdiri berhadapan dengannya. Denis meraih dagu Nabila, kemudian mencium bibirnya dengan lembut. Nabila membalas ciuman itu tak kalah lembut, membuat ke dua insan itu sedikit lupa waktu.


Tiba-tiba bel berbunyi, merusak secuil kenikmatan yang sedang mereka peroleh. Denis pun membuka pintu itu, yang ternyata adalah pegawai hotel yang sedang mengantarkan makanan.


Setelah pegawai hotel meletakkan makanan di meja dan keluar dari tempat itu, Denis pun pergi dari kamar itu tanpa berpamitan kembali dengan istrinya.


Sepeninggalan Denis, Nabila langsung duduk di depan hidangan yang baru datang itu. Ia menikmati tiap sendok makanan yang masuk ke dalam mulutnya di temani acara dari televisi yang baru saja dinyalakannya.


Selesai makan, Nabila naik ke atas tempat tidur. Ia mengambil ponselnya yang ada di atas nakas dan memeriksa pesan masuk yang ternyata pemberitahuannya sudah nampak memenuhi layar ponselnya saat kunci layarnya terbuka.

__ADS_1


Nabila membuka satu persatu pesan itu dan mencoba membalasnya. Seperti yang sudah dia duga, kebanyakan pesan yang masuk adalah pesan dari rekan kerja setimnya. Sebagian besar pesan itu menanyakan alasan ketidakhadirannya di kantor hari ini. Bagaimana tidak ditanyakan beberapa hari dia tidak masuk kerja, kemudian masuk satu hari dan absen lagi.


Lama Nabila berkutat dengan ponselnya hingga rasa mengantuk mulai menghampirinya. Ia kemudian memaksa tubuhnya untuk beranjak membersihkan diri ke kamar mandi. Setelah keluar dari kamar mandi, ia menyengaja pindah ke sofa yang ada di dekat jendela agar bisa menikmati pemandangan pantai yang sesekali debur ombaknya sampai ke telinganya.


Malam semakin larut, namun suami yang ditunggu-tunggu kedatangannya belum juga nampak. Nabila yang sedari tadi berusaha menahan kantuknya akhirnya menyerah, ia tertidur di dinginnya malam Pulau Lombok.


Jam menunjukkan pukul 23.17, ketika Denis membuka pintu kamar hotel yang ditempatinya. Dia melangkah menuju tempat tidur, sedangkan matanya berputar-putar mencari sosok yang sedari tadi dipikirkannya.


Lensa matanya kemudian terfokus pada sosok wanita yang tidur meringkuk seperti kedinginan, diatas sofa. Denis menarik kedua sudut bibirnya. Ia segera mengambil selimut yang ada di tempat tidur dan menutupkannya ke tubuh istrinya. Tak lupa ia menarik tirai jendela yang terbuka itu hingga menutup sempurna.


Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, ia naik ke atas tempat tidur dan membuka laptop yang sudah diletakkan diatas bantal yang ada di pangkuannya. Ia hendak memeriksa pekerjaannya. Namun, bayangan istrinya membuatnya mengurungkan niatnya. Ia menutup kembali laptopnya dan meletakkannya di atas Nakas.


Denis berjalan ke tempat istrinya itu. Ia kemudian menelusup ke dalam selimut yang dipakai Nabila. Sofa yang ia tiduri itu memang tak seluas kasurnya, tapi cukup untuk menampung tubuh mereka berdua.


Denis menciumi tengkuk Nabila, sesekali dihisapnya dalam-dalam aroma tubuh istrinya itu. Dinginnya malam itu, membuat Denis semakin mempererat pelukannya untuk mencari kehangatan.


Tubuhnya yang mulai panas membuatnya tergoda untuk menyusuri leher istrinya, memberikan ciuman-ciuman hangat disana. Tangannya pun mulai bergerilya, masuk ke dalam piyama istrinya.


Nabila yang menyadari ada seseorang yang berada di dekatnya, sempat kaget. Namun ia mampu menguasai dirinya. Ia berusaha untuk membuka matanya dan mengembalikan kesadarannya. "Mas, sudah pulang?", ucap Nabila dengan suara serak. Ia mencoba memutar kepalanya hingga matanya bisa melihat bahwa yang ada dibelakangnya adalah Denis, suaminya.


Denis yang mendengar suara istrinya, kaget dan menghentikan aktivitas yang sedang dilakukannya. Ia bergegas bangkit untuk duduk. "Maafkan aku Nab", ucapnya lirih sambil menarik rambutnya dengan kedua tangannya.


Nabila yang melihat tingkah Denis, merasa kasian. Ia bangkit, kemudian melingkarkan ke dua tangannya di perut suaminya itu dan menyadarkan kepala di dada bidangnya. "Kamu berhak penuh mas atas diriku, termasuk tubuhku", ucap Nabila lembut.


Mendengar ucapan Nabila, hati Denis menjadi tenang. Ia mengecup lembut puncak kepala Nabila berkali-kali, kemudian mengangkat dagu istrinya itu dan memberi ciuman di kening, mata, pipi, hidung, dan tentu saja bibir istrinya yang nampak selalu menggodanya itu.


Denis mengangkat tubuh Nabila dari sofa dan memindahkannya ke tempat tidur. Di tempat itu mereka berdua meraih kenikmatan yang baru pertama kali mereka dapatkan. Kenikmatan yang harusnya mereka raih di malam setelah ijab kabul.

__ADS_1


Akankan ikatan sebagai suami istri semakin kuat, setelah ini?


__ADS_2