
Sheila melepas kaca matanya, lalu berdiri dan melangkah mendekati Denis yang masih berdiri beberapa langkah dari pintu.
"Selamat pagi, Tuan Denis", sapa Sheila sambil mengulurkan tangannya ditambah senyum yang menggoda. Sheila saat itu sengaja berdiri sangat dekat dengan Denis.
"Selamat pagi", Jawab Denis yang memilih untuk tidak menerima uluran tangan wanita yang ada didepannya. Ia melangkahkan kakinya menjauh dari Sheila menuju meja meeting.
Sheila merasa geram dengan sikap pria yang disukainya itu. "Dasar pria sombong, lihat saja nanti, kupastikan kamu akan ada di genggamanku", gumamnya dalam hati, sambil memutar tubuhnya dan berjalan ke arah yang sama dengan Denis.
"Silahkan duduk, Nona Sheila", ajak Denis sambil menjatuhkan tubuhnya di kursinya. Sheila menuruti apa yang diminta oleh Denis.
"Kalau boleh tau mengapa Tuan Yusuf tidak hadir sendiri, nona?", tanya Denis tanpa mau melihat ke arah putri dari kliennya itu.
"Saya adalah satu-satunya penerus dari Amazing Lombok Group, jadi wajar jika papa akan memintaku kesana dan kemari untuk mengurusi usahanya. Dan tuan Denis, mungkin ke depannya kita akan sering bertemu karena papa telah melimpahkan proyek ini kepadaku", tutur Sheila diiringi senyum penuh kemenangan.
Denis mengumpat dalam hati mendengar perkataan Sheila. Karena dia tau, sejak pertemuan sebelumnya, Sheila berusaha untuk menggodanya, lebih-lebih ketika wanita itu tau bahwa Denis adalah suami Nabila, rivalnya.
"Dengan senang hati, saya akan membantu Anda dalam proyek ini, nona", tutur Denis dengan senyum yang dipaksakan.
Begitu pihak-pihak yang terlibat dalam meeting sudah hadir, meeting pun dimulai. Denis sebagai tokoh Sentral dalam meeting itu menjelaskan panjang lebar semua idenya. Namun Sheila tak tertarik dengan ide-ide brilian Denis, ia hanya tertarik dengan sosok Denis yang menurutnya sangat menggoda.
Sebenarnya apa yang dipaparkan Denis kali ini juga tidak penting lagi untuk disimak oleh Sheila. Karena, tanpa sepengetahuan Denis, sebenarnya Yusuf telah menyetujui apa-apa yang sudah ditawarkan Denis sebelumnya lewat putrinya. Namun, apa salahnya tetap ada meeting, toh dia bisa memandang pria yang ditaksirnya itu sesukanya.
Meeting pun selesai dengan ditutup oleh penandatanganan kontrak kerjasama dari kedua belah pihak.
"Maaf tuan Denis berkas-berkas penting yang papa janjikan kepada anda tertinggal di hotel. Bagaimana jika nanti malam kita bertemu untuk serah terima?", ucap Sheila sambil menarik dua ujung bibirnya.
__ADS_1
Sejenak Denis berfikir untuk menerima atau menolak tawaran Sheila. Akhirnya dengan berbagai pertimbangan ia menerima tawaran tersebut.
"Baiklah Tuan Denis, kita bertemu nanti malam. Nanti akan saya kabari, dimana tempat kita bisa bertemu", ucap Sheila yang kemudian pergi dari ruangan itu setelah berpamitan pada Denis dan diikuti beberapa pengawal bertubuh besar di belakangnya.
*******
Denis memilih pulang lebih awal dari biasanya, karena sejak ia meninggalkan rumah tadi pagi pikirannya tak bisa lepas dari istrinya yang ada di rumah.
Tiba di rumah, Denis langsung naik ke lantai dua, tempat dimana kamarnya berada. Matanya menyapu seluruh ruangan itu ketika pintu sudah berhasil ia buka. Namun, sosok yang dicarinya tak ia temukan.
Ia pun mencoba berjalan ke arah balkon. Benar saja, ternyata Nabila ada disana sedang duduk melamun. Ia berjalan ka arah Nabila tanpa bersuara, kemudian mencuri cium di pipi istrinya itu, hingga membuatnya terperanjat.
"Sudah pulang, mas?" Tanya Nabila sambil melihat ke arah suaminya dengan muka yang masih nampak kaget. Ia menurunkan kedua kakinya yang tadi dinaikkan diatas kursi.
Denis mengeluarkan sesuatu dari kantong jasnya. "Ini, lain kali cek dulu barang bawaan sebelum pergi kemana-mana", nasihat Denis sambil menyerahkan sebuah ponsel kepada Nabila.
Nabila menerima ponsel itu dengan wajah seperti habis menemukan harta karun. Ia tidak peduli bagaimana cara suaminya bisa mengambil ponselnya yang tertinggal di laci meja kerjanya itu. Yang dia peduli benda keramat itu kini sudah berada ditangannya. Tak lupa ia mengucapkan terimakasih kepada suaminya.
Namun sayang, ponsel yang ia terima tidak bisa langsung digunakan karena habis baterainya. Nabila berdiri dari duduknya untuk mengisi daya baterainya ke dalam kamar. Namun baru selangkah Nabila berjalan, Denis menarik tangannya hingga ia jatuh duduk diatas pangkuan suaminya.
Denis melingkarkan tangannya ke pinggang Nabila, kemudian menarik hidung mancung istrinya sambil berkata pelan, "Mau kemana? Baru saja aku datang, kamu malah mau pergi".
Nabila memperlihatkan ponselnya yang mati di depan muka Denis, sambil berkata "Nih".
"Nanti saja ya, temani dulu disini", ucap Denis manja. Lingkaran tangannya semakin erat memeluk pinggang Nabila, sedangkan kepalanya disandarkan ke bahu istrinya, diikuti oleh matanya yang terpejam namun tak tidur.
__ADS_1
Pipi Nabila menyadar ke kepala Denis, dengan salah satu tangannya membelai lembut rambut suaminya yang tipis. Sungguh posisi yang nyaman bagi kedua insan yang mulai belajar menumbuhkan benih-benih cinta di hati mereka.
Dertttt.....Dertttt.... Dertttt.... Getaran ponsel di saku jas Denis menyadarkan mereka dari aktivitas romantis mereka. Dengan malas Denis merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya dari dalam sana.
Sebuah pesan nampak masuk di kotak pesan yang belum terbaca, Denis membuka pesan itu. Tertulis sebuah alamat sebuah bar terkenal di kota itu dan di bawahnya tertera nama pengirim pesan. Nabila yang ikut membacanya, seketika turun dari pangkuan Denis dan berjalan tergesa masuk ke kamar tanpa berpamitan.
Denis yang menyadari perubahan sikap Nabila, segera mengejarnya dengan langkah yang panjang sehingga dengan mudah mencapainya. Ia memeluk tubuh Nabila dari belakang dan menumpangkan dagunya ke pundak istrinya. "Cemburu ya", ucapnya ketelinga Nabila.
"Nggak, ngapain juga cemburu", ucap Nabila sambil tersenyum kecut.
"Beneran nggak cemburu?" Goda Denis, kemudian memutar tubuh Nabila sehingga berhadapan dengannya sangat dekat. Ia mengangkat dagu Nabila, memberikan ciuman lembut di bibirnya sejenak.
"Ini murni urusan pekerjaan, sayang", rayu Denis.
"Mungkin mas mikirnya urusan pekerjaan, tapi belum tentu dia juga begitu, mas. Aku sangat mengenalnya", ucap Nabila.
"Aku juga menyadari dia seperti apa, jadi kamu tenang saja ya, aku bisa mengatasinya", seru Denis, menenangkan hati istrinya.
Nabila sedikit lega mendengar ucapan Denis. Ia memberikan senyum dan anggukan kecil, tanda mengizinkan suaminya bertemu wanita yang tidak ia sukai. Denis tersenyum sendiri melihat mimik wajah istrinya yang kala itu sangat menggemaskan. Sekali lagi dia mengambil dagu istrinya kemudian memberikan ciuman yang hangat di bibir istrinya, sebelum melangkahkan kaki menuju kamar mandi.
__________
HAPPY READING ^_^
Jangan lupa ya LIKE, COMMENT, VOTE nya ya 🌹
__ADS_1