Menunggu Cintamu Berkembang

Menunggu Cintamu Berkembang
Mundur


__ADS_3

"Sayang ada apa?", tanya Denis kepada Nabila, membuat istrinya itu terkejut dan dengan segera mengalihkan pandangannya dari mama Andre kepada dirinya.


"Mas, Denis!" Suara Nabila membuat mama Andre ikut mengalihkan perhatiannya kepada Denis yang ada di belakangnya.


"Tante!" Suara Denis terkejut.


"Tante ngapain disini sama Nabila, tante kenal sama Nabila?" Tanya Denis penasaran. Wajahnya nampak serius, penuh selidik, sekaligus ada rasa tidak suka.


"Nggak mas, tante ini tadi nggak sengaja menyenggolku, sehingga minumanku tumpah", sahut Nabila dengan segera, berharap suaminya tak curiga. Tangannya mengusap lembut lengan Denis.


Wajah Denis terlihat lebih tenang, saat melihat baju Nabila yang basah. "Ohh aku pikir kenapa", ucapnya.


"Jadi dia__". Belum sempat mama Andre meneruskan kata-katanya, Denis langsung menyela, "Ini Nabila istri aku tante". Nampak raut tidak ramah masih menghiasi wajah mama Denis.


"Sayang, kenalin ini mamanya Andre, yang tadi aku kenalin ke kamu", ucap Denis lembut.


Nabila segera mengulurkan tangannya, dengan maksud berkenalan agar Denis percaya bahwa ini adalah pertemuan pertamanya dengan wanita yang pernah menghinanya itu. namun mama Andre hanya memandang sinis kepada Nabila, kemudian pergi begitu saja tanpa mengucapkan satu patah kata pun.


Nabila menurunkan tangannya perlahan, ia tidak terlalu kaget dengan sikap wanita tadi. Tapi justru Denis yang nampak menunjukkan tatapan marah kepada ibu sahabatnya itu.


"Kamu nggak apa-apa kan sayang? Tante memang seperti itu. Jadi kamu tau kan sebabnya, mengapa aku membuatmu harus datang kesini dengan penampilan terbaik?" Kata Denis sembari menyentuh lembut pipi Nabila.


"Aku nggak apa-apa mas. Aku sudah sering melihat orang seperti itu", ucap Nabila. Senyum tipis menghiasi wajahnya, membuat Denis ikut tersenyum kepadanya.


"Aku ke kamar mandi dulu ya, mas. Mau bersihin ini", izin Nabila kepada Denis sambil menunjuk bajunya yang basah dan bernoda karena tumpahan minuman tadi.


"Aku antar ya", tawar Denis sembari mengambil alih gelas yang di bawa istrinya.


"Nggak usah mas, mas Denis disini aja. Tuh udah ada petunjuk dimana toiletnya", kata Nabila sambil matanya mengarah pada papan petunjuk tertuliskan toilet yang tak jauh dari tempatnya berdiri.


"Ya udah kalau begitu, aku ambil makanan saja sambil nunggu kamu. Kamu mau makan apa, yang?"


"Terserah, mas", ucap Nabila lembut. Kemudian ia berjalan menjauh dari suaminya.

__ADS_1


Nabila sudah selesai membersihkan pakaiannya yang kotor. Setelah memastikan riasannya masih rapi dengan cermin yang ada di hadapannya, ia berjalan meninggalkan toilet.


Keluar dari toilet dan baru beberapa langkah ia berjalan, tiba-tiba suara seorang laki-laki yang ia kenal membuatnya harus menghentikan langkahnya. "Nada, tunggu!", perintah Andre yang memang sedari tadi telah menunggu Nabila keluar dari Toilet.


Pria itu berjalan menghampiri Nabila yang kini berdiri diam di tempatnya. "Kenapa kamu meninggalkanku? Dan menikah dengan sahabatku? Bukankan aku sudah memintamu untuk menungguku sampai aku kembali? Apa kamu memang sengaja ingin menyakitiku?", kata Andre yang kini berdiri di samping Nabila dengan tatapan tajam ke arah wanita yang kini tengah menatap ke depan. Mata pria itu nampak berkaca-kaca.


"Aku tidak pernah berjanji akan menunggumu. Bahkan sudah jelas ketika aku menolak lamaranmu, berarti aku mundur untuk meneruskan hubungan kita" Jawab Nabila tanpa mau melihat ke arah Andre.


"Tidak, Nada! Tidak semudah itu!" Andre kini menarik tangan Nabila.


"Lepaskan!" Nabila berusaha menyingkirkan tangan Andre. Dan akhirnya Andre memilih mengalah untuk melepaskan tangan wanita yang sangat dicintainya.


Nabila menarik nafas kuat-kuat dan melepaskannya perlahan. Ia mencoba menenangkan dirinya sebelum membuka mulutnya lagi.


"Mas, hubungan kita sudah berakhir lama semenjak aku menolak lamaranmu. Aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita karena memang tidak mungkin kita tetap bertahan dengan kondisi kita. Aku sekarang sudah menikah dan aku bahagia dengan pernikahanku", Nabila berbicara sehalus dan setenang mungkin.


"Kamu bohong, Nada. Aku tau kamu tidak bahagia dengan pernikahanmu. Mana mungkin kau sebut pernikahanmu bahagia jika suamimu saja tidak mau mengakui dirimu di hadapan orang lain. Aku tau dari matamu, masih ada cinta untukku", kata Andre.


"Terserah penilaianmu, mas. Mas Denis sangat mencintaiku, begitu juga aku sangat mencintainya. Jadi aku mohon, terima keadaan ini. Cobalah buka hatimu untuk wanita lain. Aku yakin, banyak wanita yang lebih baik menantimu", kata Nabila yang kemudian melangkah pergi meninggalkan Andre yang kini masih memanggil-manggil namanya. Nabila menghapus air mata yang tetiba jatuh begitu saja dari matanya.


"Perutku agak sakit mas", Jawab Nabila sembari memegangi perutnya.


"Wajahmu pucat, yang. Kamu habis nangis juga ya?" Kata Denis dengan khawatir.


"Dikit mas, habisnya melilit rasanya perutku. Kita pulang yuk mas! Kepalaku juga sedikit pusing", ucap Nabila.


"Baiklah.Tapi aku pamit dulu ke Andre. Kamu tunggu disini aja, jangan kemana-mana!" Denis meninggalkan Nabila setelah Nabila mengiyakan permintaannya.


Denis dan Nabila kini sudah berada di dalam mobil yang akan membawa mereka kembali ke apartemen. Sejenak suasana di dalam mobil hening karena kedua manusia yang ada di dalamnya tak bersuara sama sekali. Hingga akhirnya Denis terlebih dahulu membuka suara.


"Gimana, masih sakit perutnya?" Tanya Denis, yang kini telah mengambil telapak tangan Nabila dan menggenggamnya.


Nabila mengalihkan pandangannya ke arah Denis, kemudian menggelengkan kepalanya dan tersenyum tipis, sebelum akhirnya kembali menatap lurus ke depan.

__ADS_1


"Kepalanya?" Tanya Denis lagi sembari melirik Nabila.


"Sedikit" Jawab Nabila tanpa mengubah arah pandangannya.


"Kita cari makan dulu ya, yang? Aku lapar" Ajak Denis.


Nabila memutar kepalanya menghadap Denis. "Tadi nggak jadi makan?"


"Nggak lah, nungguin kamu nggak datang-datang!" Kata Denis.


"Makan di rumah aja ya, ntar aku masakin buat kamu", tawar Nabila.


"Jangan yang, biar nanti aku masak sendiri aja. Kamu kan masih sakit. Kamu mau dimasakin apa?" Ucap Denis.


Nabila menggelengkan kepalanya. "Aku nggak laper, mas"


"Nggak laper gimana, kamu belum makan! Pokoknya kamu harus makan, nanti!" Seru Denis.


Krucuk..... Krucuk.... Tiba-tiba perut Nabila berbunyi. Refleks wanita itu memegangi perutnya. Wajahnya memerah karena malu.


Denis tersenyum sumringah. "Nah tuh denger! cacing di perutmu aja pada protes, yang. Kita cari restoran yang deket aja ya?"


"Jangan di restoran, mas. Aku pengin makannya di kaki lima aja", kata Nabila.


"Yang bener aja, yang! Pake baju keren kayak gini masa makannya di kaki lima!" Protes Denis.


"Ya udah kita pulang aja kalau begitu, nggak jadi makan", kata Nabila pura-pura kecewa.


"Ya udah, kita makan di kaki lima. Kamu mau makan apa?" Suara Denis merendah


"Makan nasi goreng kambing mau nggak? Aku tau tempat yang paling enak", kata Nabila bersemangat. Denis pun menerima tawaran Nabila.


Setelah Nabila mengatakan alamat tempat yang ingin dia tuju, Denis segera memutar kemudinya menuju tempat itu. Sekitar setengah jam, mobil Denis sampai ke sebuah kawasan yang disana berjajar pedagang kaki lima yang menjual berbagai macam kuliner.

__ADS_1


"Tunggu dulu, yang!" Kata Denis kepada Nabila, membuat wanita itu urung membuka pintu dan kini berbalik menghadap suaminya yang tengah membuka satu persatu kancing kemejanya.


"Kamu mau apa mas?" Suara Nabila terbata-bata.


__ADS_2